Jelajah Candi

Melalui penjelajahan candi, sejatinya kita telah melakukan perjalanan waktu ke masa lampau. Candi ini misalnya, taksiran usianya mencapai lebih dari 1000 tahun. Ia telah berdiri, disucikan, terkubur, rapuh, lalu kemudian dipugar kembali. Satu yang tak berubah, candi akan tetap menjadi penanda sejarah. Candi menjadi jembatan waktu masa kini dan masa lampau.

Tentang Saluran Youtube di Indonesia

Youtube, youtube, youtube, lebih dari TV! Boom!

Semboyan ini kerap digunakan oleh Youtuber muda asal Indonesia untuk menggambarkan superioritas Youtube terhadap televisi. Agaknya sudah menjadi rahasia umum bahwa konten yang disajikan televisi semakin tidak bermutu. Banyaknya sinetron yang dianggap tidak mendidik, acara reality bohongan, atau komedi kuno, bahkan acara musik dangdut yang dianggap kampungan. Anggapan ini tentu tidak mewakili suara masyarakat pada umumnya. Bagi masyarakat di daerah atau masyarakat ekonomi ke bawah, mungkin acara-acara tersebut masih menghibur. Tapi bagi generasi milenial, televisi bukan lagi hiburan yang menarik.

Kecakapan Literasi

Frasa ini pertama terbaca di serangkaian tweet seseorang dalam menanggapi perilaku maayarakat kita yg sadar/tanpa sadar kerap menyebarkan hoax. Hoax semacam berita-berita yg didramatisir, berita bohong, berita provokasi dan banyak lagi macamnya. Semua ini bisa kita temui dengan mudah di media sosial.

Salah satu contoh yg masih saya ingat adalah foto yg disertai narasi. Sebuah foto, sekumpulan biksu sesang menguburkan banyak mayat dalam sebuah pemakaman massal. Di bawahnya ditulis narasi tentang kekejaman biksu di myanmar yang dituliskan membunuhi banyak warga muslim. Narasi ini merujuk pada konflik yg terjadi di Myanmar antara warga muslim dan umat budha. Narasi ditulis dengan model penulisan berita, disertai dengan kalimat kalimat provokatif. Tapi benarkah demikian faktanya?

Nyatanya, gambar dan narasi yang banyak disebarkan adalah hoax. Gambar biksu yang terlihat sedang menguburkan mayat dalam pemakaman massal adalah gambar biksu yang sedang memakamkan korban gempa bumi di Nepal. Bencana gempa bumi di Nepal beberapa tahun yg lalu menelan banyak korban jiwa, sehingga diputuskan untuk melakukan pemakaman di pemakaman massal. Dalam prosesi ini biksu biksu bertindak sebagai semacam pemimpin upacara pemakaman, sekaligus mendoakan para korban.

Fakta di balik narasi dan foto adalah dua soal yang berbeda. Tentang konflik di Rohingya, sulit untuk membantahnya melihat banyaknya bukti yang menguatkan. Tidak bisa dipungkiri, konflik secara nyata terjadi di sana, sedang untuk detailnya kita harus mempelajari benar benar. Tapi menggunakan foto yg salah untuk berita yg benar adalah ceroboh. Berita yg bisa jadi merupakan berita yang benar dan sesuai kenyataan, akan jadi bias karena menggunakan foto yg salah. Apalagi jika penggunaan foto sengaj dilakukan untuk memperpanas keadaan, memancing emosi, dst.

Kita musti memiliki kecerdasan literasi. Minimal kita memperhatikan dua hal, sumber dan verifikasi. Setiap artikel, brodkestan, berita, atau apapun itu yang tersebar di media sosial harus kita cari tau sumbernya dari mana. Apakah dari copy paste media berita, ataukah hasil pengamatan sendiri, atau hanya sebuah opini. Dengan mengetahui sumbernya kita bisa lebih mudah menyikapi soaial media yg penuh dengan berbagai macam sebaran. Keterangan resmi kepolisian tentu lebih mudah dipercaya ketimbang artikel orang yang mengaku ngaku dekat dengan kepolisian, atau mengaku mengamati kinerja kepolisian.

Pun ketika kita telah mengetahui sumber, kita harus memverifikasinya terlebih dahulu. Benarkah artikel kesehatan A benar benar dikeluarkan oleh IDI atau hanya artikel yg diaku aku dikeluarkan oleh IDI. Pun jika memang benar dikeluarkan oleh IDI apakah artikel tersebut tidak mengalami editing dengan versi yg asli atau ternyata sudah ada perubahan, dst. Verifikasi harus terus kita lakukan sampai kita benar2 yakin bahwa artikel yg kita baca adalah valid. Baru kita bisa menanggapinya..

Highschool Devil’s

Pada satu sore, Pak SamJo menceritakan pada kami cerita ini.

Hari itu, sekolah sudah usai, murid-murid nyaris tak ada lagi yang beraktifitas di sekolah. Seperti biasa, Pak Samjo hendak menutup semua pintu dan gerbang sekolah. Pertama, Ia mengunci gerbang depan sekolah, lalu beranjak ke pintu kecil di samping mushola dan gudang belanda. Dari sini kemudian melanjutkan berjalan ke pintu samping kiri kelas 12 ipa dulu (yang sekarang sudah dijadikan ruang lab ilmu sosial di gedung baru).

Setelah mengunci pintu, Pak Samjo menyusuri gang sempit di samping lab biologi dan kimia. Lalu melanjutkan lagi ke arah aula sekolah. Dari aula ini, Ia dapat mengawasi keadaan lebih leluasa, ruang guru tanpak sudah terkunci, begitu juga dengan ruangan TU. Ruang kelas dan lab-lab dari kejauhan juga nampak sudah tertutup rapat.

Tidak lupa Pak Samjo naik ke lantai atas, mengecek ruang perpustakaan, lab komputer hingga ruang kelas di atas. Setelah yakin semua sudah terkunci, Pak Samjo turun lagi ke aula setelah sebelumnya mengunci pintu tangga. Dari aula, Pak Samjo lalu bergegas menuju toilet siswa. Niatnya untuk mengecek naik ke atas toilet buru-buru diurungkan begitu menyadari hari mulai beranjak gelap. Untuk cari aman, Pak Samjo hanya mematikan kran dan pompa air di bawah.

Di dekat pompa air pula Pak Samjo menyalakan saklar lampu untuk aula, toilet, lorong lab, hingga lorong kelas 10 dan 11. Sekelebat, Pak Samjo memandang ke arah ruang ganti yang di depannya terdapat dua cermin besar. Dilihatnya kedua pintu ruang ganti terbuka sedikit. Niatnya untuk menutup pintu, diurungkannya ketika sekilas Ia melihat bayangan menyerupai tangan, terjepit di sela pintu.

Melihat hal ini Pak Samjo bergegas meninggalkan tempat pompa dan berjalan ke arah gerbang belakang. Baru beberapa meter, langkahnya kembali terhenti ketika di kejauhan Ia melihat seorang siswi tampak masih ada di area sekolah. Siswi ini duduk di kursi beton di depan kelas 10 tiga. Dengan posisi membelakangi Pak Samjo, siswi ini terlihat sedang menulis di buku, atau semacamnya. Pak Samjo segera menghampiri siswi tersebut lalu berdiri agak dekat di samping siswi tersebut. Dilihatnya buku yang dipegang siswi itu penuh dengan coretan.

“Mbak, ini udah sore, udah mau magrib. Sana cepet pulang, lewat gerbang belakang saja nanti saya bukakan” tegur Pak Samjo kepada siswi tersebut. Tapi tak ada respon dari siswi itu. Wajahnya yg tertutup rambut panjang membuat Pak Samjo kesulitan mengenali siswi ini. 

“Ayo mbak, udah mau magrib ini, saya mau istirahat” kali ini nada suara Pak Samjo mulai meninggi. Tapi tetap tak ada respon dari siswi ini, dia malah makin asyik mencoret coret bukunya.

Karena jengkel Pak Samjo lalu bergeser dan berdiri di depan siswi itu. “Heh! Mbak, ayo cepet ini sudah magh…” Belum sempat menyelesaikan kata katanya, mulut Pak Samjo tercekat dan terdiam. Tubuhnya sulit digerakkan ketika menyadari apa yang sedang Ia hadapi saat ini.

Belum selesai kalimat pak Samjo, siswi ini menoleh ke arah Pak Samjo, kemudian menyingkap rambut dari wajahnya. Tanpa berbicara dan tanpa mengatakan apa-apa, hanya diam.

Pak Samjo mendapati di depannya, siswi itu tidak memiliki rupa. Wajahnya rata tanpa memiliki mata, hidung atau mulut. Di wajahnya hanya terlihat goresan goresan memanjang sampai leher yang terlihat seperti bekas luka dengan darah di tepinya yang kelihatan telah mengering. Setelah beberapa saat, siswi itu menunduk, lalu kembali mencoret-coret buku di pangkuannya. Lepas dari shock dan rasa takut, Pak Samjo memberanikan diri untuk berbalik, lalu berjalan perlahan menjauhi siswi itu. Ia segera berjalan menuju pintu teralis geser dari besi di gerbang bagian belakang sekolah. Saat mengunci pintu teralis, pandangannya tepat ke arah siswi tadi, namun, Pak Samjo tak berani melihat dan hanya menundukkan wajah ke bawah. Ia lalu segera beranjak ke rumah kecilnya yang terletak di samping ruang kelas di dekat gerbang samping sekolah. Ketika hendak masuk ke dalam rumah, Ia sempat menoleh ke arah lorong kelas tadi lewat sela-sela jendela kelas. Dilihatnya siswi tanpa wajah itu masih duduk di situ, dan bahkan Ia menoleh ke arah Pak Samjo.

Pak Samjo bergegas masuk kamar dan menguncinya dari dalam. 

Malam itu Pak Samjo tidak bisa tidur. Sehabis sholat isya Ia beranikan diri melongok lewat sela-sela jendela dan Ia masih melihat sosok siswi tanpa wajah itu masih duduk tertunduk. Tapi kali ini tangannya tidak lagi mencoret coret buku, tapi menelungkupkan telapak tangannya menutupi wajahnya. Demi melihat itu Pak Samjo buru buru kembali kedalam kamar, mencoba untuk tidur. Tapi  tentu saja semalaman Ia tak bisa tidur. Ia kerap terbangun karena suara ketukan ketukan meja yang berasal dari ruang kelas di samping. Bahkan sesekali Ia mendengar suara tangisan seorang perempuan yang tersedu sedu. Dan hal ini hanya Ia sendiri yang mengalaminya. Istri dan anaknya tak ada yang mengeyahui hal ini.

Kira kira begitulah cerita yang disampaikan Pak Samjo. Memang tidak mengherankan kalau sekolah ini banyak hal hal yang ditampakkan. Menurut pengakuan Pak Samjo, Ia masih sering melihat sosok siswi tanpa wajah ini ketika sore hari saat ia mengunci gerbang belakang sekolah. Bahkan menurut pengakuannya, Ia kerap melihat sosok ini di tengah jam pelajaran. Di saat para siswa sibuk belajar di dalam kelas, sosok siswi tanpa wajah ini kerap terlihat duduk di kursi beton, sambil menghadap ke kelas yang sedang ribut.

Jadi, ingat ingat saja dulu, saat kita masih bersekolah dan di dalam kelas, adakah yang sering melamun dan menerawang ke arah kursi beton di lorong kelas sebelah timur. Persis di bawah lonceng besi yang biasanya digunakan ketika bel listrik rusak atau mati. Ya bisa jadi yang kita pandang sejatinya adalah sosok siswi tanpa wajah, atau muka rata, atau apa saja. Tiap angkatan menyebutnya dengan sebutan berbeda. 

Tidak percaya dengan hal ini? Ya cukup aneh, se aneh sma kita yang bangunannya trapesium, bukan persegi. Atau aneh karena toilet siswa ditaruh di lantai dua, sedang di bawahnya ruang ganti dibiarkan lembab dengan dua kaca besarnya. Atau kenapa sekolah kita punya dua penjaga sekaligus, satu Pak Samjo, satu pak Kusumo. Dan dua duanya pendiam, jarang ngomong. Mungkin karena terlalu banyak melihat hal hal ganjil di sekolah.

Kalau penasaran, bisa ditanyakan pada angkatan lama yang masih mewarisi gedung sekolah bangunan lama, seperti apa suasana sekolah di waktu waktu tertentu yang serasa seperti di dunia berbeda. Cerita Pak Samjo ini pun baru cerita ringan. Yang ditemuinya hanya sesosok siswi tanpa wajah yang tak pernah beranjak dari duduknya. Suka mengetuk ngetuk jendela, atau menangis tengah malam. Kita belum dengar cerita dari Bu Endang.  

Halo Google!

Carikan tempat menulis terbaik, tanpa perlu memikirkan berapa banyak yang akan membaca. Soalnya, saya (aku lebih suka merujuk diri sendiri sebagai saya) butuh bicara banyak dengan diri sendiri. Selain melalui perjalanan pelesir dan naik gunung, cara termudah adalah dengan menulis.

So, can I start now, Goog?

Daripada Gak Bikin..

     Kita ketinggalan kereta, udah biasa. Ritme hidup di Jogja yang ngeslow ternyata gak berlaku di stasiun. Cuma telat 3 menit dan ke depan sudah terbayang kita bakal telat 12 jam perjalanan ke bekasi. Belum lagi itung-itungan tiket bis, macet, dan stamina yang kurang sip buat naik gunung. Yasudah, apa adanya saja, kita ke terminal, naik bis, keluar duit lagi dan jalan. Perjalanan di dalam bis sepertinya gak perlu diceritakan, yang satu memaksa tidur, yang satu gak bisa tidur itung2an estimasi waktu perjalanan dan memetakan titik macet. Macet! haha
     Singkat cerita, berangkat dari Jogja jam 19.00 sampai di Bekasi jam 14.00, itu badan bener-bener apek, pegel, dan gamang liat lalu lintas ala ibukota dan daerah penyangga yang crowded. Lupa ketinggalan cerita, pas lewat Cirebon Ciremai cerah bener, sayang lagi pas males moto. Juga di Indramayu macet parah, macet buat yg lain mungkin udah jadi cerita basi, tapi buat kulo niki tesih cariyos ingkang saged dicariyosaken.
     Setelah berkenalan dengan beberapa panitia di alun alun kita berangkat. Ketemu kriwil, ketemu Tole, ketemu om Wisnu, Gingsul, Kardus, om Alfian, dan yg lain yg dulu pernah main di Jogja jadi saya masih inget. Tanpa banyak basa basi akhirnye kita naik truk TNI yang sama orang Bekasi disebut tronton. Padahal tronton di pantura sebutan buat truk gandeng gede muatan barang, bener bener tijel. Ini perjalanan ke 5 saya naik gunung gak pake motor, lama pula nyampainya. ini penampakannya tronton:
   

   
     Pake tronton jalanan jadi lumayan ngebut, maklum mobil plat ijo lumayan disegani di jalanan. Walaupun yang dibawa bukan pasukan marinir apa kopaska. Lagian mana berani yg dijalan ngalang ngalangin, gak liat itu meriam segede kamar kostan? :p.
     Di dalem tronton, saya kebagian tronton barang, ngangkut semua barang, isinya panitia semua gak ada panitia. Seinget saya di situ ada david, BangTur, Siwo, Bang Nana, Emak (gak tau namanya) siapa lagi lah lupa. Di dalem tronton pada ngrokok semua, mumpung gak ada peserta, saya yang sebenernya udah ngantuk banget pengin tidur akhirnya ikut rokokan, haha. Jangan ditiru, naik gunung tanpa latihan fisik, perjalanan jauh tanpa istirahat, di jalan pun cuma rokokan dan yg negatif negatif. Tapi jangan negatif thingking lho, nyesel ntar kalo gak bisa memahamiku nantinya.
     Setelah menempuh perjalanan yang tak henti henti, laper dan lengket di baju akhirnya kita sampai di pom bensin, Pom bensin Cileungsi, ketemu Waldi hartofi, dari chapterbogor yang ternyata ikut acaranya b_summiter. Ternyata perjalanan masih jauh, sampai kita akhirnya sampai di pom bensin lagi. Kali ini buat makan, dan belanja logistik. Yang lain pada beli makan sama logistik, saya ndempes aja di pojok, kagak punya duit sama sekali. Untungnya ada masmin yg berbaik hati minjemin duit buat belanja, belanja rokok!.
     Setelah meluncur dari pom bensin dan menunggu sekitar 2 atau 3 jam lamanya akhirnya kita sampai di gunung putri. Di gunung putri kalo saya liat-liat suasanya hampir mirip dengan wekas juga selo di kaki merbabu. Masih banyak perumahan warga yg bentuk rumahnya mirip2 antara ketiga wilayah tadi. Yang jelas gak mirip adalah harga makanannya, jauh. Gak tau darimana asalnya tapi stereotype mahal buat gunung2 selain gunung di jawa tengah itu sudah terlanjur melekat buat saya. maklum pemuda kere…
     Di gunung putri kita menempati salah satu rumah penduduk yg sekaligus berfungsi menjadi warung sekaligus menjadi tempat istirahat. Saya luma nama tempatnya, cuma kadang disebut tempatnya abah, kalo saya gak salah inget. Peserta dan panitia sibuk mempersiapkan segala seseuatu buat besok, kemudian saling bercanda dan sepertinya kemudian pada tertidur.
bersambung…

Konto Terasi


              Setiap kali masuk ke ruangan itu, saat keluar pasti hanya ada dua nuansa. Nuansa kelabu atau terang. Masuk dan duduk berbanjar berbaris, disajikan oleh pramusaji yang cantik beraneka hidangan yang asing. Seseuatu yang tak pernah dihidangkan di luaran ruangan. Orang orang menyebutnya Konto terasi. Hidangan orang orang pesisir yang katanya hidupnya dinamis dan penuh dengan warna.

            Partem telah bolak balik masuk ruangan itu sekitaran lima kali. Empat kali kelabu dan hanya sekali terang. Memang membongkar konto terasi ini butuh keberanian dan keteguhan hati. Karena rasa yang terkandung dalam Konto terasi memang cukup menantang nyali. Kadang ada rasa pedas menyeruak yang membuat kerongkong panas. Kadang malah hanya ada rasa hambar dan kadang rasa pahit yang membuat lidah mengkerut. 
            “Par, tak masuk kelas lagi kau rupanya? Naik gunung lagi?” Melangkah pelan dari ujung gerbang kemudian Totem duduk di kursi kayu tak jauh dari Partem duduk.
            “Coy.. ternyata Kartini itu tak cantik seperti yang di foto-foto itu, ternyata.” Partem menegakkan duduknya sembari memijat mijat pergelangan tangannya.
            Baru baru ini Kartini selalu ada dalam angan-angan Partem. Wajah ayu yang sering dia lihat di foto di selasar kampus membuatnya jatuh hati.lewat buku-buku perpus mereka saling berkenalan dan saling sapa. Namun pagi tadi saat masuk ruangan Konto Terasi pikirannya tak karuan. Apakah Kartini memang secantik yang di foto? Apakah Kartini tulus budi pekertinya? Apakah Kartini mendapatkan perlakuan buruk di akhir hayatnya? Apakah? Mungknkah? Benarkah?
            “Kelabu saja yang aku dapat kali ini Tot.. mungkin memang otakku yang tak sampai tingkatannya. Atau memang jaman sudah berubah, merubah sejarah. Padahal aku sudah sejauh ini maju Tot, kubacai semua buku di perpus dan di warnet. Tapi ternyata aku hanya membaca buku-buku satu sisi. Ternyata sejarah itu bersisi-sisi, punya banyak pihak, dan masing masing memiliki versi,” Totem hanya melongo mendengar Partem berkeluh-kesah.
            “Apa urusannya kau bawa-bawa sejarah Par? Konto terasimu itu bukannya seperti rujak teplak? Banyak macam bahan lalu ditumbuk dan diuleg dalam satu talenan.”
            Ini Cuma perkara persepsi. Beberapa dari kita membangun persepsi sejak kecil untuk beberapa hal. Dan kadang saat persepsi kita digoyang oleh hal-hal baru, saat itulah seringkali kita protes. Seperti persepsi pada Kartini atau mungkin persepsi pada hal hal itu.
            Dan pagi ini Partem akan diceritakan mengenai Soe Hok Gie. Idola pemanjat gunung sejak Partem kecil.
            “Nanti jangan-jangan mereka katakan kalau Soe itu cuma cina sipit yang pintar dagang. Aku terlanjur mengpersepsikan Soe Hok Gie seperti Nicholas Saputra di film Gie. Semoga mereka tak merusak persepsiku hari ini.”
            Selepas keluar dari kelas pagi ini, baru kali ini Partem memperoleh terang. Mungkin persepsinya bertahan kali ini. Mungkin Soe Hok Gie idolanya naik gunung memang sesempurna yang ada di angannya. Mungkin dia tak lagi peduli pada persepsinya, hanya peduli pada logika dan fakta fakta yang telah berulangkali dianalisis. Yang jelas siang itu Partem tersenyum.
            “Entah kelabu entah terang aku tak peduli. Asalkan itu memberi arti.”
            Terang itu kadang menyilaukan. Sedang kelabu bisa juga menyimpan keteduhan dan ketenangan. Itu Cuma masalah persepsi.
***
            Ahh Cuma mimpi, kukira aku sudah masuk ke kelas. Ternyata hanya Totem Partem. Ketikanku masih banyak, mari tidur lagi..