Batas Larut

Batas larut malam ditentukan oleh masih ada tidaknya pedagang makanan gerobak dorong. Ketika masih terdengar suara ting ting tukang bakso, tek tek nasi goreng, atau tring tring mpek mpek, berati malam masih berlanjut. Tetapi ketika malam sudah tak menjumpaimu lagi dengan suara suara itu, berarti malam sudah larut. Pagi sebentar akan datang, menjumpai kita dengan ting ting bubur ayam, tek tek nasi uduk, dan tring tring soto klaten.

Memang, apa yang kita jual menentukan siang atau malam kita harus berjualan. Bubur ayam akan menempatkanmu di waktu paling pagi. Ibu muda dengan balita, menantu muda dengan mertua yang sudah sepuh, atau sekedar orang muda yang sedang sakit. Tak beda jauh dengan nasi uduk, nasi kuning, dan nasi nasi lainnya. Semua makanan pagi akan disajikan dari subuh hingga menjelang tengah hari. Mulai tengah hari, soto mulai beredar, diiringi mie ayam, bakso, gado-gado ketoprak dan segala jenis salad lokal lainnya.

Menu siang adalah menu yang paling semarak. Makan siang jadi kesempatan bagi mereka yang tidak sempat sarapan, untuk mengisi perut. Atau sekedar mencari cari makan sesuai selera bagi mereka yang memiliki jam istirahat panjang. Di siang hari, menu padang dan warteg sudah komplit. Es cendol hingga es doger berjejer hendak menemani makan semua menu.

Ext…

Petualangan hidup terbaik adalah menjadi penjual makanan gerobak keliling. Dengan rute jalan yang bebas, dan berkeliling di malam hari.

Ext…

Luka

​Mereka bergumam

Terhitung luka bangsanya, seribu, bahkan lebih. Sejuta, lebih.

Ibu paruh baya yang terduduk di trotoar, memandang roda-roda bis yang sedari pagi berlalu. Di pangkuan dagangannya masih utuh. Kacang dalam plastik yang direnteng, keripik kering yang tercampur remah-remahnya.

Seharian ia naik turun bis kota, beranjak dari pintu depan ke belakang.

Belasan luka, uang sekolah anak yang belum terbayar, atap rumah bocor yang belum tertambal, hutang di warung depan yang belum bisa dibayar.

Sementara deretan yang duduk di bus pun membawa masing-masing luka di punggungnya, atau di kepalanya.

Aku pun demikian!

Jelajah Candi

Melalui penjelajahan candi, sejatinya kita telah melakukan perjalanan waktu ke masa lampau. Candi ini misalnya, taksiran usianya mencapai lebih dari 1000 tahun. Ia telah berdiri, disucikan, terkubur, rapuh, lalu kemudian dipugar kembali. Satu yang tak berubah, candi akan tetap menjadi penanda sejarah. Candi menjadi jembatan waktu masa kini dan masa lampau.

Kecakapan Literasi

Frasa ini pertama terbaca di serangkaian tweet seseorang dalam menanggapi perilaku maayarakat kita yg sadar/tanpa sadar kerap menyebarkan hoax. Hoax semacam berita-berita yg didramatisir, berita bohong, berita provokasi dan banyak lagi macamnya. Semua ini bisa kita temui dengan mudah di media sosial.

Salah satu contoh yg masih saya ingat adalah foto yg disertai narasi. Sebuah foto, sekumpulan biksu sesang menguburkan banyak mayat dalam sebuah pemakaman massal. Di bawahnya ditulis narasi tentang kekejaman biksu di myanmar yang dituliskan membunuhi banyak warga muslim. Narasi ini merujuk pada konflik yg terjadi di Myanmar antara warga muslim dan umat budha. Narasi ditulis dengan model penulisan berita, disertai dengan kalimat kalimat provokatif. Tapi benarkah demikian faktanya?

Nyatanya, gambar dan narasi yang banyak disebarkan adalah hoax. Gambar biksu yang terlihat sedang menguburkan mayat dalam pemakaman massal adalah gambar biksu yang sedang memakamkan korban gempa bumi di Nepal. Bencana gempa bumi di Nepal beberapa tahun yg lalu menelan banyak korban jiwa, sehingga diputuskan untuk melakukan pemakaman di pemakaman massal. Dalam prosesi ini biksu biksu bertindak sebagai semacam pemimpin upacara pemakaman, sekaligus mendoakan para korban.

Fakta di balik narasi dan foto adalah dua soal yang berbeda. Tentang konflik di Rohingya, sulit untuk membantahnya melihat banyaknya bukti yang menguatkan. Tidak bisa dipungkiri, konflik secara nyata terjadi di sana, sedang untuk detailnya kita harus mempelajari benar benar. Tapi menggunakan foto yg salah untuk berita yg benar adalah ceroboh. Berita yg bisa jadi merupakan berita yang benar dan sesuai kenyataan, akan jadi bias karena menggunakan foto yg salah. Apalagi jika penggunaan foto sengaj dilakukan untuk memperpanas keadaan, memancing emosi, dst.

Kita musti memiliki kecerdasan literasi. Minimal kita memperhatikan dua hal, sumber dan verifikasi. Setiap artikel, brodkestan, berita, atau apapun itu yang tersebar di media sosial harus kita cari tau sumbernya dari mana. Apakah dari copy paste media berita, ataukah hasil pengamatan sendiri, atau hanya sebuah opini. Dengan mengetahui sumbernya kita bisa lebih mudah menyikapi soaial media yg penuh dengan berbagai macam sebaran. Keterangan resmi kepolisian tentu lebih mudah dipercaya ketimbang artikel orang yang mengaku ngaku dekat dengan kepolisian, atau mengaku mengamati kinerja kepolisian.

Pun ketika kita telah mengetahui sumber, kita harus memverifikasinya terlebih dahulu. Benarkah artikel kesehatan A benar benar dikeluarkan oleh IDI atau hanya artikel yg diaku aku dikeluarkan oleh IDI. Pun jika memang benar dikeluarkan oleh IDI apakah artikel tersebut tidak mengalami editing dengan versi yg asli atau ternyata sudah ada perubahan, dst. Verifikasi harus terus kita lakukan sampai kita benar2 yakin bahwa artikel yg kita baca adalah valid. Baru kita bisa menanggapinya..

Halo Google!

Carikan tempat menulis terbaik, tanpa perlu memikirkan berapa banyak yang akan membaca. Soalnya, saya (aku lebih suka merujuk diri sendiri sebagai saya) butuh bicara banyak dengan diri sendiri. Selain melalui perjalanan pelesir dan naik gunung, cara termudah adalah dengan menulis.

So, can I start now, Goog?