Sun Tzu

           Setiap bangsa di dunia ini membutuhkan pemikir pemikir handal untuk membangun negerinya. Dengan pemikiran pemikiran yang handal maka pembangunan sebuah bangsa bisa berjalan lancar. Pemikiran bisa mencakup banyak hal, baik filsafat, politik, kebudayaan dan tidak lupa militer. Dalam hal di atas china memiliki contoh yang lengkap mengenai pemikir prmikir handal. China memiliki banyak pemikir pemikir besar di setiap zaman. Dari Mao Tse, Konfusius sampai Chun Yan Set. Salah satu yang menonjol terutana di bidang militer adalah Sun Tzu. Dari asal nama Sun Zi yang diperkirakan lahir pada tahun 535 SM.

Sun Tzu adalah penulis Sun Zi Bingfa, yang kemudian oleh orang orang Eropa populer dengan nama Sun Tzu’s Art of War. Buku ini merupakan sebuah buku filsafat militer China kuno yang sangat berpengaruh meskipun sebagian besar isinya tidak berhubungan langsung dengan taktik. Sun Tzu juga dikenal sebagai salah seorang realis paling awal dalam bidang ilmu politik. Sun Tzu bukanlah nama asli, melainkan sebuah sebutan kehormatan seperti halnya Kong Tzu Konfusius atau Lao Tzu Lao Tse.
Satu-satunya sumber mengenai kehidupan Sun Zi yang masih tersisa adalah biografi yang ditulis pada abad ke-2 SM oleh ahli sejarah Sima Qian, yang mendeskripsikannya sebagai jendral yang hidup di negara Wu pada abad ke-6 SM. Namun, biografi ini tidak konsisten dengan sumber-sumber yang lain tentang periode tersebut, dan bentuk dan konteksnya mengindikasikan bahwa biografi ini kemungkinan besar ditulis antara 400 SM dan 320 SM.
Karya Sun Zi sendiri, Sun Zi Bingfa, tampaknya memuat beberapa petunjuk langsung tentang kehidupannya. Contohnya, kereta perang yang dijelaskan Sun Zi digunakan dalam periode yang relatif singkat, yang berakhir pada abad ke-4 SM, yang berarti sebagian buku ini ditulis pada periode tersebut. Beberapa orang ahli menyimpulkan bahwa tulisan Sun Zi sebenarnya digarap oleh beberapa orang filsuf China yang tidak diketahui dan bahwa Sun Zi sebenarnya tidak ada dalam sejarah. Ini dapat dilihat lebih jauh dalam kenyataan bahwa kesejarahan Sun Zi dibahas panjang-lebar dalam kata pengantar untuk terjemahan Giles pada 1910. Giles mengemukakan perasaan ragu dan kebingungan yang melingkupi topik ini.
Pada tahun 1972, satu set teks ditemukan di kuburan dekat Linyi di Shandong. Ini telah membantu mengonfirmasi teks yang telah diketahui sebelumnya, dan juga menambah bab-bab baru dalam buku taktik militer ini. Teks tersebut diperkirakan ditulis antara 134 SM-118 SM , sehingga meruntuhkan teori lama yang menyatakan bahwa sebagian buku ini ditulis lebih belakangan. Sebelumnya dipercaya bahwa buku ini ditulis pada abad  6 SM.
Sun Pin, keturunan Sun Zi, juga menulis teks yang berjudul Art of War, walaupun mungkin judul yang lebih cocok adalah Art of Warfare (Seni Peperangan) karena lebih membahas sisi praktis peperangan . Sedikitnya satu penerjemah menjudulinya The Lost Art of War atau Seni Perang yang Hilang, karena buku ini, dalam waktu yang lama, memang hilang. Buku ini baru mulai ditemukan lagi erabad abad sesudahnya.
            Sun Zi Bingfa, atau dikenal pula sebagai Sun Tzu Art of War, adalah sebuah buku filsafat militer yang diperkirakan ditulis pada abad ke-2 SM oleh Sun Zi. Terdiri dari 13 bab di mana setiap bagian membahas strategi dan berbagai metode perang. Karya ini merupakan karya tulis militer Tiongkok yang paling dihormati dan paling terkenal di luar negeri Tiongkok. Siapa yang menulis buku ini sampai sekarang masih diperdebatkan oleh para pakar sejarah. Beberapa ahli berpendapat bahwa Sun Zi bukanlah nama asli penulis buku ini, melainkan julukan yang diberikan orang kepada penulis tersebut. Sebab, kata “Zi” pada nama Sun Zi sebenarnya digunakan untuk mengacu pada seorang filsuf sehingga Sun Zi diartikan sebagai “filsuf Sun”.
            Buku ini juga menjadi salah satu buku strategi militer tertua di dunia dan banyak memberikan pengaruh dalam perencanaan strategi militer baik Dunia Timur maupun Barat, taktik bisnis, dan banyak lagi. Buku yang ditulis sekitar tahun 400—320 SM ini pertama kali diperkenalkan di Jepang pada tahun 716—735 M. Sementara itu, di Eropa, buku ini diperkenalkan oleh Jean Joseph Marie Amiot, yang menerjemahkannya ke dalam bahasa Perancis. Kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Kapten E. F. Calthrop, seorang kapten berkebangsaan Inggris.
            Kutipan Beberapa ayat dalam buku ini acapkali dikutip dan digunakan sebagai kata mutiara, misalnya beberapa ayat terakhir dari bab 3:
 Jadi di sini dikatakan: Ia yang mengenal pihak lain (musuh) dan mengenal dirinya sendiri, tidak akan dikalahkan dalam seratus pertempuran. Ia yang tidak mengenal pihak lain (musuh) tetapi mengenal dirinya sendiri memiliki suatu peluang yang seimbang untuk menang atau kalah. Ia yang tidak mengenal pihak lain (musuh) dan dirinya sendiri cenderung kalah dalam setiap pertempuran. Yang juga sering disingkat sebagai:
Jika Anda mengenal diri dan musuh Anda, Anda tidak akan kalah dalam seratus pertempuran
Aplikasi militer dari buku perang ini misalnya pada semasa era Sengoku di Jepang, seorang daimyo bernama Takeda Shingen (1521-1573) mampu memenangkan banyak pertempuran tanpa menggunakan senjata api karena ia telah mempelajari Sun Zi Bingfa. Buku ini bahkan memberinya inspirasi untuk aturan pertempuran “Fūrinkazan” yang dibuatnya (Air, Hutan, Api, dan Gunung; berarti: secepat angin, sesunyi hutan, seganas api, dan sekokoh gunung). Semasa Perang Vietnam, beberapa perwira Vietkong memperlajari Sun Zi Bingfa, dan dilaporkan dapat mengulang kembali seluruh kata dalam buku tanpa membacanya.
Strategi Sun Tzu digunakan oleh Genghis Khan di abad ke 13 dalam menaklukkan wilayah kekuasaannya mulai dari Mongol, China, Siberia hingga mendekati Eropa. Napoleon di masa muda membaca dan mempelajari buku itu dari para rahib Jesuit yang menterjemahkannya dari bahasa China di tahun 1782. Cara berpikir dan bertindak Mao Tse Tung juga sangat dipengaruhi strategi Sun Tzu, seperti terlihat dalam buku Merah Mao. Hitler juga mempelajari strategi Sun Tzu, dan menggunakannya saat merebut Polandia dalam operasi ‘Blitzkrieg’ yang berlangsung2 minggu. Di tahun 1991, dalam operasi Desert Storm dan Desert Shield di kawasan Teluk, setiap anggota Marinir Amerika memiliki dan mempelajari buku strategi perang Sun Tzu. Strategi itu terbukti tetap relevan walau telah melewati rentang waktu 25 abad

Raden Ajeng Kartini (Tamat)

Bagaimana hasil perjuangan Kartini dan apa pengeruhnya bagi generasi sesudahnya?
            Kartini telah memberikaan inspirasi kepada banyak perempuan di dunia. Bahkan Eleanor Rosevelt pun terkesan setelah membaca terjemahan kumpulan surat surat Kartini, letters of a javanese princess. Bagi Eleanor gagasan yang dikemukakannya dalam surat mengguagah hati dan nuraninya. Perjuangan Kartini adalah perjuangan dengan memberikan semangat dan pemikiran bagi bangsa Indonesia terutama kaum perempuan. Kartini berharap perempuan di negerinya bisa maju seperti laki laki dalam segala bidang. Khususnya dalam mengejar pendidikan dan ilmu pengetahuan. Perjuangan Kartini adalah perjuangan batin yang masih terjajah dari kungkungan adat istiadat dan tradisi yang menempatkan perempuan sebagi sosok lemah yang tidak berdaya. Ketika itu hidup perempuan hanyalah sekedar menjalankan kodratnya saja tanpa diberi kesempatan untuk mengmbangkan diri.

Upaya perjuangan Kartini sedikit banyak mempengaruhi kaum perempuan di tanah air.  Tentunya hal ini tak lepas dari semangat Kartini dalam memperjuangkan nasib kaumnya. Agar bisa sejajar dengan kaum pria. Dan menjadi mitra setia dalam perjalanan hidup bagi pria. Kartini semasa hidupnya mampu memberikan arti dan semangat tersendiri dalam perjuangan kaum perempuan untuk meraih emansipasinya. Sayangnya umur Kartini terlalu muda saat dipanggil oleh yang maha kuasa. Kartini meninggal pada usia 25 tahun meninggal setelah melahirkan putera pertamanya. Karini dimakamkan di desa Bulu kecamatan Bulu Rembang. Dimakamkan di pemakaman keluarga suaminya yang merupakan bupati Rembang.
Kini hanya tinggal semangat dan pemilirannya saja yang tertinggal. Namun berkat kegigihan Kartini kemudian didirikan sekolah wanita oleh yayasan Kartini di semarang pada tahun 1912, san selanjutnya di Yogyakarta, Surabaya dan sebagainya. Nama sekolah sekolah tersebut adalah sekolah Kartini. yayasan Kartini sendiri dibentuk oleh van Deventer yang merupakan tokoh politik etis.
Perjuangan Kartini tidak hanya sendirian. Dewi Sartika dari jawa barat adalah termasuk sosok yang berjuang di jalan Kartini. selain nama Dewi Sartika ada pula nama Rohana Kudus dan Rahmah el Yuniasih dari Bukit tinggi dan Padang. Dua nama terkahir bahkan mendirikan beberapa sekolah perempuan yang kemudian menjadi inti dari organisasi Kaum Ibu Sumatera. Sedang di Yogyakarta muncul perkumpulan Aisyah yang merupakan bagian dari Muhammadiyah yang bergerka dalam bidang sosial terutama pergerakannya didominasi oleh kaum perempuan.
Berikut adalah perkumpulan perkumpulan semacam di atas selepas tahun 1920. Diantaranya:
  • ·         Ina Turi dari serikat Ambon
  • ·         Wanudiyo Utomo dari Sarekat Ialam
  • ·         Wanito Utomo
  • ·         Wanito Mulyo

           Puncaknya tejadi pada bulan Desember 1928 seluruh utusan dari perkumpulan perkumpulan semacam yayasan Kartini dikumpulkan menjad satu untuk mencari sebuag konsep kesatuan organisasi seluruh Indonesia. Diantara yang memprakarsai adalah Nyonya Sukanto, Nyonya Suwardi, dan Nyonya suyatin. Hasil nya akan dibentuk sebuah paersatuan perkumpulan perkumpulan  perempuan. Dibentuklah Perwani, persatuan wanita indonesia. Paguyuban ini membawahi bermacam perkumpulan perkumpulan perempuan.
            Pada era pergerakan nasional, gerakan gerakan perempuan ini mulai menampakkan peran yang cukup signifikan. Diantaranya dengan ikut melebur pada organisasi organisasi yang lebih besar. Itulah pengaruh perjuangan Kartini yang terasa bahkan sampai waktu yang cukup lama sesudah Kartini meninggal. Jasa jasanya akan selalu dikenang. Ide dan pemikirannya selalu membangkitkan gairah untuk berjuang. Itulah semangat Kartini yang ditularkan pada generasi sesudahnya. Meskipun ada anggapan bahwa sosok Kartini adalah sosok yang diangkat Belanda sebagai figur. Belanda sengaja mengangkat Kartini yang berpola pikir kebarat baratan menjadi figur panutan bagi banyak rakyat.

Raden Ajeng Kartini (3)

         Namun yang paling fenomenal dari perjuangan kartini adalah ide-ide orisinil dan pemikirannya tentang usaha memajukan nasib kaumnya yang dia tulis lewat surat kepada teman temannya dari Belanda. Diantara kebanyakan surat tersebut sebagian besar mengisyaratkan keinginan Kartini untuk mencapai kemerdekaan sepenuhnya sebagai perempuan yang berdikari. Tidak tergantung pada siapa siapa, meskipun tidak memungkiri akan bantuan dari orang lain. Beberapa point dari surat Kartini diantaranya adalah sbb:

  • Posisi perempuan di jawa dan Belanda sangat berbeda. Jika di Belanda posisi perempuan sudah lebih terhormat, maka sebaliknya di jawa posisi perempuan sangat memprihatinkan. Perempuan di jawa dipaksa menerima saja takdirnya tanpa ada kesempatan untuk mengembangkan diri. Dan setelah Kartini mengetahui fakta ini, niatnya untuk berjuang memajukan nasib kaum perempuan semakin besar. Dalam surat suratnya Kartini kerap menyinggung niatnya ini sebagai usaha untuk meraih kemerdekaanya meskipun akan banyak halangan dan tantangan yang akan datang. 
  • Kartini memperjuangkan emansipasi perempuan dalam segala bidang. Dalam pendidikan Kartini memperjuangkan agar kaum perempuan memiliki hak yang sama seperti halnya kaum pria dalam mengenyam pendidikan. Sebelumnya pendidikan hanya bisa dirasakan oleh kaum pria saja. Sedangkan kaum perempuan hampir tidak mungkin mencicipi indahnya bangku sekolah formal. Hal ini tentu saja mengusik rasa keadilan, terutama mengusik nurani sebagai seorang wanita. Untuk meentang ketidak adilan ini Kartini pun berusaha sekuat tenaga untuk bisa menghadirkan pendidikan bagi kaum perempuan, terutama kaum perempuan pribumi yang hampir pasti tidak bisa mengenyam pendidikan. 
  • Emansipasi juga terjadi dalam kehidupan bermasyarakat, jika sebelumnya peran perempuan di masyarakat relatif tidak ada maka seiring waktu kartini berjuang agar perempuan juga memiliki peran aktif di masyarakat. Meskipun tidak terlalu signifikan setidaknya perempuan bisa membantu sekedarnya demi kepentingan umum. Dan yang lebih penting adalah emansipasi dalam hal gender. Perempuan pada masa itu diposisikan lebih rendah derajatnya daripada laki laki. Sehingga banyak perempuan yang diperlakukan tidak terhormat oleh laki laki. Bahkan di beberapa daerah lazim terjadi poligami yang bagi perempuan sangat tidak adil. Selain itu Kartini memperjuangkan agar tradisi pingitan tidak diberlakukan lagi karena memasung kebebasan dan kemerdekaan perempuan. 
  • Dalam surat surat nya Kartini juga berkeinginan untuk mendobrak tembok tembok tradisi yang memisahkan perempuan dengan dunia luar. Sudah menjadi rahasia umum jika perempuan harus tunduk dan patuh pada tradisi. Dari mulai dipingit sampai dijodohkan dengan laki laki yang tidak dikenal dan biasanya telah beristri lebih dari satu. Kartini tidak memungkiri bahwa tradisi adakalanya memang diperlukan sebagai kontrol. Namun menurut Kartini tradisi juga tidak boleh mamasung kemerdekaan perempuan. Tradisi seharusnya sejalan dengan penghormatan kepada perampuan, tidak malah menginjak injaknya. 
  • Kartini juga memperhatikan masalah agama. Meskipun menjadi sorang muslimah bukan menjadi cita cita utamanya. Dalam beberapa suratnya kartini mengungkapkan betapa dia ingin mendalami agama. Namun terbentur oleh keterbatasannya mengakses ilmu agama. Namun di akhir masa hayatnya Kartini mulai menemukan kesempatan untuk belajar agama. Dari pesantren milik kakeknya dia menemukan AlQuran terjemahan bahasa jawa. Disitulah Kartini menemukan kata kata yang kemudian sangat sering dikutipnya dalam surat suratnya. Dan Seperti telah disebutkan bahwa menjadi seorang muslimah bukanlah awal dari cita-cita Kartini. Bahkan ada suatu masa dimana Ny.Van Kol berusaha mengkristenkan Kartini. Meskipun ia gagal untuk mengkristenkan Kartini, namun ia berhasil mendangkalkan aqidah Kartini. Sehingga dalam beberapa suratnya Kartini menulis: “Namun demikian, Allah pula lah yang mempunyai kehendak atas hamba-Nya. Allah menurunkan hidayah-Nya pada Kartini melalui sebuah pengajian dan pertemuan singkatnya dengan KH. Sholeh Darat. Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman)…” (QS. 2:257) adalah salah satu ayat dari terjemahan yang paling berkesan baginya. 

         Inilah titik awal dari pembalikan Kartini (inqilab) dari kegelapan jahiliyah menuju pada cahaya Islam (Minazh Zhulumaati ilan Nuur). Melalui Al-Quran yang sebagian diterjemahkan oleh KH.Soleh Darat, Kartini mulai mempelajari Islam dalam arti yang sebenarnya. Mulai saat itu Kartini bercita-cita untuk menjadi seorang muslimah sejati. Kalimat Minazh Zhulumaati ilan Nuur sering Kartini ulang-ulangi di dalam suratnya, yang dalam bahasa Belanda ditulis sebagai Door Duisternis Tot Licht. Sayang-nya, kalimat tersebut diterjemahkan oleh Armijn Pane (nasrani) sebagai „Habis Gelap Terbitlah Terang”, sehingga maknanya yang begitu dalam tidak lagi terlihat.
          Dan itulah beberapa point point yang terkandung dalam surat surat Kartini. meskipun tidak mencakup semuanya, setidaknya cukup menjadi bahan pengetahuan untuk mengetahui apa yang ada di pikiran kartini kala membuat surat surat yang kemudian dibukukan oleh Abendanon. Surat surat tersebut kemudian dikumpulkan dan diterbitkan oleh Abendanon dalam belanda. Cetakan pertama ditebitkan oleh s-Gravenhage, van Dorp(1911) dengan judul, Door Duisternis tot Litch. Namun mengingat betapa pentingnya surat ini dalam mengangkat semangat perjuangan bangsa maka diterbitkan juga terjemahan dalam bahasa jawa sunda dan sebagainya.
         Tidak semua surat yang dikirimkan oleh kartini dipublikasikan. Stella yang memilki sekitar 20 surat dari kartini hanya meinjamkan 14 buah suratnya. Ada pula yang enggan meminjamkan suratnya sama sekali dengan berbagai macam alasan. Buku Door Duisternis tot Litch akhirnya hanya memuat sekitar seratus surat. Hampir setengahnya adalah surat surat yang ditujukan kepada Abendanon.
         Buku ini diterjemahkan juga kedalam bahasa inggris. Dengan judul Letters of Javanese Princes yang sampai di Amerika mendapat cukup banyak apresiasi positif. Sedang dalam bahasa jawa, buku ini diteremahkan oleh banyak penulis. Namun sepakat menamainya dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang.

Raden Ajeng Kartini (2)

          Kartini dibesarkan di lingkungan ningrat. Dia dididik untuk mematuhi adat istiadat dan tradisi yang ada. Sebagai seorang perempuan, perannya hanya dibatasi pada permasalahan rumah tangga. Sedang peran dalam kehidupan bermasyarakat ataupun pendidikan cenderung diabaikan. Sejak kecil Kartini mulai menunjukkan bibit pemberontakan. Sejak usia kecil Kartini mulai menanyakan akan menjadi apa dirinya kelak kepada ayahnya. Sebuah pertanyaan yang cukup miris, mengingat perempuan seperti dia dan adik adiknya nantinya akan diperistri oleh orang yang tidak dikenal. 
          Umur 12 tahun Kartini dipingit oleh keluarganya. Dia sama sekali tidak boleh keluar rumah bergaul dengan rakyat. Mulai saat itu dia akan menunggu sampai datangnya lamaran dari bupati yang akan menjadi suaminya kelak. Kartini menentang keras rencana ini. Baginya ini melanggar kemerdekaanya sebagi seorang perempuan merdeka. Namun dia tidak berani melawan perintah dari ayahnya karena dia begitu mencintai keluarganya. Dalam masa pingitan Kartini mengasah pemikirannya untuk membebaskan kaumnya dari belenggu seperti yang saat ini ia rasakan. Kartini sejak awal masa pingitannya memang sudah rajin membaca berbagai tabungan ilmu menghadapi tantangan perjuangannya didepan. 
          Kartini dibebaskan dari pingitannya pada umur 16 tahun. Setelah bebas ia bahkan diizinkan untuk keluar dari rumah untuk bersosialisasi. Semua ini berkat kebijaksanaan ayahnya yang merasa bahwa tidak seharusnya Kartini dikekang. Kartini kemudian banyak bertemu kawan kawannya dari barat. Mereka adalah teman sekolahnya dulu saat dia masih bersekolah sebelum dipingit. Dari teman temannya ini Kartini mulai mendapat pengaruh tentang beberapa pemikirannya. Tentang perbedaan tradisi Jawa dengan Eropa. Dan masih banyak lagi lainnya yang masih berkecamuk dalam pikirannya. Tentang pendidikan, tentang politik pelaksanaan etis pemerintah kolonial di Indonesia, dan masih banyak lagi. 
          Kartini mulai mencoba menulis di beberapa koran lokal. Tulisannya beragam dari pemikirannya tentang perempuan yang harus merdeka dari tradisi yang mengekang sampai pada ketertarikannya tentang konsep barat dalam memperlakukan perempuan. Makin lama dalam usia yang begitu muda Kartini mulai menemukan kematangan berpikir hingga dia kemudian bertekad untuk meneruskan sekolahnya yang terhenti. Bahkan Kartini bercita cita ingin sekolah di Belanda supaya saat pulang nanti bisa mengamalkan ilmu yang didapatnya di indonesia untuk memperjuangkan masib kaumnya. 
          Pada tahun 1899 saat Kartini berumur 20 tahun datanglah pasangan J.E Abondenan yang merupakan direktur kementrian urusan pendidikan peribadatan dan kerajinan ke Jepara. Selama beberapa hari mereka tinggal di rumah kediaman bupati Jepara. Kedatangan mereka sebagai rangkaian tugas untuk mengunjungi semua wilyah Jawa berkaitan dengan diterapkkannya sistem politik etis. Inilah awal kedekatan Kartini dengan Nyonya Abendenon istri dari Tuan Abondenan yang kerap disapa Rosa oleh Kartini. dari nyonya Abendanon Kartini merasa kagum dimana di Belanda harkat dan martabat perempuan begitu dijunjung tinggi. Lalu timbul keinginan untuk mencari tahu lebih jauh tentang hal tersebut. 
          Selama nyonya Abendanon berada di Jepara ia kerap mengajak Kartini bertukar pikiran mengenai banyak hal. Entah itu hal pribadi ataupun tentang isu-isu yang sedang hangat. Keduanya mulai aktif berkirim surat setelah nyonya Abendanon pulang dari Jepara. Nyonya Abendanon bahkan mengenalkan Kartini pada beberapa temannya diantaranya: 

1.   Cving Nestenenk, seorang janda dan ipar dari asisten residen Jepara 
2. Stella Zeehandelaar, seorang gadis yang menjadi aktivis gerakan sosialis di Belanda, mereka banyak berkomunikasi lewat majalah De Hollandscha Lelie 
3. Ir Van Kol, seorang tokoh sosialis Belanda. Selain nama nama di atas ada beberapa nama lagi yang disebut Kartini dalam surat suratnya.

          Pokok pertama yang disampaikan Kartini melalui surat suratnya adalah penolakannya kepada feodalisme. Pengalamannya di masa kecil mungkin yang mendorongnya mengambil sikap seperti ini. Dia mengkritik sistem feodalisme dimana seorang perempuan jawa begitu terbelenngu oleh tradisi. Sejak kecil tidak bisa bebas kemana mana. Saat beranjak dewasa pun harus dipingit. Dan setelah dewasa harus rela dipersunting orang yang tidak dikenal sebelumnya. Bahkan kerap menjadi madu kesekian dari laki laki tersebut. Kartini membandingkan nasib perempuan jawa dengan nasib perempuan Belanda yang merdeka dalam menentukan kehidupannya. 
          Kartini kemudian menampakan penolakan serius terhadap feodalisme dengan banyak tindakan pemberontakan. Bukan pemberontakan fisik secara senjata tapi lebih kepada pemberontakan sikap. Suatu saat dimana kakak perempuan tertuanya menikah, saat kakaknya bersimpuh dan mencium lutut suaminya untuk sungkem semua perempuan yang ada disitu ikut duduk bersimpuh. Namun Kartini tetap berdiri. Menegaskan sikapnya bahwa dia tak ingin perempuan dianggap selalu di bawah laki laki 
          Selain masalah feodalisme Kartini juga memfokuskan surat suratnya kepada masalah pendidikan. Menurut Kartini perempuan-perempuan Jawa selayaknya mendapat perlakuan sama dengan kaum laki laki yang boleh bersekolah sampai tinggi sekolahnya. Perempuan jawa oleh Kartini disebut hanya boleh bersekolah sekedar untuk bisa membaca dan menulis serta berhitung saja. Padahal ilmu yang terkandung di sekolah begitu banyak dan luas. Kartini ingin agar semua perempuan pribumi bisa mengenyam bangku sekolahan untuk belajar banyak ilmu pengetahuan. Mulai dari ilmu sosial politik sampai ilmu alam. 
          Bersama adik adiknya Kartini mendirikan sekolah di pendopo rumahnya dengan bertujuan untuk mendidik perempuan pribumi. Tidak hanya itu, Kartini juga menanamkan sikap perjuangannya kepada murid muridnya tersebut. Kartini berharap memiliki teman dalam perjuangannya. Kartini juga berharap nasib perempuan bis diperbaiki. Tidak melulu hanya terkungkung di rumah mengurusi rumah tangga saja. Menurut kartini perempuan harus aktif dalam masyarakat. Perempuan harus berperan nyata. Tidak hanya memberikan pengajaran pada perempuan pribumi. 

          Kartini juga membantu mengembangkan kerajinan ukir di Jepara. Selain pendidikan, menurut Kartini faktor ekonomi juga penting untuk dimajukan. Meskipun tidak seprogresif dalam pendidikan, usaha Kartini dalam bidang ekonomi cukup terasa pengaruhnya. Hingga sekarang Jepara dikenal sebagai pusat industri kerajinan ukir. Hasil hasilnya antara lain meubel ataupun perkakas dari kaya yang diukir dengan sangat indahnya. Seperti yang terdapat dalam surat yang ditulis Kartini kepada Nyonya Abendon, “Cita-cita kami hendak memajukannya benar. Kalau hendak memajukan industri itu sampai menjadi dipandang orang, terutama sekali perlulah modal dan pimpinan. Kami bercita-cita hendak mendirikan bengkel tempat bekerja yang besar,” kutipan tersebut menunjukan kesungguhan kartini dalam usaha memajukan masyarakatnya.