Teater Realisme

              Teater aliran realisme dapat kami definisikan dengan pemikiran kami sendiri sebagai aliran teater yang dalam lakonnya mengambil tema atau masalah sehari hari yang disajikan dengan alami hampir persis dengan keadaan sebenarnya baik property kostum maupun tata riasnya. Tema yang diambil biasanya tema tema yang dekat dengan kehidupan nyata kita tanpa ada unsur rekayasa atau unsur melebih lebihkan dengan penyampaian yang senyata mungkin. Sedangkan dalam pengertian umum teater realisme banyak yang mengartikansebagai teater yang berusaha menampilkan subjek dalam suatu karya sebagaimana tampil dalam kehidupan sehari hari, tanpa tambahan embel embel atau interpretasi tertentu.
            Aliran realisme menampilkan sisi lain kehidupan yang biasanya jarang diketahui masyarakat umum. Seperti contoh tema gelandangan, anak jalanan pengemis dll yang jarang masyarakat umum tahu keadaan yang sebenarnya tentang mereka. Realisme menyajikan gambaran nyata dari kehidupan seperti di atas menjadi sebuah teater. Teater ini menonjolkan tokoh atau individu. Dalam artian penokohan atau individu menjadi semacam central dari teater ini. Sedangkan mengenai makna yang terkandung mengacu kepada usaha dalam seni peran untuk memperlihatkan kebenaran, bahkan tanpa menyembunyikan hal yang buruk sekalipun.
            Dapat kita ambil contoh teater titik koma yang dimainkan grup teater yang disutradarai Rudi iteng. Lakon titik koma dalam teater tersebut menitikberatkan pada penokohan seorang pelacur beserta kehidupan sehari hari. Dalam lakon tersebut diceritakan kehidupan sehari hari, perasaan hati keluh kesah dan tetek bengeknya dengan penyampaian khas watak seorang pelacur dengan tingkah dan bahasa serta cara bicara yang khas. Kesemuanya disajikan dengan sesuai aslinya tanpa melebih lebihkan dan terpusat pada individu. Makna yang terkandung juga dalam yakni kepedulian terhadap aids. Sedangkan dalam keseluruhan pertunjukan dipaparan semua hal berkenaan dengan tema di atas baik yang baik maupun yang buruk. Tidak ada usaha untuk memberi inerretasi lebih kepada masing masing tokoh.
            Individu tampil sebagai diri mereka sendiri, dengan perasaan, pandangan hidup pikiran dan temperamen mereka yang sesungguhnya. Jika ada peran preman maka watak dan temperamennya benar benar seperti preman yang sering kita lihat di pasar atau terminal. Tidak ada individu yang memerankan watak A namun dalam prakteknya perannya malah berubah watak menjadi watak B. penggambaran watak yang sesuai dengan kenyataan sangat penting di sini. Karena dalam realisme perwatakan harus diusahakan senyata mungkin tanpa ada unsure rekayasa yag terlalu kentara.
            Kita ambil contph lagi karya hendrik ibsen dengan judul “musuh masyarakat” (setelah dialih bahasakan). Bercerita tentang dokter yang memberikan fakta kebenaran tentang keadaan sebuah pemandian umum, namun fakta ini dibantah pleh pemerintah karena takut akan mendapat kerugian dari hal di atas. Di sini tokoh dokter sebagai protagonis memerankan watak yang sesuai dengan watak dokter pada umumnya. Begitu juga peran antagonis pemerintah memainkan peran seperti sewajarnya pemerintah yang kerap rela mengorbankan orang banyak demi keuntungan dan keentingan mereka.
            Dalam realisme tidak ada yang namanya menutup nutupi seseuatu. Seandainya ada lakon yang memerankan peran yang masuk kategori Kontroversial maka hal ini tidak mempengaruhi penyajian karakter lakon tersebut. Seperti telah dipaparkan di atas bahwa realisme berusaha memperlihatkan kebenaran serta tanpa usaha untuk menyembunyikan hal yang buruk atauun dianggap tidak etis serta dianggap tidak sesuai dengan noma.           Realisme justru menciptaan gebrakan yang mungin sangat ontras dengan norma yang berkembang dalam masyaraat.
Sejarah Realisme
            Saat eropa mengalami jaman renaisance saat itu pula semua unsur kesenian berkembang.dari seni lukis, seni pahat maupun seni pertunjukan. Adanya renaisance membawa pengaruh tersendiri bagi masyarakat eropa terutama mengenai kesenian. Perkembangan selanjutnya yang cukup berpengaruh adalah tumbuh dan berkembangnya kaum borjuis yang mulai memainkan peran penting dalam kehidupan masyarakat eropa. Erkembangan yang pesat dalam sistem kemasyarakatan eropa dimana terjadi perubahan kultur yang ditandai dengan merosotnya prestise dari kaum bangsawan, mengakibatkan mulai naiknya kaum borjuis menyaingi bangsawan.
            Kaum borjuis membawa serta selera dan gaya hidup mereka ke dalam berbagai unsur seni. Dalam seni pertunjukan, aroma tema kerajaan yang sebelumnya begitu populer beranjak berganti dengan ertunjukan bertema kehidupan sehari hari yang lebih nyata. Kehidupan yang nyata tersebut sebenarnya merupakan cermin kehidupan kaum borjuis tersebut seperti tema bisnin, kriminal, prostitusi dan banyak lagi contoh lainnya. Hal ini menandai dimulainya seni pertunjukan teater modern.
            Sebab lain munculnya realisme adalah akibat perang yang berkecamuk di eropa khususnya perang dunia I. Para korban pernag saling menghibur diri sejenak melupakan penderitaan dengan memainkan berbagai macam pertunjukan. Pertunjukan yang mereka mainkan umumnya beris tentang kekejaman perang dan penderitaan yang mereka alami
           
Realisme di Indonesia
            Realisme di Indonesia masuk pada sekitar tahun 1900 an pada akhir masa enjajahan belanda. Para pemuda Indonesia yang berkesampatan mengenyam pendidikkan di barat pulang dengan membawa semacam ilmu seni yang mereka peroleh dari duni barat sana. Berawal dari para pemuda cendikiawan ini maka mulai dikenalkanlah seni peran d Indonesia terutama realisme. Sebenarnya di Indonesia khususnya jawa sudah ada bentuk seni peran tradsional kerakyatan macam ketoprak, ludruk maupun lenong.
            Dari berbagai kesenian yang lebih dulu ada dilakukan semacam akulturasi dan asimilasi kebudayaan sehingga seni peran modern di Indonesia tetap memilki cita rasa kedaerahan. Berkembang pula seni peran di kalangan masyarakat tiong hoa yang kebanyakan pertunjukannya menceritakan sri tauladan atas kehidupan nenek moyang mereka, serta kondisi kehidupan mereka di perantauan. Teater dari cina ini mulai menggunakan naskah dalam pertunjukannya. Namun teater dari cina menuai banyak kritik mengenai sikap kebarat baratanya yang absyrd. Sehingga mulailah golongan cendikiawan mengambil alih peranan dalam sejarah teater di Indonesia khususnya realisme.
            Perkembangan selanjutnya adalah pada masa penjajahan jepang dimana jepang membentuk semacam dewan kebudayaan. Dewan kebudayaan in dimanfaatkan oleh golongan cendikiawan untuk dijadikan wadah bagi perkembangan teater modern di Indonesia.