Kota Tegal Dalam Sejarah

Sejarah Kota Tegal: Perkembangan Tata Kota dan Keadaan Sosial Ekonomi Kota Tegal 1900-1950
`           Tegal merupakan kota yang terletak di pesisir utara pulau jawa. Wilayah Tegal merupakan lembah Gunung Slamet yang berbatasan dengan daerah Brebes dan Pemalang di sebelah barat dan timur, serta Banyumas di sebelah Selatan. Kota Tegal merupakan penjelmaan dari sebuah desa yang bernama “Tetegal”. Pada sekitar tahun 1530 daerah Tetegal diperkirakan telah mengalami banyak kemajuan dan telah menjadi bagian dari wilayah kadipaten Pemalang yang mengakui kekuasaan kerajaan Pajang.[1]
            Secara historis dijelaskan bahwa eksistensi dari kota Tegal tidak lepas dari peran Ki Gede Sebayu. Bangsawan ini adalah saudara dari Raden Benowo yang pergi ke arah Barat dan sampai di tepian sungai Gung. Melihat kesuburan tanahnya, Ki Gede Sebayu tergugah dan berniat bersama-sama penduduk meningkatkan hasil pertanian dengan memperluas lahan serta membuat saluran pengairan. Daerah yang sebagian besar merupakan tanah ladang tersebut kemudian dinamakan Tegal. Ki Gede Sebayu kemudian diangkat menjadi Juru Demung Tegal pada 15 Sapar tahun Ehe 988 bertepatan dengan 12 April 1580.[2]
            Perkembangan Tegal memiliki keunikan tersendiri. Sebagai kota pelabuhan, Tegal memiliki kemajemukan penduduk yang beragam. Seperti halnya kota pelabuhan lain seperti semarang maupun surabaya, tegal juga memiliki banyak perkampungan nonpribumi. Tegal memiliki perkampungan etnis china dan arab yang cukup memiliki pengaruh pada perkembangan kota ini. Terutama dalam hal perekonomian dan persebaran agama islam.

          Kondisi ini membuat tegal menjadi daerah yang ramai dan cukup menarik minat banyak orang untuk melakukan hubungan dagang dengan daerah tegal. mulai dari cirebon dan semarang, hingga purwokerto. Letak tegal yang berada di tengah-tengah persis dari tiga kota tersebut membuat tegal semakin strategis. Pada akhir 1880an mulai dibangun stasiun tegal yang nantinya menghubungkan tiga kota yakni semarang cirebon dan purwokerto. Setelah pembangunan stasiun, selanjutnya adalah pembangunan penjara, pemukiman etnis eropa di sekitar stasiun, hingga gedung residen yang terletak di samping benteng Tegal.
            Pembangunan inilah yang membuat Tegal pada tahun 1900-1950 mengalami masa yang dinamis. Baik pada sektor ekonomi, pendidikan, politik, dan tata kota. Belum lagi efek dari kemerdekaan 1945 yang memberi warna tersendiri pada perkembangan Tegal, terutama dengan peristiwa tiga daerah yang terkenal sebagai revolusi sosial yang terjadi di Tegal.
  
A.    Keadaan sosial ekonomi di Tegal pada tahun 1900-1950
      Tegal tahun 1900 mengalami transformasi menjadi salah satu kota besar di pantai utara jawa. Terutama setelah dibangun jalan raya anyer-penarukan serta jalur kereta api yang menghubungakan surabaya dengan batavia/jakarta. Setelah pada tahun 1885 dibangun stasiun Tegal yang kemudian memicu pertumbuhan ekonomi. Perekonomian terutama berkembang pada sentra hasil produksi gula, hasil produksi teh, serta perdagangan tekstil.
      Masyarakat yang mendiami daerah Tegal diantaranya adalah masyarakat pribumi asli yang merupakan penduduk asli Tegal, ada etnis China yang kebanyakan tinggal di daerah pecinan yang terletak di jalan Yos Sudarso. Masyarakat etnis arab bermukim di daerah Pekauman yang terletak di sebelah barat Alun-alun Tegal. sedangan mayarakat Eropa tinggal di daerah Tegal timur di sebelah selatan stasiun Tegal. Sementara warga pribumi kebanyakan tinggal di luar daerah tersebut, seperti di pesisir pantai sebelah barat.
      Etnis china pada masa ini sudah mampu mendirikan sekolah sendiri. Yakni T.H.H.K. Sekolah T.H.H.K merupakan kepanjangan dari Tiong Hoa Hwee Kwan atau Rumah Perkumpulan Tionghoa, THHK adalah sebuah organisasi yang didirikan tanggal 17 Maret 1900 oleh beberapa tokoh keturunan Tionghoa di Batavia. Tujuan utama para pendirinya adalah untuk mendorong orang Tionghoa yang bermukim di Indonesia untuk mengenal identitasnya.Kegiatan utama THHK antara lain membangun dan membina sekolah berbahasa Mandarin. Yang paling terkenal adalah THHK Batavia (Bahoa) dan THHK Tegal (Zehoa). Pemerintah Soeharto pada tahun 1966-67.
      Sekolah T.H.H.K Tegal didirikan pada tanggal 20 Agustus tahun 1906 atas jasa Liem Kwat Hoey beserta rekan sejawatnya. Dari mulai berdirinya hingga 16 tahun kemudian sekolah ini dipimpin oleh sdr. Liem Siao Gie. Tahun 1915 sekolah dipindah dari jalan Benteng ke jalan Petjinan Selatan atau dulu disebut Blok 5.
      Tahun 1928 dilakukan penggabungan murid perempuan dan laki-laki. Tahun 1929 didirikan sekolah Chuchung. Tahun 1931 dicoba dibuka kelas Kao Chung, namun kemudian ditutup karena animo masyarakat kurang. Taman Kanak-Kanak didirikan tahun 1936. Sekolah miskin yang dulunya didirikan oleh Shiong Tih Hui oleh karena perkumpulan tersebut sudah mapan, maka tahun 1942 lalu diambil oper oleh T.H.H.K. Waktu itu T.H.H.K masih dalam lingkungan C.H.T.H
      Setelah kaum penjajah Jepang takluk maka minat sekolah anak muda sangat besar sehingga gedung lama terasa sempit. Atas kedermawanan Liem Goan Ho dengan usaha dagangnya “Liem Gran Kwie” ia memberikan tanah seluas 20.000 meter persegi yang letaknya di jalan Kalianjar pada tahun 1946. Pada tahun 1948 dibuka kelas Kaochung. Tanggal 5 Mei 1912 didirikan sekolah THHK di Banjaran. Hingga saat ini sisa-sisa bangunan dari sekolah ini dapat ditemui di daerah sekitar jalan Yos Sudarso.
      Sedangkan masyarakat etnis Arab lebih memusatkan pendidikan anak-anaknya di pesantren yang banyak tersebar di daerah Panggung. Panggung merupakan salah satu daerah yang memiliki penduduk keturunan etnis Arab pada masa itu. Selain Panggung, pesantran yang cukup dikenal di kalangan masyarakat etnis Arab adalah Ketitang di daerah Talang. Sekitar 5 kilometer dar pusat kota Tegal.
      Masyarakat Eropa membangun sendiri komplek sekolah yang terletak di daerah Tegal timur dekat dengan Stasiun Tegal. Selain menjadi kantor bagi pegawai stasiun dan pegawai maskapai SCS, kawasan ini juga dibangun sekolah khusu untuk masyarakat Belanda. Hingga saat ini, bangunan rumah dan sekolah masih bisa ditemui terutama di jalan Tentara Pelajar. Rumah yang dulunya merupakan bangunan Belanda beralih fungsi menjadi rumah dinas PT KAI.
B.    Kondisi Tata Kota Tegal awal 1900-1950
            Pada masa kolonial Tegal merupakan salah satu kota yang dijadikan Kantor bagi pemerintah Kolonial Belanda. Selain Loji dan kantor Residen, dibangun juga Benteng dan Pelabuhan serta Stasiun. Kantor pemerintah kolonial ini terutama mengawasi hasil pertanian tebu dan perkebunan teh yang merupakan salah satu komoditas utama Tegal. komoditas tebu berpusat di Pangkah di mana pabrik gula pangkah berada. Sedang perkebunan teh terletak di daerah Bojong dan Bumijawa yang terletak di dataran tinggi.
            Lokasi Tegal sangat strategis jika dilihat dari posisi Tegal yang terletak diantara jalur penghubung Cirebon – Semarang maupan Batavia – Surabaya. Tegal juga merupakan pintu masuk dari jalur pantai utara menuju daerah-daerah di selatan pulau Jawa seperti Purwokerto, Cilacap, maupun Kebumen. Hal inilah yang membuat pemerintah kolonial memperhatikan betul pembangunan infrastruktur di Tegal. pembangunan inilah yang kemudian memiicu perkembangan ekonomi dan sosial di daerah tegal.
            Sekitar tahun 1900-an pembangunan di Tegal mencapai puncaknya. Salah satu yang cukup mencolok adalah pembangnan kantor pusat SCS. Stasiun Tegal yang mulai dibangun pada tahun 1885 sebagai stasiun trem JSM (Java Spoorweg Maatschappij). Pada 1897 dibeli oleh maskapai perkeretaapian SCS (Semarang Cheribon Stoomtram-maatschappij) kemudian stasiun dilengkapi dengan atap besar berbahan kayu yang mampu mengatapi 3 sepur. Pada tahun 1918 bagian stasiun yang termasuk dalam rancangan tahun 1885 direnovasi berdasarkan karya arsitek Henricus Maclaine Pont.
            Perusahaan SCS merupakan perusahaan perkeretaapian yang memegang trayek jalur kereta api Cirebon Semarang Purwokerto. Tegal dipilih sebagai kantor pusat sebab Tegal terletak di tengah-tengah ketiga kota tersebut. Pemilihan tegal sebagai kantor pusat SCS membuat Tegal semakin ramai. Arus mobilisasi dari dan menuju Tegal kian mudah. Sebagai akibatnya, kriminalisasi juga semakin banyak. Dari hal ini pemerintah kolonial membangun sebuah penjara yang terletak di sebelah selatan kantor dan rumah Residen.
            Bangunan penjara ini berbentuk seperti sebuah Loji dengan dinding yang kuat dan tebal. Dengan penjagaan yang ketat oleh petugas jaga, serta sel-sel yang terbuat dari besi. Penjara ini sebagai tempat eksekusi maupun penahanan bagi mereka yang telah didakwa oleh pengadilan pemerintah kolonial. Sisa-sisa dari bangunan penjara ini sudah tidak ada, sebagai gantinya, diatasnya dibangun bangunan Belanda lainnya yang kemudian dijadikan gedung kantor pos pada masa orde baru.
            Pelabuhan Tegal terletak di sebelah utara kantor Residen Tegal. Meskipun bukan merupakan pelabuhan yang besar, namun pelabuhan Tegal cukup ramai. Tidak hanya disinggahi para nelayan, Pelabuhan ini juga digunakan sebagai transit bagi mereka yang sedang melakaukan perjalalan menuju semarang maupun Batavia. Hingga saat ini keadaan pelabuhan Tegal masih  relatif sama seperti pada masa pertama kali dibangun. Hanya saja, pelabuhan ini tidak lagi difungsikan untuk bersandar kapal-kapal besar. Pelabuhan ini hanya digunakan untuk bersandar kapal-kapal nelayan kecil pencari ikan.
          
Hubungan antaretnis di Tegal pada 1900-1950
            Hubungan antaretnis terutama etnis China dan Arab serta Jawa di Tegal relatif tidak terlalu banyak terjadi konflik. Masing-masing etnis relatif memiliki toleransi yang tinggi terhadap etnis yang lain. Terlebih tidak ada sentimen perkonomi seperti yang terjadi pada etnis China. Persaingan dagang antara etnis China dengan etnis Arab maupun Jawa tidak terjadi, sebab masing-masing memiliki spesialisasi dagang tersendiri.
            Bentuk kerukunan dan toleransi bisa dibuktikan lewat perayaan imlek di masyarakat etnis China. Tradisi yang telah diilakukan semenjak masa kolonial ini selalu mendapat sambutan meriah dari masyarakat tegal bahkan hingga saat ini. Hal yang sama berlaku saat perayaan pawai Maulud yang diadakan oleh etnis Arab dan Jawa. Saat digelarnya perayaan, maka etnis yang lain ikut membantu dan ikut mendukung kesuksesan acara.
            Hal ini bahkan bisa disaksikan hingga saat ini. Di mana perayaan-perayaan yang ada di Tegal selalu semarak tanpa memandang etnis mana yang mereka yang merayakan perayaan.

Sumber:
Suud, Prof. Dr. Abu. 2003. Semangat Orang-orang Tegal. Tegal: Pemkot dan Masscom Media. 
Soemarmo, BA. dkk. 1984. Tegal Sepanjang Sejarah. Tegal: Depdikbud Kabupaten Tegal.
Peraturan Daerah Tahun 1988 tanggal 28 Juli 1988.

[1]Soemarmo, BA. dkk. 1984. Tegal Sepanjang Sejarah. Tegal: Depdikbud Kabupaten Tegal. hlm. 4
[2]Peraturan Daerah Nomor 5 Tahun 1988 tanggal 28 juli 1988.
Advertisements