pjdf

fjdijffjoijf

Advertisements

Berikan Aku Semua

     Berikan aku kesempurnann untuk menyempurnakan hidupku yang selalu terasa kurang. Berikan aku wajah yang rupawan seperti sekumpulan anak muda korea yang gemar menari dan menyanyi. Dengan wajah seperti mereka tentu aku bisa dengan mudah mendapat wanita. Berikan aku motor atau mobil yang bagus, Ducatti atau sekalian Ferarri, dengan mengendarai mereka tentu aku bisa mendapatkan wanita lebih mudah lagi. Berikan aku uang yang banyak, kamar kost yang besar, fasilitas fasilitas. Untuk memenuhi kebutuhan mendasar yang paling besar, pemenuhan nafsu.
     Apalagi nafsuku? wanita, harta dan tahta. Karena terlalu banyak film porno di sekitar akhirnya persepsi tentang wanita juga ikut jadi porno. Wanita adalah lawan jenis yang tangannya kita genggam untuk menunjukkan bahwa pria sudah laku. Adalah lawan jenis yang bibirnya bisa dicium dengan buas seperti yang diajarkan pada semua film film romantis hollywood bollywood sampai film film horor porno indonesia. Adalah lawan jenis yang bisa ditiduri seperi video video yang gemar mahasiswa download di fasilitas hotspot kampus.

     Nafsu mahasiswa yang besar. Yang mangatakan bahwa nonton porno itu wajar. Rasa ingin tahu, lagipula porno itu ada dalam pikiran bukan pada videonya. Kamu sebut ini apresiasi seni, seni gaya anjing nungging. Daripada susah susah cari buku di perpus mending minta dibelikan laptop. Sehari hari browsing, ngaskus. Cari cari tempat pertamax. Tiba tiba semua orang dipanggil juragan. Tiba tiba jadi orang arab, tiba tiba jadi bangsat. Ada juga jejaring sosial, fb, twitter, G+, youtube ampun ahh teknologi jaman sekarang.
     Hari ini bolpoint sudah tidak laku, orang menulis menggerakkan jarinya pada tuts keyboard. Kerjakan tugas nyontek ke google. Copy paste print jilid tiba tiba keluar nilai A. Apalagi yang kurang? oiyaa ada yang kurang. Badan eksekutif mahasiswa. Adalah badan serupa pagan. Dewanya adalah intelektualitas, sembahyangnya diganti jadi seminar, diskusi diskusi permasalahan bangsa lalu merayakan hari raya, demo ke istana negara. Kau buat macet jalan, teriak teriak lebih kencang dari kernet bis kota. Kalau kernet teriak teriak untuk cari uang buat anak istrinya, apa yang kalian cari?
     Tentu saja perubahan, kehidupan bangsa yang lebih baik. Hilangkan kemiskinan dari bangsa ini. Berantas korupsi kolusi nepotisme kkn kpk. Masih saja teriak teriak membentangkan spanduk, turunkan presiden, ganti presiden baru! Panas panas kau malah turun ke jalan. Tambah semrawut kota jogja kalau kalian mahasiswa aktivis turun ke jalan. Belasan ribu mahasiswa baru yang tiap tahun datang, membawa motor dan mobil mereka. Tiap hari habiskan bensin untuk jalan jalan, rekreasi.
     Budaya lawan agama, kata aktivis islam. Hebat sungguh, mengkaji islam dari buku buku, majalah. Kalau aku dibodoh bodohi dalam masalah agama oleh santri aku terima. Tapi kalau cuma dari mengkaji kamu sudah berani ngomong banyak? Kekafiran orang lain kau urus, kekafiranmu sendiri kau lupakan. Ada temanku santri, penampilannya biasa, berteman dengan segala macam manusia, bahkan preman atau lonte pun ditemani. Suatu hari ia berkata, nabi mewariskan islam kepada ulama ulama bukan kepada lembaga kajian dan diskusi agama di taman taman kampus. Kamu mau dakwah? ajarilah aku mengaji, itulah dakwah.
     Yang terakhir cinta. Tentu saja cinta. Love. Yang aku tau tentangnya hanyalah aku belum punya buku nikah. Juga belum punya seseorang untuk kupasang fotonya di buku nikahku. Kekasih, pacar, soulmate. Jangan jangan aku gay, homoseksual, menyukai sesama jenis. Cuiih.. Lebih baik tidak usah bicara cinta. Cinta tak pernah bicara. Cinta itu mendesah dan mengerang. Terpejam pejam.
     Pikiranmu itu loh.. ngeres. Terlalu banyak setan dan jin jahat yang bercokol dalam otakmu. Dn iblis iblis tua yang bersemayam dalam hati. Toloong, tiap kali aku mau berbuat baik iblis selalu mencegah dengan rasa malas, egois, buruk sangka. Karena pada dasarnya kenikmatan paling besar adalah berteman dengan setan, menuruti semua hawa nafsu. Nafsu apa yang paling besar? Nafsuku kepadanya.. Kalian tau siapa namanya. 

Kaligung Senja

     Di sore itu, di dalam kaligung yang berangkat sore hari. Berjalan di bawah senja, mempersilahkan angin masuk ke dalam jendela kereta yang tepi tepinya berkarat. Dalam perjalanan yang selalu sama belasan tahun, dalam jam yang selalu sama bertahun tahun. dalam ribuan perjalanan itu ada pula satu kesempatan aku ikut naik di dalamnya. Duduk berhimpit berdesakan lutut dengan punggung. berdiri bergelantungan pada pegangan, lelah menjalarkan pegal dan linu ke sekujur mata kaki sampai tempurung lutut. dan diantara penumpang penumpang berwajah lusuh penuh peluh, aku melihatnya. seperti melihat malaikat tersasar di gerbong depan kereta ekonomi.
         Dia berdiri di samping pintu gerbong, asyik menggenggam telepon genggamnya. sesekali tersenyum melihat layar, sambil sesekali menengok ke kiri dan kanan seandainya ada mata yang mencari cari pandang pada pipinya yang putih. …

Kereta Lama Sampainya

                Kemari mendekat rencana jangka panjangku. Duduk duduklah di sampingku, ceritakan bagaimana harimu kemarin berlangsung. Kerena tidak setiap hari aku bisa bersamamu. Melihatmu dari bangun tidur sampai lelap tidur berselimut. Ceritakan hanya padaku, sebab jika kamu ceritakan pada orang lain tentu aku cemburu, dan tidak ada cemburu yang lebih buruk dari mencemburui kamu. Kemari mendekat tujuan akhir hidupku. Rebah rebahlah disampingku, nanti kuceritakan bagaimana hariku kemarin berlangsung. Karena  setiap hari aku ingin bisa bersamamu.
                Besok aku pulang ke rumah. Naik kereta malam Kalidersik. Aku sudah terlalu rindu padamu. Ingin bertemu, ingin membicarakan rencana rencana yang kemarin hari kita bicarakan di telepon. Ingin cepat cepat ke rumahmu, bertemu dan meyakinkanmu bahwa tak ada rencana lain selain kamu di hidupku. Tunggu aku pulang, kubawakan manik manik aneka bentuk dari batu. Nanti sama sama kita rajut jadi gelang yang cantik, secantik dirimu. Jadi jangan bersedih lagi, anggap yang mereka katakan padamu tadi hanya bohong
                Aku berangkat sebentar lagi. Masih menunggu kereta Argo lewat di jalur paling luar, keretaku masih terparkir di jalur paling dalam menunggu penuh. Doakan aku dapat kursi untuk duduk di dalam sana. Sebab seharian kuliah ternyata melelahkan.
                Hujan mulai turun disini, masih rintik rintik. Semoga di sana hujan tak turun. Aku baru ingat kalau kamu benci hujan. Bukan benci pada butiran airnya yang jatuh tentu, tapi pada dingin yang datang saat ia reda. Kalaupun di sana hujan, jangan marah marah. Sediakan saja selimut yang lebih tebal dari biasanya. Gosok gosokkan telapak tanganmu lalu minum secangkir coklat panas. Tak perlu takut jadi gendut karena coklat. Langsing ataupun gendut tidak terlalu masalah. Yang penting kamu tak kedinginan.
                Kamu pasti sudah tertidur sekarang, lupa mendoakan temanmu ini agar bisa duduk dalam kereta. Ahh karena tidurmu aku harus berdiri di deret paling belakang. Berhimpitan dengan mbok mbok penjual kopi dan nasi bungkus. Tapi demi kamu, tentu hal ini tak seberapa. Lagipula di belakang aku bisa bebas merokok. Tenang.. asap rokokku tidak mengganggu siapa siapa kali ini. Asap keluar cepat lewat ventilasi belakang gerbong. Maaf aku merokok, tapi di depanmu aku janji tak akan merokok. Tidak enak rasanya merokok kalau didepanku ada wajahmu yang cemberut dan menutup hidung sambil sesekali batuk. Ya anggap saja kita impas. Kau lupa mendoakan aku, aku berdiri di deret belakang, aku merokok. Kalau saja kamu tak tidur dan mendoakan aku tadi, mungkin endingnya tidak seperti ini.
                Udara semakin dingin ternyata. Kareta ini kalau kamu tau, punya pendingin yang super ampuh. Angin yang datang dari samping telak mengenai mukaku. Tak bisa berlindung, lebih baik kedinginan daripada harus berurusan dengan tremos panas mbok penjual kopi. Harusnya kubelikan kamu kopi biar tak tidur. Tentu masih bisa menemaniku lewat telepon. Haha, aku membayangkan kamu tidur. Dari leher sampai kaki pasti tertutup selimut. Sambil meringkuk memeluk guling. Dari sini aku bisa mencium tengkukmu. Wangi seperti gula, manis.
                Perjalanan kereta kali ini membosankan. Tiap stasiun harus berhenti, mempersilakan kereta eksekutif lewat. Inilah resiko kereta 24 ribu. Jauh berbeda kalau aku pulang dengan jakalara. Teman pulang paling menyenangkan. Sekali kali saat pulang ikutlah denganku, dengan jakalara. Kusajikan pengalaman hidup mati yang menegangkan. Tanya saja Ariyan, atau Ariyas. Diantara mereka sudah pernah merasakan jadi bandul nyawaku saat pulang dengan jakalara. Jogjakarta Tegal Sangsara.
                Membosankan? Tentu saja. Aku pun bosan bicara sendiri. Kamu tidur sore, padahal sudah kusiapkan belasan cerita menarik untukmu. Tentang teman kostku yang digerebeg pak RT, tentang aku yang kemarin ditilang. Atau tentang semalam sebelum berangkat ke stasiun aku lihat seseorang yang mirip denganmu. Berjalan bergandeng tangan mesra. Aku tak cemburu. Aku baru cemburu kalau kamu benar benar pergi dengannya. Bergandengan tangan mesra sambil makan es krim. Meski kamu berjalan dengan kekasihmu, aku tetap cemburu. Meski kamu mencintai dia dan kamu mendapat cinta yang besar darinya. Aku tak peduli aku cemburu.
                Bukankah sudah kukatakan sejak awal. Tidak ada cemburu yang lebih buruk selain mencemburui kamu. Kereta yang kunaiki sekarang lama sampainya. Mungkin sengaja mengulur waktuku. Supaya lebih lama lagi aku harus menunggu bertemu kamu.

Seribu Jati

Pada waktu yang sama aku merasakannya juga. Mendengar lagi suaramu seperti mendengar lagi suara seorang teman lama. Teman dari masa lalu yang kini sudah dipendam di pekuburan panggung. Tiba tiba suasana berubah mencekam, lagu demi lagu kamu nyanyikan menjelang tengah malam. Kadang seperti suara orang menangis, tapi lebih sering seperti suara orang di pasar. Aku tak bisa tidur, suara suara berisik. Ranjangku berdenyit, kayu kayunya yang rapuh sebentar lagi akan patah. Aku semakin merapatkan kepala kepada bantal, meluruskan selimut lalu terpejam dan aku masih mendengar suaramu.
Aku tak bisa tidur malam ini. Sinar bulan yang menyusup dari tirai jendela kamar membuat mataku marah. Lalu aku keluar, menyaksikan bulan yang bersinar terang, putih menjadikan malam yang dingin ini menjadi teduh. Bulan sedang bagus, sayangnya aku tak lagi suka melihat bulan. Sinarnya tambah terang, mengikuti alunan lagu yang semakin keras. Aku protes pada pohon pisang, kenapa harus mereka yang tumbuh dekat rumahku. Kenapa tidak beringin saja yang tumbuh, jadi aku tak perlu marah marah melihat bulan bersinar terang yang mengganggu tidurku. Meskipun aku benci partai beringin, tapi beringin pasti menghalangi sinar bulan masuk ke kamarku. Besok aku mau tanam jati seribu saja. Supaya kamarku tetap gelap tanpa sinarmu.
Sayup masih terdengar suaramu di balik angin sana. Serak, mengikuti demam serta influenza dan bersin bersin yang kadang keluar. Ahh aku bingung, yang dirasakan tidak seperti yang dulu pernah dirasakan. Seandainya dulu mungkin aku tak bisa tidur ber jam jam, terngiang suaramu yang madu dan membuat hati bergelung gelung seperti ekor ulat bulu. Tapi sekarang, mendengar suaramu seperti mendengar suara semprit tukang pakir, atau peluit penjaga perlintasan kereta api. Biasa saja, berarti menandakan aku telah sembuh dari phobia yang itu. Hahasek.. aku turut senang dengan progress ini. semuga tidak hanya sekedar wacana, tapi bisa sampai pada tataran aplikatif dalam kehidupan sehari hari.
Haha, lebih baik membicarakan teman saya yang sedang patah hati saja. Karena patah hati itu asyik untuk dibahas. Dari patah hati bisa diambil berbagai pelajaran. Misalnya pelajaran manajemen emosi dengan tidak lekas marah pada hal hal kecil yang biasanya mudah menyulut emosi. Seandainya ada tukang bakso lewat sambil berteriak teriak, janganlah lekas marah. Jangan pula kamu jadi out of control. Nanti malah memborong semua dagangan bakso yang dijajakan. Ingat lemakmu yang sudah saling menimbun diantara lipatan daging di lengan, paha dan pipimu. Meskipun big is beutiful tapi tetap yang namanya big itu tidak bagus dipandang. Hahaha, menyindir teman kita lagi yang ada di kota spirit of java. Mahadesi..
Haha, teman teman saya memang unbelievable.. banyak yang cantik cantik banyak juga bohay bohay. Haha, kalaupun bohay dikonotasikan dengan cap yang tidak baik, bohaynya teman temanku amatlah tidak bercap jelek. Teruntuk teman saya yang ada di purwokerto sana, dapat salam dari nama disensor. Yang di solo dapat salam dari Triyo Dinda Panuntun. Yang di semarang tidak perlu disalami. Sedang di bandung untuk temanku yang paling cantik daniel cicarely.
Tapi diantara temanku, kamulah yang paling cantik. Yang paling beautiful. Manis tanpa make up. Wangi tanpa parfum. Halus tanpa lulur. Dengan kilauan rambut yang tanpa creambath. Meskipun tanganmu tidak selalu halus karena banyaknya cucian bajumu, tapi tanganmu masih yang paling aduhai. Melenakan setiap makhluk yang pernah menyentuhnya. Membuang jauh jauh keriput nenek nenek yang kamu gandeng dan sebrangkan. Pada intinya, kamu tetap yang paling nomor satu. Diantara perempuan perempuan yang masih perawan di indonesia kamu adalah yang paling cantik.
Teruntuk teman saya, si ratu dangdut. Yang bokongnya sudah terlatih berjoget india. Pinggulnya bisa digoyangkan sesuai irama gendang. Dan satu kata yang paling aku rindukan keluar dari mulutmu, tariiiiiiiiiiiiiik maaang…..

Peloncat Tebing

          Indahnya rumah kecil simbahku, tidak ada eternit ataupun platfon. Yang memisahkan dengan langit biru hanyalah genteng dan kayu kayu yang lusuh. Seandainya gempa datang lagi sudah pasti mereka akan berlaku seperti daun jati di musim yang semakin panas ini. Yah, mereka akan berguguran menimpaku yang seharian ini terbaring di tikar kamar tengah. Dan jika itu terjadi, mungkin sangat mujur kalau bisa mati saat tidur dirumah sendiri. Tidak sedang terbaring di rumah sakit dengan badan penuh infus. Tidak juga terlentang di aspal dengan kepala dan kaki remuk dilindas truk tronton. Aku tak seharusnya memikirkan mati sekarang. Tidak saat disampingku bus dan truk berjejer saling salip. Lengah sedikit saja, tulangku dan rangka besi motor tua ini akan lumat dilindas roda mereka yang besar besar.
          Satu persatu jarum infus aku lepaskan pelan. Aku benci bau oksigen cair, cairan infus apalagi bau obat sisa. Aku ingin cepat cepat pulang, ingin berbaring seharian di kasurku yang empuk. Tidak seperti tikar di kamar tengah rumah simbahku, keras seakan badan beradu dengan lantai semen kasar. Di kamarku sudah ada eternit, ada lampu yang terpasang menyala di sudut tengah. Dan yang terpenting di kamarku bebas merokok. Tidak seperti kamar anyelir 12 ini. Dari semua rambu rambu lalu lintas aku paling benci rambu dilarang merokok. Yang sayangnya di dalam kamar 3 diantaranya terpasang di pintu dan di masing masing tembok. Rumah sakit sebesar dan semewah ini paranoia terhadap asap rokok. Tolol kala mengetahui aset milyaran rupiah tak bisa menghadapi barang mungil 800 perak.
          Masih lebih baik rumah simbahku. Bebas untuk merokok dan tidur seharian tanpa gangguan. Tidak perlu repot memikirkan mobil plat B yang sewenang wenang mengambil jalurku saat mereka menyalip. Tidak juga harus senewen tiap kali supir angkot banting stir ke kiri. Moncong angkotnya berhenti di depan halte tapi bokongnya melintang di kanan jalan. Bagimu tak masalah pak supir, kau duduk di depan tapi aku duduk paling belakang. Seandainya nasibmu apes dan bus patas menendang bokong angkotmu, logikanya aku yang mati pertama. Meskipun dengan kejadian yang bermacam macam, mati di jalan itu tidak menyenangkan kedua orang tuaku.
          Ahh mimpiku kali ini buruk sekali, mengikuti nasibku hari ini yang juga buruk. Aku mimpi mengerjakan soal matematika di depan kelas. Menarik akar pangkat 4 dari 625. Kalau saja mimpi ini terjadi kemarin malam tentu sambil menutup matapun aku akan menjawab akar pangkat 4 dari 625 itu 5. Tapi mimpi ini terjadi 10 tahun yang lalu. Kelas 3 SD, matematikaku baru sampai akar pangkat dua. Kalau saja waktu itu aku bisa menjawabnya sudah tentu hidupku akan berubah total. Mungkin aku bisa menjelaskan kenapa aku pergi darimu. Setelah aku memahami, berita bahagia yang kamu tulis bukanlah berita bohong. Dan berita kesedihan yang kamu tulis juga bukan berita bohong.
          Dan tidak ada yang lebih membuatku senang daripada kamu bisa membuktikan kalau aku salah. Aku salah kalau beranggapan bahwa citaku padamu tak tertandingi oleh siapapun. Aku yang merasa mencitaimu dengan begitu kerasnya dengan ikrar hendak mengorbankan apapun untukmu. Aku salah ternyata selama ini. Cita dari orang yang membuatmu selalu merindukan dia, yang membuatmu selalu nyaman di sisinya, yang membuatmu selalu ingin bersamanya. Cita dari orang yang menemanimu semalaman saat kamu sakit, orang yang demi dia kamu rela melawan orang tuamu. Cita dari orang yang membuat aku tertawa, betapa naif prasangkaku atas citaku padamu. Terimakasih cita cita, kamu mengingatkan aku kalau aku masih punya cinta. Aku tidak bohong kali ini, bukankah kamu sendiri yang memegang kuncinya. Kunci dari kotak yang ku tutup rapat dan Selamanya tidak akan aku buka lagi. Kita sudah sepaakat bukan?.
          Jadi sekarang kita sama sama mengejar kebahagiaan. Kita berlari pada arah yang sama, meski tersekat sekat perbedaan tapi tujuan kita sama. Meskipun kebahagiaan tidak abadi setidaknya kita akan menahannya selama mungkin dalam pelukan kita. Kamu bahagialah dalam pelukannya, jangan biarkan tangannya mengendur dari lehermu. Dekaplah erat selalu, hingga tidak ada waktu bagi dunia untuk cemburu. Aku disini tersenyum senyum untuk mu, tertawa geli melihatmu memanja. Nanti kunyalakan bulan yang redup untuk kalian berdua. Agar malam yang indah ini tidak berakhir dengan dingin. Akan semakin hangat pasti, sehangat tanah yang kita pijak. Tidak satupun awan akan menutupi malam kalian malam ini. Tidak satu bintangpun harus bersembunyi. Mari bernyanyi, menyiulkan sindiran kepada mereka yang curiga pada kebahagiaanku. Malam ini semua orang bahagia, aku pun begitu. Terima kasih cita citaku.
          Dimanapun aku berbaring aku akan selalu tersenyum. Entah di tikar kasar rumah simbahku, entah di kasur empuk rumah ibuku, entah di kamar higienis rumah sakit pemerintahku, entah di aspal yang bergelombang, entah di tanah rumput tempat kesukaanku, entah dimana saja. Entah dimana saja pikiranku melayang mereka akan kembali pada satu tempat yang pasti, kepala peyangku. Kepala yang tak henti henti tersenyum. Siapa tau dengan tersenyum wajah jeleknya bisa sedikit terlihat ganteng. Aku tau sekarang, senyum itu menghapus dendam, merekatkan kembali hati yang patah. Mungkin suatu saat nanti kalau aku sudah merasakan putus cinta aku pun bisa menyambungnya dengan senyum.

Saatnya tidur..

Iblis yang Baik Hati..

          Sendirian itu tidak enak, artinya tidak ada yang bisa diajak ngobrol, smsan atu telpon telponan. Untungnya kita punya teman yang paling setia yakni setan. Lho kok bisa setan bisa dibilang teman yang paling setia. Tentu saja bisa, setan kan satu satunya teman yang tempatnya ada di hati. Kadang pas kita sendirian kan kita sering berbicara dalam hati. Dan setiap pembicaraan kita pasti ada lawan bicaranya, ya itulah setan. Misalnya kita sedang di jalan lalu menjumpai pengemis, biasanya kita bertanya dalam hati, “ini ada duit seribu perak, di depan ada pengemis tua enaknya dikasih nggak yah..?”. kalau ada suara seperti ini: “buat apa kasih ke pengemis! duitmu aja cuma berapa, mending beliin rokok.. toh pengemis itu juga paling sebenarnya lebih kaya dari kamu..” inilah suara setan. Sedangkan malaikat biasanya cuma diam, kan malaikat cuma bisa dzikir ke hadirat Tuhan YME. Jadi buat apa malaikat ikut campur urusan kita dengan setan. 

          Ahh setan anjing, jancuk lah pokoknya, sukanya membisikkan segala seseuatu yang tidak baik. Memang sifat dasarnya demikian, setan selalu membisikkan yang tidak baik. Apa pernah setan membisiki kita untuk pergi ke pengajian? apa pernah juga setan marah marah pas tau kita lagi mabok, nonton bokep atau nggosip. Setan tidak sekalipun marah pada kita, tidak seperti orang tua kita yang sering marah marah. Karena itu bersyukurlah kamu yang orang tuanya sering marah marah, berarti mereka bukan setan. Lagipula yang mereka marahi bukan kita, tapi setan yang jadi teman kita tadi, yang membisiki supaya kita malas, dan banyak lagi to do list-nya setan. Tapi kalaupun orang tuamu tidak marah marah bukan berarti mereka itu setan. kalau kondisinya seperti itu berarti ada dua kemungkinan. Yang pertama mereka memang orang tua yang penyayang yang mengganti marah marah dengan nasihat yang lembut. Dan yang kedua hanya orang tuamu yang tau.
          Sudah cukup prolognya.. mari beranjak ke pokok tujuan dari dibuatnya tulisan ini. Sedang tulisannya berbentuk serupa naskah drama, karena isinya percakapan. Percakapan dengan siapa? Tentu saja dengan teman terbaikku, setan.

Aku     : setan, sibuk tidak kamu? temani aku ngopi dulu sebentar, aku butuh teman bicara..
Setan  : ahh teman, tentu saja aku tak pernah sibuk untukmu.. bahkan semua waktu yang aku punya adalah hanya untukmu. Asu, aku selalu untukmu..
Aku     : oke, sini keluar dulu dari hatiku, duduk dekat disampingku.. kita ngopi ngopi dulu.
Setan  : sebentar, aku menjelma dulu seperti manusia, kamu pasti tak mau melihat wujud asliku.. kamu pengin aku menjelma seperti apa?
Aku     : ehmm apa yah enaknya.. yang pokok wujudmu harus perempuan, berkulit putih hidungnya mancung, rambut sebahu dan kalau bisa ada tai lalatnya.. ahaha
Setan  : bisa diatur.. kamu mau aku berpakaian seperti apa?
Aku     : kalo pakaian ehm bentar aku pikir pikir dulu.. jeans hitam, kaos putih dan jaket abu abu bisa kan? Jangan kenakan pakaian yang ketat, kurang berkenan.
Setan  : bisa diatur, lalu aku ingin kau panggil dengan nama apa? Panggilan setan sepertinya kurang enak didengar..
Aku     : namamu sekarang Ranti, kita dulu teman bermain sewaktu masih kecil. Sekarang kamu tinggal di kota yang namanya Mandalawangi, seperti nama lembah di gunung Pangrango. Sebelumnya kamu bisa kan menyerupai seseorang dalam berbicara, aksen dan suara. Harus serupa sampai mimik wajah, senyum, cara tertawa, kedipan mata dan yang paling penting cara berpikirnya
Setan  : siapa?
Aku     : aku bisikkan dalam hati saja biar cuma kita yang tau..
Setan  : owh.. dia? gampang, aku bahkan bisa meniru setiap lekuk tubuhnya seandainya kamu mau menyaksikannya tanpa busana..
Aku     : tidak usah.. cukup yang aku minta tadi saja.. kalau sudah selesai duduk saja di sampinku di sofa ini
Setan  : aku sudah disampingmu..
Aku     : hahahaha.. kamu cantik sekali.. sayang kamu setan..
Ranti  : trus kita mau ngobrol apa sekarang?
Aku     : haha, sebenarnya aku tidak berencana untuk ngobrol denganmu..
Ranti  : lalu?
Aku     : aku hanya ingin melihat wajah itu dekat dekat, sudah lama aku tak melihatnya sedekat ini
Ranti  : wajah ini? hoho.. kenapa hanya melihat? Kamu bisa membelai bahkan menciumnya sekarang. Jangankan wajah, setiap jengkal tubuh ini pun bisa kau sentuh..
Aku     : hmm.. tidak perlu, melihatnya sedekat ini saja sudah cukup.. oh iya, sebelumnya aku mau bertanya dahulu padamu, katanya kamu itu tempat bersemayamnya di hati kan?
Ranti  : iya, kami bersemayam di hati manusia, selain itu beberapa ada yang bersemayam dalam aliran darah, di otak dan dimana mana.
Aku     : kalau kamu bersemayam dalam hatiku tentunya kamu tau kan seluk beluk isi hatiku?
Ranti  : seluk beluk yang mana?
Aku     : seluk beluk mengenai wajah itu.. aku ingin tau, sebenarnya dalam hatiku itu seperti apa berkenaan dengan wajah itu.. apakah dalam hatiku sama seperti prasangkaku selama ini?
Ranti  : lho memang prasangkamu terhadap wajah ini seperti apa?
Aku     : prasangkaku ya kalau aku mencintai pemilik wajah itu..
Ranti  : cinta? kamu yakin itu semua cinta?
Aku     : yah itu kan cuma prasangkaku.. kamu harusnya tau kan sebenarnya dlam hatiku itu seperti apa? apakah memang benar cinta atau sekedar suka atau bahkan sebenarnya tidak ada perasaan apapun kepada pemilik wajah itu.
Ranti  : haha, kamu itu lucu jar.. repot repot memanggilku keluar hanya untuk menanyakan hal itu.. kebanyakan manusia saat berbicara denganku selalu menanyakan hal hal hal hal yang penting.. tidak seperti kamu yang menanyakan urusan hati.. memangnya seberapa pentingnya hati untukmu?
Aku     : loh bukankah hati itu pusat dari hidup kita, segala apa yang kita lakukan bersumber dari hati..
Ranti  : ahh berhenti sejenak dulu.. mana kopinya? Masih ingat kan kamu tadi ngajak aku untuk apa?.. untuk ngopi.
Aku     : ohh iya aku lupa.. ntar tak buatin kopi dulu.. kopimu capucino kan?
Ranti  : ehh jangan kopi.. buatkan coklat panas saja untuk ku.. bisa kan?
Aku     : anything for you lah frend..

(bersambung setelah coffe break) 


Ranti  : Setelah kuhabiskan coklatku ajaklah aku jalan-jalan jar.. aku bosan di kamarmu terus.
Aku     : lhah, jalan jalan kemana? Aku kan lagi gak punya duit, lupa ya.. di dunia manusia apa apa harus dibeli dengan duit.
Ranti  : hah, itukah yang ada di pikiranmu, kalau mau mengajak seorang jalan-jalan harus berduit banyak, harus nraktir makan, harus beli ini itu, harus serba romantis
Aku     : ya kesepakatannya kan seperti itu..
Ranti  : berapa kali kau pernah mengajak seseorang jalan-jalan?
Aku     : seingatku belum sekalipun.. hhahaha
Ranti  : semiskin itu kah kamu sampai tak pernah punya duit untuk mengajak seseorang jalan jalan..
Aku     : bukan karena duit, karena memang tidak ada satupun yang mau diajak jalan-jalan
Ranti  : menyedihkan, diantara banyak laki laki di dunia ini kamu adalah yang paling menyedihkan..
Aku     : menyedihkan atau menyenangkan hidup seseorang itu kan relatif
Ranti  : udah lah, gak usah berargumen, lekas habiskan kopi dan matikan rokokmu.. kita jalan
Aku     : ya terserahlah, tapi kita mau pergi ke mana?
Ranti  : ke sarkem.
Aku     : hah, sarkem?
Ranti  : lha memangnya kemana lagi? Kau mau ajak aku ke masjid agung?
Aku     : haha, iya setan..

          Roda motor mulai berputar, dengan suara kasar gesekan rantai motor dengan gerigi yang sudah aus. Ahh mungkin hanya wanita jelmaan setan saja yang mau dibonceng oleh motor butut ini. motor ini belum sekalipun diduduki parempuan selain ibu dan nenekku. Menyedihkan.. tapi kan menyedihkan atau menyenangkannya hidup seseorang itu romantis eh relatif. 


Aku     : ngapain kita ke sarkem?
Ranti  : emm anggap aja aku berbaik hati sama kamu..
Aku     : berbaik hati gimana caranya?
Ranti  : haha, selama ini kan kamu gak pernah ngrasain sentuhan wanita, nah di sarkem itu kamu bisa merasakan sentuhan lembut wanita, kalau mau tidur sama mereka juga bisa
Aku     : j***uk ahh
Ranti  : haha, aku mau bantu kamu
Aku     : ya kan gak gitu caranya..
Ranti  : lha trus gimana caranya?