Highschool Devil’s

Pada satu sore, Pak SamJo menceritakan pada kami cerita ini.

Hari itu, sekolah sudah usai, murid-murid nyaris tak ada lagi yang beraktifitas di sekolah. Seperti biasa, Pak Samjo hendak menutup semua pintu dan gerbang sekolah. Pertama, Ia mengunci gerbang depan sekolah, lalu beranjak ke pintu kecil di samping mushola dan gudang belanda. Dari sini kemudian melanjutkan berjalan ke pintu samping kiri kelas 12 ipa dulu (yang sekarang sudah dijadikan ruang lab ilmu sosial di gedung baru).

Setelah mengunci pintu, Pak Samjo menyusuri gang sempit di samping lab biologi dan kimia. Lalu melanjutkan lagi ke arah aula sekolah. Dari aula ini, Ia dapat mengawasi keadaan lebih leluasa, ruang guru tanpak sudah terkunci, begitu juga dengan ruangan TU. Ruang kelas dan lab-lab dari kejauhan juga nampak sudah tertutup rapat.

Tidak lupa Pak Samjo naik ke lantai atas, mengecek ruang perpustakaan, lab komputer hingga ruang kelas di atas. Setelah yakin semua sudah terkunci, Pak Samjo turun lagi ke aula setelah sebelumnya mengunci pintu tangga. Dari aula, Pak Samjo lalu bergegas menuju toilet siswa. Niatnya untuk mengecek naik ke atas toilet buru-buru diurungkan begitu menyadari hari mulai beranjak gelap. Untuk cari aman, Pak Samjo hanya mematikan kran dan pompa air di bawah.

Di dekat pompa air pula Pak Samjo menyalakan saklar lampu untuk aula, toilet, lorong lab, hingga lorong kelas 10 dan 11. Sekelebat, Pak Samjo memandang ke arah ruang ganti yang di depannya terdapat dua cermin besar. Dilihatnya kedua pintu ruang ganti terbuka sedikit. Niatnya untuk menutup pintu, diurungkannya ketika sekilas Ia melihat bayangan menyerupai tangan, terjepit di sela pintu.

Melihat hal ini Pak Samjo bergegas meninggalkan tempat pompa dan berjalan ke arah gerbang belakang. Baru beberapa meter, langkahnya kembali terhenti ketika di kejauhan Ia melihat seorang siswi tampak masih ada di area sekolah. Siswi ini duduk di kursi beton di depan kelas 10 tiga. Dengan posisi membelakangi Pak Samjo, siswi ini terlihat sedang menulis di buku, atau semacamnya. Pak Samjo segera menghampiri siswi tersebut lalu berdiri agak dekat di samping siswi tersebut. Dilihatnya buku yang dipegang siswi itu penuh dengan coretan.

“Mbak, ini udah sore, udah mau magrib. Sana cepet pulang, lewat gerbang belakang saja nanti saya bukakan” tegur Pak Samjo kepada siswi tersebut. Tapi tak ada respon dari siswi itu. Wajahnya yg tertutup rambut panjang membuat Pak Samjo kesulitan mengenali siswi ini. 

“Ayo mbak, udah mau magrib ini, saya mau istirahat” kali ini nada suara Pak Samjo mulai meninggi. Tapi tetap tak ada respon dari siswi ini, dia malah makin asyik mencoret coret bukunya.

Karena jengkel Pak Samjo lalu bergeser dan berdiri di depan siswi itu. “Heh! Mbak, ayo cepet ini sudah magh…” Belum sempat menyelesaikan kata katanya, mulut Pak Samjo tercekat dan terdiam. Tubuhnya sulit digerakkan ketika menyadari apa yang sedang Ia hadapi saat ini.

Belum selesai kalimat pak Samjo, siswi ini menoleh ke arah Pak Samjo, kemudian menyingkap rambut dari wajahnya. Tanpa berbicara dan tanpa mengatakan apa-apa, hanya diam.

Pak Samjo mendapati di depannya, siswi itu tidak memiliki rupa. Wajahnya rata tanpa memiliki mata, hidung atau mulut. Di wajahnya hanya terlihat goresan goresan memanjang sampai leher yang terlihat seperti bekas luka dengan darah di tepinya yang kelihatan telah mengering. Setelah beberapa saat, siswi itu menunduk, lalu kembali mencoret-coret buku di pangkuannya. Lepas dari shock dan rasa takut, Pak Samjo memberanikan diri untuk berbalik, lalu berjalan perlahan menjauhi siswi itu. Ia segera berjalan menuju pintu teralis geser dari besi di gerbang bagian belakang sekolah. Saat mengunci pintu teralis, pandangannya tepat ke arah siswi tadi, namun, Pak Samjo tak berani melihat dan hanya menundukkan wajah ke bawah. Ia lalu segera beranjak ke rumah kecilnya yang terletak di samping ruang kelas di dekat gerbang samping sekolah. Ketika hendak masuk ke dalam rumah, Ia sempat menoleh ke arah lorong kelas tadi lewat sela-sela jendela kelas. Dilihatnya siswi tanpa wajah itu masih duduk di situ, dan bahkan Ia menoleh ke arah Pak Samjo.

Pak Samjo bergegas masuk kamar dan menguncinya dari dalam. 

Malam itu Pak Samjo tidak bisa tidur. Sehabis sholat isya Ia beranikan diri melongok lewat sela-sela jendela dan Ia masih melihat sosok siswi tanpa wajah itu masih duduk tertunduk. Tapi kali ini tangannya tidak lagi mencoret coret buku, tapi menelungkupkan telapak tangannya menutupi wajahnya. Demi melihat itu Pak Samjo buru buru kembali kedalam kamar, mencoba untuk tidur. Tapi  tentu saja semalaman Ia tak bisa tidur. Ia kerap terbangun karena suara ketukan ketukan meja yang berasal dari ruang kelas di samping. Bahkan sesekali Ia mendengar suara tangisan seorang perempuan yang tersedu sedu. Dan hal ini hanya Ia sendiri yang mengalaminya. Istri dan anaknya tak ada yang mengeyahui hal ini.

Kira kira begitulah cerita yang disampaikan Pak Samjo. Memang tidak mengherankan kalau sekolah ini banyak hal hal yang ditampakkan. Menurut pengakuan Pak Samjo, Ia masih sering melihat sosok siswi tanpa wajah ini ketika sore hari saat ia mengunci gerbang belakang sekolah. Bahkan menurut pengakuannya, Ia kerap melihat sosok ini di tengah jam pelajaran. Di saat para siswa sibuk belajar di dalam kelas, sosok siswi tanpa wajah ini kerap terlihat duduk di kursi beton, sambil menghadap ke kelas yang sedang ribut.

Jadi, ingat ingat saja dulu, saat kita masih bersekolah dan di dalam kelas, adakah yang sering melamun dan menerawang ke arah kursi beton di lorong kelas sebelah timur. Persis di bawah lonceng besi yang biasanya digunakan ketika bel listrik rusak atau mati. Ya bisa jadi yang kita pandang sejatinya adalah sosok siswi tanpa wajah, atau muka rata, atau apa saja. Tiap angkatan menyebutnya dengan sebutan berbeda. 

Tidak percaya dengan hal ini? Ya cukup aneh, se aneh sma kita yang bangunannya trapesium, bukan persegi. Atau aneh karena toilet siswa ditaruh di lantai dua, sedang di bawahnya ruang ganti dibiarkan lembab dengan dua kaca besarnya. Atau kenapa sekolah kita punya dua penjaga sekaligus, satu Pak Samjo, satu pak Kusumo. Dan dua duanya pendiam, jarang ngomong. Mungkin karena terlalu banyak melihat hal hal ganjil di sekolah.

Kalau penasaran, bisa ditanyakan pada angkatan lama yang masih mewarisi gedung sekolah bangunan lama, seperti apa suasana sekolah di waktu waktu tertentu yang serasa seperti di dunia berbeda. Cerita Pak Samjo ini pun baru cerita ringan. Yang ditemuinya hanya sesosok siswi tanpa wajah yang tak pernah beranjak dari duduknya. Suka mengetuk ngetuk jendela, atau menangis tengah malam. Kita belum dengar cerita dari Bu Endang.  

Advertisements

Wajah Buku

Wajah manusia seperti sebuah buku yang menarik untuk dibaca. Membaca senyum yang dibuat oleh otot-ototnya, membuat tawa renyah yang dilepaskan atau sekadar suara yang dibisikkannya. Mungkin juga kita bisa membaca kesedihan lewat air mata yang meleleh, atau bola mata yang sayu. Membaca kemarahan lewat gemeretak geraham dan nafas cepat yang hidung denguskan. Atau membaca kebingungan saat mata terlalu banyak mengedip, saat ludah lebih banyak ditelan. Membaca ketegangan saat mata tak berkedip, nafas berat dan mata yang tajam. Tidak peduli seberapa tampan atau cantiknya wajahmu, selalu ada cara untuk membaca wajah. Dan wajah selalu menyimpan misterinya rapat rapat. Seperti wajahmu, yang bersembunyi di balik kerudung merah.

Coba aku baca wajahmu, wajah cantik kepunyaan bidadari yang wangi. Di keningmu aku lihat beberapa berkas sinar. Menandakan kecerdasan yang tentu kau miliki, dan aku tak pernah meragukan itu. Yang pertama sinar putih, menandakan putihnya hatimu, yang tak pernah marah padaku meski aku sering mengganggumu. Dengan rayuan rayuan murahan akan membelikanmu bakso sepulang sekolah. Dengan niatan niatan akan mengantarmu kemana saja. Yang kedua sinar biru, menandakan teduhnya hatimu. Seperti laut yang selalu bisa menyimpan kesedihan dalam dalam. Hatimu seperti samudera yang dalam, butuh keberanian untuk menyelaminya sampai ke dasar. Tidak hanya berenang kecipak kecipuk di permukaan saja.

Sedang di matamu selalu terlihat pelangi kecil. Bukan pelangi seperti yang terlihat sesudah hujan memang, lebih kecil. Seperti pelangi yang terlihat pada butiran embun yang tertimpa matahari pagi. Lembut dan menyejukkan menjadi pelipur lara bagi tubuh kurus ini dari dingin semalam. Tak hanya pelangi saja, semua benda langit aku pikir ada di matamu. Ada matahari senja yang menghangatkan, ada rembulan yang menerangi setiap malam datang. Dan bintang bintang yang berkilauan di matamu yang telak membuat aku bertekuk lutut padamu. Seandainya ada pertanyaan mengenai mata siapa yang paling indah di dunia ini aku akan menjawab, hanya matamu.

Teliangamu meskipun tertutupi kerudung merah tapi aku yakin adalah telinga yang paling cantik. Bukan karena bentuk daunnya tapi karena kamu seorang pendengar yang baik. Sehingga berbicara denganmu adalah salah satu obat pelipur lara. Karena aku tau, kamu selalu mendengarkan sepenuh hati. Tak pernah menampakkan wajah bosan atau meremehkan. Dan kamu mendengarkan semua hal yang baik. Aku masih ingat, kamu memiliki selera musik yang bagus. Dan ditengah kesibukanmu, bahkan masih menyempatkan diri mendengarkan adikmu mengaji. Mendengarkan curahan hati sahabatmu, tentang putus cinta atau tentang patah hati lalu cemburu bahkan pertengkaran.

 Dan yang paling menyenangkan dari membaca wajah adalah membaca senyum. Karena senyum memadukan gerak bibir, pipi, dahi, hidung, dagu, pelipis, mata dan seluruh wajah. Membaca senyum seperti melihat bunga mawar yang merekah. Seperti kembang api yang bertebaran di langit. Seperti supernaova yang memercikan ratusan bintang di langit tingkat sekian. Tidak ada yang lebih indah dari senyum. Karena senyum mampu menyembuhkan semua rasa sakit. Senyum menyembuhkan dendam. Segala macam dendam yang ada di dunia. Bahkan dendam kesumat yang aku punya ternyata sirna seketika begitu teringat manis senyummu.

Baru sebatas itu aku bisa membaca wajah. Dan hanya sebatas wajah yang bisa aku baca. Aku tak bisa membaca rambut hitammu, karena syariat melarangku melihat rambutmu. Aku juga tak bisa mengeja satu persatu lentik jari tanganmu, karena syariat melarangku menyentuh tanganmu. Dan aku tak bisa membaca kaki jenjangmu, punggung putihmu, lengan, dada, paha, perut, pundak dan seluruh bagian tubuhmu. Astaghfirullah hal adziim… pikiran laki laki memang tak bisa jauh jauh dari ini semua. Dari keindahan membaca tubuh perempuan. Yang diciptakan meyerupai bumi yang menghampar. Diciptakanlah semacam Semeru dan bromo bersama puncak mahameru dengan batu merah delima besarnya, danau kelimutu, goa jatijajar diantara  hutan menoreh, tebing tebing curam dan semak belukar halus yang lembut

Tapi tenang, laki laki yang satu ini hanya suka membaca wajahmu bukan yang lain. Wajah buku dengan sampul wajah yang manis dalam bingkai warna merah. Sayang kita sekarang tidak saling kenal, kalau saja masih boleh bicara. Aku hendak mengucapkan satu hal. Semoga panjang umur selalu untukmu.

                                                                                                                                           Jogjakarta 2011, entah ini ditulis untuk siapa, tapi sepertinya ini untuk

Orange

photo: Masimo Barbieri