John Roosa: Dalih Pembunuhan Massal

Tidak banyak buku yang menyajikan pembahasan mengenai peristiwa G30S 1965, terlebih yang memiliki pembahasan berbeda dengan versi pemerintah. Pada masa Orde Baru, buku-buku yang mencoba membahas peristiwa ini bahkan ada yang dilarang beredar, atau setidaknya mengalami sensor yang sangat ketat. Tidak heran pada masa Orde Baru sangat minim bacaan yang bisa dipergunakan sebagai literatur dalam mempelajari peristiwa G30S 1965 dan peristiwa-peristiwa yang mengikutinya.

Salah satu buku yang bisa digunakan untuk melengkapi literatur dalam mempelajari G30S 1965 adalah buku Dalih Pembunuhan Massal oleh John Roosa. John Roosa adalah seorang Profesor Sejarah dari University of British Columbia, Kanada. Saat ini masih ngantor di Departemen of History, Faculty of Arts, UBC. John memfokuskan studinya pada tema-tema nasionalisme, imperialisme, sejarah lisan, sejarah Asia Tenggara dan permasalahan HAM.

Awal mula John mempelajari tema Peristiwa G30S 1965 adalah keheranannya atas sedikitnya data dan informasi serta pengetahuan masyarakat mengenai peristiwa yang sangat penting dan sangat besar pengaruhnya dalam perkembangan bangsa Indonesia ini. Berawal dari sinilah John mulai mempelajari sejarah Indonesia khususnya Peristiwa G30S 1965 secara lebih mendalam. John sempat menulis beberapa jurnal seperti; The Port of Tuban, a chapter from Pramoedya Ananta Toer’s historical novel Arus Balik, Emergences, vol.10 no.2 2000; Violence and the Soeharto Regime’s Wonderlan, Critical Asian Study, vol.35 page 315-323, 2003; President Soekarno and the September 30th Movement, Indonesia, page 31-49, 2008; Who Knows? Oral History Methods in the Study of the Massacres of 1965-66 in Indonesia, Oral History Forum/ d;histoire orale vol.33, page 1-28, 2013, dan banyak publikasi lainnya.

Karya John Roosa yang paling menarik perhatian adalah buku berjudul Pretext for Mass Murder: The September 30th Movement and Suharto’s Coup D’Etat in Indonesia, Madison: University of Wisconsin Press, 2006, yang kemudian dialihbahasakan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Dalih Pembunuhan Massal: Gerakan 30 September dan Kudeta Suharto, Jakarta: ISSI dan Hasta Mitra, 2007. Buku ini sempat memantik kontroversi ketika Kejaksaan Agung melarang peredaran buku ini di tahun 2009. Upaya pembredelan ini ditanggapi dengan perlawanan John dan rekan-rekannya di Indonesia, melalui tuntutan yang diajukan ke Mahkamah Konstitusi. Pada tahun 2010, MK memutuskan mencabut kewenangan Kejaksaan untuk melarang peredaran buku.

Dalih Pembunuhan Massal sebagai sebuah buku, mungkin tidak bisa mengungkap tabir gelap dibalik peristiwa G30S. Tetapi setidaknya kita disuguhi alternatif dalam mencari variasi literatur tentang peristiwa G30S.

Secara ringkas, buku ini membahas tentang keganjilan-keganjilan narasi Peristiwa G30S 1965 versi Pemerintahan Orde Baru. Keganjilan-keganjilan ini dipadukan dan dimanfaatkan oleh pemerintah pada masa itu sebagai sebuah dalih untuk mengambil kontrol yang lebih besar atas keadaan negara pada saat itu. Lebih-lebih digunakan untuk mengkontrol nasib PKI dan banyak simpatisannya.

Untuk membuktikan hipotesanya, John mencermati berbagai sumber primer baru diantaranya; dokumen Supardjo, wawancara lisan dengan banyak tokoh yang terlibat, dokumen-dokumen internal PKI, beberapa memoar dan dokumen rahasia pemerintah USA yang telah dideclasiffiedkan. John juga menganalisis masing-masing pihak yang memiliki peran dalam peristiwa G30S 1965. Beberapa diantaranya para perwira militer, Sjam dan Biro Chususnya, D.N Aidit dan jajaran pemimpin PKI, juga Soeharto dan rekan-rekan perwiranya.

Untuk memahami isi dan konteks buku secara lebih menyeluruh, dirankan untuk membaca secara seksama buku Dalih Pembunuhan Massal ini.

-zzrka-

external link, for preview only and for educational purpose, buy the original to support the creator.

https://drive.google.com/file/d/0B7IVYQHuleHYMHNpbFlibzM1ZGs/view?usp=drivesdk

Advertisements

Tentang Saluran Youtube di Indonesia

Youtube, youtube, youtube, lebih dari TV! Boom!

Semboyan ini kerap digunakan oleh Youtuber muda asal Indonesia untuk menggambarkan superioritas Youtube terhadap televisi. Agaknya sudah menjadi rahasia umum bahwa konten yang disajikan televisi semakin tidak bermutu. Banyaknya sinetron yang dianggap tidak mendidik, acara reality bohongan, atau komedi kuno, bahkan acara musik dangdut yang dianggap kampungan. Anggapan ini tentu tidak mewakili suara masyarakat pada umumnya. Bagi masyarakat di daerah atau masyarakat ekonomi ke bawah, mungkin acara-acara tersebut masih menghibur. Tapi bagi generasi milenial, televisi bukan lagi hiburan yang menarik.

Kecakapan Literasi

Frasa ini pertama terbaca di serangkaian tweet seseorang dalam menanggapi perilaku maayarakat kita yg sadar/tanpa sadar kerap menyebarkan hoax. Hoax semacam berita-berita yg didramatisir, berita bohong, berita provokasi dan banyak lagi macamnya. Semua ini bisa kita temui dengan mudah di media sosial.

Salah satu contoh yg masih saya ingat adalah foto yg disertai narasi. Sebuah foto, sekumpulan biksu sesang menguburkan banyak mayat dalam sebuah pemakaman massal. Di bawahnya ditulis narasi tentang kekejaman biksu di myanmar yang dituliskan membunuhi banyak warga muslim. Narasi ini merujuk pada konflik yg terjadi di Myanmar antara warga muslim dan umat budha. Narasi ditulis dengan model penulisan berita, disertai dengan kalimat kalimat provokatif. Tapi benarkah demikian faktanya?

Nyatanya, gambar dan narasi yang banyak disebarkan adalah hoax. Gambar biksu yang terlihat sedang menguburkan mayat dalam pemakaman massal adalah gambar biksu yang sedang memakamkan korban gempa bumi di Nepal. Bencana gempa bumi di Nepal beberapa tahun yg lalu menelan banyak korban jiwa, sehingga diputuskan untuk melakukan pemakaman di pemakaman massal. Dalam prosesi ini biksu biksu bertindak sebagai semacam pemimpin upacara pemakaman, sekaligus mendoakan para korban.

Fakta di balik narasi dan foto adalah dua soal yang berbeda. Tentang konflik di Rohingya, sulit untuk membantahnya melihat banyaknya bukti yang menguatkan. Tidak bisa dipungkiri, konflik secara nyata terjadi di sana, sedang untuk detailnya kita harus mempelajari benar benar. Tapi menggunakan foto yg salah untuk berita yg benar adalah ceroboh. Berita yg bisa jadi merupakan berita yang benar dan sesuai kenyataan, akan jadi bias karena menggunakan foto yg salah. Apalagi jika penggunaan foto sengaj dilakukan untuk memperpanas keadaan, memancing emosi, dst.

Kita musti memiliki kecerdasan literasi. Minimal kita memperhatikan dua hal, sumber dan verifikasi. Setiap artikel, brodkestan, berita, atau apapun itu yang tersebar di media sosial harus kita cari tau sumbernya dari mana. Apakah dari copy paste media berita, ataukah hasil pengamatan sendiri, atau hanya sebuah opini. Dengan mengetahui sumbernya kita bisa lebih mudah menyikapi soaial media yg penuh dengan berbagai macam sebaran. Keterangan resmi kepolisian tentu lebih mudah dipercaya ketimbang artikel orang yang mengaku ngaku dekat dengan kepolisian, atau mengaku mengamati kinerja kepolisian.

Pun ketika kita telah mengetahui sumber, kita harus memverifikasinya terlebih dahulu. Benarkah artikel kesehatan A benar benar dikeluarkan oleh IDI atau hanya artikel yg diaku aku dikeluarkan oleh IDI. Pun jika memang benar dikeluarkan oleh IDI apakah artikel tersebut tidak mengalami editing dengan versi yg asli atau ternyata sudah ada perubahan, dst. Verifikasi harus terus kita lakukan sampai kita benar2 yakin bahwa artikel yg kita baca adalah valid. Baru kita bisa menanggapinya..

Multikulturalisme

1. Pengertian Multikulturalisme

Multikultural berarti beraneka ragam kebudayaan atau kesatuan yang terbentuk dari berbagai ragam kultur kebudayaan. Akar kata dari multikulturalisme adalah kebudayaan (kultur), yaitu kebudayaan yang dilihat dari fungsinya sebagai pedoman bagi kehidupan manusia[1]. Multikulturalisme adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan pandangan seseorang tentang ragam kehidupan di dunia, ataupun kebijakan kebudayaan yang menekankan tentang penerimaan terhadap realitas keragaman, dan berbagai macam budaya (multikultural) yang ada dalam kehidupan masyarakat menyangkut nilai-nilai, sistem, budaya, kebiasaan, dan politik yang mereka anut. Adapun beberapa pengertian lain Multikulturalisme menurut para ahli lain adalah:

· Anderson & Crusher menyatakan bahwa pendidikan multikulturalisme dapat diartikan sebagai pendidikan mengenai keberagaman kebudayaan.

· Muhaimin el Ma’hady berpendapat secara sederhana, bahwa Pendidikan Multikulturalisme adalah pendidikan tentang keseragaman kebudayaan dalam merespon perubahan demografis & kultural lingkungan masyarakat tertentu bahkan dunia secara keseluruhan.

Dalam konteks pembangunan bangsa, istilah multikultural ini telah membentuk suatu ideologi yang disebut multikulturalisme. Konsep multikulturalisme tidaklah dapat disamakan dengan konsep keanekaragaman secara sukubangsa atau kebudayaan sukubangsa yang menjadi ciri masyarakat majemuk. Multikulturalisme menekankan keanekaragaman kebudayaan dalam kesederajatan. Ulasan mengenai multikulturalisme akan mengulas berbagai permasalahan yang mendukung ideologi ini, yaitu politik dan demokrasi, keadilan dan penegakan hukum, kesempatan kerja dan lapangan usaha, HAM, hak budaya komuniti dan golongan minoritas, prinsip-prinsip etika dan moral, dan tingkat serta mutu produktivitas.

Multikulturalisme adalah sebuah ideologi dan sebuah alat untuk meningkatkan derajat manusia dan kemanusiaannya. Untuk dapat memahami multikulturalisme diperlukan landasan pengetahuan yang berupa bangunan konsep-konsep yang relevan dan mendukung keberadaan serta berfungsinya multikulturalisme dalam kehidupan manusia. Bangunan konsep-konsep ini harus dikomunikasikan di antara para ahli yang mempunyai perhatian ilmiah yang sama tentang multikulturalisme sehingga terdapat kesamaan pemahaman dan saling mendukung dalam memperjuangkan ideologi ini.

Berbagai konsep yang relevan dengan multikulturalisme antara lain adalah, demokrasi, keadilan dan hukum, nilai-nilai budaya dan etos, kebersamaan dalam perbedaan yang sederajat, sukubangsa, kesukubangsaan, kebudayaan sukubangsa, keyakinan keagamaan, ungkapan-ungkapan budaya, domain privat dan publik, HAM, hak budaya komuniti, dan konsep-konsep lainnya yang relevan.

Multikulturalisme akan menjadi acuan utama bagi terwujudnya masyarakat yang multikultural, karena multikulturalisme sebagai sebuah ideologi akan mengakui dan mengagungkan perbedaan dalam kesederajatan baik secara individual maupun secara kebudayaan. Dalam model multikulturalisme ini, sebuah masyarakat mempunyai sebuah kebudayaan yang berlaku umum dalam masyarakat tersebut yang coraknya seperti sebuah mosaik. Di dalam mosaik tercakup semua kebudayaan dari masyarakat-masyarakat yang lebih kecil yang membentuk terwujudnya masyarakat yang lebih besar, yang mempunyai kebudayaan seperti sebuah mosaik. Dengan demikian, multikulturalisme diperlukan dalam bentuk tata kehidupan masyarakat yang damai dan harmonis meskipun terdiri dari beraneka ragam latar belakang kebudayan.[2]

Mengingat pentingnya pemahaman mengenai multikulturalisme dalam membangun kehidupan berbangsa dan bernegara terutama bagi negara-negara yang mempunyai aneka ragam budaya masyarakat seperti Indonesia, maka pendidikan multikulturalisme ini perlu dikembangkan. Melalui pendidikan multikulturalisme ini diharapkan akan dicapai suatu kehidupan masyarakat yang damai, harmonis, dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan sebagaimana yang telah diamanatkan dalam undang-undang dasar.

2. Pendidikan Multikulturalisme di Indonesia

Pendidikan di Indonesia secara perundangan telah diatur dengan memberikan ruang keragaman sebagai bangsa. Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 4 UU N0. 20 Tahun 2003 menjelaskan bahwa pendidikan diselenggarakan secara demokratis, tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi HAM, nilai keagamaan, nilai kultural, dan kemajemukan bangsa. Dasar perundangan ini selain memberi arahan pendidikan di Indonesia juga mewajibkan bahwa pendidikan di Indonesia harus dikembangan berdasarkan nilai-nilai keagamaan, kultural, dan kemajemukan bangsa.[3]

Multikulturalisme mempunyai peran yang besar dalam pembangunan bangsa. Indonesia sebagai suatu negara yang berdiri di atas keanekaragaman kebudayaan meniscayakan pentingnya multikulturalisme dalam pembangunan bangsa. Dengan multikulturalisme ini maka prinsip “bhineka tunggal ika” seperti yang tercantum dalam dasar negara akan menjadi terwujud. Keanekaragaman budaya yang dimiliki oleh bangsa Indonesia akan menjadi inspirasi dan potensi bagi pembangunan bangsa sehingga cita-cita untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang adil, makmur, dan sejahtera sebagaimana yang tercantum dalam pembukaan Undang-undang Dasar 1945 dapat tercapai.

James Banks, seorang ahli pendidikan dikenal sebagai penrintis pendidikan multikultural, berpendapat bahwa sebagian dari pendidikan lebih mengarah kepada mengajari bagaimana berfikir daripada apa yang dipikirkan. Pendidikan multikultural merupakan suatu rangkaian kepercayaan dan penjelasan yang mengakui dan menilai pentingnya keragaman budaya dan etnis didalam bentuk gaya hidup, pengalaman sosial, identitas pribadi, kesempatan pendidikan dari individu, kelompok maupun negara.[4]

Di Indonesia, pendidikan multikultural relatif baru dikenal sebagai suatu pendekatan yang dianggap lebih sesuai bagi masyarakat Indonesia yang heterogen, terlebih pada masa otonomi dan desentralisasi yang baru dilakukan. Pendidikan multikultural yang dikembangkan di Indonesia sejalan pengembangan demokrasi yang dijalankan sebagai counter terhadap kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah. Apabila hal itu dilaksanakan dengan tidak berhati-hati justru akan menjerumuskan kita ke dalam perpecahan nasional.

Sudah selayaknya jika sistem pendidikan nasional mengadopsi pendekatan multikulturalisme sebagai spirit utama dalam membangun peserta didik. Keragaman budaya, agama, dan etnis serta berbagai variasinya dalam suatu masyarakat adalah kenyataan sejarah Indonesia. Sesungguhnya pendekatan multikulturalisme dalam dunia pendidikan bukanlah hal baru. UNESCO sudah cukup lama mengintrodusir pendidikan tersebut dan menganjurkannya kepada negara-negara yang warganya heterogen. Sistem Pendidikan Nasional mesti sensitive terhadap masalah keberagaman masalah tersebut, karena posisinya sangat strategis dalam membangun watak bangsa yang tidak sektarian, tetapi toleran, demokratis, dan humanistik.

Pendidikan yang disemangati oleh multikulturalisme sangat penting bagi bangsa Indonesia karena apresiasi dan saling hormat-menghormati terhadap perbedaan harus dibentuk dari tingkat yang paling dini dalam kehidupan anak. Konsep kurikulum muatan lokal (mulok) sebenarnya adalah penerapan pendidikan multikulturalisme. Dengan kurikulum seperti itu akan berkembang apresiasi kreativitas kultural masyarakat lokal oleh anak-anak sekolah di daerah masisng-masing. Tetapi program ini akan terancam gagal, jika di negeri ini membiarkan iklim politik dan aturan normatif dalam bentuk produk undang-undang mengkondisikan lahirnya kekuatan dominatif atas nama Negara. Sebab kemunculan kekuatan dominatif baru akan senantiasa berpotensi melakukan penyeragaman sehingga anti dialog dan negoisasi kultural.

Dasar kemampuan untuk bertahan dalam dunia yang multikultural ini adalah pertama mengerti nilai-nilai budayanya sendiri, dan selanjutnya adalah mengerti nilai-nilai budaya lain. Orang tua mempunyai pengaruh besar dalam menanamkan pengertian multikultural terhadap anak-anaknya. Nilai-nilai itu penting untuk ditanamkan selama 10 tahun pertama dalam kehidupan anak. Karena mereka mengadopsi dengan pengamatan, lalu meniru saat remaja, dan selanjutnya akan terdoktrin dari apa yang diamatinya. Cara hidup orang tua dalam budayanya ternyata mempersiapkan anaknya dengan identitas budayanya. Inilah pendidikan multikultural yang pertama.

Model pendidikan multikultural adalah penambahan informasi tentang keragaman budaya yang mencakup revisi atau materi pembelajaran, termasuk revisi buku-buku teks. Terlepas dari kritik atas penerapannya di beberapa tempat, revisi pembelajaran merupakan strategi yang dianggap paling penting dalam reformasi pendidikan dan kurikulum. Di Indonesia masih diperlukan usaha yang panjang dalam merevisi buku-buku teks agar mengakomodasi kontribusi dan partisipasi yang lebih inklusif bagi warga dari berbagai latar belakang dalam pembentukan Indonesia. Indonesia juga memerlukan pula materi pembelajaran yang bisa mengatasi “dendam sejarah” di berbagai wilayah.

Model lainnya adalah pendidikan multikultural tidak sekedar merevisi materi pembelajaran tetapi melakukan reformasi dalam sistem pembelajaran itu sendiri. Contohnya adalah model “sekolah pembauran” Iskandar Muda di Medan yang memfasilitasi interaksi siswa dari berbagai latar belakang budaya dan menyusun program anak asuh lintas kelompok. Untuk mewujudkan model-model tersebut, pendidikan multikultural di Indonesia perlu memakai kombinasi model yang ada, agar seperti yang diajukan Gorski, pendidikan multikultural dapat mencakup tiga hal jenis transformasi, yakni: (1) transformasi diri; (2) transformasi sekolah dan proses belajar mengajar; dan (3) transformasi masyarakat.

Menyusun pendidikan multikultural dalam tatanan masyarakat yang penuh permasalahan antar kelompok mengandung tantangan yang tidak ringan. Pendidikan multikultural tidak berarti sebatas “merayakan keragaman” belaka. Apalagi jika tatanan masyarakat yang ada masih penuh diskriminasi dan bersifat rasis. Dalam kondisi demikian pendidikan multikultural lebih tepat diarahkan sebagai advokasi untuk menciptakan masyarakat yang toleran dan bebas toleransi.

3. Pendekatan Pendidikan Multikulturalisme

Masyarakat Indonesia sangat beragam, terdiri dari berbagai suku dan budaya yang berbeda. Pendidikan Multikultur menjadi kebutuhan tersendiri bagi masyarakat Indonesia. Guna mengupayakan interaksi dan integrasi berjalan lancar diantara kalangan masyarakat yang berbeda kultur. Dengan adanya pendidikan multikulturisme diharapkan rasa kesukuan dan jarak yang tercipta antara budaya satu dengan budaya lainnya bisa dihilangkan. Sebab tanpa adanya semangat bhineka tunggal ika dalam kehidupan kita akan sulit pula terwujud bangsa Indonesia yang bersatu.

Pendidikan multikulturisme tidak bermaksud untuk menyamaratakan kultur atau kebudayaan kita dan menggantinya dengan nasionalisme misalnya. Pendidikan multikultural justru menghidupkan semangan kebudayaan kita tapi juga turut memberi pengertian akan toleransi terhadap kebudayaan lain. Sehingga akan tercipta hubungan yang harmonis antara kultur atau kebudayaan masyarakat satu dengan masyarakat lainnya. Konsep multikulturalisme tidak mengutamakan penyeragaman dalam satu wadah tapi berusaha mengakomodasi masing masing kultur untuk bisa saling interaksi dan terintegrasi.

Ada beberapa pendekatan dalam proses pendidikan multikultural, yaitu:
Pertama, tidak lagi terbatas pada menyamakan pandangan pendidikan (education) dengan persekolahan (schooling) atau pendidikan multikultural dengan program-program sekolah formal. Pandangan yang lebih luas mengenai pendidikan sebagai transmisi kebudayaan membebaskan pendidik dari asumsi bahwa tanggung jawab primer menegmbangkan kompetensi kebudayaan di kalangan anak didik semata-mata berada di tangan mereka dan justru semakin banyak pihak yang bertanggung jawab karena program-program sekolah seharusnya terkait dengan pembelajaran informal di luar sekolah.

Kedua, menghindari pandangan yang menyamakan kebudayaan kebudayaan dengan kelompok etnik adalah sama. Artinya, tidak perlu lagi mengasosiasikan kebudayaan semata-mata dengan kelompok-kelompok etnik sebagaimana yang terjadi selama ini. Dalam konteks pendidikan multikultural, pendekatan ini diharapkan dapat mengilhami para penyusun program-program pendidikan multikultural untuk melenyapkan kecenderungan memandang anak didik secara stereotip menurut identitas etnik mereka dan akan meningkatkan eksplorasi pemahaman yang lebih besar mengenai kesamaan dan perbedaan di kalangan anak didik dari berbagai kelompok etnik.

Ketiga, karena pengembangan kompetensi dalam suatu “kebudayaan baru” biasanya membutuhkan interaksi inisiatif dengan orang-orang yang sudah memiliki kompetensi, bahkan dapat dilihat lebih jelas bahwa uapaya-upaya untuk mendukung sekolah-sekolah yang terpisah secara etnik adalah antitesis terhadap tujuan pendidikan multikultural. Mempertahankan dan memperluas solidarits kelompok adalah menghambat sosialisasi ke dalam kebudayaan baru. Pendidikan bagi pluralisme budaya dan pendidikan multikultural tidak dapat disamakan secara logis.

Keempat, pendidikan multikultural meningkatkan kompetensi dalam beberapa kebudayaan. Kebudayaan mana yang akan diadopsi ditentukan oleh situasi. Kelima, kemungkinan bahwa pendidikan (baik dalam maupun luar sekolah) meningkatkan kesadaran tentang kompetensi dalam beberapa kebudayaan. Pendekatan ini meningkatkan kesadaran akan multikulturalisme sebagai pengalaman normal manusia. Kesadaran ini mengandung makna bahwa pendidikan multikultural berpotensi untuk menghindari dikotomi dan mengembangkan apresiasi yang lebih baik melalui kompetensi kebudayaan yang ada pada diri anak didik.

Masyarakat juga mempunyai peranan dan pengaruh yang sangat besar terhadap perkembangan intelektual dan kepribadian individu peserta didik. Sebab keberadaan masyarakat merupakan laboratorium dan sumber makro yang penuh alternatif untuk memperkaya pelaksanaan proses pendidikan. Untuk itu, setiap anggota masyarakat memiliki peranan dan tanggung jawab moral terhadap terlaksananya proses pendidikan. Hal ini disebabkan adanya hubungan timbal balik antara masyarakat dan pendidikan. Dalam upaya memberdayakan masyarakat dalam dunia pendidikan merupakan satu hal penting untuk kemajuan pendidikan.

4. Prospek Pendidikan Multikultural di Indonesia

Masyarakat Indonesia selalu mengalami perubahan sosial secara luas dan beraneka karena pergaulannya dengan berbagai bangsa secara internasional dan global. Di dalam arus global ini hadirlah pula neoliberalisme sebagai ideology yang kini tengah menguasai panggung interaksi mondial melalui berbagai instrument. Pada titik inilah maka nasionalisme baru, yaitu kebangsaan berdasarkan “masyarakat Indonesia multikultural”, lantas diperlukan keberadaannyaoleh bangsa ini. Masyarakat multikultural inilah yang akan dihasilkan oleh pendidikan multikultural.

Pengetahuan (dan ilmu) menjadi instrument penting bagi masyarakat di dalam memetakan gejala dan persoalan, menganalisis, menentukan alternatif, dan mengambil keputusan sebagai respon terhadap perubahan cepat masyarakat yang terjadi. Jikalau salah satu yang mendasari karakter ilmu dan pengetahuan adalah relativitas didasarkan pada toleransi terhadap pihak lain karena segala sesuatunya tidak ada yang mutlak. Apabila hal yang sama berlaku pula pada pemahaman terhadap kultur lain maka perspektif multikultural menjadi penting keberadaannya. Untuk membentuk masyarakat seperti inilah maka pendidikan multikultural menempati posisi urgen dan signifikan.

Berdasarkan perspektif sistemik, pendidikan kiranya perlu dipahami dalam konteks tantangan global dan sekaligus pengaruh global tersebut pada tingkat nasional dan lokal. Dengan mencermati aneka fenomena pendidikan di berbagai Negara, pendidikan dapat difungsikan sebagi salah satu jawaban alternative jangka panjang bagi persoalan besar bangsa di masa depan. Jawaban ini tentu saja tidak hanya bersifat filosofis-konseptual melainkan juga bersifat operasional, yaitu ketika dirumuskan pada aras program-program prioritas pendidikan multikultural.

Untuk menghadapi masa depan yang penuh resiko itu (risk society) maka dibutuhkan adanya masyarakat yang berdasarkan ilmu pengetahuan (knowledge-based society). Yaitu masyarakat yang setiap anggota di dalamnya dapat mengenal dan memanfaatkan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di dalam memperbaiki taraf hidupnya. Karena demokrasi dan HAM menjadi prinsip kehidupan masa datang yang diperlukan dan dihormati maka masyarakat berbasis ilmu pengetahuan ini sekaligus merupakan masyarakat civil society, yang di dalam pembentukannya harus menghadapi tantangan domestic dan global. Di dalam ranah keindonesiaan yang plural ini maka kedua konsep masyarakat itu seharusnya juga sekaligus merupakan masyarakat multikultural (multicultural society).

Di dalam konteks masyarakat dewasa ini, pandangan untuk membangun kehidupan bersama secara multikultural agaknya terdesak oleh agenda individual, kelompok, klik, komunal, dan organisasional yang lebih dekat dengan orientasi keberhasilan hidup mereka yang hendak diraih. Situasi seperti itu memaksa mereka untuk bersikap pragmatis di hadapan aneka kemendesakan hidup. Pada titik ini, pada tingkat makro, bangunan reflexive modern society yang mengintregasikan diri dan masyarakat yang kian mejemuk dengan aneka kulturnya lantas menjadi kian jauh dari perwujudannya. Namun bila hal ini lebih banyak diabdikan pada kepentingan sempit maka anyaman kehidupan sosial yang bersifat multikultur tidak akan terbangun berdasarkan penghayatan nilai-nilai multikulturalisme karena proses refleksi yang mempertautkan pengalaman dan pandangan tidak pernah mengkristal.

Adapun level kebijakan pendidikan nasional pemerintah (atau Negara), multikulturalisme pun tidak menjadi titik fokus utama. Persoalan teknis, manajerial, anggaran/ financial, standarisasi kualitas kualitas capaian pendidikan, guru, kelembagaan, regulasi pendidikan lebih menjadi titik perhatian daripada persemaian nilai-nilai multikulturalisme. Oleh sebab itu, implementasi multikulturalisme sangat tergantung pada insan-insan pendidikan yang telah memahaminya dan secara sadar ingin menyampaikannya di dalam proses pendidikan multikultural baik secara formal maupun informal. Maka keberhasilan relatif dan gradual lalu menjadi acuan kita supaya kita tidak merasa frustasi dalam menggulirkan pendidikan multikultural ini. Pendidikan multikultural tetap dapat dilaksanakan meskipun hal itu masih jauh dari perwujudan masyarakat multikultural secara menyeluruh.

Kesimpulan

Multikulturalisme adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan pandangan seseorang tentang ragam kehidupan di dunia, ataupun kebijakan kebudayaan yang menekankan tentang penerimaan terhadap realitas keragaman, dan berbagai macam budaya (multikultural) yang ada dalam kehidupan masyarakat menyangkut nilai-nilai, sistem, budaya, kebiasaan, dan politik yang mereka anut.

Pendidikan yang disemangati oleh multikulturalisme sangat penting bagi bangsa Indonesia karena apresiasi dan saling hormat-menghormati terhadap perbedaan harus dibentuk dari tingkat yang paling dini dalam kehidupan anak. Konsep kurikulum muatan lokal (mulok) sebenarnya adalah penerapan pendidikan multikulturalisme. Dengan kurikulum seperti itu akan berkembang apresiasi kreativitas kultural masyarakat lokal oleh anak-anak sekolah di daerah masisng-masing.

Pengetahuan (dan ilmu) menjadi instrument penting bagi masyarakat di dalam memetakan gejala dan persoalan, menganalisis, menentukan alternatif, dan mengambil keputusan sebagai respon terhadap perubahan cepat masyarakat yang terjadi. Jikalau salah satu yang mendasari karakter ilmu dan pengetahuan adalah relativitas didasarkan pada toleransi terhadap pihak lain karena segala sesuatunya tidak ada yang mutlak. Apabila hal yang sama berlaku pula pada pemahaman terhadap kultur lain maka perspektif multikultural menjadi penting keberadaannya. Untuk membentuk masyarakat seperti inilah maka pendidikan multikultural menempati posisi urgen dan signifikan.

Suparlan, Parsudi, (2002) Menuju Masyarakat Indonesia yang Multikutural, Jurnal Antropogi Indonesia, tahun XXVI, No.69. Jakarta: Penerbit UI dan Yayasan Obor Indonesia.
Sutarno. (2008). Pendidikan Multikultural. Jakarta: Bahan Ajar Cetak DIKTI Departemen Pendidikan Masional
Tilaar, H.A.R. (2004). Multikulturisme: Tantangan-tantangan Global Masa Depan dalam Transformasi Pendidikan Nasional. Jakarta: Grasindo

[1] Suparlan, Parsudi, (2002) Menuju Masyarakat Indonesia yang Multikutural, Jurnal Antropogi Indonesia, tahun XXVI.
[2] Suparlan, Parsudi, (2002) Menuju Masyarakat Indonesia yang Multikutural, Jurnal Antropogi Indonesia, tahun XXVI,
[3] Sariban. M.Pd. Pendidikan Multikulturan Pembentuk Karakter Pendidikan, Jurnal dalam http://gurupintar.ut.ac.id
[4] Sutarno. Pendidikan Multikultural. Bahan Ajar Cetak DIKTI Departemen Pendidikan Masional

Sekulerisme

       Sekulerisme berasal dari bahasa Inggris yakni secular yang memiliki arti bersifat duniawi, fana, temporal; tidak bersifat spiritual, abadi dan sacral; kehidupan di luar biara dan sebagainya. [1] Tambahan isme berarti menunjuk pada suatu aliran. 
       Sejak kaisar Romawi, Konstantin Yang Agung (280-337), melegelalisasi agama Kristen sebagai agama Negara, hingga mempengaruhi berbagai aspek kehidupan masyarakat Eropa. Namun sejak akhir abad pertengahan di Eropa pengaruh ini mulai menipis sedikit demi sedikit. Pengaruh agama yang pada mulanya mendominasi mulai diacuhkan masyarakat, karena melihat kaum agamawan yang mengatasnamakan agama demi kepentingan golongan atau pribadi semata. Pertentangan ilmu sains terhadap ilmu agama mempertajam timbulnya sekularisme. 
       Faham sekuler dirumuskan pertama kali di barat dengan tokoh penggagas George Jacob Holyoake (1817-1906) kelahiran Inggris. Faham sekularisme hingga pada akhirnya berkembang pesat dan mempengaruhi hamper sebagian Negara-negara di dunia pada umumnya. Sekularisme tidak hanya menjangkiti agama Kristen saja namun semua agama didunia ini sama. Makalah kelompok kami ini akan membahas mengenai sekularisme dan pengaruhnya di berbagai bidang kehidupan. 

 Pengertian Sekulerisme 

       Sekularisme atau sekulerisme dalam penggunaan masa kini secara garis besar adalah sebuah ideologi yang menyatakan bahwa sebuah institusi harus berdiri terpisah dari agama atau kepercayaan. Sekularisme dapat menunjang kebebasan beragama dan kebebasan dari pemaksaan kepercayaan dengan menyediakan sebuah rangka yang netral dalam masalah kepercayaan serta tidak menganakemaskan sebuah agama tertentu.[2]
       Sekularisme juga merujuk kepada anggapan bahwa aktivitas dan penentuan manusia, terutamanya yang politis, harus didasarkan pada apa yang dianggap sebagai bukti konkret dan fakta, dan bukan berdasarkan pengaruh keagamaan. Tujuan dan argumen yang mendukung sekularisme beragam. dalam Laisisme Eropa, di usulkan bahwa sekularisme adalah gerakan menuju modernisasi dan menjauh dari nilai-nilai keagamaan tradisional. Tipe sekularisme ini, pada tingkat sosial dan filsafat seringkali terjadi selagi masih memelihara gereja negara yang resmi, atau dukungan kenegaraan lainnya terhadap agama. 
       Dalam istilah politik, sekularisme adalah pergerakan menuju pemisahan antara agama dan pemerintahan. Hal ini dapat berupa hal seperti mengurangi keterikatan antara pemerintahan dan agama negara, menggantikan hukum keagamaan dengan hukum sipil, dan menghilangkan pembedaan yang tidak adil dengan dasar agama. Hal ini dikatakan menunjang demokrasi dengan melindungi hak-hak kalangan beragama minoritas.[3]
       Negara-negara yang umumnya dikenal sebagai sekular diantaranya adalah Kanada, Perancis, Turki, dan Korea Selatan, walaupun tidak ada dari negara ini yang bentuk pemerintahannya sama satu dengan yang lainnya. 
       Dalam kajian keagamaan, masyarakat dunia barat pada umumnya dianggap sebagai sekular. Hal ini di karenakan kebebasan beragama yang hampir penuh tanpa sangsi legal atau sosial, dan juga karena kepercayaan umum bahwa agama tidak menentukan keputusan politis. Tentu saja, pandangan moral yang muncul dari tradisi keagamaan tetap penting di dalam sebagian dari negara-negara ini, dan juga sebagian dari Negara berfaham sekuler sendiri terkadang malah menjadi Negara yang sangat over protektif terhadap kepenganutan suatu agama. 
       Sekularisme juga dapat berarti ideologi sosial. Di sini kepercayaan keagamaan atau supranatural tidak dianggap sebagai kunci penting dalam memahami dunia, dan oleh karena itu dipisahkan dari masalah-masalah pemerintahan dan pengambilan keputusan. 
       Sekularisme tidak dengan sendirinya adalah Ateisme, banyak para Sekularis adalah seorang yang religius dan para Ateis yang menerima pengaruh dari agama dalam pemerintahan atau masyarakat. 
       Sekularisme di bidang politik ditandai dengan 3 hal, yaitu: (1). Pemisahan pemerintahan dari ideologi keagamaan dan struktur eklesiatik, (2). Ekspansi pemerintah untuk mengambil fungsi pengaturan dalam bidang sosial dan ekonomi, yang semula ditangani oleh struktur keagamaan, (3). Penilaian atas kultur politik ditekankan pada alasan dan tujuan keduniaan yang tidak transenden.[4]
       Prinsip esensial sekularisme ialah mencari kemajuan manusia dengan alat materi semata-mata.[5] Dengan demikian terlihat jelas bahwa sekularisme berujung pada materialisme. Sekularisme selalu memandang kebenaran harus didasarkan pada kebenaran ilmiah, tanpa ada kaitan dengan agama dan metafisika. 
       Tahun yang dianggap sebagai cikal bakal munculnya sekularisme adalah 1648. Pada tahun itu telah tercapai perjanjian Westphalia. Perjanjian itu telah mengakhiri Perang Tiga Puluh Tahun antara Katholik dan Protestan di Eropa. Perjanjian tersebut juga telah menetapkan sistem negara merdeka yang didasarkan pada konsep kedaulatan dan menolak ketundukan pada otoritas politik Paus dan Gereja Katholik Roma. Inilah awal munculnya sekularisme. Sejak itulah aturan main kehidupan dilepaskan dari gereja yang dianggap sebagai wakil Tuhan. Asumsinya adalah bahwa negara itu sendirilah yang paling tahu kebutuhan dan kepentingan warganya, sehingga negaralah yang layak membuat aturan untuk kehidupannya. Sementara itu, Tuhan atau agama hanya diakui keberadaannya di gereja-gereja saja. 
       Awalnya sekularisme memang hanya berbicara hubungan antara agama dan negara. Namun dalam perkembangannya, semangat sekularisme tumbuh dan berbiak ke segala lini pemikiran kaum intelektual pada saat itu. Sekularisme menjadi bahan bakar sekaligus sumber inspirasi kesegenap kawasan pemikiran. 

Pengaruh Sekularisme di berbagai bidang kehidupan 

Di bidang pemerintahan 
       Dalam bidang pemerintahan, yang dianggap sebagai pelopor pemikiran modern dalam bidang politik adalah Niccola Machiavelli, yang menganggap bahwa nilai-nilai tertinggi adalah yang berhubungan dengan kehidupan dunia dan dipersempit menjadi nilai kemasyhuran, kemegahan dan kekuasaan belaka. Agama hanya diperlukan sebagai alat kepatuhan, bukan karena nilai-nilai yang dikandung agama itu sendiri.[6] Disamping itu muncul pula para pemikir demokrasi seperti John Locke, Montesquieu dll. yang mempunyai pandangan bahwa pemerintahan yang baik adalah pemerintahan konstitusional yang mampu membatasi dan membagi kekuasaan sementara dari mayoritas, yang dapat melindungi kebebasan segenap individu-individu rakyatnya. Pandangan ini kemudian melahirkan tradisi pemikiran politik liberal, yaitu sistem politik yang melindungi kebebasan individu dan kelompok, yang didalamnya terdapat ruang bagi masyarakat sipil dan ruang privat yang independen dan terlepas dari kontrol negara. 

Di bidang ekonomi 
       Dalam bidang ekonomi, mucul tokoh besarnya seperti Adam Smith, yang menyusun teori ekonominya berangkat dari pandangannya terhadap hakikat manusia. Smith memandang bahwa manusia memiliki sifat serakah, egoistis dan mementingkan diri sendiri. Smith menganggap bahwa sifat-sifat manusia seperti ini tidak negatif, tetapi justru sangat positif, karena akan dapat memacu pertumbuhan ekonomi dan pembangunan secara keseluruhan. Smith berpendapat bahwa sifat egoistis manusia ini tidak akan mendatangkan kerugian dan merusak masyarakat sepanjang ada persaingan bebas. 

Di bidang sosiologi 
       Dalam bidang sosiologi, muncul pemikir besarnya seperti Auguste Comte, Herbert Spencer, Emile Durkheim dsb. Sosiologi ingin berangkat untuk memahami bagaimana masyarakat bisa berfungsi dan mengapa orang-orang mau menerima kontrol masyarakat. Dari sosiologi inilah diharapkan peran manusia dalam melakukan rekayasa sosial dapat lebih mudah dan leluasa untuk dilakukan, ketimbang harus ‘pasrah’ dengan apa yang dianggap oleh kaum agamawan sebagai ‘ketentuan-ketentuan’ Tuhan. 

Di bidang pengamalan agama 
       Dalam pengamalan agama-pun ada prinsip sekularisme yang amat terkenal yaitu faham pluralisme agama yang memiliki tiga pilar utama[7] yaitu: prinsip kebebasan, yaitu negara harus memperbolehkan pengamalan agama apapun (dalam batasan-batasan tertentu); prinsip kesetaraan, yaitu negara tidak boleh memberikan pilihan suatu agama tertentu atas pihak lain; prinsip netralitas, yaitu negara harus menghindarkan diri pada suka atau tidak suka pada agama. 

       Dari prinsip pluralisme agama inilah muncul pandangan bahwa semua agama harus dipandang sama, memiliki kedudukan yang sama, namun hanya boleh mewujud dalam area yang paling pribadi, yaitu dalam kehidupan privat dari pemeluk-pemeluknya. 

Pengaruh sekularisme di bidang akademik 
       Di bidang akademik, kerangka keilmuan yang berkembang di Barat mengacu sepenuhnya pada prinsip-prinsip sekularisme. Hal itu paling tidak dapat dilihat dari kategorisasi filsafat yang mereka kembangkan yang mencakup tiga pilar utama pembahasan, yaitu[8]: filsafat ilmu, yaitu pembahasan filsafat yang mengkaji persoalan benar atau salah; filsafat etika, pembahasan filsafat yang mengkaji persoalan baik atau buruk; filsafat estetika, pembahasan filsafat yang mengkaji persoalan indah atau jelek. 
       Jika kita mengacu pada tiga pilar utama yang dicakup dalam pembahasan filsafat tersebut, maka kita dapat memahami bahwa sumber-sumber ilmu pengetahuan hanya didapatkan dari akal manusia, bukan dari agama, karena agama hanya didudukkan sebagai bahan pembahasan dalam lingkup moral dan hanya layak untuk berbicara baik atau buruk (etika), dan bukan pembahasan ilmiah (benar atau salah). 
       Dari prinsip dasar inilah ilmu pengetahuan terus berkembang dengan berbagai kaidah metodologi ilmiahnya yang semakin mapan dan tersusun rapi, untuk menghasilkan produk-produk ilmu pengetahuan yang lebih maju. Dengan prinsip ilmiah ini pula, pandangan-pandangan dasar berkaitan dengan aqidah maupun pengaturan kehidupan manusia sebagaimana telah diuraikan di atas, semakin berkembang, kokoh dan tak terbantahkan karena telah terbungkus dengan kedok ilmiah tersebut. 

Daftar Pustaka 

Audi, Robert. 2002. Agama dan Nalar Sekuler dalam Masyarakat Liberal. Terj: Yusdani & Aden Wijdan. Yogyakarta: PSI UII & UII Press. 
Nasiwan. 2003. Diskursus antara Islam dan Negara – Suatu Kajian Tentang Islam Politik di        Indonesia. Pontianak: Yayasan Insan Cita Kalimantan Barat. 
S. Praja, Juhaya. 2003. Aliran-aliran Filsafat & Etika. Jakarta: Prenada Media. 
Suriasumantri, Jujun S. 1987. Filsafat Ilmu – Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan 

http://id.wikipedia.org/wiki/Sekularisme diakses pada 21 Maret 2012, pukul 20.10 WIB 
[1] Juhaya S. Praja. 2003. Aliran-aliran Filsafat & Etika. Jakarta: Prenada Media. Hal.187. 
[2] http://id.wikipedia.org/wiki/Sekularisme diakses pada 21 Maret 2012, pukul 20.10 WIB
[3] Ibid,. 
[4] Nasiwan. 2003. Diskursus antara Islam dan Negara – Suatu Kajian Tentang Islam Politik di Indonesia. Pontianak: Yayasan Insan Cita Kalimantan Barat. Hal. 68 
[5] Juhaya S. Praja. Op cit,. Hal. 189. 
[6] Nasiwan. 2003. Diskursus antara Islam dan Negara – Suatu Kajian Tentang Islam Politik di Indonesia. Pontianak: Yayasan Insan Cita Kalimantan Barat. Hal. 73 
[7] Audi, Robert. 2002. Agama dan Nalar Sekuler dalam Masyarakat Liberal. Terj: Yusdani & Aden Wijdan. Yogyakarta: PSI UII & UII Press. Hal. 24 
[8] Suriasumantri, Jujun S. 1987. Filsafat Ilmu – Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan. Hal. 33 

Pendekar Katok Congklang vs Lanun Penyair Atheis

     Cerita tentang persaingan tiada akhir. Ksatria Katok congklang melawan Lanun penyair atheis. Di sekolah ghaib di kaki gunung Merapi. Memperebutkan tahta, yang satu ingin menguasai, yang satu ingin tak ada satupun yang menjadi penguasa. Adil kan, kalau tidak ada yang namanya mayoritas ataupun minoritas dalam menuntut ilmu. Sama rata sama rasa, seperti yang Mandor Paku ajarkan kepada murid muridnya yang berjiwa bebas. Bebas dari sembahyang 5 waktu mungkin. Oh jadi ini persaingan antara Paki dan Masami jilid baru? tentang sosialis melawan islam?

     Rami dan Untar kuliah di sekolah tinggi yang sama. Mereka hanya dibedakan oleh dinding fakultas yang berlainan. Rami duduk di kelas kelas ilmu sosial dan ekonomika sedang Untar duduk di lantai lantai gedung pertunjukan Bahasa dan Seni nan genit. Mereka hanya memperebutkan hegemoni, kekuasaan, pemaksaan paham. Yang satu ingin taman di setiap sudut kampus di isi dengan dakwah dakwah. Ukhuwah, mengajarkan tentang karakter.
     Sedang Untar ingin setiap taman di seluruh pojok sekolah diisi dengan apa saja. Pertunjukan musik, pementasan drama, teater bahkan kalau ada yang ingin main gobag sodor di taman ayo silahkan. Masing masing benar menurut pandangannya sendiri. Yang salah adalah jika salah satu ingin menghilangkan yang lain. Rami ingin menghilangkan seni dari sekolah. Budaya orang orang jogja mau dihilangkan diganti dengan ajaran ajaran yang dibawa dari kairo, dari ikhwanul muslimin, dari wahabi, dari partai bulan sabit padi.
     Tapi untar memang beberapa kali sudah keterlaluan. Menghalalkan perbuatan haram atas nama kebebasan. Sekarang kalau kita mencintai lawan jenis dan dia balik mencintai kita maka kita boleh melakukan apa saja. Semua didasarkan pada kebebasan berekspresi, tidak ada batasan sopan santun. Yang perempuan telanjang menato punggung dan perutnya atas nama seni. Katanya bukankah kupu kupu juga makhluk Tuhan, lalu kenapa kita tak boleh mengagumi kebesaran Tuhan lewat penggambaran makhlukNya pada tubuh kita.
     Rami lalu kalut, meniupkan sangkala perang dengan Untar. Katanya budaya tidak bisa bersatu dengan agama. Kataku goblog kalian. Orang jawa tidak akan pernah memeluk islam kalau walisanga tidak menggunakan budaya dalam dakwahnya. Dakwah yang sebenar benarnya dakwah. Kalian tentu kebanyakan orang jawa kan? Seandainya kalian teiak teriak kalau agama dan budaya tidk bisa bersatu lalu pikir kalian bagaimana ceritanya dulu nenek moyang kalian masuk islam? 
     Memangnya mereka masuk islam dari mempelajari literatur islam? dari mempelajari buku buku islam? Mereka masuk islam karena tiap malam kliwon melihat wayang di kadipaten. Ceritanya semar berguru ke arab. Pulang membawa kalimat syahadat lalu sembahyang dan puasa. Kalau tidak karena semar masuk islam mana mau orang jawa menerima islam. Lalu setelahnya Sunan kalijaga mulai menceritakan Kisah Nabi Muhammad. Orang jawa dulu juga sudah pintar. Sudah tau mana yang cerita dongeng dan mana yang cerita nyata. Semar itu dongeng dan Muhammad SAW itu nyata. Lalu mereka bersyahadat.
     Jadi munafik kalau kalian katakan budaya harus diganti dengan islam. Kau pikir peci, kopiah kita itu bukan budaya?. Kau pikir pesantren itu tidak berbudaya. Kalau mau belajar agama pergi ke pesantren saja sana! Mondok!

Ditulis awal kuliah tahun 2010, saat isu begini lagi marak di kampus IKIP. Maafkan kalimatnya amburadul.

Pornografi

          Pornografi berasal dari kosakata Yunani porna yang berarti pelacur kemudian mengalami perluasan makna menjadi perilaku yang secara eksplisit membangkitkan gairah seksual dan graphien yang berarti menulis, gambar atau penampakan. Jadi bisa diartikan bahwa pornografi adalah sebuah gambar baik gambar diam atau bergerak yang secara eksplisit dapat membangkitkan gairah seksual bagi siapa saja yang melihatnya. Dalam KBBI, pornografi didefinisikan ”(1) penggambaran tingkah laku secara erotis dengan lukisan atau tulisan untuk membangkitkan nafsu berahi; (2) bahan bacaan yang dengan sengaja dan semata-mata dirancang untuk membangkitkan nafsu berahi dalam seks.” Definisi ini sejalan dengan definisi pornography (The American Heritage Dictionary, 1985), yaitu ’the presentation of sexually explicit behavior, as in photograph, intended to arouse sexual excitement.”
          Pada awal perkembangannya, pornografi adalah istilah untuk menyebutkan praktek pelacuran di Eropa. Semakin lama kata ini mengalami perubahan makna, tidak lagi hanya istilah untuk menyebut pelacuran. Contoh bentuk bentuk pornografi adalah gambar-gambar atau foto telanjang, film atau video porno, buku atau novel dengan cerita yang vulgar, serta masih banyak lagi lainnya. Pornografi tidak bisa dilepaskan dari seks. Seks merupakan komponen utama dari pornografi, karena itu perlu ditelusuri keterkaitan pornografi dengan perilaku seks.
          Dekade 60’an di Amerika serikat terjadi sebuah perubahan sosial yang cukup ekstrem, lebih dikenal dengan revolusi seks. Revolusi seks ini terjadi terutama pada kalangan artis dan musisi. Revolusi seks adalah pergeseran nilai dimana seks yang sebelumnya tabu diangkat menjadi hal yang biasa. Seks bahkan dieksploitasi dan dikembangkan menjadi bisnis yang menguntungkan. Baik film maupun iklan banyak yang memasukkan unsur seks ke dalamnya. Yang paling fenomenal dari revolusi seks adalah munculnya ikon seks, atau biasa disebut “bomb sex”. Nama nama seperti Marylin Monroe, Freedy Mercuri atau Elvis Presley merupakan simbol dari revolusi seks tersebut.
          
          Perkembangan Pornografi
          Pornografi sebenarnya sudah berkembang sejak zaman renaisance di Eropa. Banyak terdapat lukisan-lukisan yang menggambarkan tubuh wanita telanjang atau menampakkan bagian bagian tertentu. Namun lukisan ini tidak secara eksplisit bertujuan membangkitkan gairah seksual namun masih murni merupakan seni. Gambar gambar yang secara nyata bertujuan membangkitkan gairah seksual mulai muncul pasca perang dunia ke-2. Perkembangan media televisi serta media cetak cukup mempengaruhi pornografi. Mulai bermunculan gambar atau foto yang secara jelas merupakan bentuk pornografi.
          Di televisi adegan seks mulai diperkenalkan, meskipun sekedar berciuman atau bercumbu namun adegan seks yang sekecil apapun mulai menjadi unsur wajib dalam semua tontonan. Film film pada masa itu pun gencar memasukkan unsur pornografi. Peran aktris wanita biasanya ditampilkan cantik, tidak berdaya dan berpakaian minim. Sedangkan peran aktor ditampilkan kekar dan perkasa. Bahkan tahun 1960-an mulai marak film yang berisi adegan seks. Meskupun tidak dijual secara bebas namun perkembangan film porno sangat pesat. Bukti bahwa pornografi mendapat tempat tersendiri dalam masyarakat.
          Pornografi dan Media
          Tingkat lanjut dari perkembangan pornografi adalah masuknya pornografi ke dalam berbagai media. Baik media film, pertelevisian maupun media cetak seperti majalah. Salah satu media ikon pornografi adalah majalah Playboy. Majalah khusus pria dewasa ini berisi konten-konten pornografi berupa foto-foto model yang berpose telanjang. Playboy secara terang-terangan menyajikan konten pornografi yang dijual secara bebas dan legal. Selain Playboy adapula majalah majalah yang lain seperti FHM, Maxim, Penthouse dan banyak lagi
          Keberadaan media ini tentu saja menjadi semacam trendsetter bagi generasi muda. Apalagi ikon ikon yang digunakan dalam pornografi adalah ikon ikon ternama yang banyak digemari generasi muda. Mulai banyak generasi muda kita yang meniru gaya berpakaian yang minim dan terbuka. Tidak hanya sekedar pakaian, bahkan perilaku seks yang bebas juga mulai ditiru. Seks bebas mulai dijadikan gaya hidup, dengan cara berpikir ala barat. Pornografi mulai masuk ke dalam kehidupan kita lewat generasi muda kita.
          Pornografi dan Gaya Hidup
          Pornografi yang awalnya hanyalah sebuah konten vulgar, lambat laun mulai berubah menjadi gaya hidup. Perempuan masa kini akan lebih percaya diri mamakai pakaian yang terbuka daripada memakai pakaian yang longgar dan tertutup. Demikian juga cap-cap yang diberikan kepada perempuan yang memakai pakaian tertutup yang dianggap sebagai kampungan. Subjektifitas kaum pria juga ikut terpengaruh. Penilaian predikat cantik yang saat ini hanya mengacu kepada kecantikan luarnya saja merupakan akibat dari masuknya pornografi.
          Selain itu mulai bayak gaya hidup yang bersifat hedonis bermunculan. Seperti pesta-pesta, dugem, promnite, dan masih banyak lainnya. Gaya hidup yang mencari kenikmatan seks belaka semakin merajalela seiring perkembangan pornografi yang semakin pesat. Pornografi dan seksualitas berbanding searah. Dan gaya hidup hedonis ini merupakan akibat dari masuknya tayangan tayangan dari luar, ataupun masuknya konten pornografi dari luar.
          Pornografi Menjadi lndustri
          Yang merupakan perkembangan pornografi saat ini adalah pornografi mulai menjadi industri. Pornografi dijadikan barang yang diperjual-belikan secara bebas. Dikemas menarik dan dipasarkan ke semua umur. Produk produk pornografi ini diantaranya adalah majalah pono, video porno dan masih banyak lagi. Tingginya permintaan terhadap produk pornografi membuktikan bahwa pornografi sudah sulit untuk dipisahkan dari bagian kehidupan kita. Pornografi bahkan mulai menjadi seperti kebutuhan yang harus selalu dipenuhi.
          Contoh industri yang bergerak di bidang pornografi diantaranya rumah produksi film porno seperti: JAV, yang merupakan rumah produksi film porno terbesar di jepang yang produknya didistribusikan ke banyak negara termasuk indonesia. Ada pula Naughty America, PornStar dan masih banyak lagi. Majalah majalah yang menjual unsur pornografi juga semakin marak. Seperti serial playboy.

          Dampak Negatif Pornografi
          Dalam perkembangannya pornografi memberikan dampak negatif yang sangat besar bagi kehidupan kita. Secara langsung maupun tidak langsung pornografi telah menurunkan kualitas hidup kita sebagai manusia. Berikut di bawah ini adalah beberapa contoh dampak negatif yang diakibatkan oleh pornografi.
          Menurunkan moral bangsa
          Sebagai bangsa yang memiliki adat budaya kesopanan kita harus menjaga nilai budaya kita agar tidak terpengaruh budaya luar yang tidak baik seperi pornografi. Pornografi jelas menurunkan kualitas moral bangsa. Dimana pornografi mengajarkan untuk mengabaikan nilai-nilai kesopanan dalam berpakaian misalnya. Lebih parah lagi pornografi mengajarkan kebebasan dalam berperilaku seksual yang sangat dilarang oleh adat istiadat kita sebagai orang timur.
          Terdapat anggapan di masyarakat saat ini bahwa perilaku seks bebas merupakan suatu kewajaran bagi remaja yang beranjak dewasa. Hubungan seks di luar nikah atau hamil di luar nikah dianggap sebagai kenakalan remaja yang sudah lazim. Padahal sebelumnya, generasi pendahulu kita berpendapat bahwa seks di luar nikah adalah seseuatu yang memalukan. Di zaman orang tua kita, seks merupakan hal yang sangat tabu untuk diekspresikan, namun di masa kini, generasi mudanya justru senang mengekspresikan seks.
          Pergeseran ini menandakan penurunan moral kita. Di mana kita seperti tidak memiliki sikap yang tegas terhadap seseuatu yang negatif dan merusak. Kita sekarang cenderung menganggap biasa hal hal yang merusak tersebut tanpa adanya niatan untuk melawan.
          Maraknya Tindak Pelecehan Seksual
          Pornografi juga mengakibatkan maraknya tindakan pelecehan seksual. Penayangan pornografi lewat media dapat memicu atau merangsang gairah seksual. Jika tidak ada pelampiasan seksual maka terjadilah pelecehan seksual. Baik yang bersifat ringan seperti siulan sampai yang bersifat berat seperti pemerkosaan. Tindakan pelecehan seksual biasanya didahului dengan menonton tayangan-tayangan pornografi yang membangkitkan gairah seksual.
          Tindak pelecehan seksual bisa terjadi kepada siapa saja dan dimana saja. Bahkan orang terdekat kita pun bisa menjadi pelaku pelecehan seksual. Banyak terjadi kasus pelecehan seksual yang melibatkan guru dengan muridnya, adapula yang melibatkan tetangga. Bahkan yang masih memiliki hubungan saudara pun ada yang menjadi korban pelecehan seksual. Dampak buruk pornografi memang terlihat sangat menakutkan. Itulah alasan kenapa kita harus memerangi pornografi.
          Tindakan pelecehan seksual juga merupakan tindakan yang merendahkan harkat dan martabat perempuan. Seperti kita tahu perempuan merupakan objek pelecehan seksual terbesar. Tidak hanya menjadi korban eksplotasi pornografi perempuan juga menjadi korban pelecehan seksual. Seharusnya perempuan memiliki kedudukan yang mulia setara dengan laki laki. Namun karena pornografi perempuan dianggap sebagai objek yang dianggap paling bersalah di lain sisi juga menjadi korban yang paling dirugikan.

          Upaya Pencegahan PornografiPencegahan tersistem: Yakni dengan melalui peraturan baik perauran resmi maupun yang tidak resmi. Contoh pengadaan undang undang anti pornografi yang bertujuan membatasi perkembangan pornografi di indonesia. Undang-undang ini membahas mengenai pornografi dan sanksi yang disediakan bagi siapa saja yang berusaha mengembangkan, meyebarkan konten konten yang berisi pornografi.
Selain melalui undang undang, pemerintah juga memiliki komisi penyiaran Indonesia yang bertugas mengatur segala penyiaran media terutama televisi. Dengan adanya KPI ini maka terdapat kontrol terhadap tayangan yang akan ditanyangkan di media televisi, mencegah tayangan berbau pornografi untuk lolos. Terdapat juga lembaga sensor film yang bertugas melakukan sensor/memotong bagian dari film yang mengandung unsur ponografi
Pencegahan melalui pendidikan: Melalui pendidikan adalah sarana yang tepat untuk menanamkan sikap anti pornografi. Karena pendididkan adalah pondasi utama bagi generasi yang akan datang. Dengan diberikan pendididikan mengenai bahaya pornografi bagi kehidupan maka diharapkan generasi kita lebih sadar akan bahaya pornografi. Pendidikan bisa diterapkan dimana saja, baik di keluarga, masyarakat maupun lembaga pendidikan resmi seperti sekolah ataupun perguruan tinggi. 
Pencegahan melalui ajaran agama: Pornografi dalam agama masuk ke dalam unsur zina, dosa besar jika melakukan perbuatan zina. Dengan menungkatkan pemahaman mengenai agama diharapkan kita memiliki dasar yang kuat sehingga tidak mudah terjebak pada pornografi dan hal hal yang menyertainya. Salah satu tindakan nyata pencegahan pornografi lewat agama adalah diadakannya pengajian ruti bagi generasi muda kita agar mereka memiliki pondasi akhlak yang kuat.