Kecakapan Literasi

Frasa ini pertama terbaca di serangkaian tweet seseorang dalam menanggapi perilaku maayarakat kita yg sadar/tanpa sadar kerap menyebarkan hoax. Hoax semacam berita-berita yg didramatisir, berita bohong, berita provokasi dan banyak lagi macamnya. Semua ini bisa kita temui dengan mudah di media sosial.

Salah satu contoh yg masih saya ingat adalah foto yg disertai narasi. Sebuah foto, sekumpulan biksu sesang menguburkan banyak mayat dalam sebuah pemakaman massal. Di bawahnya ditulis narasi tentang kekejaman biksu di myanmar yang dituliskan membunuhi banyak warga muslim. Narasi ini merujuk pada konflik yg terjadi di Myanmar antara warga muslim dan umat budha. Narasi ditulis dengan model penulisan berita, disertai dengan kalimat kalimat provokatif. Tapi benarkah demikian faktanya?

Nyatanya, gambar dan narasi yang banyak disebarkan adalah hoax. Gambar biksu yang terlihat sedang menguburkan mayat dalam pemakaman massal adalah gambar biksu yang sedang memakamkan korban gempa bumi di Nepal. Bencana gempa bumi di Nepal beberapa tahun yg lalu menelan banyak korban jiwa, sehingga diputuskan untuk melakukan pemakaman di pemakaman massal. Dalam prosesi ini biksu biksu bertindak sebagai semacam pemimpin upacara pemakaman, sekaligus mendoakan para korban.

Fakta di balik narasi dan foto adalah dua soal yang berbeda. Tentang konflik di Rohingya, sulit untuk membantahnya melihat banyaknya bukti yang menguatkan. Tidak bisa dipungkiri, konflik secara nyata terjadi di sana, sedang untuk detailnya kita harus mempelajari benar benar. Tapi menggunakan foto yg salah untuk berita yg benar adalah ceroboh. Berita yg bisa jadi merupakan berita yang benar dan sesuai kenyataan, akan jadi bias karena menggunakan foto yg salah. Apalagi jika penggunaan foto sengaj dilakukan untuk memperpanas keadaan, memancing emosi, dst.

Kita musti memiliki kecerdasan literasi. Minimal kita memperhatikan dua hal, sumber dan verifikasi. Setiap artikel, brodkestan, berita, atau apapun itu yang tersebar di media sosial harus kita cari tau sumbernya dari mana. Apakah dari copy paste media berita, ataukah hasil pengamatan sendiri, atau hanya sebuah opini. Dengan mengetahui sumbernya kita bisa lebih mudah menyikapi soaial media yg penuh dengan berbagai macam sebaran. Keterangan resmi kepolisian tentu lebih mudah dipercaya ketimbang artikel orang yang mengaku ngaku dekat dengan kepolisian, atau mengaku mengamati kinerja kepolisian.

Pun ketika kita telah mengetahui sumber, kita harus memverifikasinya terlebih dahulu. Benarkah artikel kesehatan A benar benar dikeluarkan oleh IDI atau hanya artikel yg diaku aku dikeluarkan oleh IDI. Pun jika memang benar dikeluarkan oleh IDI apakah artikel tersebut tidak mengalami editing dengan versi yg asli atau ternyata sudah ada perubahan, dst. Verifikasi harus terus kita lakukan sampai kita benar2 yakin bahwa artikel yg kita baca adalah valid. Baru kita bisa menanggapinya..

Advertisements

Published by

lewatjamtidur

A "One Piece" reader for about 10 years, MUFC suporter since child era, Yogyakarta, A Coffee, tea, and cigarette kretek addict.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s