Konto Terasi


              Setiap kali masuk ke ruangan itu, saat keluar pasti hanya ada dua nuansa. Nuansa kelabu atau terang. Masuk dan duduk berbanjar berbaris, disajikan oleh pramusaji yang cantik beraneka hidangan yang asing. Seseuatu yang tak pernah dihidangkan di luaran ruangan. Orang orang menyebutnya Konto terasi. Hidangan orang orang pesisir yang katanya hidupnya dinamis dan penuh dengan warna.

            Partem telah bolak balik masuk ruangan itu sekitaran lima kali. Empat kali kelabu dan hanya sekali terang. Memang membongkar konto terasi ini butuh keberanian dan keteguhan hati. Karena rasa yang terkandung dalam Konto terasi memang cukup menantang nyali. Kadang ada rasa pedas menyeruak yang membuat kerongkong panas. Kadang malah hanya ada rasa hambar dan kadang rasa pahit yang membuat lidah mengkerut. 
            “Par, tak masuk kelas lagi kau rupanya? Naik gunung lagi?” Melangkah pelan dari ujung gerbang kemudian Totem duduk di kursi kayu tak jauh dari Partem duduk.
            “Coy.. ternyata Kartini itu tak cantik seperti yang di foto-foto itu, ternyata.” Partem menegakkan duduknya sembari memijat mijat pergelangan tangannya.
            Baru baru ini Kartini selalu ada dalam angan-angan Partem. Wajah ayu yang sering dia lihat di foto di selasar kampus membuatnya jatuh hati.lewat buku-buku perpus mereka saling berkenalan dan saling sapa. Namun pagi tadi saat masuk ruangan Konto Terasi pikirannya tak karuan. Apakah Kartini memang secantik yang di foto? Apakah Kartini tulus budi pekertinya? Apakah Kartini mendapatkan perlakuan buruk di akhir hayatnya? Apakah? Mungknkah? Benarkah?
            “Kelabu saja yang aku dapat kali ini Tot.. mungkin memang otakku yang tak sampai tingkatannya. Atau memang jaman sudah berubah, merubah sejarah. Padahal aku sudah sejauh ini maju Tot, kubacai semua buku di perpus dan di warnet. Tapi ternyata aku hanya membaca buku-buku satu sisi. Ternyata sejarah itu bersisi-sisi, punya banyak pihak, dan masing masing memiliki versi,” Totem hanya melongo mendengar Partem berkeluh-kesah.
            “Apa urusannya kau bawa-bawa sejarah Par? Konto terasimu itu bukannya seperti rujak teplak? Banyak macam bahan lalu ditumbuk dan diuleg dalam satu talenan.”
            Ini Cuma perkara persepsi. Beberapa dari kita membangun persepsi sejak kecil untuk beberapa hal. Dan kadang saat persepsi kita digoyang oleh hal-hal baru, saat itulah seringkali kita protes. Seperti persepsi pada Kartini atau mungkin persepsi pada hal hal itu.
            Dan pagi ini Partem akan diceritakan mengenai Soe Hok Gie. Idola pemanjat gunung sejak Partem kecil.
            “Nanti jangan-jangan mereka katakan kalau Soe itu cuma cina sipit yang pintar dagang. Aku terlanjur mengpersepsikan Soe Hok Gie seperti Nicholas Saputra di film Gie. Semoga mereka tak merusak persepsiku hari ini.”
            Selepas keluar dari kelas pagi ini, baru kali ini Partem memperoleh terang. Mungkin persepsinya bertahan kali ini. Mungkin Soe Hok Gie idolanya naik gunung memang sesempurna yang ada di angannya. Mungkin dia tak lagi peduli pada persepsinya, hanya peduli pada logika dan fakta fakta yang telah berulangkali dianalisis. Yang jelas siang itu Partem tersenyum.
            “Entah kelabu entah terang aku tak peduli. Asalkan itu memberi arti.”
            Terang itu kadang menyilaukan. Sedang kelabu bisa juga menyimpan keteduhan dan ketenangan. Itu Cuma masalah persepsi.
***
            Ahh Cuma mimpi, kukira aku sudah masuk ke kelas. Ternyata hanya Totem Partem. Ketikanku masih banyak, mari tidur lagi..