Monumen Pancasila Sakti

Deskripsi Monumen Pancasila Sakti
Monumen Pancasila Sakti dibangun di atas lahan bekas peristiwa G30S-PKI, atas prakarsa Presiden ke-2 RI, Soeharto. Monumen ini dibangun untuk mengingat perjuangan para Pahlawan Revolusi yang berjuang mempertahankan ideologi negara Republik Indonesia, Pancasila dari ancaman ideologi komunis. Ideologi komunis terutama dibawah pengaruh Partai Komunis Indonesia yang pada era tahun 60-an memiliki kekuatan yang cukup besar karena memiliki pemilih yang banyak pada pemilu.
Monumen yang berada di area seluas 14,3 hektar ini diresmikan Presiden Soeharto pada Agustus 1973, bertepatan dengan peringhati Hari Kesaktian Pancasila. Tiga tahun kemudian, berdasar Surat Keputusan Menpangad No. KEP.977/9/1996 tanggak 17 September 1966, setiap tahun dimulai tradisi memperingati Hari Peringatan Kesaktian Pancasila. Dan akhirnya, pada 1980, Pusjarah TNI, atau dulu Pusjarah ABRI, mendapat mandat menjadi pengelola Monumen Pancasila Sakti berdasarkan Kepres No. 51/1980. 
Monumen ini terletak Kelurahan Lubang Buaya, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur. Di sebelah selatan tempat ini terdapat markas besar Tentara Nasional Indonesia, Cilangkap, berbatasan di sebelah utara adalah Bandar Udara Halim Perdanakusuma, yang pada saat peristiwa G30S-PKI menjadi pusat kekuatan PKI, sedangkan sebelah timur adalah Pasar Pondok Gede, dan sebelah barat, Taman Mini Indonesia Indah.
Sebelum menjadi sebuah monumen dan museum, tempat ini merupakan tanah atau kebun kosong yang dijadikan sebagai pusat pelatihan milik Partai Komunis Indonesia. Kemudian, tempat itu dijadikan sebagai tempat penyiksaan dan pembuangan mayat para korban Gerakan 30 September 1965 (G30S/PKI). Di kawasan kebun kosong itu terdapat sebuah lubang sumur tua sedalam 12 meter yang digunakan untuk membuang jenazah para korban G30S/PKI. Sumur tua itu berdiameter 75 cm.
1.     Monumen Pancasila Sakti
Monumen Pancasila Sakti berbentuk setengah lingkaran yang diatasnya berdiri 7 patung Jenderal pahlawan revolusi yang salah satu menunjuk ke arah sumur di depan monumen. Yang menjadi latar belakang adalah sebuah dinding besar, yang di sisi atasnya terdapat patung garuda pancasila. Terdapat pula relief yang menceritakan tentang peristiwa gerakan 30 september PKI.
Relief menceritakan mulai dari kekejaman PKI dalam menyiksa para Jenderal, lalu menimbun mayat ke dalam sumur. PKI juga digambarkan melakukan kekejaman kepada rakya Indonesia. Kemudian relief menceritakan bagaimana TNI menumpas gerakan PKI di bawah komando Pangkostrad Soeharto. PKI digambarkan telah kalah kepada pasukan TNI.
Terdapat Pesan dalam relief yang berbunyai, “Waspada …… dan mawas diri agar peristiwasematjam ini tidak terulang lagi.”[1] Pesan ini ditujukan kepada seluruh masyarakat indonesia, agar di kemudian hari peristiwa pemberontakan PKI tidak terjadi lagi. Bersama pesan disematkan gambaran mengenai peristiwa penyiksaan Para Jenderal AD di Lubang Buaya.
Dan relief berakhir dengan menunjukkan sosok seorang Soeharto. Soeharto dalam relief, digambarkan sebagai sosok penyelamat yang menyelamatkan rakyat dari kebiadaban PKI. Di depan munumen terdapat semacam pelataran atau altar yang biasa digunakan pengunjung monumen untuk mengabadikan gambar di depan monumen.
2.     Sumur Lubang Buaya
Terletak persis di depan monumen adalah sumur lubang buaya. Sumur yang digunakan untuk membuang mayat para Jenderal. Sumur ini berdiameter 75 cm dan memiliki kedalaman sekitar 12 meter. Di kiri kanan sumur terdapat pagar yang membatasi pengunjung untuk menghindarkan pengunjung untuk membuang seseuatu ke dalam sumur. Di sebelah sumur juga terdapat semacam prasasti kecil yang menjelaskan tentang sumur maut ini.
Keberadaan sumur ini pada saat terjadi peristiwa 30 September sebenarnya sangat misterius. Sebab keberadaan sumur tidak diketahui karena PKI menghapus jejak dengan membuat puluhan sumur yang serupa. Sumur lubang buaya yang asli pada saat peristiwa 30 Semptember ditimbun dengan tanah dan sampah, kemudian di atasnya dijadikan jalan yang digunakan untuk lalu lalang kendaraan. Itulah yang membuat keberadaan sumur ini tidak diketahui.
Yang mengetahui letak sumur ini adalah seorang petugas kepolisian yang pada saat peristiwa 30 semtember sempat berkeliling di kompleks lubang buaya. Tanpa diketahui oleh pasukan PKI petugas kepolisian ini menyaksikan perbuatan kejam PKI ini. Benda-benda kepunyaan petugas kepolisian ini masih tersimpan di ruang paseban. Diantaranya sepeda yang digunakan untk berkeliling dan senjata api serta pentungan dari kayu.
3.     Rumah Tempat Penyiksaan
Persis di samping sumur lubang buaya terdapat rumah tempat penyiksaan para Jenderal. Rumah ini dulunya merupakan rumah salah satu simpatisan PKI. Jenderal-jenderal yang diculik oleh pasukan Cakrabirawa dan pasukan PKI ini ditawan di rumah tersebut. Kemudian diinterogasi perihal isu resolusi dewan Jenderal yang berencana untuk menggulingkan Presiden Soekarno. Hingga akhirnya para Jenderal ini dibunuh dan mayatnya dimasukkan ke dalam sumur yang digali tepat di samping rumah tersebut.
Rumah yang terdapat pada kompleks monumen pancasila saat ini merupakan rumah tiruan, rumah asli sudah hancur saat penyerbuan TNI ke lubang buaya. Dalam rumah terdapat diorama yang menggambarkan tentang penyiksaan yang terjadi pada malam 30 September 1965. Terdapat beberapa orang yang menginterogasi. Masing-masing jenderal ditutup matanya kemudian disiksa. Dalam diorama, para Jenderal dibawa hanaya mengenakan baju tidur biasa dan ada yg berkain sarung.
4.     Museum Pengkhianatan PKI
Musium ini terletak sekitar 300 meter dari lokasi sumur lubang buaya. Museum ini berbentuk menyerupai sebuah joglo besar. Museum Pengkhianatan PKI ini Berisi diorama-diorama yang menggambarkan tentang peristiwa G30S PKI. Mulai dari awal sampai akhir. Museum dengan 3 lantai ini merangkum semua gerak gerik PKI di berbagai tempat. Rangkuman sebagian besar menggunakan diorama, sebagian lagi menggunakan gaeri foto yang dipajang di ruangan terpisah.
Tapi terdapat sedikit kejanggalan dalam museum ini. PKI digambarkan dengan begitu buruk oleh museum. Pelabelan pengkhianat dicapkan kepada PKI secara menyeluruh, bahkan hingga sampai pada simpatisan-simpatisan di daerah. Museum ini melupakan beberapa jasa PKI yang tidak bisa dimunafikkan bahwa mereka juga ikut melawan kapitalisme yang oleh Soekarno dilawan dengan gigih demi mencapai perekonomian yang berdikari.
Selepas museum pengkhianatan PKI, terdapat salah satu ruang yakni ruang paseban. Ruang ini menyimpan benda-benda peninggalan Jenderal yang terbunuh pada malam 30 September. Diantara benda kebanyakan pakaian atau seragam yang dipakai pada waktu eksekusi. Banyak benda/pakaian yang dipamerkan masih memiliki noda darah. Untuk memberi tau bagi semua pengunjung bagaimana kondisi para perwira ABRI ini pada saat peristiwa G30S-PKI.
Benda-benda yang dipajang diantaranya baju seragam, senjata, peralatan memancing dan hobi dari perwira-perwira lainnya. Juga terdapat beberapa benda seperti sepeda yang digunakan oleh seorang polisi jaga yang pertama kali memergoki peristiwa G30S-PKI. Semua benda tersimpan rapi di dalam sebuah lemari kaca yang besar.
5.     Ruang Pamer Terbuka
Selain ruangan yang tertutup, Monumen Pncasila juga memiliki area pameran terbuka. Beberapa benda yang memiliki peranan dalam peristiwa G30SPKI dipajang di beberapa tempat di area di sekitar monumen. Salah satu yang dipamerkan misalnya kendaraan angkut yang digunakan untuk mengangkut pasukan yang memberantas pemberontakan PKI di Lubang Buaya. Juga Tank yang diletakkan di sisi jalan masuk menuju kompleks Monumen.
Beberapa benda yang dipajang merupakan benda benda yang berukuran besar yang sulit jika harus dimasukkan ke dalam arena Museum. Selain kemdaraan tempur dan tank, terdapat juga senjata berat seperti senjata artileri. Dari beberapa benda yang terpajang hampir semuanya sudah tidak berfungsi.
B.    Koleksi Museum dan Monumen Pancasila Sakti
Berikut beberapa contoh koleksi Monumen Pancasila Sakti dan Museum Pengkhianatan Komunis serta ruang pameran Paseban:
a.      Ruang Intro
Dalam ruang terdapat 3 mozaik foto yang masing-masing menggambarkan:
1. Kekejaman PKI terhadap bangsa sendiri dalam pemberontakan Madiun.
2. Penggalian jenazah korban keganasan PKI dalam Gerakan 30 September 1965
3. Pengadilan gembong-gembong G.30.S/PKI oleh Mahkamah Militer Luar Biasa.
b.     Diorama
·       Peristiwa Tiga Daerah (4 November 1945)
Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, kelompok komunis bawah tanah mulai memasuki organisasi massa dan pemuda seperti Angkatan Pemuda Indonesia (API) dan Angkatan Muda Repubilik Indonesia (AMRI). Dengan menggunakan organisasi massa, orang-orang komunis memimpin aksi penggantian pejabat pemerintah di tiga kabupaten Karesidenan Pekalongan yang meliputi Brebes, Tegal dan Pemalang.
·       Pemberontakan PKI di Madiun ( 18 September 1948)
Pada saat Pemerintah dan Angkatan Perang memusatkan perhatian untuk menghadapi Belanda, PKI melakukan pengkhianatan yang didahului dengan kampanye menyerang politik pemerintah, aksi teror, mengadu domba kekuatan bersenjata dan sabotase di bidang ekonomi. Dini hari tanggal 18 September 1948 PKI mengadakan pemberontakan di Madiun. Sejumlah tokoh militer, pejabat pemerintah dan tokoh masyarakat dibunuh. Di gedung Karesidenan Madiun PKI mengumumkan bcrdirinya “Soviet Republik Indonesia” dan pembentukan Pemerintah Front Nasional.
·       Pembunuhan di Kawedanan Ngawen (Blora) (20 September 1948)
Pada tanggal 18 September 1948 Markas Kepolisian Distrik Ngawen (Blora) diserang oleh pasukan PKI. Dua puluh empat orang anggota polisi itu ditahan dan tujuh orang yang masih muda dipisahkan. Kemudian datang perintah dari Komandan Pasukan PKI Blora agar mereka dihukum mati.
·       Peristiwa Tanjung Morawa (16 Maret 1953)
Pada tahun 1953 Pemerintah RI Karesidenan Sumatera Timur merencanakan untuk mencetak sawah percontohan bekas perkebunan tembakau di desa Perdamaian, Tanjung Morawa. Akan tetapi rencana itu ditentang oleh penggarap liar yang sudah menempati areal tersebut. Pada tanggal 16 Maret 1953 pemerintah terpaksa mentraktor areal tersebut dengan dikawal oleh sepasukan polisi. Ketika itulah massa tani yang didalangi oleh Barisan Tani Indonesia (BTI) orma PKI, melakukan tindak brutal.
·       Kampanye Budaya PKI (25 Maret 1963)
Tidak hanya dibidang politik yang ingin dikuasai oleh PKI tetapi juga bidang Iain seperti sastra dan budaya. Salah satu usaha yang dilaksanakan oleh Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) bersama semua lembaga yang ada di bawahnya adalah memasukan komunisme ke dalam seni dan sastra, mempolitikan budayawan dan mendiskreditkan lawan. Pada tanggal 22 sampai 25 Maret 1963 diselenggarakan Konferensi Nasional I Lembaga Sastra Indonesia di Medan.
·       Rongrongan PKI terhadap ABRI (1964 -1965)     .
Kampanye anti ABRI, khususnya TNI-AD berlatar belakang pada kecemburuan PKI karena ABRI berhasil membendung pengaruh PKI dikalangan rakyat. Berbagai macam cara kampanye anti ABRI telah dilakukan PKI seperti tuduhan, isyu, provokasi, fitnah politik, dan Iain-Iain. Sejak tahun 1964 PKI dengan “Ofensif Revolusionernya” secara gencar menyerang ABRI seperti tuntutan pembubaran aparat teritorial dan puncaknya isyu Dewan Jenderal 1965.
·       Peristiwa Kanigoro (13 januari 1965)
Peristiwa ini terjadi di Kecamatan Kras, Kedtri, tanggal 13 Januari 1965, dimana para peserta Mental Training Pelajar Islam Indonesia Jawa Timur diserang oleh masssa Pemuda Rakyat (PR) dan Barisan Tani Indonesia (BTI).
·       Peristiwa Bandar Betsy (14 Mei 1965)
Untuk menggagalkan rencana pemerintah di bidang landreform, PKI dan organisasi massanya melancarkan aksi sepihak yakni menguasai secara tidak syah tanah negara di beberapa tempat. Salah satu di antaranya di Perusahaan Perkebunan Negara (PPN) Karet IX Bandar Betsi, Pematangan Siantar. Pada tanggal 14 Mei 1965, kurang lebih 200 anggota Barisan Tani Indonesia (BTI), Pemuda Rakyat (PR), dan Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) menanami secara liar tanah perkebunan karet terscbut.
·       Pawai Ofensif Revolusioner PKI di Jakarta (23 Mei 1965)
Setelah merasa dirinya kuat, PKI mulai melancarkan ofensif revolusioner yang bertujuan untuk menggalang dan mempengaruhi massa agar berpihak kepadanya. Bentuk unjuk kekuatan itu ialah aksi kekerasan. aksi terror tuntutan pembentukan Kabinet Nasakom dan Angkatan Kelima dan sebagainya. Salah satu unjuk kekuatan itu ialah penyelenggaraan rapat raksasa di Stadion Utama Senayan tanggal 23 Mei 1965 dalam rangka peringatan ulang tahun ke-45 PKI.
·       Penyerbuan Gubernuran .lawa Timur  (27 September 1965)
Salah satu usaha mendiskreditkan aparatur pemerintah telah dilakukan PKI terhadap Gubernur Jawa Timur. Dengan dalih akan menyampaikan resolusi tuntutan penurunan harga 9 bahan pokok..
c.      Koleksi Museum dan Monumen Pancasila Sakti
Didalam Museum Paseban Monumen Pancasila Sakti terdapat beberapa diorama sebagai berikut:
·       Rapat-Rapat Persiapan Pemberontakan
Pada bulan September 1965 ketua CC PKI D.N Aidit memerintahkan Syam Kamaruzaman Pimpinan Biro Khusus untuk menyusun suatu rencana pemberontakan. Syam mengadakan rapat sebanyak 16 kali dengan Pono dan Waluyo anggota Pimpinan Biro Khusus Pusat, Kepala Biro Khusus Daerah dan oknum-oknum ABRI yang sudah dibina PKI.
·       Latihan Sukarelawan di Lubang Buaya 5 Juli – 30 September
Untuk   persiapan   melancarkan   pemberontakan,   PKI   mengadakan   latihan kemiliteran bagi para anggotanya. Dalih yang dipakai ialah melatih para sukarelawan dalam rangka konfrontasi terhadap Malaysia. PKI menuntut agar pemerintah membentuk Angkatan kelima dengan mempersenjatai buruh dan tani. Anggota-anggota yang dilatih berjumlah kurang lebih 3700 orang terdiri atas anggota-anggota Pemuda Rakyat (PR), Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) dan organisasi massa PKI lainya di Lubang Buaya.
·       Penculikan Men/Pangad Letjen TNI A. Yani (1 Oktober 1965)
Pukul 02.30 tanggal 1 Oktober 1965) pasukan penculik G.30.S/PKI sudah berkumpul di Lubang Buaya. Pasukan dengan nama Pasopati dipimpin Lettu Dul Arief. Pasukan penculikan Men/Pangad Letjen TNI A. Yani memakai seragarn Cakrabirawa tiba disasaran pukul 04.00 dan berhasil melucuti regu pengawal. Kemudian segera membawa ke kawasan Lubang Buaya
·       Penganiayaan di Lubang Buaya (1 Oktober 1965)
Dini hari tanggai 1 Oktober 1965 gerombolan G.30.S/PKI menculik 6 pejabat teras TNI AD dan seorang perwira pertama. Di Lubang Buaya tubuh mereka dirusak dengan benda-benda tumpul dan senjata tajam yan masih hidup disiksa satu demi satu kemudian kepalanya ditembak. Sesudah disiksa para korban dilemparkan kedalam sumur tua sempit. Penyiksaan dan pembunuhan itu dilakukan oleh anggota Pemuda Rakyat (PR), Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) dan ormas-ormas PKI lainnya.
·       Pengamanan Lanuma Halim Perdanakusuma (2 Oktober 1965)
Panglima Kostrad Mayjen TNI Seoharto rnengeluarkan perintah untuk segera mengamankan Lapangan Udara Halim Perdanakusuma mengingat kekuatan G.30.S/PKI berpusat dipangkalan tersebut.Pasukan yang akan melaksanakan tugas pengamanan terdiri atas 1 Yon RPKAD, 1 Yon Para Kujang Siliwangi yang diperkuat 1 kompi panser. Pasukan bergerak pukul 03.00 tanggal 2 Oktober 1965 dari Markas Kostrad menuju Lapangan Udara Halim Perdanakusuma dari arah timur. Mereka tiba dilempat sasaran pukul 06.00 pagi tanggal 2 Oktober 1965. Lapangan Halim Perdanakusuma dijaga oleh Yon 454/Diponegoro yang diperalat G.30.S/PKI. Beberapa orang anggota RPKAD berhasil menyusup sampai ketempat parkir pesawat-pesawat terbang, sedang anggota lainya sudah berada didepan Yon 454. Dengan gerakan pendadakan, maka pasukan RPKAD dan Kujang berhasil melumpuhkan pasukan Yon 454. Pukul 06.10 Halim berhasil dikuasai oleh RPKAD dan Yon Para Kujang dan gerakan selanjutnya ialah menguasai Lubang Buaya.
·       Pengangkatan Jenazah (4 Oktober 1965)
Setelah menguasai Halim Perdanakusuma, pasukan RPKAD melanjutkan gerakan ke Lubang Buaya. Setelah daerah iu diamankan, mulai melakukan pencarian jenazah perwira-perwira TNI-AD yang diculik oleh gerombolan G.30.S/PKI. Sore hari tanggal 3 Oktober 1965 diperolah pentunjuk dari anggota POLRI yang pernah ditawan oleh gerombolan G.30.S/PKI. la memberitahu bahwa perwira-perwira tersebut jenazahnya dikubur di sekitar tempat pelatihan musuh.
·       Tindak Lanjut Pelarangan Partai Komunis Indonesia (26 Jnni 1982)
Pada tanggal 12 Maret 1966, Partai Komunis Indonesia berikut semua organisasinya yang seazaz/berlindung/bernaung dibawahnya, dibubarkan oleh Ketetapan MPRS No. XXV/MPRS/I966. Untuk mengantisipasi munculnya bahaya laten komunis, berdasarkan Intruksi Presiden No. 10 tahun 1982, Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib) berkerja sama dengan Lembaga Pertahanan Nasional mengadakan Penataran Kewaspadaan Nasional (Tarpadnas). Sejak tanggal 19 September 1991 Tarpadnas diikuti oleh wakil-wakil pemuda dari 27 Provinsi dan berbagai organisasi massa pemuda.
·       Foto Para Pahlawan Revolusi
Tujuh foto pahlawan revolusi setengah badan dalam ukuran besar yaitu foto Letjen TNI Ahtnad Yani, Mayjen TNI Soeprapto, Mayjen TNI M. T. Harjono, Mayjen TNI S. Parman, Brigjen D.I. Pandjaitan, Brigjen TNI Soetojo Siswomihardjo, dan Lettu Pierre Andries Tendean.
·       Ruang Relik
Ruang Relik berisi barang-barang peninggalan para pahlawan revolusi terutama pakaian yang dikenakan pada saat beliau gugur, petikan visum dokter, peluru yang diketemukan dalam tubuhnya, tali pengikat dan lain-lain. Di ruangan ini disajikan pula Aqualung (alat bantu pernafasan) dan sebuah radio lapangan yang pernah digunakan Jenderal Soeharto pada waktu memimpin penumpasan G.30.S/PKI,
·       Ruang Teater
Di ruangan ini disajikan pertunjukan video cassette digital (VCD) yang berisi rekaman bersejarah sekitar pengangkatan jenazah Pahlawan Revolusi dari sumur tua Lubang Buaya, pemakaman ke Taman Makam Pahlawan Kalibata, Sidang Mahmillub serta pengangkatan Jenderal Soeharto menjadi pejabat Presiden RI pada tanggal 12 Maret 1967. Masa putar VCD ini kurang lebih 30 menit.
·       Ruang Pameran Foto
Ruang ini menyajikan foto-foto pengangkatan dan pemakaman jenazah Pahlawan Revolusi ke Taman Makam Pahlwan Kalibata Jakarta.
d.     Rumah-Rumah Bersejarah
·       Rumah Diorama Penyiksaan
Menggambarkan penyiksaan para korban yang masih dalam keadaan hidup. Mereka adalah Mayor Jenderal TNI S. Parman, Brigjen TNI Soetojo Siswomihardjo, dan Lettu Pierre Andries Tendean.
·       Rumah Pos Komando
Rumah ini milik seorang penduduk RW 02 Lubang Buaya bernama Haji Sueb. Pada waktu meletusnya G.30.S/PKI tahun 1965, dipakai oleh pimpinan gerakan yaitu eks Letkol Untung dalam rangka mempersiapkan penculikan terhadap 7 perwira TNI-AD.
·       Dapur Umum
Rumah Dapur Umum merupakan salah satu rumah bersejarah yang ada di lokasi Monumen Pancasila Sakti Lubang Buaya. Rumah tersebut dilestarikan sebagai koleksi benda bersejarah karena merupakan bagian dari sarana yang dipakai oleh PKI untuk menunjang terlaksananya kegiatan penganiayaan dan pembunuhan terhadap 7 orang perwira TNI AD dalam peristiwa G.30.S/PKI. Rumah yang statusnya milik ibu Amroh itu dipakai oleh PKI sebagai tempat penyediaan sarana konsumsi gerombolan G.30.S/PKI di Lubang Buaya.
·       Mobil Dinas Pangkostrad Mayor Jenderal TNI Soeharto
Dengan menggunakan Jeep Toyota Kanvas Nomor : 04-62957/44-01, Mayor Jenderal TNI Soeharto segera bertindak untuk menumpas G.30.S/PKI, yang didalangi oleh eks Letkol Untung dan tokoh PKI yang lain. Mayor Jenderal TNI Soeharto dari rumahnya di jalan Agus Salim menuju Markas Kostrad menggunakan kendaraan dinas Jeep Toyota Kanvas yang disetir oleh Pra Soewondo.
·       Truk Dodge
Mobil truk yang digunakan olehntak G.30.S/PKI untuk membawa jenazah Brigjen TNI D.I Pandjaitan, yang dipamerkan di lokasi Museum Pancasila Sakti (pameran taman), adalah mobil truk Dodge tahun 1961 buatan Amerika Serikat dengan nomor polisi B. 2982.L  merupakan replika kendaraan jemputan P. N. Arta Yasa, yang sekarang divisi cetak uang logam Perum Peruri. Kendaraan tersebut dirampas oleh pemberontak G.30.S/PKI disekitar jalan Iskandar Syah daerah Blok. M, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
·       Panser Saraceen
Kendaraan yang dipakai untuk membawa jenazah adalah jenis panser. Panser dengan tipe PCMK -2 Saraceen adalah sebuah kendaraan lapis baja yang berasaI dari Negara Inggris. Kendaraan tersebut dipakai oleh Organik Batalyon Kaveleri 7 Kodam V/Jaya. Pada tahun 1976 dipindahkan ke Batalyon Kaveleri 3 Kodam VIII/Brawijaya dipakai untuk mendukung penugasan operasi militer di Timor Timur. Pada bulan Juli 1985 ditarik dari penugasan di Timor Timur untuk diabadikan di Monumen Pancasila Sakti.
 ********************************************************************

C.     Latar Belakang Dibangunnya Monumen dan Peristiwa G30S-PKI
Salah satu misteri terbesar bagi sejarah bangsa Indonesia adalah peristiwa G30S-PKI. G30S-PKI adalah sebutan bagi peristiwa yang terjadi pada tahun 1965 bulan September tanggal 30 malam. Sebuah usaha kudeta yang gagal total dari kelompok kecil di PKI. Disebut kelompok kecil karena rencana kudeta ini hanya diketahui oleh sedikit simpatisan PKI. Para eksekutor dari rencana ini sendiri berasal dari simpatisan PKI yang berasal dari angkatan darat dan pasukan Cakrabirawa. Sedangkan petinggi PKI tidak bertindak langsung turun ke lapangan.
Fakta di atas dibuktikan oleh pengakuan-pengakuan pelaku dan pemimpin G30S-PKI seperti Letkol Untung, Letkol Syarief, Brigjen M.A Supardjo dll dalam mahmilub. Dalam persidangan mereka mengakui bahwa telah terjadi pembunuhan terhadap Beberapa perwira angkatan darat yang berpangkat Jenderal.[2] Peristiwa penculikan dan pembunuhan ini sendiri tidak bisa dijelaskan secara terperinci maksud tujuan dan latar belakangnya.
Dalam siaran radio pasca penculikan beberapa perwira senior berpangkat Jenderal, PKI mengumumkan bahwa tindakan yang diambil oleh pelaku G30S-PKI adalah untuk melindungi kepentingan revolusi bangsa dari kudeta yang akan dilakukan oleh Dewan Jenderal. Dewan Jenderal disebutkan telah menyusun rencana untuk melakukan tidakan kontra-revolusi pada tanggal 5 oktober dengan mengambil alih kekuasaan dari tangan Presiden Soekarno. Secara tersirat, PKI meninginkan pembentukan opini publik bahwa tindakan G30S-PKI adalah demi melindungi Banga Indonesia dari kudeta dewan Jenderal.[3]
PKI kemudian juga mengumumkan pembentukan Dewan Revolusioner yang bertugas untuk membersihkan benih-benih makar dalam ABRI sebagai pengaruh dari adanya Dewan Jenderal. Dewan revolusioner setia kepada Soekarno, demikian salah satu bunyi pengumuman dalam radio RRI. Dewan revolusioner menunjuk Letkol Untung sebagai pemimpin tertingginya. Semua petinggi militer harus tunduk pada dewan revolusi ini, karena dewan revolusi mengklaim bahwa tindakan mereka telah disetujui oleh Presiden Sokearno demi kepentingan Negara.
PKI juga menyebarkan perintah kepada simpatisan di daerah untuk ikut mendukung gerakan G30S-PKI dengan ikut menumpas adanya bibit-bibit pemberontakan yang akan dilakukan oleh dewan Jenderal. Beberapa wilayah di Jawa Tengah dan Yogyakarta sempat mengalami peristiwa yang serupa dengan G30S-PKI. Begitu juga di Surakarta, namun hanya di Yogyakarta yang mengalami peristiwa pembunuhan perwira yang disangka bagian dari Dewan Jenderal.
Titik balik gerakan G30S-PKI adalah langkah balasan yang dilancarkan oleh Mayjen Soeharto selaku Jenderal Senior yang tidak termasuk dalam daftar penculikan. Soharto mengambil langkah awal dengan mengambil alih kekuasaan atas militer selaku jabatannya sebagai Pangkostrad. Dengan langkah awal ini Soeharto mulai melakukan upaya pembersihan PKI.
Langkah pertama yang dilakukan adalah dengan menyerang Radio RRI yang sebelumnya dikuasai oleh Dewan Revolusioner. Lewat pengumuman radio menyatakan bahwa gerakan Dewan Revolusioner adalah gerakan kudeta yang direncanakan akan merebut kekuasaan dari Presiden Soekarno untuk kemudin membentuk negara Komunis di Indonesia. Soeharto menyatakan bahwa perwira-perwira yang diculik PKI telah dibunuh dengan keji.[4] Pernyataan Soeharto ini mulai membangkitkan kemarahan Rakyat.
Rakyat mulai bergerak memusuhi PKI, kabar penyiksaan dan pembunuhan di Lubang Buaya menjadi salah satu pemicu, selain propaganda yang juga dilakukan oleh Soeharto. Terlebih berita yang disampaikan diwarnai pula dengan penyerbuan ke kantor RRI dan menyiarkan siaran darurat yang beritanya berisi tentang kudeta yang dilakukan oleh Dewan Revolusi.
Soeharto mulai merencanakan serangan ke basisi kekuatan utama G30S-PKI yakni di daerah Halim dan Lubang Buaya. Dengan menggunakan kekuatan penuh Lubang Buaya akhirnya dapat dikuasai setelah sebelumnya Lanud Halim Perdanakusuma juga telah dikuasai. Sedangkan untuk di dalam kota, diadakan pengawalan yang melibatkan beberapa kendaraan lapis baja.
Soeharto akhirnya bisa menguasai keadaan setelah berhasil menumpas kekuatan PKI di dua basis pentingnya. Peristiwa yang terjadi dengan begitu cepat dan tertutup ini membuat tidak banyak orang yang mengetahui apa sebenarnya yang telah terjadi. Tidak adanya keseimbangan informasi membuat banyak masyarakat yang tidak mendapatkan informasi yang benar. Diantaranya adalah tidak adanya penjelasan tentang kebenaran isu Dewan Jenderal.
Hal tersebut membuat peristiwa G30S-PKI menjadi peristiwa yang misterius. Barang-barang bukti serta kesaksian tidak dibuka kepada publik, sehingga publik hanya menerima apa-apa yang dikatakan oleh Mayjen Soeharto selaku Pangkostrad yang bertugas mengambil alih komando jika tidak ada lagi Jenderal yang memimpin. Para pelaku gerakan ini juga diadili secara tertutup di Mahmilub.
Langkah inilah yang kelak di kemudian hari akan membawa Soeharto kepada kekuasaan sebagai presiden. Soeharto telah mendapat kepercayaan dari masyarakat karena telah dianggap berhasil dalam meredam peristiwa G30S-PKI. Soeharto secara halus sebenarnya telah melakukan kudtea kepada Presiden Soekarno dengan tidak mematuhi perintahnya. Dengan pembangkangan ini serta lebih memilih untuk melaksanakan inisiatifnya sendiri.[5]
Peristiwa G30S-PKI lebih jauh lagi, telah mampu mengantarkan Soeharto menjadi Presiden. Pada masa kepemimpinannya, lokasi lubang buaya menjadi tempat yang begitu sakral. Lubang buaya dianggap sebagai tempat permulaan bagi jalan mulus Soeharto sebagai Presiden. Maka tak heran lokasi ini begitu diperhatikan sampai sampai Soeharto mendirikan sebuah monumen di lokasi ini. Tidak hanya monumen, museum dan beberapa ruang pameran juga dibangun disini dengan tujuan agar masyarakat Indonesia akan selalu mengingat peristiwa G30S-PKI.
Beberapa pendapat mewarnai kontroversi mengenai Monumen Pancasila Sakti. Beberapa berpendapat bahwa Monumen ini hanyalah propaganda Soeharto untuk melegitimasi kekuasaannya karena dulu pernah sangat berjasa bagi negara. Selain itu, penimpaan kesalahan pada PKI juga menuai beberapa pertanyaan dari banyak pihak. Ada anggapan bahwa peristiwa G30S-PKI hanyalah gerakan kup oleh tentara junior angkatan darat kepada para seniornya.[6]
Pada masa pemerintahan Soeharto, monumen ini digunakan untuk menarik sumpah setia kepada pancasila para menteri-menteri kabinetnya. Tiap tahun juga selalu diperingati hari kesaktian Pancasila setiap tanggal 1 Oktober. Pada masa orde baru, hari kesaktian pancasila merupakan salah satu hari yang sakaral dimana pada hari itu semua instansi pemerintah wajib melakkan upacara bendera.
D.    Arti Penting Monumen Pancasila Bagi Masyarakat Indonesia.                
Sebagai monumen, Monumen Pancasila Sakti memiliki fungsi untuk mengenang kejadian yang menjadi latar belakang pembangunannya. Dalam hal ini Monumem Pacasila Sakti dibangun untuk mengenang jasa pahlawan revolusi yang gugur dalam peristiwa G30S-PKI. Selain untuk mengenal pahlawan secara personil, Monumen ini juga menjadi pengingat atas jasa ABRI yang telah menumpas gerakan PKI dan jasa Soeharto.
Monumen Pancasila Sakti juga memiliki manfaat sebagai pengiingat untuk lebih waspada. Terutama kewaspadaan terhadap gerakan PKI. Pada salah satu relief tertulis pesan kewaspadaan akan bahaya laten komunis di Indonesia. Dalam relief disebutkan, jika PKI hadir kembali di Indonesia maka kekacauan dan kekejaman pasti akan terjadi. Karena itulah pemerintah orde baru begitu menjaga agar PKI tidak hadir lagi di Indonesia.
Monumen Pancasila Sakti juga bisa dijadikan referensi sejarah. Banyak benda benda bersejarah yang ada di sini. Terutama benda-benda dari peristiwa G30S-PKI. Monumen ini sendiri bisa membantu dalam visualisasi kejadian pada peristiwa G30S-PKI karena dalam monumen setting tempat diseseuaikan dengan keadaan aslinya. Salah satunya bangunan rumah dan sumur lubang buaya yang keadaannya masih sama dengan yang ada di tanggal 30 September 1965.
Selain itu, Monumen Pancasila juga menjadi alternatif tempat rekreasi bagi warga ibukota khususnya, serta masyarakat Indonesia pada umumnya. Suasana tempat yang asri, masih rimbun dengan banyak pepohonan membuat tempat ini enak dikunjungi untuk sekedar melepas penat dari suasana di kota yang pengap suasana yang tenang juga bisa menyegarkan pikiran. Juga bisa menjadi tempat liburan bagi seluruh keluarga yang terjangkau, baik untuk masalah waktu maupun masalah biaya.

[1] John Roosa. Dalil Pembunuhan Massal: Gerakan 30 September dan Kudeta Suharto. hlm. 10
[2] John Roosa. Dalih Pembunuhan Massal: Gerakan 30 September dan Kudeta Suharto. Hlm. 40
[3] Id. hlm. 55
[4] Nugroho Notosusanto. Tragedi Nasional percobaan Kup G30S-PKI di Indonesia. hlm 57
[5] Eros Djarot. Siapa Sebenarnya Soeharto: Fakta dan Kesaksian Para Pelaku Sejarah G30S-PKI, hlm. 42
[6] John Roosa. Dalih Pembunuhan Massal: Gerakan 30 September dan Kudeta Suharto. Hlm. 102

Sejarah Pendidikan

A.        Pengertian Sejarah Pendidikan
Sejarah pendidikan merupakan sejarah yang mengkaji pendidikan yang meliputi sistem pendidikan, persekolahan atau gagasan-gagasan masyarakat tentang pendidikan, keagamaan, dan ilmu pengetahuan. Oleh karena itu,adalam wujud historiografinya, sejarah pendidikan sulit dibedakan dengan sejarah intelektual jika yang dikaji mengenai gagasan pendidikan.
Di negara-negara Eropa dan Amerika perhatian kepada sejarah pendidikan mulai ada sejak abad ke-19 dan digunakan untuk bermacam-macam tujuan, terutama untuk membangkitkan kesadaran bangsa dan kesatuan kebudayaan, pengembangan profesi guru-guru, atau untuk kebanggaan terhadap lembaga-lembaga dan tipe-tipe pendidikan tertentu. Pendidikan juga dimaksudkan untuk menunjang pertumbuhan ekonomi dan industri di negara-negara maju tersebut.
Substansi dan tekanan dalam sejarah pendidikan bermacam-macam tergantung kepada maksud dan kajian, mulai tradisi pemikiran dan para pemikir besar dalam pendidikan, tradisi nasional, sistem pendidikan beserta komponen- komponennya, sampai kepada pendidikan dalam hubungannya dengan sejumlah elemen problematis dalam perubahan sosial atau kestabilan, termasuk keagamaan, ilmu pengetahuan (sains), ekonomi, dan gerakan-gerakan sosial.
Esensi dari pendidikan itu sendiri sebenarnya ialah pengalihan (transmisi) kebudayaan (ilmu pengetahuan), teknologi, ide-ide dan nilai-nilai spiritual (serta estetika) dari generasi tua kepada generasi muda dalam setiap masyarakat atau bangsa. Oleh sebab itu, sejarah pendidikan mempunyai sejarah yang sama tuanya dengan masyarakat pelakunya sendiri, sejak dari pendidikan informal dalam keluarga batih, sampai dengan pendidikan formal dan non formal dalam masyarakat agraris maupun industri. [1]
B.        Ruang Lingkup Sejarah Pendidikan di Indonesia
            Ruang lingkup sejarah pendidikan terutama mengenai lahirnya pendidikan di Indonesia. Ragam dan jenis-jenis pendidikan yang ada di Indonesia. Perkembangan pendidikan di Indonesia dari masa ke masa, serta institusi pendidikan yang ada di Indonesia pada setiap periode. Juga sedikit akan dibahas mengenai hubungan antara pendidikan dengan kehidupan suatu masyarakat.
            Pendidikan lahir bersamaan dengan adanya kehidupan manusia di dunia ini. Pendidikan bisa diartikan secara sederhana sebagai proses membimbing orang tua kepada anaknya, yang kemudian berkembang menjadi proses membimbing orang yang memiliki ilmu kepada yang tidak memiliki ilmu.[2] Lama kelamaan proses pendidikan membutuhkan wadah yang mampu mengakomodasi proses bimbingan atau transfer ilmu ini. Kemudian mulailah lahir pendidikan dalam lingkup yang luas.
            Pendidikan memiliki ragam dan jenis yang berbeda. Baik dalam hal sistem yang dianut, tujuan pendidikan sampai tata cara pendidikan. Pada masa hindu budha misalnya, pendidikan mengalami keberagaman. Terdapat pendidikan agama, yang diselenggarakan oleh biksu-biksu ataupun pendeta di kuil maupun wihara. Terdapat pula pendidikan yang diselenggarakan oleh kerajaan untuk mencari pegawai kerajaan abdi istana atau prajurit.
            Sedang perkembangan pendidikan di Indonesia akan dibatasi dimulai pada masa hindu budha, di mana pendidikan agama sangat ditekankan. Hingga masa reformasi saat ini, di mana keterbukaan sangat ditekankan. Sedangkan di luar periode masa hindu budha hingga era reformasi belum bisa dibahas secara akurat karena ketiadaan sumber yang lengkap.
            Yang paling pokok adalah pembahasan mengenai pendidikan di Indonesai setelah Indonesia merdeka. Pendidikan pada pasca kemerdekaan merupakan salah satu moment dalam pendidikan Indonesia yang sangat penting. Pada masa inilah cikal bakal pendidikan Indonesai dipertegas setelah sebelmunya pada masa pergerakan Indoseia sudah memiliki berbagai sekolah walaupun masih berbau barat ataupun feodal. Pasca kemerdekaan, Indonesai berjuang untuk mencari rancangan pendidikan yang paling pas bagi keadaan Indonesia yang baru merdeka.
C.        Perkembangan Pendidikan di Indonesia
            Perkembangan pendidikan di Indonesia melalui beberapa tahap yang cukup panjang. Mulai dari munculnya pendidikan hingga perkembangan terakhir pendidikan masa kini. Berikut perkembangan-perkembangan pendidikan dari masa ke masa.

1.     Pendidikan Masa Hindu-Budha
Pada abad-abad terakhir menjelang jatuhnya kerajaan Hindu di Indonesia, sistem pendidikan tidak lagi dijalankan oleh para ulama guru kepada siswa dalam jumlah terbatas dalam padepokan. Kepada mereka diajarkan ilmu pengetahuan yang bersifat umum dan religius. Dengan demikian dari pendidikan dasar sampai dengan pendidikan tinggi dipegang oleh kaum ulama atau brahamana. Namun demikian pendidikan dan pengjaaran tidak dilaksanakan secara formal, sehingga tiap siswa dimungkinkan untuk berpindah dari guru yang satu ke guru yang lain dalam meningkatkan atau memperdalam pengetahuannya.
Para bangsawan, ksatria serta pejabat kerajaan lainnya biasa mengirimkan putera/puterinya kepada ulama/guru untuk dididik atau ulama/guru diminta datang ke istana untuk mengajar putera/puteri mereka.[3] Pendidikan yang diutamakan adalah pendidikan keagamaan, pemerintahan, strategi perang serta ilmu kekebalan dan kemahiran menunggang kuda dan memainkan senjata tajam.

2.     Pendidikan Masa Kerajaan-Kerajaan Islam
Sistem pendidikan dan pengajaran pada masa tersebut berpola pada pendidikan Langgar, Pesantren dan Madrasah. Masing masing sistem memiliki perbedaan yang cukup signifikan. Meskipun masih memiliki akar yang sama yakni materi agama namun cara penyampaiannya memiliki perbedaan.
a.     Sistem pendidikan Langgar
Langgar merupakan tempat peribadatan yang terdapat di setiap desa di Indonesia yang dikelola oleh seorang petgas yang disebut Amil, Modin, atau Lebai. Pelajaran yang diberikan dimulai dari mempelajari abjad huruf Arab samapi mebaca Al Qur’an. Pelajaran diberikan secara indivual, meskipun beberapa murid tersebut sama-sama bersila menghadap Sang Guru. Pelajaran diberikan antara 1 samapi 2 jam sehari pada pagi atau petang hari. Uang sekolah tidak dipungut, tetapi hanya tergantung pada  kerelaan orang tua mereka masing-masing yang diserahkan berupa uang atau barang,bahkan bagi mereka yang tidak mampu/miskin tidak perlu membayar. Hubungan antara murid dengan guru pada umumnya berlangsung terus, walaupun mereka telah meninggalkan langgar tersebut.
b.     Sistem pendidikan Pesantren
Setelah mendapat pelajaran elementer keagamaan di Langgar-langgar, perjalanan dilanjutkan sebagai murid/santri pada pondok. Pelajaran dilakukan secara individual dalam bilik-bilik  yang terpisah dengan pengawasan guru-guru mereka. Sebagai pelajaran utama adalah tentang dogma keagamaan (usuluddin) yaitu dasar kepercayaan dan keyakinan Islam, kemudian Fiqi, yaitu kewajiban yang harus dilakukan bagi pemeluk agama Islam yaitu meliputi Syahadat, Sholat, Zakat, Berpuasa dan Pergi Haji.[4]
c.      Sistem Pendidikan Madrasah
Kalau diluar Langgar dan Pesantren hanya diajarkan masalah-masalah keagamaan, maka di Madrasah telah mulai ditambahkan pelajaran tentang ilmu-ilmu keduniawian seperti astronomi (ilmu perbintangan) dan ilmu obat-obatan. Tingkat pendidikan madrasah adalah setingkat dengan pendidikan dasar, menengah pertama dan menengah atas yang dikenal sebagai Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah. Hubungan antara guru dengan murid bersifat kekal, sedangkan sistem imbalan antara prestasi dengsan imbalannya adalah bersifat manasuka serta disesuaikan dengan kemampuan orang tua murid masing-masing.[5]
Sistem pendidikan madrasah lebih modern dibanding sitem pendidikan islam yang lain. Karena ilmu yang diajarkan tidak hanya melulu ilmu agama tapi juga ilmu keduniaan. Misalnya ilmu dagang juga mulai diajarkan di madrasah, meskipun porsinya tidak sebnyak ilmu agama. Sistem madrasah hingga kini masih banyak digunakan. Nahkan negara sudah memasukkan madrasah sebagai bagian dari sistem pendidikan yang diselenggarakan negara melalui Depertemen Agama.

3.     Pengaruh Orang-Orang Portugis
Kedatangan orang-orang Portugis apda awal abad ke-16 di Indonesia Bagian Timur diikuti olah para missionaris Roma Katholik. Akibatnya penduduk di setiap daerah atau pulau yang didatanginya dijadikannya pemeluk agama Roma Katholik, selanjutnya diberikanya pendidikan berdasar kebijakan dan agama tersebut.
Pendidikan yang diusung Prtugis ini lebih bersifat kepada penyebaran agama katolik. Banyak misionaris yang dibawa oleh kapal dagang portugis dengan misi menyebarkan agama nasrani ke Indonesia. Misionaris ini selain menyebarkan agama nasrani juga sedikit banyak memberikan pendidikan mengenai kesehatan dan keilmuan.
Kemajuan pendidikan di daerah Maluku kurang berarti, karena selain kurang baiknya hubungan orang-orang Portugis dengan Sultan Ternate, mereka lebih mementingkan perdagangan rempah-rempah yang kemudian harus beraing dengan orang-orang Spanyol dan Inggris. Akhirnya kedatangan Belanda dengan agama Kristennya daoat menghalau Portugis sampai Timor Timur, kemudian mengambil alih segala harta sbenda termasuk milik gereja Katholik beserta lembaga pendidikannya, walalupun sebagian penduduk masih juga ada yang setia kepada agama Katholik hingga sekarang.[6]
4.     Masa Penjajahan Belanda dan Jepang
        Zaman VOC  
Kebijakan pendidikan VOC adalah melanjutkan kebijakan yang dimulai oleh orang-orang portugis, tetapi terutama berdasarkan agama kristen protestan. Meski pada abad 17 dan 18 di eropa pengaruh gereja sangat dominan terhadap pendidikan tetapi di Indonesia justru voc yang lebih memegang peranan. Maka dapat kita simpulkan bahwa pada masa voc ini pendidikan yang diadakan amatlah bermotif komersial semata.
Berbeda dengan Maluku dan ntt, dipulau besar lain seperti jawa, Kalimantan, Sumatra, Sulawesi voc tidak langsung mengadakan kontak dengan rakyat tetapi mereka mengadakan kontak melalui raja atau sultan penguasa daerah kecuali daerah pantai/pelabuhan. Dengan demikian diwilayah tersebut tidak terdapat sistem pendidikan voc kecuali didaerah pelabuhan. Pada 1617 didirikan sekolah pertama di Batavia yang bersifat pendidikan dasar yang bertujuan memberikan pendidikan budi pekerti serta bercorak agama.
        Zaman pemerintahan Hindia Belanda
Setelah voc mengalami kemunduran, pemerintahan selanjutnya diserahkan kepada pemerintah hindia belanda. Pada masa ini pula telah terjadi perubahan pandangan tentang prinsip pendidikan baik di eropa maupun di hindia belanda sendiri. Akibat perbedaan prinsip pendidikan inilah akhirnya mulai muncul sikap dan sifat ketergantungan menjadi pencari kerja dan bukan sebagai pencipta lapangan kerja. Pendidikan digunakan untuk mencari tenaga administrasi yang nantinya akan dipekerjakan di instansi pemerintah hindia Belanda.
Kesempatan mendapatkan pendidikan lebih diutamakan kepada anak-anak bangswan bumi putera serta tokoh terkemuka serta pegawai colonial yang diharapkan nantinya akan menjadi kader pemimpin yang berjiwa kebarat-baratan tentu juga akan terpisah dari masyarakatnya sendiri. Sebagai ilustrasi dapat digambarkan bahwa tujuan pendidikan pada masa hindia belanda adalah membentuk kelas elite pada masa sebelum tahun 1900 dan menyiapkan tenaga kerja terdidik sebagai buruh kasar/ rendahan setelah tahun 1900.
        Zaman pendudukan Jepang
Pasca keluarnya pemerintah hindia belanda dari Indonesia, kekuatan fasisme jepang masuk dan berkuasa di Indonesia. Akibatnya berbagai kebijakan baru pun dikeluarkan oleh pemerintah jepang termasuk kebijakan menganai pendidikan. Secara umum dapat digambarkan bahwa tujuan pendidikan pada masa jepang adalah menyediakan tenaga kerja Cuma-Cuma yang disebut romusha dan prajurit-prajurit untuk membantu peperangan demi keuntungan pihak jepang.karena itulah para pelajar diharuskan mengikuti latihan fisik, latihan kemiliteran dan indoktrinasi ketat.
Pada masa ini terjadi banyak perubahan dalam system persekolahan karena telah dihapuskannya system penggolongan baik menurut bangsa maupun status sosial. Secara umum system persekolahan pada masa jepang dapat digambarkan sebagai berikut:
a. Jenjang sekolah dasar menggunakan istilah sekolah rakyat atau kokumin gakko. Terbuka bagi semua golongan dan lama pendidikan 6 tahun
b. Jenjang sekolah diatasnya yaitu sekolah lanjutan pertama disebut shoto chu gakko. Lama pendidikan 3 tahun
c. Jenjang sekolah diatas sekolah lanjutan pertama ialah
o   Sekolah menengah tinggi atau koto chu gakko
o   Sekolah teknik menengah atau kogyo sommon gakko
o   Sekolah pelayaran tinggi
d. Hampir semua perguruan tinggi ditutup kecuali sekolah tinggi kedokteran atau ika dai gakko di Jakarta, sekolah teknik tinggi atau kogyo dai gakko di bandung, sekolah tinggi pangrehpraja atau kenkoko gakuin di Jakarta dan sekolah tinggi kedokteran hewan di bogor.
e. Khusus tentang pendidikan guru terdapat 3 jenis sekolah yakni
o   Sekolah guru 2 tahun sesudah sr yang disebut shoto sihan gakko
o   Sekolah guru 4 tahun sesudah sr disebut guto sihan gakko
o   Sekolah guru 6 tahun sesudah sr disebut koto sihan gakko.
•           Zaman kemerdekaan Indonesia
            Dalam pembukaan UUD 1945 terdapat pasal yang menjadi dasar bagi pendidikan di Indonesia. Yakni mencerdaskan kehidupan bangsa yang langkah nyatanya dengan menciptakan pendidikan yang berkualitas bagi seluruh rakyat Indonesia. Dalam Instruksi Menteri Pengajaran Republik Indonesia tanggal 29 September 1945 dicantumkan bahwa pendidikan harus didasarkan atas asas Kebangsaan Indonesia dalam arti luas.[7]
            Pemerintah mulai membangun berbagai sekolah dari berbagai tingkatan. Mulai dari tingkat dasar dan menengah hingga perguruan tinggi. Beberapa sekolah Belanda yang masih berdiri banyak yang diambil alih dan dinasionalisasikan. Contohnya adalah ITB yang dulunya merupakan Stovia. Pemerintah juga membangun perguruan tinggi di Jogjakarta. UGM adalah Universitas Negeri pertama yang dibangun oleh pemerintah setelah era kemerdekaan.
            Selain perguruan tinggi pemerintah juga menyelenggarakan sekolah pendidikan guru. Sekolah ini khusus untuk mencetak guru-guru yang unggul. Dengan adanya SPG ini maka permasalahan minimnya jumlah guru bisa teratasi dengan baik.
            Kemerdekaan juga memiliki arti merdeka dalam hal memperoleh pendidikan. Tidak ada lagi diskriminasi mengenai siapa yang boleh dan tidak boleh bersekolah. Setiap sekolah boleh dimasuki siapapun asal memenuhi syarat.
            Jenjang pendidikan kemudian dibakukan. Mulai dari taman kanak-kanak, sekolah dasar, sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP), sekolah lanjutan tingkat atas dan perguruan tinggi. Selain itu terdapat pula sekolah menengah kejuruan dengan spesialisasi tertentu. Misalkan speseialisasi dalam bidang mesin, akuntansi, pertanian, kesenian dan masih banyak contoh lain.
            Selain dibangunnya sekolah sekolah, pemerintah juga menyelenggarakan berbagai program yang bertujuan untuk meningkatkan mutu pendidikan. Salah satu diantaranya adalah mencanangkan program bebas buta huruf di daerah-daerah terpencil. Dengan pemberantasan buta huruf, diharapkan masyarakat bisa lebih baik kehidupannya
            Selain itu masih banyak lagi program seperti GNOTA, gerakan nasional orang tua asuh untuk menanggulangi permasalahan banyaknya angka putus sekolah karena kekurangan biaya. Dengan adanya orang tua asuh, diharapkan angka putus sekolah bisa dikurangi dengan baik. Pada masa orde baru, pendidikan dijadikan saluran dalam memberikan doktrin kepada generasi penerus. Diantaranya adalah dengan adanya penataran p4 yang merupakan agenda politik dari orde baru.


[1] http://id.shvoong.com/humanities/history/2249937-jenis-jenis-sejarah/. Diakses pada tanggal 25 Februari 2012 pukul 20:23 WIB
[2] Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Pendidikan Nasional. Hlm. 2
[3] Ary H. Gunawan. 1986. “Kebijakan-Kebijakan Pendidikan di Indonesia”. Jakarta: Bina Aksara. Hlm. 4
[4] Ary H. Gunawan. 1986. “Kebijakan-Kebijakan Pendidikan di Indonesia”. Jakarta: Bina Aksara. Hlm. 6.
[5] Ary H. Gunawan. 1986. “Kebijakan-Kebijakan Pendidikan di Indonesia”. Jakarta: Bina Aksara. Hlm. 7
[6] Ibid hlm 8
[7] Departemen Pendidikan Nasional. Pendidikan Nasional hlm 80

Sejarah Militer

Seperti yang telah dijabarkan bahwa Sejarah militer adalah dokumentasi, secara tertulis maupun tidak, akan kejadian-kejadian dalam sejarah manusia yang masuk dalam kategori konflik. Dari perang antar dua suku, perang antar angkatan bersenjata, sampai perang dunia yang memengaruhi hidup sebagian besar manusia.[1] Sejarah militer sendiri identik dengan sejarah perang, sebab perang-perang yang terjadi selama ini menjadi objek utama yang didokumentasikan dalam sejarah militer. Sedangkan perang dapat didefinisikan sebagai aksi fisik atau non fisik yang dalam arti sempit merupakan konflik menggunakan senjata antara dua kelompok atau lebih, yang memiliki tujuan yaitu untuk menguasai tempat yang diperebutkan.[2]
Secara konvensional Militer dapat dikatakan sebagai sebuah organisasi keamanan yang berada di bawah pemerintahan yang memiliki fungsi bertugas sebagai anggota atau lembaga keamanan dan pertahanan sebuah negara dari serangan perang, menegakkan kedaulatan negara dan sejenisnya.
Militer ini secara organisasional memiliki karakter yang amat kaku dengan pemegang pucuk pimpinan komanadan atau panglima sebagai pemegang otoritas dan tanggung jawab tertinggi. karakter yang demikian kaku ini terkait erat dengan fungsi lembaga militer itu sendiri, yakni sebagai alat untuk memenangkan peperangan bersenjata di mana dibutuhkan perintah dan kewenangan sentral dan efektif untuk menggerakkan seluruh kesatuan tempur yang berbeda-beda kearah satu tujuan.[3]
Dilihat dari konteks negara modern, secara fungsional istilah militer menunjuk pada suatu lembaga pemaksa yang termanajemen secara sah yang berada di bawah pengendalian negara. Sehingga militer adalah bagian dari aparatur negara atau birokrasi dan berada di bawah kndali pemerintaha negara yang bersangkutan dalam menjalankan segala aktivitanya.
Jika dilihat dari konteks negara-negara barat yang menganut supermasi sipil, militer adalah merupakan lembaga negara yang berada di bawah pengendalian politisi sipil yang memegang kendali pemerintahan. Samuel P. Huntington berpandangan yaitu military mind, yaitu sebuah ideology yang berisi pengakuan terhadap supermasi sipil; yang menyebutkan tak ada kemuliaan yang lebih tinggi selain kepatuhan kepada para negarawan sipil yang memegang kendali pemerintahan.
Berbeda dengan yang terjadi di Indonesia dan negara berkembang lainnya. Kedudukan militer dan sistem politik dapat dikatakan tidaklah sama dengan konsep military mind, yang salah satunya sangat dipengaruhi aspek historis yang menyangkut peranan yang dimainkan oleh militer proses kelahiran negara-negara tersebut. Seperti contoh militer Indonesia atau Tentara Nasional Indonesia  (TNI) sejak jaman kelahirannya tak dapat dikatakan sebagai pihak yang mengakui keberadaan supermasi sipil, bahkan pemerintah sipil  yang tengah berkuasa.
Salah satu penyebabnya adalah proses kelahirannya dimana mereka tidaklah dilahirkan oleh kekuatan-kekuatan politik sipil  misalnya partai politik atau pemerintah yang saat itu berkuasa. mereka dilahirkan secara langsung dari sebuah revolusi dan dipelihara oleh masyarakat tempat mereka berada. Dengan demikian mereka berfikir berada pada posisi yang sejajar atau bahkan dalam konteks kesetiaan pada negara mereka menduduki posisi yang lebih tinggi  daripada para politisi sipil. Selain itu sebagai sebuah lembaga dalam negara mereka juga cenderung bersifat otonom dari segala campur tangan maupun pengendalian sipil ataupun pemerintahan sipil yang berkuasa.[4]
Persoalan militer tidak hanya terletak pada militerisasi masyarakat politik dan negara, melainkan juga pada militerisme dalam masyarakat sipil. Pertama terletak pada ranah kelembagaan, dan yang kedua tertanam pada ranah budaya politik masyarakat sipil.
A.    Ruang Lingkup Sejarah Militer
Ruang lingkup sejarah militer di Indonesia bisa dibagi dalam beberapa periode. Termasuk juga pada periode kerajaan-kerajaan di nusantara, serta pada masa kolonialisme dan masa revolusi. Semua periode tersebut nantinya yang akan menjadi cikal bakal lahirnya militer modern di Indonesia. Militer Indonesia tidak terbentuk begitu saja tapi melalui tahap panjang yang melalui berbagi peristiwa-peristiwa penting.
Mencakup pula unsur unsur pembentuk militer. Militer di Indonesia terbebtuk dari gabungan berbagai milisi, laskar bahkan rakyat biasa. Milisi milisi bekas didikan jepang misalnya memiliki andil yang besar dalam sejarah militer Indonesia. Begitu pula laskar-laskar rakyat baik dari elemen rakyat biasa hingga dari elemen agama seperti santri dan kiyai, serta dari elemen rakyat biasa dan priyayi. Kesemuanya mempunyai peran yang sama-sama penting.
Transisi dari milisi dan laskar yang melebur menjadi satu kesatuan militer juga memerlukan bahasan tersendiri. Hal ini disebabkan sejarah militer di Indonesia yang proses terbentuknya melalui berbagai tahapan dan melalui serangkaian peristiwa. Baik peristiwa perang, gencatan senjata, perpindahan kekuasaan bahkan hingga intrik politik.
Secara sederhana ruang lingkup sejarah militer bisa dibagi dalam 3 tahap.
1.     Tahap Rekonstruksi
Yakni tahap pembangunan kembali kekuatan militer yang sebelumnya saling menyebar untuk dihimpun dalam satu kesatuan. Proses rekonstruksi bertujuan untuk menyatukan perjuangan militer yang sebelumnya terpecah pecah menjadi satu. Contoh yang paling sederhana dari proses rekonstruksi militer di Indonesia adalah pada masa revolusi kemerdekaan. Pada masa ini, kekuatan kekuatan militer yang terpisah-pisah mencoba untuk bersatu dalam kesatuan besar. Beberapa laskar rakyat maupun laskar santri mulai bergabung dengan pejuang-pejuang yang ada di kota-kota. Berjuang dalam merebut kemerdekaan.
  
2.     Tahap Transisi
Yakni tahap peralihan dari kekuatan militer yang sudah bersatu padu namun belum memiliki pengikat yang kuat. Meskipun masing masing milisi atau laskar sudah berstu namun belum bisa tercipta suatu ikatan yang kuat. Maka pada masa ini dibentuklah TKR yang bertujuan untuk mempersatkan kekuatan militer Indonesia dalam satu kesatuan yang padu. TKR sendiri terdiri dari berbagai eleman. Entah itu mantan prajurit PETA, HEIHO, KNIL, maupun dari laskar rakyat, pelajar maupun laskar santri. Proses transisi berlangsung lama, karena memerlukan kondisi yang pas untuk bisa menyatukan semua eleman dalam satu kesatuan. Pada masa agresi militer belanda, proses ini sangat membantu dalam menyatukan perlawanan terhadap kekuatan militer Belanda dan Sekutu.
3.     Tahap Legitimasi
Tahap yang terakhir adalah tahap legitimasi di mana kekuatan militer yang semakin solid memerlukan pengakuan dari seluruh elemen bangsa Indonesia dan dunia bahwa kekuatan militer Indonesia sudah memiliki kekuatan besar yang siap mempertahankan NKRI dari segala ancaman. Pada moment inilah TNI lahir. Sebagai kekuatan militer Indonesia. Yang memiliki legitimasi dari seluruh elemen bangsa Indonesia bahwa TNI merupakan kekuatan Militer Indonesia.
B.    Sejarah Militer di Indonesia
Sejarah militer di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari sejarah kerajaan-kerajaan yang ada di Indonesia. Militer pada masa kerajaan nusantara bersifat romantisme masa lalu. Pada abad 18 hingga masa kemerdekaan bersifat perjuangan mengusir penjajah. Pada masa kemerdekaan hingga tahun 1949 bersifat mempertahankan kemerdekaan. Dan seterusnya hingga kini militer bertransformasi menjadi pelindung keamanan dan keutuhan bangsa.
            Militer pada masa kerajaan nusantara lebih bersifat romantisme masa lalu. Kerajaan Nusantara terutama sriwijaya, majapahit dan mataram islam memiliki milter yang kuat dan memiliki kekuatan yang besar pada zamannya. Sriwijaya dikenal dengan armada maritimnya yang sangat kuat. Sebagai kerajaan maritim sriwijaya memfokuskan kekuatan militernya pada angkatan laut. Tidak heran jika wilayah sriwijaya pada masa kejayaannya merata dari pulau sumatera hingga semenanjung malaya.
            Majapahit juga memiliki militer yang kuat. Meskipun kerajaan majapahit lebih bercoral agraris karena terletak jauh dari pantai namun majapahit juga memiliki angkatan laut yang tak kalah hebat dari sriwijaya. Adanya pelabuhan pelabuhan besar di utara pulau jawa merupakan faktor pendukung kuatnya armada militer majapahit. Mataram islam juga memiliki pasukan yang tangguh. Dalam melawan kolonial portugis di malaya, hingga melawan belanda di batavia.
Romantisme pada kejayaan militer di masa lalu memiliki pengaruh yang kuat dalam semangat rakyat indonesia terutama pada segi militer. Itulah yang terjadi pada masa perlawanan terhadap penjajah. Beberapa daerah seperti aceh, jawa tengah, sumatera, hingga maluku. Semua daerah tersebut memiliki sikap juang yang sangat tinggi warisan nenek moyang mereka. Mulai dari perang padri, perang diponegoro, perang di maluku, perang di makasar dan banyak daerah lainnya terpengaruh oleh romantisme masa lalu dan semngat juang yang tetap menyertai seluruh rakyat.
Periode abad 19 menjadi periode peralawanan terhadap penjajahan. Dari pangeran Diponegoro, Tuanku Imam Bonjol, Pattimura, Cut Nyak Dien dan banyak pejuang lainnya berjuang mengusir penjajahan Belanda. Perlawanan ini terus berlanjut hingga masa pergerakan nasional. Meskipun perang terbuka dianggap kurang berhasil dalam mengusir penjajah, namun bibit bibit perjuangan tak pernah pudar.
Pada masa jepang, milisi milisi rakyat mendapat pelatihan militer yang modern. Inilah cikal bakal militer modern di Indonesia. Dengan diberi pekatihan militer oleh Jepang, rakyat indonesia yang sebelumnya buta akan strategi perang modern mulai menguasai beberapa taktik militer. Organisasi semacam PETA, HEIHO, dan banyak lainnya memberi kesempatan bagi milisi rakyat untuk meningkatkan kemampuan militernya. Terbukti pada masa pasca kemerdekaan, pasukan bekas PETA, HEIHO dll memegang peranan penting di garis depan perlawanan. Dengan ilmu dan keahlian militer yang dimiliki, pasukan ini kerap menjadi pioner dalam sebuah pertempuran.
Setelah indonesia merdeka pada tahun 1945 kesatuan-kesatuan unsur tentara mulai  bersatu ke dalam satu wadah yakni TKR. TKR kemudian berubah menjadi BKR yang kemudian juga berubah menjadi TRI. Pada akhirnya, nama yang digunakan hingga saat ini adalah TNI. Tentara Nasional Indonesia.
Terdapat sebuah gesekan kecil mengenai keterlibatan tentara dalam kanacah non kemiliteran termasuk politik dan ekonomi dapat ditelusuru semenjak awal kemerdekaan. Konstelasi politik yang kompleks dalam suasana revolusioner saat itu telah melahirkan sosok tentara yang otonom dari segala campur tangan pemerintahan sipil. Tentara menganggap bahwa dirinya tidak dilahirkan melalui rahim sistem politik dan pemerintahan yang saat itu didominasi oleh para politisi, melainkan oleh kompleks suasana revolusioner tersebut. Oleh karena itu, tentara merasa lebih bertanggung jawab secara langsung kepada negara dan bangsa daripada kepada para politisi yang sedang memegang pucuk pemerintahan. [5] 
Proklamasi ternyata merupakan awal dari sebuah perseteruan panjang dari keduanya, di mana sikap para politisi sipil yang demikian lunak dan kompromistik terhadap musuh tidak dapat diterima oleh para pemuda. Mereka mengambil berbagai langkah dengan membentuk kesatuan-kesatuan bersenjata yang merupakan embrio lahirnya tentara Indonesia di berbagai wilayah dengan cara melucuti senjata tentara Jepang. Mereka berinisiatif sendiri dan hanya mengandalkan dukungan masyarakat yang sedang bergejolak dalam suasana revolusi. Situasi revolusi inilah terutama dari para pendukung kemerdekaan (politisi dan pemuda) di atas, telah melahirkan dua hal yang sangat berpengaruh dalam kehidupan tentara dan politik di Indonesia untuk masa-masa berikutnya.
Pertama, dari perbedaan sikap tersebut menimbulkan lahirnya karakter tentara yang memiliki otonomi relatif  terhadap para politisi yang duduk di pmerintahan, serta merupakan awal ketidak harmonisan hubungan antar keduanya yg ingin saling mengintervensi dan menguasai.Kecenderungan lain yang timbul adalah pengidentifikasian tentara dengan negara: tentara selalu mengidentifikasikan dirinya sebagai “kepentingan negara  dan kepentingan rakyat” hal ini sangat terasa pada jaman Orde Baru. Kedua, perbedaan pandangan tersebut juga berakibat pada kelambanan pemerintah dalam merespon tuntutan untuk membentuk sebuah organisasi ketentaraan yang sentralistik di bawah kendali efektif pemerintahan. hal ini juga masih ditambah persoalan lain; kemajemukan unsure pembentuk tentara, dan masih sangat sulitnya komunikasi dan koordinasi, telah membuat kekuatan bersenjata Indonesia sangat jauh dari sekedar bisa berjalan bersama.[6]
Unsusr-unsur pembentukan tentara Indonesia: pertama, kelompok bekas anggota PETA adalah kelompok paling besar jumlahnya dalam komposisi korps perwira. Kedua, adalah mereka yang merupakan bekas perwira KNIL. Ketiga, kelompok yang berasal dari para pemuda yang bergabung dengan tentara regular secara langsung ataupun dipindahkan dari anggota kelaskaran.[7]
            Setelah TNI terbentuk, sempat mengalami goncangan yang cukup besar. Salah satunya dari peristiwa G30SPKI. Peristiwa ini cukup mencoreng nama baik TNI dimana terdapat beberapa oknum TNI yang ikut membelot bersama PKI. Bahkan sebagian besar dari Angkatan Udara memihak PKI. Namun sete;ah Soeharto muncul keadaaan berbalik. TNI berhasil tampil sebagai penyelamat bangsa dari rongrongan komunisme.
            Tugas TNI adalah sebagai penjaga pertahanan dan keamanan negara dari ancaman luar. Serta bertugas untuk menjaga kesatuan NKRI. TNI pernah melakukan tugas besar yang hingga kini masih diingat sebagai salah satu bakti TNI bagi bangsa. 3 operasi milter yang terkenal, yakni Dwikora, Trikora serta Seroja. Masing masing dalam perseteruan dengan Malaysia, merebut Irian barat dan dalam proses integrasi timor-timor.
            Selain itu, TNI juga pernah melakukan operasi militer di dalam negeri dalam rangka memelihara keamanan dalam negeri. Meskipun merupakan kebijakan yang tidak terlalu populer karena harus melawan bangsa sendiri. Operasi militer ini diantaranya ada di Aceh, Maluku, papua, dan daerah daerah lainnya.
            TNI kini memiliki tugas yang relatif lebih ringan dibanding masa lalu. Namun tetap beban yang ditanggung oleh TNI bukanlah beban yang biasa.


[1] Sejarah Militer. http://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_militer. Diakses tanggal 27 Februari 2012. Pukul 06.00 WIB.
[2] Sejarah Militer; Manusia Wajib Berperang?. http://www.anneahira.com/sejarah-militer.htm. Diakses tanggal 27 Februari 2012. Pukul 06.00 WIB.
[3] Dwi Pratomo Yulianto. 2005. Militer dan Kekuasaan; Puncak-Puncak Krisis Hubungan Sipl-Militer di Indonesia. Yogyakarta: Narasi. Hlm. 1.
[4] Dwi Pratomo Yulianto. 2005. Militer dan Kekuasaan; Puncak-Puncak Krisis Hubungan Sipl-Militer di Indonesia. Yogyakarta: Narasi. Hlm. 2-3.
[5] Dwi Pratomo Yulianto. 2005. Militer dan Kekuasaan; Puncak-Puncak Krisis Hubungan Sipl-Militer di Indonesia. Yogyakarta: Narasi. Hlm. 9.
[6] Ibid. Hlm. 11-12
[7] Ibid. Hlm 12-14.