Ada Apa Dengan Cinta

     Ada Apa Dengan Cinta merupakan film yang menandai kebangkitan kembali dunia perfilman indonesia. Setelah pada era 1990-an indistri film Indonesia mengalami kemandegan dalam mengeluarkan film-film berkualitas. Ada Apa Dengan Cinta membangkitkan kembali gairah berkarya para sineas-sineas muda untuk melahirkan film-film berkualitas. 

     (…)

Add caption
Advertisements

Biola Tak Berdawai

   

     Manusia memang diciptakan dengan bentuk yang paling sempurna. Dengan semua indera berfungsi normal yang membuatnya mampu menikmati indahnya dunia. Untuk selanjutnya mendapatkan cinta dari dunia, setidaknya dari orang orang terdekatnya. Namun beberapa terlahir dengan tidak sempurna. Orang-orang yang kita angap cacat, yang beberapa bahkan semua fungsi inderanya tak berfungsi.
     Bagaimana rasanya menjadi orang yang cacat?. Tidak ada satupun manusia normal yang tau rasanya menjadi cacat. Tidak ada dari kita yang pernah merasakan kesunyian total layaknya mereka yang tuli. Atau merasakan gelap melebihi mereka yang buta, dan kesepian melebihi mereka yang bisu.
     Salah satu yang mengangkat tema ini adalah sebuah film arahan sutradara Sekar Ayu Asmara, Biola Tak Berdawai. Secara umum film ini mengangkat tentang kegetiran hidup yang dialami oleh tokoh utama Renjani (Ria Irawan). Renjani adalah perempuan yang kisah hidupnya miris. Korban dari kerasnya ibukota yang lari dari masa lalunya. Masa lalu yang kelam yang ingin dirahasiakan dari siapa saja.
     Jogjakarta adalah tempat yang dipilih Renjani untuk memulihkan luka masa lalunya. Bersama Mbak Wid (Jajang C. Noer) Ia mendirikan Ibu Sejati, rumah asuh khusus untuk bayi-bayi yang terlahir tidak sempurna. Keseharian dari rumah asuh ini hanyalah menerima bayi bayi yang cacat, yang umurnya tidak lama. Kemudian jika waktunya tiba bayi bayi inipun diantarkan ke rumah asuh yang abadi, tanah lahat.
     Renjani kemudian menemukan Dewa (Dicky Lebrianto) seorang anak kecil dengan keterbatasan fungsi otak dan fungsi motorik tubuhnya. Sepanjang hari Dewa hanya bisa terduduk lemas, tak bisa mendengar dan berbicara bahkan mengangkat kepala pun Dewa tak mampu. Keadaan Dewa inilah yang membuat Renjani menemukan kembali gairah untuk hidup. Setiap hari rasa saangnya bertambah untuk Dewa. Meskipun ia tahu bahwa Dewa tak bisa mendengar bahkan mungkin tak menyadari keberadaannya.
     (….)