Makalah

Mazhab-Mazhab Dalam Islam
Disusun  untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Sejarah Indonesia Masa Islam

BAB I
Pendahuluan
A.     Latar Belakang
Islam sebagai salah satu agama di dunia ini, sudah tentu memiliki suatu tuntunan didalam menjalankan baik kehidupan dan ibadah. Di dalam islam banyak sekali hukum-hukum yang mengatur, diantaranya ialah mazhab. Mazhab adalah sekumpulan pedoman dan pemikiran yang bersambung dan tersusun, bagi seorang pemikir atau suatu aliran pemikiran. Mazhab-mazhab ini pun sebenarnya berjumlah banyak, tapi seiring berjalannya waktu akhirnya ada empat Mazhab besar yang menanungi dunia ini.
Selain itu juga, di dalam islam sendiri terdapat berbagai perbedaan didalam pemikiran sehingga menimbulkan mazhab tersebut yang masing-masing mazhab memiliki ciri khas dan keunikan sendiri. Adapun kita sebagai umat islam hendaknya mengamalkan salah satu mazhab saja, kita tidak boleh mencampur adukan antara mazhab yang satu dengan yang lainya karena akan menimbulkan kesalah pahaman terhadap ajarannya.
B.     Tujuan
Dengan di buatnya makalah ini, pemakalah mengharapan para pembaca semakin bertambah wawasannya mengenai mazhab-mazhab yang ada di dalam islam. Walau pembahasannya mungkin dirasa terlalu dangkal, harapannya tetap berguna bagi para pembaca.
C.     Rumusan Masalah
1.     Sekilas sejarah mazhab-mazhab
2.     Macam-macam mazhab
BAB II
Pembahasan
A.     Sekilas Sejarah Mazhab-mazhab
Setelah masa kekuasaan Dinasti Umayah[1] berakhir di dalam pemerintahan Islam, selanjutnya kekuasaan Islam di kendalikan oleh Dinasti Abbasiyah. Pada masa Dinasti Abbasiyah[2] bisa disebut juga dengan masa keemasan umat Islam “The Golden Age”, karena pada masa ini umat Islam telah mencapai puncak kemuliaan, baik dalam bidang ekonomi, peradaban dan kekuasaan. Selain itu juga telah berkembang berbagai cabang ilmu pengetahuan, ditambah lagi dengan banyaknya penerjemahan buku-buku dari bahasa asing ke bahasa Arab. Fenomena ini kemudian yang melahirkan cendikiawan-cendikiawan besar yang menghasilkan berbagai inovasi baru di berbagai disiplin ilmu pengetahuan. Periode ini dalam sejarah hukum Islam juga dianggap sebagai periode kegemilangan fiqh Islam, di mana lahir beberapa mazhab fiqih[3] yang panji-panjinya dibawa oleh tokoh-tokoh fiqh agung yang berjasa mengintegrasikan fiqh Islam dan meninggalkan khazanah luar biasa yang menjadi landasan kokoh bagi setiap ulama fiqh sampai sekarang.
Mazhab[4] didalam Islam itu sendiri timbul dikarenakan perbedaan penafsiran dan pemahaman para imam yang ada terhadap hukum-hukum fiqih dan hadist-hadist[5], tetapi pada dasarnya umat islam tidak berselisih dalam masalah pokok-pokok agama, juga dalam pokok-pokok akidah. Akidah-akidah agama dan rukun-rukunnya, serta bagian-bagian syariat yang konstan dan batas-batasnya adalah penyatu umat dalam akidah agama mereka. Dalam kerangka satuan ini terdapat pluralitas, keragaman, dan perbedaan dalam cabang-cabang fiqih Ibadah dan muammalah[6] yang kemudian menghasilkan mazhab-mazhab fiqih yang terkenal maupun yang tidak terkenal dan yang masih hidup maupun telah lenyap, yang memperkaya hasil ijtihad, dan keragaman yang banyak, dalam kerangka pokok-pokok fiqih dan sumber-sumber istinbath[7].
Sebab-sebab perbedaan pendapat para imam, sehingga muncul mazhab:
1.     Berbeda pengertian perkataan.
Ini merupakan bab yang luas terjadi karena kata-kata yang merupakan arti lebih dari satu, adanya pengertian kiasan.
2.     Riwayat.
Yaitu kejadian bahwa hadist yang sampai dibagian dan tidak sampai kepada sebagian yang lain atau sampai dengan cara yang tidak memungkinkan hadist itu dijadikan hujjah[8], sedangkan kepada lainnya sampai dengan cara yang dapat dipertanggung jawabkan untuk menjadi hujjah.
3.     Berlawanan dalil[9] mengenai kaidah-kaidah yang sebagian menerimanya sedang yang lain tidak menerimanya.
4.     Berlawanan dan mentarjihkan[10].
Ini juga bab yang luas yang mengenai banyak terjadi perbedaan pendapat mengenai adanya jauh, dekat dan benar atau salah.
5.     Qias[11].
Qias ini mempunyai beberapa syarat dan beberapa alasan, sedangkan alasan-alasan itu mempunyai syarat-syarat. Mengenai hal itu banyak pendapat yang berbeda sehingga hampir-hampir tidak ada satupun yang dapat disepakati, lebih-lebih sesudah datangnya ulama-ulama dan mereka memperluas segi-segi tinjauan dan pemikiran
6.     Dalil-dalil yang diperselisihkan tentang boleh tidak memakainya seperti istihsan[12], mashalih mursalah[13], perkataan sahabat, baraah ashlijah[14] dan istidlas[15].
B.     Macam-macam Mazhab
Didalam ilmu fiqih timbul berbagai macam mazhab, diantaranya
1.     Abu Sa’id, al-Hasan al-Bashri
2.     Abu Hanifah an-Nu’man bin Tsabit
3.     Al-Auza’I, Abu Amr Abdurrahman bin Amr bin Muhammad
4.     Sufyan bin Masruq ats-Tsauri
5.     Al-Laits bin Sa’d
6.     Malik bin Anas al-Ashbahi
7.     Sufyan bin Uyaynah
8.     Asy-Syafi’I, Muhammad bin Idris
9.     Ahmad bin Hambal
10.  Azh-Zhahiri, Daud bin Ali al-Ashbahani al-Baghdadi
11.  Ath-Thabari, Muhammad bin Jarir
12.  Zaid bin Ali bin Jarir
13.  Ash-Shidiq, Ja’far bin Muhammad
14.  Abdullah bin Iyadh
Umat telah sepakat bahwa pluralitas dalam ­mazhab-mazhab fikih tersebut adalah salah satu dari sekian tanda kesuburan dan kekayaan pemikiran dalam cabang-cabang hukum Islam. Dari sekian banyak mazhab yang ada, pada akhirnya ada 4 mazhab yang memiliki banyak pengikutnya di dunia, diantaranya;
1.     Mazhab Hanafi
Mazhab ini didirikan oleh Abu Hanifah an-Nu’man bin Tsabit (80 – 150 H). Abu Hanifah hidup dalam dua generasi yaitu kurang lebih 52 tahun pada zaman Dinasti Umayah dan 18 tahun pada zaman Dinasti Abbasiyah. Pada awalnya beliau adalah seorang pedagang yang mahsyur, namun atas syaran dari Al-Sya’bi, ia kemudian beralih menjadi seorang pengembang ilmu. Abu Hanifah belajar fiqih kepada ulama dari Irak.
Cara Ijtihad[16], Abu Hanifah ada tiga, dua pokok dan satu tambahan;
Cara ijtihad yang pokok:
Abu Hanifah merujuk pada Al-Quran apabila dia mendapatkannya, apabila tidak ada dalam Al-Quran dia merujuk pada Sunnah Rasullulah yang sahih. Namun apabila ia tidak mendapatkannya juga maka dia mengambil pendapat para sahabat mana saja yang dia khendaki dan dia tidak akan berpindah antara pendapat yang satu dengan yang lainnya.
Cara ijtihad tambahan:
a.      Pendapat sahabat yang tidak sejalan dengan pendapat umum adalah bersifat khusus
b.     Bahwa banyaknya yang meriwayatkan tidak berarti lebih kuat
c.      Adanya penolakkan terhadap makna tersirat
Fiqih Abu Hanifah sebagai berikut:
a.       Bahwa benda wakaf masih tetap milik wakif. Kedudukan wakaf dipandang sama dengan urusan pinjam meminjam.
b.     Bahwa perempuan boleh menjadi hakim di pengadilan yang tugasnya khusus menangani perkara perdata bukan perkara pidana.
c.      Abu Hanifah adalah ulama yang berpendapat bahwa sholat gerhana dilakukan dua rakaat.
2.     Mazhab Maliki
Mazhab ini didirikan oleh Malik bin Anas al-Ashbahi (93 H). Beliau juga termasuk ulama dua zaman yakni pada zaman Dinasti Ummayah dan Abbasiyah. Imam Malik memiliki guru diantaranya, Abd al-Rahman Ibn Hurmuz, Nafi maulana Ibnu umar dan Ibnu Shihab al-Zuhri. Sedangkan gurunya dalam bidang hukum Islam adalah Rabi’ah ibn Abd al-Rahman. Pada zamannya dialah ulama yang mengetahui sunnah dan mendapat julukan pelanjut ahl al-hadist.
Cara ijtihad Imam Malik ialah:
a.      Mengambil dari Al-Quran
b.     Menggunakan Zhahir Al-Quran yaitu lafad yang umum
c.      Menggunakan dalil Al-Quran yaitu mahfum al-Muwafaqoh
d.     Menggunakan mahfum Al-Quran yaitu mahfum mukhalafah
e.      Menggunakan tanbih Al-Quran yaitu memperhatikan illat
Cara ijtihad tambahan:
a.      Perempuan yang mengalami masa datang bulan cukup melakukan satu kali mandi wajib, selanjutnya hanya dengan berwudhu saja
b.     Laki-laki diharamkan berhubungan suami istri dengan istrinya yang sedang datang bulan
c.      Azan dilakukan dua  kali – dua kali
d.     Ketidak bolehan menikah bagi wanita yang sedang dalam masa iddah
e.      Imam Malik juga berpendapat bahwa sholat gerhana dilakukan dua rakaat dengan  dua ruku setiap rakaat.
f.      Imam Malik juga berpendapat bahwa jumlah mahar minimal 3 dirham atau seperempat dinar.
  

3.     Mazhab Syafi’i
Mazhab ini didirikan oleh Ibn Idris ibn al-Abbas ibn Utsman ibn Syafi ibn al-Sa’ib ibn Ubaid Ibn Abd Yasid Ibn Hasyim Ibn Abd al-Muthalib ibn Abd Manaf. Ia lahir di Bazza dekat Palestina pada tahun 150 H, kemudian dibawa ibunya ke Mekkah, dan ia meninggal di Mesir tahun 204 H. Al-Syafi’I belajar hadist dan fiqih di Mekkah, lalu kemudian pindah ke Madinah untuk belajar kepada Imam Maliki, ketika Imam Maliki meninggal tahun 179 H, ia lalu bertemu dengan gubernur Yaman dan diangkat menjadi pegawai negeri di Yaman. Ia lalu belajar kepada Muhammad Ibn al_Hassan untuk mempelajari fiqih Irak. Setelah itu ia kembali lagi ke Mekkah dan mengajarkan fiqihi dalam dua model Madinah dan Irak.
Cara ijtihad al-Syafi’I dengan langkah-langkah sebagai berikut:
a.      Asalnya dari Al-Quran dan Sunnah
b.     Qiyas terhadap keduanya
c.      Apabila hadist telah sahih maka hadist tersebut berkualitas dan dapat digunakan dan mengenyampingkan yang masih zahir.

4.     Mazhab Hambali 
Mazhab ini didirikan oleh Ahmad bin Hambal (164 – 241 H). Ibnu Hambal ini dikenal sebagai imam hadist dan memiliki kitab al-Musnad. Beliau suka sekali melakukan perjalanan dalam rangka mempelajari hadist dan fiqih. Ia juga berguru kepada al-Syafi’i.
Cara ijtihad Ibnu Hambal, sangat dekat dengan ijtihad al-Syafi’i. Pendapat Ibnu Hambal dibangun atas lima dasar, yaitu:
a.      Menggambil dari Al-Quran dan sunnah
b.     Memilih pendapat sahabat yang disepakati oleh sahabat lainnya
c.      Apabila farwa sahabat berbeda-beda, ia memilih pendapat sahabat yang dekat dengan Al-Quran dan Hadist
d.     Menggunakan Hadist mursal dan dla’if apabila tidak ada atsar qaul sahabat/ ijmak yang menyalahinya.
e.      Menganalogikan (Qiyas)
f.      Sadd Al dzara’I (melakukan tindakan prepentif terhadap hal-hal yang negatif)


BAB III
Kesimpulan
Setelah masa kekuasaan Dinasti Umayah berakhir di dalam pemerintahan Islam, selanjutnya kekuasaan Islam di kendalikan oleh Dinasti Abbasiyah. Pada masa Dinasti Abbasiyah bisa disebut juga dengan masa keemasan umat Islam “The Golden Age”, karena pada masa ini umat Islam telah mencapai puncak kemuliaan, baik dalam bidang ekonomi, peradaban dan kekuasaan. Selain itu juga telah berkembang berbagai cabang ilmu pengetahuan, ditambah lagi dengan banyaknya penerjemahan buku-buku dari bahasa asing ke bahasa Arab. Fenomena ini kemudian yang melahirkan cendikiawan-cendikiawan besar yang menghasilkan berbagai inovasi baru di berbagai disiplin ilmu pengetahuan. Periode ini dalam sejarah hukum Islam juga dianggap sebagai periode kegemilangan fiqh Islam, di mana lahir beberapa mazhab fiqih yang panji-panjinya dibawa oleh tokoh-tokoh fiqh agung yang berjasa mengintegrasikan fiqh Islam dan meninggalkan khazanah luar biasa yang menjadi landasan kokoh bagi setiap ulama fiqh sampai sekarang.
Diantara berbagai macam mazhab yang ada didunia ini, pada akhirnya hanya ada empat mazhab yang memiliki pengikut paling banyak. Mazhab itu diantaranya ialah:
1.   Mazhab Hanafi, didirikan oleh Abu Hanifah an-Nu’man bin Tsabit (80 – 150 H).
2.   Mazhab Maliki, didirikan oleh Malik bin Anas al-Ashbahi (93 H).
3.   Mazhab Syafi’i didirikan oleh Ibn Idris ibn al-Abbas ibn Utsman ibn Syafi ibn al-Sa’ib ibn Ubaid Ibn Abd Yasid Ibn Hasyim Ibn Abd al-Muthalib ibn Abd Manaf (150 H).
4.   Mazhab Hambali didirikan oleh Ahmad bin Hambal (164 – 241 H).
Mazhab-mazhab diatas merupakan 4 mazhab terbesar dengan 4 imam besar yang menaunginya, memang di kemudian hari terdapat perbedaan-perbedaan tentang tata cara maupun penafsiran dalam keempat mazhab ini, tapi sebagai umat Islam yang bijak sudah seharusnya kita menghargai perbedaan-perbedaan yang ada. Dalam hal ini jelas sekali Nampak kekayaan alam pemikiran Islam, yang sudah tentu bukan dijadikan bahan perpecahan tapi justru sebaliknya dijadikan bahan pemersatu umat, agar tercipta kerukunan dan kedamaian global.

Daftar Pustaka
Lafidus, Ira, M. (1999). Sejarah Sosial Umat Islam. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.
Imarah, Muhammad. (1999). Islam dan Pluralitas. Jakarta: Gema Insani Press.
Al-Albani, Muhammad Nashiruddin. (2000). Sifat Shalat Nabi. Yogyakarta: Media Hidayah.


[1] Dinasti Umayah adalah kekhalifahan Islam pertama setelah masa Khulafaur Rasyidin yang memerintah dari 661 sampai 750 di Jazirah Arab dan sekitarnya; serta dari 756 sampai 1031 di Kordoba, Spanyol. Nama dinasti ini dirujuk kepada Umayyah bin ‘Abd asy-Syams, kakek buyut dari khalifah pertama Bani Umayyah, yaitu Muawiyah bin Abu Sufyan atau kadangkala disebut juga dengan Muawiyah I
[2] Dinasti Abbasiyah adalah kekhalifahan kedua Islam yang berkuasa di Baghdad (sekarang ibu kota Irak).
[3] Fiqih adalah salah satu bidang ilmu dalam syariat Islam yang secara khusus membahas persoalan hukum yang mengatur berbagai aspek kehidupan manusia, baik kehidupan pribadi, bermasyarakat maupun kehidupan manusia dengan tuhannya.
[4] Mazhab adalah sekumpulan pedoman dan pemikiran yang bersambung dan tersusun, bagi seorang pemikir atau suatu aliran pemikiran.
[5] Hadist adalah perkataan dan perbuatan Nambi Muhammad SAW, yang telah dicatat atau diarsipkan oleh para keluarga dan sahabat, semasa hidupnya Nabi Muhammad saw
[6] Muamalah adalah aturan Allah yang mengatur hubngan manusia dengan manusia dalam usahanya untuk mendapatkan alat-alat keperluan jasmaninya dengan cara yang paling baik
[7] Istinbath adalah upaya mengambil keputusan hukum syariah berdasarkan dalil-dalil Al-Qur’an atau As-Sunnah yang ada.
[8] Hujjah adalah Kitabullah dan Sunnah Rasulullah
[9] Dalil adalah pedoman atau pegangan kita dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam beribadah.
[10] Mentarjihkan adalah usaha untuk menguatkan suatu pandangan dengan menggunakan Al-Ruran dan Al-Hadist
[11] Qiyas adalah satu di antara empat sumber pengambilan hukum Islam yang telah disepakati oleh seluruh lapisan ulama sepanjang zaman.
[12] Istihsan adalah salah satu metode istinbat (menyimpulkan) hukum yang diakui diambil secara induktif (istiqro’i) dari sejumlah dalil secara keseluruhan (jumlah).
[13] Mashalih mursalah ialah menganggap pas sesuatu yang tidak diperkuat dalil tertentu.
[14] Baraah ashlijah upaya implementasi dan realisasi terhadap ajaran Islam yang fitrah sebagaimana manusia juga fitrah.
[15] Istidlas usaha optimal untuk memutuskan perkara yang tidak dijelaskan dalam Al-Quran dan Al-Sunnah. Perbedaannya dengan Istinbath. Istidlas mencari pemecahan dan ketetapan hukum terhadap suatu peristiwa atau masalah yang tidak dijelaskan ketetapan hukumnya dalam nash atau ijma, sedangkan Istinbath merupakan upaya mengeluarkan atau mengeksplorasi makna-makna atau kandungan hukum yang terkandung dalam nash.
[16] Ijtihad adalah mengeluarkan segala tenaga dan kemampuan untuk mendapatkan kesimpulan hukum dari Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW.

Advertisements

Published by

lewatjamtidur

A "One Piece" reader for about 10 years, MUFC suporter since child era, Yogyakarta, A Coffee, tea, and cigarette kretek addict.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s