Loving Fucking Smansa

Sekolah di sini seperti naik kereta ekonomi dengan tarif kereta eksekutuif. Terlalu mahal dan memakasa. Dilihat dari luar tampaknya menjanjikan dengan status yang mentereng, sekolah bertaraf internasional. Nyatanya saat kami masuk ke sini pemandangan tak jauh berbeda dengan sekolah sekolah negeri lainnya. Saat naik kereta ekonomi tak banyak yang bisa kami lakukan. Duduk tak tenang tak ada AC dan TV maupun mainan lainnya. Mungkin anak anak yang lainnya bisa duduk tenang dengan membaca buku, tapi kami tak bisa. Jiwa kami tak terbiasa dipasung seperti ini. Kami tak bisa dipaksa diam menyerah kepada keterbatasan yang kami dapat dari seseuatu yang kami bayar mahal, mahal sekali.
          Mungkin yang menjadi hiburan bagi kami adalah pemandangan di luar kereta yang dapat kami lihat lewat jendela. Di luar dapat kami lihat deretan pasar dengan ribuan pedagang yang berbaris rata berjajar mencari nafkah. Urat tangan mereka timbul mungkin terlalu sering bekerja kasar. Dan sesekali mengumpat marah saat sebuah mobil dinas perkotaan datang dan sok berkuasa menghancurkan lapak pedagang yang kurang beruntung mendapat lahan di dalam pasar sehingga harus berjualan di tepi jalan. Namun pemandangan itu cepat sekali berganti karena kereta yang kami tumpangi tak sudi berhenti untuk sekedar ingin tahu akhir dari kisah kisah di pasar tadi.
          Bagi yang belum membayar tiket kereta, jangan harap bisa naik kereta tua ini dengan tenang. Kondektur disini hapal semua nama penumpangnya hapal pula wajah dan perangainya. Bila belum bayar, bisa bisa kita tak dapat tempat duduk dalam kereta ini. Tak ada studio fotografi, seni, sastra bahasa serta taman yang tidak seperti taman. Padahal sebenarnya sekolah ini kaya raya
          Mereka mengurusi remeh temeh seperti seragam, rambut, sepatu, perilaku dan yang teramat remeh spp kami. Mereka lupa pada hal yang harusnya mereka benahi laboratorium fisika, kimia, biologi yang peralatannya karaten berbau seperti mesiu campur amis minyak dan berserakan belulang bangkai serangga yang di awetkan. Studio musik yang pengap yang kunci pintunya entah dimana. Lab komputer yang setengah total pc nya rusak dan ac nya mati.
          Teramat banyak tata tertib dan peraturan yang ada di sekolah ini. Sedangkan ruang bagi kami mengekspresikan diri teramat sempit. Lihat saja pakaian kami harus selalu rapi bahkan cenderung kaku. Dengan seragam yang sangat tidak fashionable ditambah dasi culun warna biru kami semakin seperti orang orangan sawah. Harusnya sekolah tau, kami membayar sekolah ini tidak murah lagipula untuk menjadi pintar kami tak harus berpakaian seperti itu. Untuk mendidik moral beri dulu kami teladan yang baik baru kami urus moral kami.
          Guru disini bebeapa setengah hati mengajar. Mereka mengajar dengan otak dan pikiran tapi tak pernah menggunakan hatinya. Sepenuh hati jika kami ikut les privat di rumahnya. Selain itu silakan sprint mengejar nilai yang teramat sulit dan tak teraih. Mereka terlalu tinggi mengukur kami dalam hal akademis tapi terlalu rendah mengapresiasi jiwa seni kami.
Tak ada yang istimewa dangan sekolah ini. Bangunan gedung tak terlalu bagus dan juga tidak mewah. Di dalam kelas hanyqa ada meja kursi dan lemari kecll. Beberapa jendela yang besinya sudah berkarat. Engsel pintu yang besar kebanyakan sudah rusak. Lampu penerangan seperti lampu disko, berkelaqp kelip terus menerus dan harus menunggu begitu lama agar lampu menyala sempurna. Di halaman tak terlalu banyak tanaman yang rindang. Hanya ada sebatang pohon beringn yang besar, pohon yang dalam mitologi kuno merupakan sarang setan beranak pinak.
          Jangan salahkan kami kalau kami sering memanjat pagar sekolah. Karena pagar yang harusnya berfungsi menjadi pintu keluar masuk disini beralih fungsi menjadi pagar berduri layaknya penjara penjara federal. Di tiap sudut pagar dililitkan kawat berduri yang tajam. Dengan gembok besi dan rantai pengikat  berlapis lapis kian menegaskan kesan ‘penjara’ ini. Sebenarnya alasan kami memanjat pagar sangat sederhana, kami hanya ingin menghemat waktu untuk kami dapat sampai di warung faforit kami di belakang sekolah.
          Maaf juga untuk catatan pinggir yang kami tinggalkan di tembok belakang sekolah. Mungkin hanya di sana kam bisa mencurahkan isi hati. Lagipula tiap ajaan baru didingmu pasti kembali putih. Dicat sedemikian rupa menghapus satu persatu kenangan yang ada. Kenangan di Smansa salah satunya adalah pemberontakan.

(tulisan ini berumur sekitar 4 tahun, ditulis dari jaman jaman kejayaan semasa sma lucu juga gaya bahasa dan penulisan semasa jaman sma, ngelantur ora genah, muter muter,, haha)
Advertisements

Published by

lewatjamtidur

A "One Piece" reader for about 10 years, MUFC suporter since child era, Yogyakarta, A Coffee, tea, and cigarette kretek addict.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s