Belum Ada Judul

(tulisan ini memang belum ada judulnya, tidak bemaksud meniru judul lagunya bang iwan. sampai tulisan ini dipost agud juga belum mudeng sebenernya ini tulisan maksudnya bagaimana. yang ogud inget cuma tulisan ini dibuat saat kelas 2 sma. malah ogud curiga kalau tulisan ini dibuat sepulang ogud main dari mawo sehabis mabok, hahaha.. jadi teingat jaman jahiliyah sma, ada yang nakal nakal, ada juga yang lucu lucu.. dibuang sayang lah pokoknya..)

Ini ceritaku yang aku buat untuk mengisi waktu luangku saat malam yang dingin datang (anggap saja begitu). Aku pertama kali bertemu dengan dia saat tugas mencari data di kelurahan tunon. Waktu itu kami satu kelompok bersama dalam pelajaran bk. Awalnya aku tak terlalu memperhatikan dia, ingin tahu namanya saja tidak apalagi ingin berkenalan dengannya. Singkat cerita akhirnya kami jadian dan saling mencinta….(ha ha ha Cuma ngarang).yang bener kami pulang ke rumah masing masing dengan rasa lelah. Esok harinya tugas harus dikumpulkan sedangkan tugas kami masih acak acakan dan rada ngawur. Akhirnya aku turun tangan untuk menyelesaikan tugas itu. Aku kerjakan tugas itu membuat laporan informasi mengenai desa tunon seorang diri tanpa ada yang membantu. Dengan di bumbui dengan kata kata yang kubuat sendiri dengan data yang infalid karena kebanyakan adalah karangan belaka akhirnya tugas kami selesai, dengan hasil yang lumayan bagus. Saat membuat halaman judul tertera nama anggota kelompokku. Ada beberapa nama yang tertera, tapi satu nama yang sangat indah terukir di sampul laporan tersebut. Begitu indahnya sampai sampai hingga kini aku tak bisa mlupakan nama itu.
          Saat membaca nama ini ada rasa ingin tau yang dalam, sungguh namanya begitu indah. Dia, tidak seperti nama nama yang pasaran macam sheila, nanda  leili lina atau apapun. Dari sebuah nama itu aku jatuh hati padanya. Esok harinya tak disangka dia datang menghampiriku dan menanyakan tugas kelompok kami dan dengan bangga kukatakan kalau tugas kami sudah selesai. Aku lihat seraut senyum lega karena tugas kami selesai sehingga tak ada lagi baban.
          Cuma itu histori saat aku pertama bertemu dengan dia. Bukan pertemuan yang heroik seperti aku menyelamatkan dia dari penjahat atau pertemuan yang romantis saat kami berlindung dari hujan di sebuah gubuk tua di pinggir jalan atau pertemuan yang elegan seperti saat kami bertemu di sebuah pesta ulang tahun seorang anak pejabat teras ternama negeri ini di sebuah pub terkenal. Pertemuan kami biasa biasa saja, bahkan cenderung tak disengaja
          Mengenai dia sebenarnya juga tak terlalu superior, dia bukan anggoata cherleaders karena memang di sekolahku tak ada club chearleadders dia juga bukan anggota osis ataupun peserta olimpiade sains bukan juga anak seorang konglomerat yang berangkat sekolah dengan limousin. Dia cantik, tentu karena dia perempuan. Dia juga manis karena dia punya senyum yang indah. Tingginya tak semampai seperti model tapi juga tak berotot seperti atlet, kulitnya putih. Ada tahi lalat di pipi bagian kanannya di sebelah hidungnya. Sehingga saat dirinya tersenyum menambah kecantikannya. Tapi segala yang ada padanya kuanggap luar biasa..
          Hari hari berikutnya berjalan seperti biasa karena tak ada langkah ambisius dariku untuk berkenalan mengajaknya jalan jalan kencan lalu pacaran. Aku hanya sekedar berharap tuhan berkenan mengatur pertemuan kami seperti saat kami dipertemukan dahulu. Tapi selanjutnya kami tak pernah dipertemukan, padahal jarak kelas kami hanya 50 meter, itupun masih dalam satu koridor lorong kelas x. Begitulah dunia di masa ini, kadang terasa sangat sempit karena begitu mudah setiap tempat disinggahi atau begitu banyak peristiwa yang terjadi saling berkait satu dan lainnya. Kadang terasa begtu luas hingga kita merasa seperti titik mikroskopis di tengah susunan semesta raya dan terpaut jauh satu dengan yang lainnya.
          Seperti aku sering katakan, dia adalah university of love ku. Tempat aku memahami cinta, tempat aku belajar mencintai, tempat aku belajar memahami, tempat aku mencurahkan peasaan, tempat aku menyerahkan hatiku juga tempat aku bermimpi, menjadi inspirasiku dan semangat hidupku di kala aku senang di kala aku sedih kamu tetep ada di hati (mirip lirik lagunya bip). Dia menjadi pelecut spiritku, saat kurasakan tak ada lagi keinginan hidup cepat cepat ku pandangi fotonya  dan berkata “aku gak boleh mati sebelum ndapetin kamu”
          Setaun berlalu dan sayangnya tak terjadi apa apa diantara kami, mungkin tak akan pernah terjadi apa apa diantara kami. Satu-satunya yang mampu menghiburku adalah saat aku melewati lorong kelas XI kelas sosial 3. saat melewat kelas ini kutemukan sosok yang dulu begitu aku kagumi namanya. Dia sering duduk di bangku deretan paling depan sehingga aku tak sulit melayangkan pandang ke arahnya. Dia masih tetap manis cantik dan anggun menawan hatiku. Saat tak sengaja kami saling bertatapan aku temukan sorot mata yang seju damai dan teduh namun selalu dengan segera aku palingkan muka karena tak mau menyakitinya dengankesia siaan sampah
          Sudah beratus ratus puisi ku buat untuk dia, puluhan cerita telah aku tulis untuk dia dan belasan lagu patah hati kunyanyikan hanya untuk dia. Namun sayang semua itu tak pernah ada guna sedikitpun. Semua hal yang kulakukan hanya sampah dan hal yang sia sia percuma. Aku tak mampu mengendalikan diriku, aku oleng dan hampir tenggelam namun aku tersadar dan bangkit lagi. Setidaknya dia menjadi semangat hidupku dan menjadi spirit menjadi inspirasiku. Sehingga saat aku duduk sendirian sepi aku bisa mengingat kamu.
          Waktu semakin jauh meninggalkan aku tapi hatinya tak juga mau sedepa pun mendekat padaku. Dia semakin menjauh dan semakin sepi pula saat sendiriku. Tak ada kata rindu tak ada kata sayang tak ada kata cinta. Mungkin aku memang belum layak mendapatkan semua itu namun didalam hati aku bertanya mungkin saja selamanya aku tak akan pernah mendapatkan semua itu.
          Begitulah aku menjadi manusia yang nista dan penuh dosa namun mengharapkan cinta dari seseorang yang begitu sempurna, setidaknya menurut pandanganku. Jauh di lubuk hatiku sebenarnya aku ingin merubah cara hidupku yang di ambang batas kewajaran namun tak tahu harus memulai dari mana dan dengan cara seperti apa. Mungkin juga tuhan telah menetapkan jalan hidupku seperti ini
          Tapi seseuatu yang kita anggap buruk mungkin merupakan jalan yang terbaik bagi kita. Pola hidup yang urakan tak tau atuaran dan segala sisi negatif di belakangnya ternyaa membawa sebuah perubahan pada akhirnya. Tapi aku tak mau terburu buru menyelesaikan cerita ini. Teramat banyak mozaik mozaik yang akan terlewat.
Advertisements

Published by

lewatjamtidur

A "One Piece" reader for about 10 years, MUFC suporter since child era, Yogyakarta, A Coffee, tea, and cigarette kretek addict.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s