Pendekar Katok Congklang vs Lanun Penyair Atheis

     Cerita tentang persaingan tiada akhir. Ksatria Katok congklang melawan Lanun penyair atheis. Di sekolah ghaib di kaki gunung Merapi. Memperebutkan tahta, yang satu ingin menguasai, yang satu ingin tak ada satupun yang menjadi penguasa. Adil kan, kalau tidak ada yang namanya mayoritas ataupun minoritas dalam menuntut ilmu. Sama rata sama rasa, seperti yang Mandor Paku ajarkan kepada murid muridnya yang berjiwa bebas. Bebas dari sembahyang 5 waktu mungkin. Oh jadi ini persaingan antara Paki dan Masami jilid baru? tentang sosialis melawan islam?

     Rami dan Untar kuliah di sekolah tinggi yang sama. Mereka hanya dibedakan oleh dinding fakultas yang berlainan. Rami duduk di kelas kelas ilmu sosial dan ekonomika sedang Untar duduk di lantai lantai gedung pertunjukan Bahasa dan Seni nan genit. Mereka hanya memperebutkan hegemoni, kekuasaan, pemaksaan paham. Yang satu ingin taman di setiap sudut kampus di isi dengan dakwah dakwah. Ukhuwah, mengajarkan tentang karakter.
     Sedang Untar ingin setiap taman di seluruh pojok sekolah diisi dengan apa saja. Pertunjukan musik, pementasan drama, teater bahkan kalau ada yang ingin main gobag sodor di taman ayo silahkan. Masing masing benar menurut pandangannya sendiri. Yang salah adalah jika salah satu ingin menghilangkan yang lain. Rami ingin menghilangkan seni dari sekolah. Budaya orang orang jogja mau dihilangkan diganti dengan ajaran ajaran yang dibawa dari kairo, dari ikhwanul muslimin, dari wahabi, dari partai bulan sabit padi.
     Tapi untar memang beberapa kali sudah keterlaluan. Menghalalkan perbuatan haram atas nama kebebasan. Sekarang kalau kita mencintai lawan jenis dan dia balik mencintai kita maka kita boleh melakukan apa saja. Semua didasarkan pada kebebasan berekspresi, tidak ada batasan sopan santun. Yang perempuan telanjang menato punggung dan perutnya atas nama seni. Katanya bukankah kupu kupu juga makhluk Tuhan, lalu kenapa kita tak boleh mengagumi kebesaran Tuhan lewat penggambaran makhlukNya pada tubuh kita.
     Rami lalu kalut, meniupkan sangkala perang dengan Untar. Katanya budaya tidak bisa bersatu dengan agama. Kataku goblog kalian. Orang jawa tidak akan pernah memeluk islam kalau walisanga tidak menggunakan budaya dalam dakwahnya. Dakwah yang sebenar benarnya dakwah. Kalian tentu kebanyakan orang jawa kan? Seandainya kalian teiak teriak kalau agama dan budaya tidk bisa bersatu lalu pikir kalian bagaimana ceritanya dulu nenek moyang kalian masuk islam? 
     Memangnya mereka masuk islam dari mempelajari literatur islam? dari mempelajari buku buku islam? Mereka masuk islam karena tiap malam kliwon melihat wayang di kadipaten. Ceritanya semar berguru ke arab. Pulang membawa kalimat syahadat lalu sembahyang dan puasa. Kalau tidak karena semar masuk islam mana mau orang jawa menerima islam. Lalu setelahnya Sunan kalijaga mulai menceritakan Kisah Nabi Muhammad. Orang jawa dulu juga sudah pintar. Sudah tau mana yang cerita dongeng dan mana yang cerita nyata. Semar itu dongeng dan Muhammad SAW itu nyata. Lalu mereka bersyahadat.
     Jadi munafik kalau kalian katakan budaya harus diganti dengan islam. Kau pikir peci, kopiah kita itu bukan budaya?. Kau pikir pesantren itu tidak berbudaya. Kalau mau belajar agama pergi ke pesantren saja sana! Mondok!

Ditulis awal kuliah tahun 2010, saat isu begini lagi marak di kampus IKIP. Maafkan kalimatnya amburadul.
Advertisements

Published by

lewatjamtidur

A "One Piece" reader for about 10 years, MUFC suporter since child era, Yogyakarta, A Coffee, tea, and cigarette kretek addict.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s