Historiografi Asia Selatan

      Perkembangan histiografi di Asia selatan dapat dibagi dalam dua periode yakni tradisional dan modern. Pada masa historiografi tradisional sumber-sumber kesusasteraan masih sangat kental. Semisal dengan ada banyaknya cerita cerita epik ataupun kitab kitab yang menceritakan kisah raja raja. Sedangkan dalam historiografi modern lebih mengarah ke India hal ini dikarenakan India merupakan yang paling mengesankan dalam kuantitas atau kualitasnya. Serta india berkembang dengan pesat dibandingkan dengan wilayah lain seperti pakistan, sri lanka atau bangladesh 


A. Historiografi Tradisional 
Historiografi Asia Selatan Tradisional dapat dibedakan menjadi dua yakni: 


1. Masa sebelum masuknya agama Islam ke India 


     Kebudayaan pertama di asia selatan adalah kebudayaan mohenjodaro dan harappa. Dari penggalian reruntuhan bekas lokasi kebudayaan ini ditemukan bahwa kebudayaan ini memiliki tingkat kemajuan yang cukup tinggi. Dimana tata kota sudah diatur sedemikian rupa dengan adanya pengaturan kapling rumah, pemandian umum, parit parit dll. Di kebudayaan ini juga tidak ditemukan senjata yang menandakan bahwa kebudayaan ini lebih menitik beatkan kehidupannya pada perdagangan daripada perang.
   Terbukti dari ditemukannya lempengan lempengan tanah liat yang berisi catatan perdagangan. Catatan perdagangan itu mencakup catatan catatan transaksi perdagangan, catatan catatan hutang dan beberapa informasi yang penting dalam perdagangan. Selain itu terdapat pula lempengan yang berisi tentang silsilah atau trah keluarga. Informasi informasi yang ditulis dalam lempengan ini sangat penting untuk dipelajari agar bisa mengetahui bagaimana kehidupan kebudayaan mohenjo darro dan harappa. Besar kemungkinan penulisan sejarah pada masa ini mengunakan media lempengan tanah liat. Kebudayaan ini berakhir setelah diserbu bangsa arya yang kemudian berkembang pesat dengan agama hindunya. 
    
     Agama hindu merupakan agama tertua yang berkitab suci veda/weda, yang diperkenalkan pada komunitas animis yang masih buta huruf di Asia Selatan. Agama ini menghasilkan tarikh-tarikh dalam bentuk Purana. Tradisi Purana ini kemudian diperluas dengan tarikh-tarikh dinasti, namun tetap memiliki ciri-ciri: 

     a. Tidak dikenal umum: hanya dikenal di kalngan istana/ kerajaan atau kaum agamawan/ brahmana, sedang masyarakat umum jarang yang memahami tentang hal ini.
     b. Dibesar-besarkan: Cerita cerita mengenai raja biasanya dibesar nesarkan dari kisah aslinya. Untuk menunjukkan kebesaran raja/ penguasa maka cerita dirancang sehebat mungkin supaya raja / penguasa tersebut dikagumi
     c. Kurang data yang otentik: historiografi pada masa ini memiliki data yang kirang terpercaya. Dimana sumber penulisan tidak terlalu diperhatikan.

  d. Pengabaian topografi dan kronologi: aspek topografi atau tempat kejadian kurang diperhatikan. Dlam cerita mahabarata misalnya, tidak dijelaskan secara jelas dimana letak kerajaan atau letak tempat pertempuran. Penjelasan hanya sekedar nama, tidak disertai penjelasan yang akurat mengenai letak persisnya dari kerajaan yang bersangkutan. 

     Epik Mahabarata dan Ramayana banyak berpengaruh dan banyak dipakai sebagai sumber dalam suatu tradisi historiografi. Kedua epik ini bersama-bersama dengan cerita Pancatrata dan Jataka dari agama Budha menjadi sumber dari cerita-cerita jenaka dan tradisi berkisah untuk penulisan geneologis Budhis dan kronik-kronik di Srilanka. Di Srilanka dalam perkembangannya muncul tradisi wamsa (terutama kronik yang dikenal dengan Dipavamsa, Mahamvasa, dan Culavamsa) menghasilkan beberapa kronik dengan prakarsa istana, timbullah suatu tradisi penulisan sejarah. Karya-karya ini terbentuk tarikh dan kisah jenaka, ditulis dalam bentuk sanjak, serta pemakaiannya terbatas dikalangan istana. 
     Selain kedua epik ini terdapat pula karya karya yang lain. Namun kebanyakan karya karya selanjutnya masih mendapatkan pengaruh dari kedua epik ini. Akan tetapi tidak ada karya se-monumental mahabarata dan ramayana. Mahabarata dan ramyana tetap menjadi epik yang paling dikenal dari masa kerajaan hindu di india. Meskipun setelah era hindu muncul beberapa karya pada masa budha namun tidak sebesar mahabarata dan ramayana. 
     Kerajaan yang bercorak budha di india adalah nalanda. Merupakan pusat persebaran agama budha. Namun pada abad 11 harus menyerah kepada kekuasaan islam yang datang pada tahun 1197 M. Minhaz seorang biksu dari nalanda pada saat penyerbuan menuliskan catatan yang menggambarkan peperangan yang terjadi dengan kaum muslimin yang hendak menduduki nalanda. (Epochs in buddhist history: Keeneth J saunders) 

2. Setelah Masuknya Agama Islam ke India.

     Suatu tradisi penulisan sejarah yang sudah berkembang baik diperkenalkan, dan selama enam abad lebih suatu cabang historiografi Islam menguasai Asia Selatan. Dibawah kekuasaan dinasti moghul india dikuasai imperium islam. 
     Pada masa ini historiografi berkembang dengan mengikuti kebiasaan islam dalam menyampaikan seseuatu. 

Ciri-ciri utama penulisan Islam:
a. Terikat pada kepentingan-kepentingan kekuasaan yang ortodoks.
b. Cenderung mengabdi pada Tuhan dan komunitas Islam.
c. Ditujukan pada pendidikan moral dan agama melalui kisah-kisah nabi-nabi, kalifah-kalifah, sultan-sultan dan orang-orang besar dikalangan agama maupun kalangan pemerintah dari warisan sejarah India, dan dapat dikatakan sebagai bagian integral dari historiografi Asia Selatan.

B. Historiografi Modern 


     Ilmu pengetahuan barat di India mulai berkembang ketika terbentuk Society di Calcutta tahun 1784 yang didirikan oleh William James. Kegiatan lembaga ini mengenai penelitian dunia timur. Lahir pula lembaga-lembaga sejenis di Bombay, Madras, Mysore dan Srilanka, serta pertumbuhan lemabaga-lembaga ilmiahdi Perancis dan Jerman, seta ada kajian-kajiandi Eropa dalam abad ke-19, merupakan landasan bagi perkembangan historiografi modern di asia selatan. 
     Ilmu pengetahuan Barat yang sungguh-sungguh di India dimula dari William James yang membentuk Asiatis Society di Calcutta pada tahun 1784. Kegiatan lembaga ini mengenai penelitian dunia Timur dan lembaga-lembaga sejenisnya di Bombay, Madras, Mysore, dan Sri Lanka, serta pertumbuhan lembaga-lembaga ilmiah di Perancis dan Jerman, dan pengadaan kursi-kursi kemahaguruan di Eropa dalam abad ke-19, merupakan landasan bagi perkembangan historiografi modern di Asia Selatan. 
     Sumbangan-sumbangan yang paling penting dari William James adalah dalam bidang filologi Sankrit dan pengediatn teks-teks dari agama Veda dan agama Budha, tetapi kemudian penelitian tentang filologi sanskrit mengalami kesulitan dalam memahami bahan bahan kuno dai india, kepurbakalaan India adalah yang meletakkan dasar untuk menghadapi bahan-bahan dari India Kuno yang sebelumnya tidak dapat ditelusuri itu. Periode pra-Islam sangat menarik karena bagi sejarawan periode ini serba tidak pasti – tidak ada kronoligi, tidak ada geneologi yang dapat dipercaya, dan tidak ada ketentuan-ketentuan yang dapat menjelaskan manusia dengan tepat. 
     Dalam bidang inilah tercatat penemuan-penemuan yang paling mengesankan. Yang terutama adalah karya James Tod, Annal and Antiquities of Rajasthan (Tarikh-tarikh dan kepurbakalaan Rajastan) yang diterbitkan antara 1829 sampai 1832, dan penelitian-penelitian epigrafi dan numismatik dari James Prinisip yang diterbitkan pada tahun 1858 dengan judul Essays on Indian Antiquities ( Esai-esai mengenai kepurbakalaan India). Keberhasilan ini mengakibatkan dibukanya departemen arkeologi di bawah pimpinan Alexander Cunningham pada tahun 1862; inilah yang pada tahun 1902 menjelma menjadi Indian Archeological Survey (Dinas Kepurbakalaan India) yang tekenal itu yang dipimpin oleh John Marshall (Ancient India, 1953). 
     Bila dibandingkan dengan karya-karya tersebut di atas, sejarawan-sejarawan tradisional Eropa kurang berhasil. Mill, Esphinstone, dan Smith, maupun ahli-ahli sejarah India yang berkebangsaan Perancis dan Jerman, tergesa-gesa menekankan superioritas pemerintahan Barat atau sangat tidak kritis terhadap bahan-bahan Islam dan non-Islam. Pengaruh-pengaruh mereka pada mulanya paling besar di kalangan pembaca Eropa dibandingkan dengan pembaca India. Baru setlah dibukanya universitas-universitas model Inggris di Calcuta, Bombay, Madras (ketiganya tahun 1857), dan di tempat-tempat lain, maka pengajaran secara formal memperkenalkan karya-karya Eropa pada ilmiawan-ilmiawan muda India. Tetapi pada saat itu pula, ketika sarjana ilmu-ilmu sejarah Eropa sedang mengalami langkah-langkah kemajuan, sarjana-sarjana India seperti R.G. Bhandarkar mempelajari teknik-teknik yang berasal dari masa sebelumnya dengan cara yang demikian baiknya sehingga sanggup mengkritik sejarawan-sejarawan Eropa sendiri (Philips, 1961a, Bahsam 1961b). 
     Baru dalam abad ke-20 historiografi Asia Selatan mulai terpengaruh secara langsung dan kuat oleh metodologi Barat. Paling kurang adanya dua caranya. Pertama, suatu penghargaan yang lebih mendalam terhadap metode-metode ilmiah Barat, terutama setelah penelitian arkeologis yang gemilang mengenai Mohenjodaro dan Harappa. Kedua, adalah pendekatan nasionalistis dan anti-imperialistis, yang dalam bentuknya yang paling ekstrem menghasilkan penulisan-penulisan sejarah yang buruk dan revisionistis pada satu pihak, dan pada pihak lain memberi perangsang bagi historiografi Marxis dan lain-lain bentuk histioriografi yang radikal (Majumdar, 1961b) 
     Dapat dikatakan bahwa awal historiografi modern adalah diterbitkannya Cambridge History of India (sejarah India dari Cambrdige) yang enak jilid itu antara tahun 1932. Hal ini membangkikat perhatian yang cukup besar dari pihak orang-orang India, malah juga mereka yang tidak menyenangi dominasi karya orang-orang Barat mengenai India. Diakui bahwa dalam bidang arkeologi dan numismatik, kumpulan karya yang banyak dihasilkan oleh sarjana-sarjana Eropa itu tidak dapat diabaikan. Demikian pula kumpulan dokumen-dokumen dan penafsiran-penafsiran mengenai kegiatan orang-orang Inggris, politik East India Company (perusahaan India Timur), dan perluasan kekuasaan Inggris di India. Tetapi tidak demikian halnya mengenai karya-karya tentang agama dan kebudayaan India, perlawanan India terhadap Inggris (umpamanya pemberontakan 1857 dan pergrakan nasional) dan perubahan-perubahan sosial-ekonomi di India sejak awal abad ke-19. 
     Dalam bidang inilah sejarawan generasi baru mulai menentang hasil-hasil penelitian orang-orang Eropa itu. Yang terpenting dari generasi baru ini adalah R.C Majumdar, H.C Raychaudhuri, K.A.A. Nilakantasastri,dan K.M. Panikar. Kebanyakan adalah tamatan jurusan-jurusan sejarah dari tingkat universitas di Inggris maupun di India, dan banyak di antara mereka adalah dosen-dosen sejarah yang profesional. Mereka melanjutkan tradisi pembentukan lembaga-lembaga ilmiah untuk menerbitkan majalah-majalah ilmiah dan belajar menghargai perpustakaan yang besar serta koleksi-koleksi arsip yang diorganisasi oleh negara dan pemerintah India (Lihat, Nilakantasastri, 1956; Datta, 1957). 
     Setelah kemerdekaan tercapai, penulisan sejarah berkembanga terus. Yang terutama sangat aktif adalah lembaga-lembaga seperti Archeological Survey (Dinas Arkeologi), History Records Commiossion (komiris Arsip Sejarah), dan India History Congress (Kongres Sejarah India). Antara penerbitan-penerbitan majalah dengan standar akademis ada pula yang patut dicatat; India Historical Quarterly (Kwartalan Sejarah India), dan Jurnal of Indian History (Jurnal Sejarah India). Suatu usaha yang penting yaitu seri sebelas jilid mengenai sejarah dan kebudayaan bangsa India yang diterbitkan oleh Bharatiya Vidya Bharam dengan editor umum R.C. Majumdar. Juga penting India History Congress tersebut yang mengadakan komperensi mengenai sejarah Asia pada tahun 1961 dan pertemuan internasional dari International Congress of Orientalists (Kongres Internasional ahli-ahli mengenai dunia timur) yang diadakan di New Delhi pada tahun 1965. 
     Perkembangan-perkembangan ini mencerminkan kesadaran historiografi modern dari orang-orang India yang rupanya juga mencerminkan penerimaan metode-metoe ilmiah yang modern dalam historiografi. Kenyataan yang paling penting di India modern ini adalah bahwa kini cukup banyak tersedia sejarawan yang terlatih untuk mempelajari hampir seluruh periode dan macam persoalan dalam sejarah India. Tambahan lagi, beberapa dari sejarawan baru kini mulai menggunakan ilmu-ilmu sosial dalam penelitian mereka. Dalam hal mempertajam metodologinya banyak yang beralih pada disiplin-disiplin ilmiah yang dikembangkan di Amerika Serikat 

Sumbangan yang paling penting pada awalnya adalah dalam bidang:
a. Filiologi Sanskrit dan pengeditan teks-teks dari agama Veda dan agama Budha.
b. Penelitian tentang kepurbakalaan India, sebagai peletak dasae untuk menghadapi bahan-bahan dari India kuno yang sebelumnya tidak dapat dipelajari.
c. bidang Pra-Islam. Periode ini sangat menarikkarena tidak ada kronologi, tidak ada geneologi yang dapat dipercaya, dan tidak ada ketentuan yang dapat menjelaskan amnusia dengan tepat.

Abad ke-20 historiografi Asia Selatan mulai terpengaruh secara langsung dan kuat oleh metodologi Barat. Ada dua cara:
a. Suatu penghargaan yang lebih mendalam terhadap metode-metode ilmiah barat, terutama setelah penelitian arkheologis yang paling gemilang terhadap Mohenjodaro dan Harrapa.
b. Pendekatan Nasionalitis dan anti Imperialistis, yang dalam bentuknya yang paling ekstrim menghasilkan penulisan-penulisan sejarah yang buruk dan revisionitas pada satu pihak, dan pada pihak lain memberi perangsang bagi historiografi Marxis dan lain-lain dalam bentukhistoriografi yang radikal.

India setelah kemerdekaan, penulisan sejarah berkembang terus terutama melalui lembaga-lembaga seperti:
– Archeological Survey (Dinas Arkheologi)
– History Records Commission (Komisi Arsip Sejarah)
– India History Congress (Konggres Sejarah India)

     Pernah diadakan konferensi tentang Sejarah Asia pada tahun 1961 dan pertemuan Internasional dari International Conggres of Orientallis (Konggres Internasioanl ahli-ahli mengenai dunia Timur) yang diadakan New Delhi tahun 1965. 
     Di Pakistan perkembangan Historiografi sejak tahun 1947 kurang menonjol. Pemisahannya dengan India menyebabkan negara baru ini kekurangan fasilitas penelitian. Para sejarahwan Pakistan mulai menghidupkan kembali tradisi-tradisi historiografi Islam. Karya-karya terpenting dihasilkan oleh A. Yusuf Ali, Shafa”at Ahmad Khan dan I.H. Qureshi, yang sudah terkenal sebelum pemisahan dengan India. 
     Di Sri Lanka perkembangan historiografi agak terlambat. Namun hasilnya dapat disaksikan dalam penerbitan-penerbitan dari Ceylon Branch of the Royal Asiatic Society (Cabang Sri Lanka dari Masyarakat Kerajaan Asia), dan Ceylon Journal of Historical and Social Studies (Jurnal 

Tokoh Tokoh Dalam Hostoriografi Asia Selatan

     Historiografi asia selatan memiliki beberapa tokoh penting yang telah menelurkan berbagai karya. Diantara para tokoh tokoh ini terdapat tokoh yang hidup pada masa kolonial inggris, masa islam di india dan masa yang paling awal yakni masa hindu budha di india.

Advertisements

Published by

lewatjamtidur

A "One Piece" reader for about 10 years, MUFC suporter since child era, Yogyakarta, A Coffee, tea, and cigarette kretek addict.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s