Haji Ilyas Ya’kub

Ilyas ya’kub lahir pada tahun 1903 di Asam kumbang, Bayang Pesisir selatan sumatera barat. Semasa hidupnya dikenal sebagai ulama terkemuka dan syaikh al-islam dari minagkabau. Ilyas ya’kub tidak pernah mendapatkan pendidikan formal. Pendidikan yang didapat kebanyakan dari pesantren ataupun belajar dari kyai kyai yang ada di sumatera. Leluhur dari ilyas yajub sendiri merupakan pejuang yang gigih melawan kolonialisme belanda sejak abad ke 16. Bayang pada masa pergerakan nasional merupakan sentra pendidikan islam di sumatera barat.
Ilyas yakub pernah belajar pada Syekh Haji Abdul wahab, salah satu ulama besar sumatera barat yang kelak juga menjadi mertuanya. Ilyas yakub kemudian dikirim ke mekkah untuk menunaikan ibadah haji sekaligus untuk memperdalan ilmu di mekkah. Tahun 1923 ilyas yakub mendapat kesempatan untuk belajar di universitas al azhar di kairo mesir. Di universitas al azhar ilyas yakub menjadi mahasiswa pendengar (thalib mustami’).

Saat di Mesir ini Ilyas Ya’kub aktif dalam berbagai organisasi dan partai politik di antaranya Hizb al-Wathan (partai tanah air) didirikan oleh Mustafa Kamal. Keikutsertaannya dalam partai ini semakin membangkitkan semangat anti penjajah. Ia pernah pula menjabat sebagai ketua Perkumpulan Mahasiswa Indonesia dan Malaysia (PMIM) di Mesir. Selain itu Ilyas yakub juga menjabatsebagai fungsionaris wakil ketua organisasi sosial politik Jam’iyat al-Khairiyah dan ketua organisasi politik Difa` al-Wathan (Ketahanan Tanah Air).
Selain gerakan politik yang amat peduli dengan nasib bangsanya terjajah Belanda, Haji Ilyas Ya’kub di Mesir juga aktif menulis artikel dan dipublikasi pada berbagai Surat Kabar Harian di Kairo. Bersama temannya Muchtar Luthfi ia mendirikan dan memimpin Majalah Seruan Al-Azhar dan majalah Pilihan Timur. Majalah Seruan Al-Azhar adalah majalah bulanan mahasiswa sedangkan majalah Pilihan Timur adalah majalah politik. Kedua produk jusnalistik ini banyak dibaca mahasiswa Indonesia – Malaysia di Mesir ketika itu.
Gerakan Haji Ilyas Ya’kub dalam jurnalistik dan politik anti penjajah di Mesir, tercium oleh pemerintah kolonial Belanda. Melalui perwakilannya di Mesir, Belanda mencoba melunakkan sikap radikal Ilyas Ya’kub, tetapi gagal. Sejak itu Belanda semakin mencap Ilyas Ya’kub sebagai radikalis bahkan dicap sebagai ekstrimis.
Tahun 1929 Haji Ilyas Ya’kub kembali dari Mesir,  di indonesia ilyas yakub mulai berganung dengan rekan rekannya dalam PNI dan PSI. Dari berkecimpung dalam dua partai sekaligus yakni pni dan pasi, ilyas yakub berpikir bahwa jiwa yang dimiliki kedua partai tersebut, yakni Islam dan kebangsaan adalah penting dikombinasikan, dikonversi dan dikonsolidasikan kemudian diwadahi dengan satu wadah yang representartif.
Perjuangan ilyas yakub untuk islam dan kebangsaan terbagi  dalam dua kegiatan  yang berbeda yakni bidang jurnalistik dan politik. Dalam bidang jurnalistik diwadahi dengan penerbitan madia cetak yakni Tabloid Medan Rakyat. Dalam bidang politik ia bersama temannya Mukhtar Luthfi mendirikan wadah baru bernama PERMI (Persatuan Muslimin Indonesia) dengan asas Islam dan kebangsaan. Tujuannya menegakan Islam dan memperkuat wawasan kebangsaan untuk mewujudkan kemerdekaan Indonesia. Dengan dasar Islam dan kebangsaan ini, PERMI menjalankan sikap politik non kooperasi seperti yang dianut pni.
PERMI pada awal mula bernama PMI (Partai Muslimin Indonesia) didirikan Haji Ilyas Ya’kub tahun 1930. PMI ini berbasis pada lembaga pendidikan Islam Sumatera Thawalib dan Diniyah School. Ide dasarnya, pemberdayaan sekolah agama dengan berbagai inovasi ke arah sistem modern. Kemudian PMI  menambah jumlah sekolah agama dengan mendirikan sekolah baru dengan sistem modern, mulai dari tingkat pendidikan dasar (ibtidaiyah) sampai pendidikan tinggi (Al-Kulliyat).
Di antara pendidikan tinggi yang dibangun PMI berada di Alang Laweh. Didirikan pada tanggal 12 Pebruari 1931. Perguruan tinggi dalam bentuk diploma A dan diploma B, bernama Al-Kulliyat Al-Islamiyah, diselenggarakan oleh tenaga pengajar dari luar diantaranya  intelektual jebolan Timur Tengah, Janan Thaib (sebagai pimpinan), Syamsuddin Rasyid (onder director) dan Ilyas Ya’kub. Mahasiswa awal diterima dari lulusan Sumatra Thawalib, Diniyah School, Tarbiyah Islamiyah, AMS (Algemeene Middelbare School), Schakel School dan lulusan sekolah tingkat menengah lainnya.
Tahun 1932 PMI mengadakan konsolidasi. Partai ini menyadari perjuangan Islam dan Kebangsaan perlu dikokohkan baik internal maupun eksternal. Konsolidasi PMI merupakan bagian kesadaran bagi penguatan lembaga ke-Islaman yang menunjang visi Islam dan kebangsaan Indonesia. Konsolidasi dilakukan dalam bentuk Kongres Besar bertempat di daerah kelahiran Ilyas Ya’kub yakni Koto Marapak (Bayang Pesisir Selatan) dihadiri oleh seluruh pengurus cabang se Sumatera seperti dari Tapanuli Selatan, Bengkulu, Palembang, Lampung dll. Di antara keputusan Kongres Besar, PMI diubah namanya menjadi PERMI yang dicap Belanda sebagai partai Islam radikal revolusioner. Kantornya di gedung perguruan Islamic College, Alang Lawas, Padang.
Dalam aktivitas politik, PERMI menjalin kerjasama dengan partai yang dibentuk Soekarno, Pertindo. Dua partai ini bekerja sama memperkuat jalinan kebangsaan. Dua partai ini bahkan sudah sepaham tentang tujuan akhir perjuangan yakni kemerdekaan. Karena dianggap membahayakan pemerintahan, maka berdasarkan vergarder verbod Belanda mengeluarkan kebijakan exorbita terechten yang menyatakan PERMI terlarang dan diikuti tindakan penangkapan terhadap tokoh-tokohnya. Haji Ilyas Ya’kub bersama dua temannya Mukhtar Luthfi dan Janan Thaib ditangkap dan dipenjarakan.
Setelah 9 bulan di penjara Muaro Padang, ia diasingkan lagi selama 10 tahun (1934-1944) ke Bouven Digul Irian Jaya bersama para pejuang pergerakan kemerdekaan Indonesia lainnya. Selama di Digul Haji Ilyas Ya’kub didampingi isteri Tinur sering sakit-sakitan. Masa awal penjajahan Jepang di Indonesia pun, para tahanan Digul semakin memprihatinkan, mereka dipindahkan lagi ke daerah pedalaman Irian Jaya di Kali Bina Wantaka kemudian diasingkan pula ke Australia . Oktober 1945 pemulangan para tahanan perang dari Australia ke Indonesia dengan kapal Experence Bey Oktober, Haji Ilyas Ya’kub tidak diizinkan turun di pelabuhan Tanjung Periuk, ia kembali ditahan dan diasingkan bersama isteri selama 9 bulan berpindah-pindah di Kupang, Serawak, Brunei Darussalam, kemudian ke Labuhan, Singapura.
Satu tahun Indonesia merdeka (1946) barulah habis masa tahanan  Haji Ilyas Ya’kub, ia kembali bergabung dengan kaum republik sekembali dari Singapura. Ia ikut bergerilya pada agresi militer II (1948) dan ikut membentuk PDRI (Pemerintahan Darurat Republik Indonesia) yang kemudian dipimpin oleh Mr. Safruddin Prawiranegara. Ia mendapat tugas menghimpun kekuatan politik seluruh partai di Sumatera untuk melawan agresor Belanda. Tahun itu ia menjabat ketua DPR Sumatera Tengah kemudian terpilih lagi sebagai anggota DPRD wakil Masyumi dan merangkap sebagai penasehat Gubernur Sumatera Tengah bidang politik dan agama.
Ilyas Ya’kub menghembuskan napas terakhir Sabtu, 2 Agustus 1958 jam 18.00 wib, ia meninggalkan 11 orang anak. Salah satu putranya Anis Sayadi Fauzi menulis riwayat hidup singkat tokoh ini dalam sebuah buku biografi. Untuk menghormati perjuangannya beliau dikukuhkan sebagai pahlawan perintis kemerdekaan RI 
Advertisements

Published by

lewatjamtidur

A "One Piece" reader for about 10 years, MUFC suporter since child era, Yogyakarta, A Coffee, tea, and cigarette kretek addict.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s