Catper Gunung Merbabu

     Dari kota Jogjakarta jika kita melihat ke arah utara akan kita dapati pemandangan yang megah. Tegak dan menjulangnya Merapi serta Merbabu yang “ngumpet” di belakangnya. Meskipun tidak bisa dikategorikan sebagai gunung kembar dimana keduanya mempunyai tipe yang bertolak belakang. Merbabu merupakan gunung yang sudah lama mati. Tidak terdapat aktivitas vulkanik di gunung ini. Bertolak belakang dengan Merapi yang begitu aktif beraktifitas. Meski memiliki perbedaan yang mencolok namun kedua gunung ini memang tidak terpisahkan.
       Merbabu memiliki berbagai jalur pendakian dari berbagai arah. Diantaranya melalui jalur Kopeng, Wekas ataupun Selo. Jalur kopeng biasa diambil oleh pendaki yang berasal dari arah utara seperti dari Semarang. Sedang jalur Wekas biasa diambil oleh pendaki yang berasal dari Magelang, Jogja dan daerah dari arah selatan lainnya. Sedangkan jalur Selo biasa diambil oleh pendaki dari arah timur seperti Solo maupun pendaki dari Jawa Timur. Masing masing jalur memiliki tantangan tersendiri. Jalur yang paling bagus pemandangannya adalah jalur Selo. Bisa menikmati pemandangan Gunung Merapi secara langsung dari bawah.
        Sedang jalur Wekas merupakan jalur yang relatif baru. Trek yang tersedia masih lumayan rimbun. Dengan suplai air hingga 2/3 perjalanan membuat jalur ini relatif aman. Lagipula trek yang ada di jalur Wekas cukup menantang, dengan jalan yang full menanjak dan hanya terdapat sedikit bonus. Dianjurkan untuk mengatur berat bawaan sebelum mulai mendaki via Wekas. Bisa ngos ngos-an di tengah jalan kalau barang bawaan terlalu berat. Di bawah ini akan diceritakan lagi tentang perjalanan pendakian ke gunung Merbabu erutama jalur Wekas.
        Perjalanan start mulai dari kota Jogja tercinta menuju Magelang. Bagi yang naik motor dan belum tau jalannya berikut jalurnya. dari Jogja – Jalan Magelang – Muntilan – Sebelum masuk kota belok kanan – Terminal Magelang – Ketemu lampu merah langsung belok kanan – lurus terus sampai ketemu desa wekas ada pintu gerbang kecil, masuk – sampai ke base camp. Seandainya nyasar bisa langsung bertanya pada warga sekitar. Bagi yang naik kendaraan umum dari jogja bisa naik angkutan jurusan Magelang turun di terminal Magelang. Dari terminal carilah angkutan desa jurusan kopeng, turun di depan koramil sebelum Kopeng. Dari depan koramil bisa menumpang mobil bak penduduk yang membawa sayur ke desa paling atas.
        Patokan dari jalur wekas adalah terminal Magelang. Darimanapun asal pendakian entah dari daerah Jabar, Jakarta kalau menggunakan kendaraan umum pasti turun di terminal Magelang. Dari terminal ke Wekas terdapat angkutan, tapi hanya di siang hari. Itupun tidak terlalu banyak. Lebih baik dari terminal mencarter mobil bak terbuka pengangkut sayur. Selain lebih murah dan hemat mobil bak ini bisa mengantar sampai ke desa paling atas.
        Base camp yang kebetulan saya temukan waktu itu adalah Mitra Indah. Dengan fasilitas yang cukup tokcer, terdapat tempat untuk beristirahat 3 buah yang masing masing bisa menampung 10 0rang. Toiletnya juga lumayan bersih, airnya dingin. Ada toko yang menjual logistik ataupun menyewakan peralatan. Dan yang paling super adalah dari base camp bisa membungkus nasi buat bekal di atas.. hahaha. Sebelum mulai berjalan alangkah baiknya segala perlengkapan segera dipacking ulang. Jangan sampai ada seseuatu yang tertinggal.

Suasana Base camp

       Perjalanan dari base camp ke puncak rata rata 6 sampai 8 jam. Disarankan untuk naik tidak lebih dari jam 10 siang. Waktu yang paling pas adalah naik pada jam 8 atau 9 pagi. Dengan tujuan agar bisa sampai di puncak sebelum sunset.
        Dari base camp kita akan langsung menemui jalan yang menanjak, melalui rumah rumah warga, kemudian berganti melalui sawah sawah warga. sekitar 15 menit kemudian baru kita masuk habitat hutan. Dalam perjalanan akan ditemukan beberapa bangunan seperti rumah kecil, itu sebenernya adalah makam, jadi jangan istirahat di bangunan kecil ini, bahaya. Jalan yang terdapat pada jalur wekas memiliki percabangan yang banyak, karena bercampur dengan jalur pencari burung warga sekitar, jadi hati hatilah melangkah.
        Kuncinya agar tidak tersasar adalah menuruti apa kata penunjuk jalan. Di setiap persimpangan terdapat penunjuk jalan yang bertuliskan habitat atau puncak. Di sepanjang jalan juga sudah terdapat pita pemandu seandainya tidak terdapat penunjuk jalan. Sekitar 2 – 3 jam kita akan sampai di pos 1. Disini terdapat air terjun yang bisa digunakan untuk mengisi bekal air. Namun jangan heran seandainya ada beberpa yang tidak menemukan air terjun ini, salah jalur bisa membawa kita langsung ke pos 2.
      Dari pos 1 menuju ke pos 2 memerlukan waktu sekitar 2- 3 jam. Jalan sudah mulai berdebu, terlebih saat musim kemarau. Kondisi jalan masih menanjak, dangan kiri kanan terdapat pohon akasia dan cemara. Sesampainya di pos 2 kita bisa langsung istirahat dan memasak. Kondisi tanah yang datar dan luas membuat banyak pendaki betah berlama lama di sini. Apalagi pas hari libur atau minggu, pejual mie ayam sampai soto bisa nyasar sampai ke pos 2. Oleh muda mudi sekitar pos 2 memang sudah dijadikan semacam tempat berlibur pada akhir pekan atau hari hari libur. Bnayak dari mereka yang bertenda sampai menginap 2 hari.

Lokasi pos 2. dengan keadaan tanah yang datar cocok untuk mendirikan tenda dan bisa menampung hingga puluhan tenda. Hati hati terhadap monyet yang banyak terdapat di sini

      Yang harus diperhatikan dari pos 2 adalah sinar matahari yang menyengat. Juga jangan sampai lengah dengan banyaknya monyet yang mengincar mie instan dan roti kita. Persediaan air cukup banyak di pos ini, sumber air dari pipa warga yang dilubangi dan dipasangi kran. Sampah sampah yang kita hasilkan sebisa mungkin jangan dibuang di pos 2. Sebab banyak dari pendaki yang membuang sampah mereka di pojokan pos. Lebih baik disimpan dulu untuk dibawa turun saat perjalanan turun.
     Selepas pos 2 batas vegetasi sudah mulai nampak dengan jelas. 2 jam dari pos 2 di kiri jalan sudah lebat oleh Edelweis yang mekar. Kalau tidak kuat iman bisa bisa kita tergoda untuk memetiknya. Edelweis di Merbabu jumlahnya luar biasa banyak. Hampur sepanjang jalan terdapat edelweis, belum lagi yang letaknya lebih ke dalam. Setelah melewati batas vegetasi sampailah kita di puncak.

Pemandangan ke bawah ke arah barat laut, nampak gung Sindoro dan Sumbing di kejauhan



       Tapi bukan puncak yang sebenarnya, karena Merbabu memiliki banyak puncak. Puncak menara, puncak Syarif dan puncak Kenteng songo. Dari batas vegetasi sampai ke top puncak memerlukan waktu sekitar 2-3 jam. Dengan trek campuran batu dan tanah yang menanjak tanpa pohon di kiri kanan jalan. Lebih banyak melalui padang sabana. Di tengah tengah perjalanan kita akan menjumpai pos 3 watu tulis. Biasanya merupakan tempat untuk mendirikan tenda. Tapi menurut pengalaman lebih baik mendirikan tenda sekalian di puncak.

Ini dia yang dinamakan jembatan setaaan



        Sebelum sampai di puncak kita akan elewati jembatan setan. Jembatan setan menghubungkan antara dua puncak. dengan kanan kiri adalah jurang sedalam lebih dari 200 meter. Setelah melewati jembatan setan akan terdapat persimpangan. Kiri arah puncak syarif dan kanan arah puncak Kenteng songo. Jarak dari puncak syarif ke puncak Kenteng songo hanya 30 menit. Dan diantara dua puncak ini terdapat banyak tanah datar untuk mendirikan tenda.
       Saran dari penulis, carilah tempat mendirikan tenda diantara dua puncak. jadi bisa menyaksikan sunset dan sunrise sekaligus. dari tempat kita mendirikan tenda bisa melihat sunset di arah gunung Sindoro dan Sumbing. Kemudian pas pagi harinya kita bisa langsung naik ke ouncak syarif 15 menit untuk melihat sunrise. Baru setelah puas melihat sunrise kita bisa menuju ke top puncak Kenteng songo. Jarak ke puncak kenteng songo sekitar 30 menit dari tenda kita.

Kenteng yang konon berjumlah 9

        Dari puncak kenteng songo kita bisa melihat pemandangan 270derajat. Ke selatan ada Merapi, ke arah tenggara ada puncak gunung lawu, ke arah barat ada si kembar Sindoro Sumbing. dan ke arah barat daya ada gunung ungaran. Nama kenteng songo diambil dari kenteng/au yang ada di puncak. menurut pemandangan ghaib jumlahnya 9 buah. Lihat sendiri apakah jumlahnya 9 buah atau kurang. 
       Perjalanan dari puncak ke bawah lebih cepat dari pada perjalanan ke puncak dari bawah. Hanya sekitar 5-6 jam.




nb: all foto by Dimas.

Gunung Merapi dilihat dari puncak Merbabu. Tenang dan tidak beraktifitas

Ini saya, numpang narsis di puncak Merbabu, Di belakang Merapi terlihat indah sekaliii

Gunung Sindoro Sumbing terlihat di kejauhan.


Advertisements

Published by

lewatjamtidur

A "One Piece" reader for about 10 years, MUFC suporter since child era, Yogyakarta, A Coffee, tea, and cigarette kretek addict.

3 thoughts on “Catper Gunung Merbabu”

  1. wew, blognya gak keurus
    setau saya jembatan setan ya yg ada di foto, punggungan bukit dari pertigaan jalur wekas >< puncak menara sampai ke sekitar bawah puncak syarif (kalo gk salah) kenapa dinamain jembatan setan kan karena dulu bentuknya itu jalur cuma 1 meteran, kiri kanan jurang, kalo ada angin gede ya bisa wassalam.. tapi sekarang jalur yg dimaksud sudah dibuat semacam parit, jalannya juga udah dilebarin jadi udah gak serem lagi.. ini dapet dari cerita bapak2 yg di basecamp wekas, tahun 2010an

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s