Ibnu Khaldun

Ibnu Khaldun adalah salah satu  dari tokoh dunia pemikiran Arab. Di saat dunia pemikiran Arab mengalami kemunduran, Ibnu Khaldun justru muncul dengan pemikirannya yang cemerlang. Ibnu Khaldun yang bernama lengkap Abu Zaid Abd-Ar-Rahman Ibnu Khaldun (1332-1406), seorang sejarawan besar Islam pada abad pertengahan. Khaldun lahir pada 27 Mei 1332 di Tunis. Keluarga Ibnu Khaldun berasal dari Hadramaut dan masih memiliki keturunan dengan Wail Bin Hajar, salah seorang sahabat Nabi SAW.
Khaldun yang terlahir dari keluarga Arab-Spanyol sejak kecil sudah dekat dengan kehidupan intelektual dan politik. Ayahnya, Muhammad Bin Muhammad seorang mantan perwira militer yang gemar mempelajari ilmu hukum, teologi, dan sastra. Bahkan di usia 17, Khaldun telah menguasai ilmu Islam klasik termasuk ulum, aqliyah (ilmu kefilsafatan, tasawuf, dan metafisika). Tunisia ketika itu merupakan pusat para ulama dan sastrawan yang memungkinkan Ibn Khaldun muda banyak belajar dari mereka.

Selain menggemari dunia pengetahuan, Ibn Khaldun juga terlibat dalam dunia politik.Ia pernah menjabat Shabib al’Allamah (penyimpan tanda tangan) pada pemerintahan Abu Muhammad ibn Tafrakin di Tunis. Ketika ia menduduki jabatan tersebut usianya baru menginjak 20 tahun. Situasi politik yang tidak menentu membuat Ibn Khaldun berpindah-pindah pekerjaan.Situasi politik tersebut juga mempengaruhi karir hidupnya. Ketika ia menjabat sebagai sekretaris Kesultanan di Fez maroko, ia menerima tudingan Abu Inan sebagai komplotan politik yang hendak menyerang Sultan. Khaldun akhirnya masuk penjara selama 21 bulan karena tudingan tersebut.
Dilahirkan pada tahun 1332 M dari sebuah keluarga para sarjana Andalusia yang terhormat dan penduduk sipil, Ibn Khaldun menerima pendidikan biasa dari kelompoknya.Ia belajar ilmu-ilmu Al-Qur’an dan bahasa, hadis dan Fiqh dengan guru-gurunya. Ia melawat ke Barat pada tahun 1352, terdesak oleh pertengkaran politik pada masa itu dan wabah pes pada tahun 1348-1349, yang merenggut nyawa orangtuanya dan sebagian besar dari guru-gurunya. Selama selang waktu yang singkat dalam penyepiannyapada tahun 1377 ia telah dapat menyelesaikan karyanya yang paling penting, al Muqaddimah yang merupakan sebuah pengantar bagi sejarah dunianya, Kitab al ‘Ibar.
Jemu dengan kehidupan publik dan pengabdian penuh resiko kepada penguasa-penguasa yang terus menerus berganti-ganti di Afrika Utara, ia bertolak ke Iskandariah pada tahun 1382. Di Kairo, sultan Mamluk mengakui prestasinya yang besar sebagai sarjana dan ahli hkum. Pada tahun 1384 ia ditetapkan sebagai Profesor Hukum Maliki dan kemudian sebagai hakim agung Maliki Mesir.
Peranan Ibn Khaldun dalam sejarah fisafat Islam merupakan peran yang kompleks. Meskipun adanya usaha untuk mencoba terjun ke panggung filosofis dan seni filsafat, Ibn Khaldunn pada hakikatnya tetap sebagai seorang ahli sejarah denga sebuah pandangan empiris  dan kecurigaan naluriah terhadap penggembaraan fantasi metafisika.
Pemikiran Ibn Khaldun
Pada abad 14 Ibn Khaldun menulis sejarah universal yang mengungkapkan secara luar biasa luas mengenai kemampuan pembelajaran dan kemampuan yang tidak biasa dari Ibn Khaldun yang menyusun teori umum untuk perhitungan perkembangan politik dan sosial selama berabad-abad. Dia adalah seorang sejarawan muslim satu-satunya yang menyarankan alasan sosial dan ekonomi bagi perubahan sejarah, meskipun dibaca dan dikopi pekerjaannya, tetap tak mengahasilkan pengaruh yang efektif hingga mendorong pemikiran Barat yang baru diperkenalkan pada abad 19.
Hampir semua kerangka konsep pemikiran Ibnu Khaldun tertuang dalam al-muqadddimah. Al-muqaddimah merupakan pengantar dalam karya monumentalnya al-Ibar wa Diwan al-Mubtada al-Khabar fi Ayyami al-‘Arab wa al-‘Ajam wa al-barbar wa Man ‘Asarahum min Dzawi as-Sultan al-Akbar (“Kitab Contoh-contoh Rekaman tentang Asal-usul dan Peristiwa Hari-hari Arab, Persi, Berber, dan Orang-orang yang Sezaman dengan Mereka yang Memiliki Kekuasaan Besar”) atau biasa orang menyebut, al-Ibar.
Di al-muqaddimah tersebut, Khaldun menerangkan bahwa sejarah adalah catatan tentang masyarakat manusia atau peradaban dunia, tentang perubahan-perubahan yang terjadi, perihal watak manusia, seperti keliaran, keramahtamahan, solidaritas golongan, tentang revolusi, dan pemberontakan-pemberontakan suatu kelompok kepada kepada kelompok lain yang berakibat pada munculnya kerajaan-kerajaan dan negara-negara dengan tingkat yang bermacam-macam, tentang pelbagai kegiatan dan kedudukan orang, baik untuk memenuhi kebutuhan hidup maupun kegiatan mereka dalam ilmu pengetahuan dan industri, serta segala perubahan yang terjadi di masyarakat.Hal ini sejalan dengan pengertian Sejarah Universal (atau dunia) yang menginginkan pemahaman atas keseluruhan pengalaman kehidupan masa lampau manusia secara total untuk melihatnya pesan-pesan perbedaan pada pesan yang berguna bagi masa depan.
Dua masalah yang mendominasi penulisan sejarah universal, pertama ketersediaan kuantitas bahan dan keberagaman bahasa di mana di dalamnya tertulis mengimplikasikan bahwa sejarah universal mengambil bentuk kerja kolektif atau menjadi sejarah tangan kedua. Kedua, prinsip dari seleksi yang dihubungkan dengan pemilihan studi untuk membentuk taksonomi sejarah yang sesuai. Unit-unit tersebut secara geografis (misal benua), periode, tahap perkembangan atau struktur, peristiwa penting, saling berhubungan (misalnya komunikasi, perjuangan bagi kekuatan dunia, atau perkembangan sistem ekonomi dunia), peradaban atau kebudayaan, kekaisaran dan negara bangsa, atau komunitas terpilih. Sejarah universal telah ditulis terutama oleh sejarawan Barat atau sejarawan dari Asia Barat termasuk Ibnu Khaldun.
Khaldun bahkan memerinci bahwa ekonomi, alam, dan agama merupakan faktor yang memengaruhi perkembangan sejarah. Meski punya pengaruh, faktor ekonomi, alam dan agama bagi Khaldun bukan satu-satunya faktor yang menentukan gerak sejarah. Ia mengatakan bahwa: “Keadaan alam, bangsa-bangsa, adat istiadat, dan agama tidak selalu berada dalam alur yang sama. Semua berbeda sesuai dengan perbedaan hari, masa, dan perlahian dari suatu keadaan ke keadaan lain. Perbedaan itu berlaku pada individu-individu, waktu, dan kota seperti halnya berlaku pada seluruh kota, masa dan negara. Salah satu sumber kesalahan dalam penulisan sejarah adalah pengabaian terhadap perubahan yang terjadi pada zaman dan manusia sesuai dengan berjalannya masa dan perubahan waktu. Perubahan-perubahan tersebut terjadi dalam bentuk yang tidak kentara, lama baru dapat dirasakan, sehingga sukar dilihat dan diketahui beberapa orang saja.”Pemikiran Khaldun tentang sejarah kritis ini merupakan satu pemikiran yang melandasi pemikiran modern orang Eropa tentang sejarah pada periode selanjutnya. Bagaimanapun Jean Bodin (1530-1596), Jean Mabilon (1632-1707), Betrhold Georg Niebur (1776-1831), hingga Leopald van Ranke (1795-1886), membaca atau tidak al-Muqadimmah, pemikirannya sejalan dengan Ibnu Khladun.
Dari sini kita bisa tahu bahwa Ibnu Khaldun adalah perkecualian.Ia bukan saja pemikir yang selalu berpikir tentang hal-hal yang abstrak melainkan pemikirannya berasal dari tanah tempat di mana dia berpijak. Memahami pemikiran Ibnu Khaldun sama halnya memahami pemikiran seorang Islam yang berani mengkritik bangsanya. Terutama sekali pemikiran seorang yang sangat rasionalis namun tidak kehilangan rasa dan keimanannya pada Allah SWT.
Teori siklus gerak sejarah sebagaimana yang dia pikirkan didasarkan pada adanya kesamaan sebagian masyarakat satu dengan masyarakat yang lain. Teori ini sebenarnya merupakan tafsir atas pemikiran Khladun, Khladun sendiri sebenarnya tidak menyampaikannya secara eksplisit. Satu hal yang disampaikan Khaldun secara eksplisit adalah pemikirannya tentang sejarah kritis. Menurut Khaldun:”Apabila demikian halnya, maka aturan untuk membedakan kebenaran dari kebatilan yang terdapat dalam informasi sejarah adalah diasarkan kemungkinan atau ketidakmungkinan…Apabila kita telah melakukan hal demikian, maka kita telah memiliki aturan yang dapat dipergunakan untuk membedakan anatara kebenaran dan kebatilan dan kejujuran dari kebohongan dalam informasi sejarah dengan cara yang logis…selanjutnya apabila kita mendengar tentang suatu peristiwa sejarah yang terjadi dalam peradaban, maka kita harus mengetahui apa yang patut diterima akal dan apa yang merupakan kepalsuan. Hal ini merupakan ukuran yang tepat bagi kita, yang dapat dipergunakan oleh para sejarawan untuk menemukan jalan kejujuran dan kebenaran dalam menukilkan peristiwa sejarah.”
Salah satu tesis Ibn Khaldun dalam al-Muqadimmah yang sering dikutip orang adalah bahwa “manusia bukanlah produk nenek moyangnya, tapi adalah produk kebiasan-kebiasan sosial.” Berdasarkan tesis ini, Tarif Khalidi secara garis besar telah membagi al-Muqadimmah menjadi tiga bagian pokok :
1.      Sebuah pembicaraan tentang historiografi, prinsip-prinsip dasarnya dengan ilustrasi-ilustrasi kesalahan-kesalahan khas yang dilakukan para sejarawan Arab-muslim.
2.      Pembicaraan tentang ilmu kultur (‘ilma al-‘umran al-bashari). Bagi Ibn Khaldun, prinsip-prinsip ilmu ini menjadi dasar menjadi dasar bagi pemahaman sejarah. Ilmu ini mencakup catatan tentang formasi sosial dasar (nomad dan menetap) dan tentang munculnya negara serta peradaban bersamaan dengan munculnya hukum-hukum yang mengatur interaksi mereka.
3.      Rekaman tentang lembaga-lembaga dan ilmu-ilmu keislaman yang telah berkembang sampai dengan abad ke-14.
Dalam al-Muqadimmah Ibn Khaldun melihat dua sisi sejarah yang perlu diperhatikan: sisi luar dan sisi dalam. Pada sisi luar yang terlihat adalah catatan tentang perputaran kekuasaan pada masa lampau. Pada sisi dalam sejarah adalah suatu penyelidikan kritis dan usaha cerdas tentang sebab-sebab dan asal-usul segala sesuatu; suatu peristiwa-peristiwa itu terjadi. Oleh sebab itu, sejarah berakar dalam filsafat (hikmah). Jawaban mendalam tentang bagaimana dan mengapa adalah jawaban filsafat.
A.    ‘Ilm al-‘Umran
‘Ilm al-‘Umran merupakan ilmu bantu yang penting bagi penulisan sejarah. Dalam al-Muqadimmah Ibn Khaldun telah merinci cakupan ‘Ilm al-‘Umran dalam enam bagian pokok, yaitu:
1.      Tentang peradaban manusia pada umumnya, jenisnya yang bermacam-macam, porsi bumi yang beradab;
2.      Tentang peradaban padang pasir, termasuk laporan tentang suku-suku dan bangsa-bangsa primitif dan liar;
3.      Tentang dinasti-dinasti kekhilafahan, dan kekuasaan bangsawan, termasuk pembicaraan mengenai hierarkipemerintahan;
4.      Tentang peradaban penduduk menetap, negeri-negeri dan kota-kota;
5.      Tentang keahlian , cara-cara melangsungkan kehidupan, posisi-posisi yang menguntungkan dan berbagai aspeknya;
Advertisements

Published by

lewatjamtidur

A "One Piece" reader for about 10 years, MUFC suporter since child era, Yogyakarta, A Coffee, tea, and cigarette kretek addict.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s