Berikan Aku Semua

     Berikan aku kesempurnann untuk menyempurnakan hidupku yang selalu terasa kurang. Berikan aku wajah yang rupawan seperti sekumpulan anak muda korea yang gemar menari dan menyanyi. Dengan wajah seperti mereka tentu aku bisa dengan mudah mendapat wanita. Berikan aku motor atau mobil yang bagus, Ducatti atau sekalian Ferarri, dengan mengendarai mereka tentu aku bisa mendapatkan wanita lebih mudah lagi. Berikan aku uang yang banyak, kamar kost yang besar, fasilitas fasilitas. Untuk memenuhi kebutuhan mendasar yang paling besar, pemenuhan nafsu.
     Apalagi nafsuku? wanita, harta dan tahta. Karena terlalu banyak film porno di sekitar akhirnya persepsi tentang wanita juga ikut jadi porno. Wanita adalah lawan jenis yang tangannya kita genggam untuk menunjukkan bahwa pria sudah laku. Adalah lawan jenis yang bibirnya bisa dicium dengan buas seperti yang diajarkan pada semua film film romantis hollywood bollywood sampai film film horor porno indonesia. Adalah lawan jenis yang bisa ditiduri seperi video video yang gemar mahasiswa download di fasilitas hotspot kampus.

     Nafsu mahasiswa yang besar. Yang mangatakan bahwa nonton porno itu wajar. Rasa ingin tahu, lagipula porno itu ada dalam pikiran bukan pada videonya. Kamu sebut ini apresiasi seni, seni gaya anjing nungging. Daripada susah susah cari buku di perpus mending minta dibelikan laptop. Sehari hari browsing, ngaskus. Cari cari tempat pertamax. Tiba tiba semua orang dipanggil juragan. Tiba tiba jadi orang arab, tiba tiba jadi bangsat. Ada juga jejaring sosial, fb, twitter, G+, youtube ampun ahh teknologi jaman sekarang.
     Hari ini bolpoint sudah tidak laku, orang menulis menggerakkan jarinya pada tuts keyboard. Kerjakan tugas nyontek ke google. Copy paste print jilid tiba tiba keluar nilai A. Apalagi yang kurang? oiyaa ada yang kurang. Badan eksekutif mahasiswa. Adalah badan serupa pagan. Dewanya adalah intelektualitas, sembahyangnya diganti jadi seminar, diskusi diskusi permasalahan bangsa lalu merayakan hari raya, demo ke istana negara. Kau buat macet jalan, teriak teriak lebih kencang dari kernet bis kota. Kalau kernet teriak teriak untuk cari uang buat anak istrinya, apa yang kalian cari?
     Tentu saja perubahan, kehidupan bangsa yang lebih baik. Hilangkan kemiskinan dari bangsa ini. Berantas korupsi kolusi nepotisme kkn kpk. Masih saja teriak teriak membentangkan spanduk, turunkan presiden, ganti presiden baru! Panas panas kau malah turun ke jalan. Tambah semrawut kota jogja kalau kalian mahasiswa aktivis turun ke jalan. Belasan ribu mahasiswa baru yang tiap tahun datang, membawa motor dan mobil mereka. Tiap hari habiskan bensin untuk jalan jalan, rekreasi.
     Budaya lawan agama, kata aktivis islam. Hebat sungguh, mengkaji islam dari buku buku, majalah. Kalau aku dibodoh bodohi dalam masalah agama oleh santri aku terima. Tapi kalau cuma dari mengkaji kamu sudah berani ngomong banyak? Kekafiran orang lain kau urus, kekafiranmu sendiri kau lupakan. Ada temanku santri, penampilannya biasa, berteman dengan segala macam manusia, bahkan preman atau lonte pun ditemani. Suatu hari ia berkata, nabi mewariskan islam kepada ulama ulama bukan kepada lembaga kajian dan diskusi agama di taman taman kampus. Kamu mau dakwah? ajarilah aku mengaji, itulah dakwah.
     Yang terakhir cinta. Tentu saja cinta. Love. Yang aku tau tentangnya hanyalah aku belum punya buku nikah. Juga belum punya seseorang untuk kupasang fotonya di buku nikahku. Kekasih, pacar, soulmate. Jangan jangan aku gay, homoseksual, menyukai sesama jenis. Cuiih.. Lebih baik tidak usah bicara cinta. Cinta tak pernah bicara. Cinta itu mendesah dan mengerang. Terpejam pejam.
     Pikiranmu itu loh.. ngeres. Terlalu banyak setan dan jin jahat yang bercokol dalam otakmu. Dn iblis iblis tua yang bersemayam dalam hati. Toloong, tiap kali aku mau berbuat baik iblis selalu mencegah dengan rasa malas, egois, buruk sangka. Karena pada dasarnya kenikmatan paling besar adalah berteman dengan setan, menuruti semua hawa nafsu. Nafsu apa yang paling besar? Nafsuku kepadanya.. Kalian tau siapa namanya. 
Advertisements

Jonggring Saloka

Kenapa harus ke gunung? Diantara sekian banyak pertanyaan kau memilih pertanyaan yang paling sulit untuk dijawab. Bukan karena tak punya jawaban, hanya saja aku juga tidak tau sebenarnya apa yang membuatku selalu ingin ke gunung. Mungkin karena puncaknya yang indah, memandangi lautan awan di bawah mata kaki. Mungkin karena kabutnya yang dingin, atau karena hutannya yang tebal. Malah mungkin sebenarnya aku tak suka sama sekali ke gunung. hanya ingin pamer saja kalau aku bisa berjalan sampai ke puncak gunung. Mungkin juga aku hanya ingin mengambil edelweis, membawa turun batu batu yang indah atau sekedar bermalas malasan menghabiskan waktu berkemah di lereng.

Seperti semua orang tau aku bukanlah pecinta alam. Aku tak pernah menjadi anggota pecinta alam manapun. aku masih sering membuang sampah sembarangan. Aku mengotori udara sekitar dengan rokok. Aku kadang kencing sembarangan di bawah pohon. Aku mencabuti rumput rumput sepanjang perjalanan, menggores kulit pohon dengan ujung pisau. Bagian mana dariku yang bisa disebut pecinta alam? Tapi setiap melihat serombongan pemuda dengan tas ransel di punggung, berjalan dari stasiun mencari angkutan ke desa yang antah berantah di kaki gunung, aku selalu iri. Apalagi setiap melihat bayangan gunung dari jauh, melihat puncaknya yang mengepul asap, jauh di sana pasti begitu indah. Ada seseuatu yang menenangkan tentang berjalan ke puncak gunung. Di sepanjang jalan mengeluh, mengeluh tentang bobroknya moral generasi terkini, atau sumirnya kehidupan bangsa. Lalu kemudian mensyukuri. pemandangan padang sabana atau deretan pohon pohon di sepanjang habitat sangatlah indah.

Ada alasan kenapa gunung diciptakan begitu indah. Keindahan yang harus susah payah dicapai, dengan kaki tangan penuh debu. Dengan kulit yang kering, pori pori kulit mengecil karena hawa dingin. Keindahan yang liar, seperti rasa bahagia mendapati hutan rimbun. Mendapati bahwa diantara semak belukar pasti terdapat daun dan umbi yang bisa dimakan. Hanya menggenggam belati besar untuk hidup. Adakah seseuatu yang lebih menantang selain berusaha bertahan hidup di tengah hutan?

Jonggring Saloka adalah nama kawah di puncak Gunung Semeru. Pada umumnya gunung memiliki beberapa identitas, nama gunung, nama puncak, nama kawah, dan nama jalur pendakian. Semeru memiliki nama puncak Mahameru dan jalur pendakian Ranu Pane. Semeru terletak di Jawa Timur, masuk wilayah administrasi Malang Lumajang Pasuruan. Ik sudah dua kalu ke sini, dua duanya gagal muncak. Dah nasib.

Kaligung Senja

     Di sore itu, di dalam kaligung yang berangkat sore hari. Berjalan di bawah senja, mempersilahkan angin masuk ke dalam jendela kereta yang tepi tepinya berkarat. Dalam perjalanan yang selalu sama belasan tahun, dalam jam yang selalu sama bertahun tahun. dalam ribuan perjalanan itu ada pula satu kesempatan aku ikut naik di dalamnya. Duduk berhimpit berdesakan lutut dengan punggung. berdiri bergelantungan pada pegangan, lelah menjalarkan pegal dan linu ke sekujur mata kaki sampai tempurung lutut. dan diantara penumpang penumpang berwajah lusuh penuh peluh, aku melihatnya. seperti melihat malaikat tersasar di gerbong depan kereta ekonomi.
         Dia berdiri di samping pintu gerbong, asyik menggenggam telepon genggamnya. sesekali tersenyum melihat layar, sambil sesekali menengok ke kiri dan kanan seandainya ada mata yang mencari cari pandang pada pipinya yang putih. …

Raden Dewi Sartika

      Salah satu tokoh yang memiliki peranan penting dalam pergerakan nasional indonesia adalah Dewi Sartika. Bisa dikatakan peran yang dimainkan oleh Dewi Sartika tidak kalah penting dengan Kartini. Meskipun sama sama berjuang membela hak perempuan namun terdapat beberapa perbedaan antara Kartini dan Dewi Sartika. Itulah yang membuat perjuangan Dewi Sartika memiliki makna tersendiri bagi perempuan perempuan Indonesia. Dewi Sartika merupakan salah satu tokoh pelopor dalam hal pendidikan untuk kaum perempuan.
            Dewi Sartika lahir di Bandung 4 Desember 1884. Orang tua Dewi Sartika adalah salah satu priyayi di tanah sunda, Raden Somanegara dan Nyi Raden raja Permas. Sejak kecil Dewi Sartika sudah mendapatkan pendidikan barat dari asisten residen Cicalengka. Tempat dimana pamannya bupati Martanegara berkedudukan. Tidak hanya belajar, Dewi Sartika sejak kecil juga sudah mulai mengajar teman teman sebayanya segalaa hal yang dia pelajari dari asisten residen cicalengka. Bakat mengajar dari dalam diri dewei Sartika sudah mulai terlihat sejak berusia remaja.
Sekolah Kautamaan Istri, yang sekarang menjadi Sekolah Dewi Sartika didirikan oleh Raden Dewi Sartika pada masa Pemerintahan Kolonial Belanda. Tepatnya pada 16 Januari 1904, sekolah ini berdiri dengan nama “Sakola Istri”. Sebelum mendirikan sekolah, Dewi Sartika memang sudah senang mengajar, meski tanpa dinaungi lembaga resmi berlabel sekolah. Sekitar tahun 1902, Dewi Sartika mulai mengajarkan keterampilan-keterampilan seperti merenda, memasak, menjahit juga membaca dan menulis kepada saudara-saudaranya. Kegiatan ini tercium oleh Pemerintah Hindia Belanda. Namun, ternyata kegiatan ini justru didukung oleh C. Den Hammer, Inspektur Pengajaran Hindia Belanda saat itu dengan menyarankan Raden Dewi menemui R.A. Martanegara yang saat itu menjadi Bupati Bandung untuk mendukung pendirian sekolah wanita bagi pribumi.
Bupati Bandung akhirnya menyetujui permintaan ini. Ia pun mengizinkan Dewi Sartika menggunakan ruang Paseban Barat di halaman depan rumah Bupati Bandung sebagai tempat mengajar. “Sakola Istri” akhirnya berdiri dengan 60 siswi yang berasal dari masyarakat umum. Pengajar sekolah ini adalah Dewi sartika sendiri, dibantu saudara misannya Nyi Poerwa dan Nyi Oewit. Semakin lama sekolah ini semakin berkembang. Murid semakin bertambah, pelajaran pun beragam, seperti membatik dan bahasa Belanda. Ruangan kelas pun tak lagi cukup, hingga sekolah ini dipindah ke Jalan Ciguriang-Kebon Cau (sekarang Jalan Kautamaan Istri) setahun setelah berdiri.
Tahun 1910 sekolah ini berganti nama menjadi Sakola Kautamaan Istri. Diambil dari nama perkumpulan bentukan Residen Priangan yang mendukung pengembangan dan pembangunan sekolah wanita bumi putera saat itu. Nama ini pula yang sekarang dipakai sebagai nama jalan tempat sekolah ini berada.
Pada masa penjajahan Jepang, sekolah ini diambil alih dan diganti menjadi Sekolah Gadis No. 29, setelah sebelumnya sempat bernama Sekolah Raden Dewi. Saat itu, semua sekolah dasar dijadikan sekolah rakyat oleh Jepang. Namun, Dewi Sartika menolak terlibat dalam sekolah bentukan Jepang, karena kurikulumnya harus berubah, tak lagi khusus kewanitaan. Sekolah pun ditutup hingga akhirnya bisa dibuka kembali oleh Yayasan Raden Dewi Sartika pada tahun 1951. Selama dikelola yayasan, nama sekolah ini juga sempat berganti nama beberapa kali menjadi Sekolah Guru Bawah (SGB) Puteri (1951), Sekolah Kepandaian Puteri (SKP) Dewi Sartika (1961), Sekolah Kejuruan Kepandaian Putri (SKKP) Dewi Sartika (1963). Bahkan lokasinya sempat berpindah ke Jalan Cibadak, saat sekolah digunakan sebagai markas tentara Siliwangi. Sekarang, sekolah ini telah menjadi SD dan SMP Dewi Sartika, adapun TK berada di lokasi berbeda.
Hingga kini bangunan asli sekolah, yang terdiri dari enam kelas masih dipertahankan dan digunakan sebagai lokal belajar siswa SMP. Satu dari enam kelas tersebut dijadikan “museum”. Peralatan dalam kelas, seperti bangku, masih asli sejak sekolah didirikan. Di kelas ini juga dipasangi foto Dewi Sartika saat masih mengajar. Ciri khas bangunan asli ini adalah tiang-tiang penyangga yang terbuat dari kayu dan jendela dari ram kawat. Perbaikan dan pemeliharaan dilakukan tanpa mengubah bentuk asli bangunan. Di luar sekolah, ada dua tugu penanda sebagai penghargaan kepada Dewi Sartika. Satu tugu berbentuk obor dibangun oleh tentara Siliwangi dan satu lagi penanda situs yang diresmikan oleh Prof. Dr. Haryati Soebadio, Dirjen Kebudayaan pada tahun 1982.
            Pergerakan nasional tidak bisa dilepaskan dari peran pendidikan yang sangat penting. Pendidikan pada masa pergerakan menciptakan banyak tokoh tokoh penting yang nantinya menjadi lokomotif utama penggerak pergerakan nasional. Dewi Sartika sebagai penggerak sekolah khusus wanita memiliki peran yang sangat penting. Di mana belia mengusahakan pendidikan untuk wanita. Sehingga kaum wanita bisa turut serta dalam perjuangan meraih kemerdekaan. Dengan sekolah sekolah khusus wanita yang didirikan semisal oleh Dewi Sartika ataupun Kartini, atau banyak tokoh tokoh yang lain menjadikan wanita lebih turut aktif di dalam perjuangan.
            Boleh dikatakan, jasa Dewi sartika bisa disejajarkan dengan ki hajar dewantara dalam hal pengabdian untuk pendidikan terutama pendidikan bagi kaum perempuan. Dewi Sartika menginspirasi kaum perempuan di banyak tempat untuk ikut berjuang mengupayakan pendidikan bagi kaum perempuan.

Haji Ilyas Ya’kub

Ilyas ya’kub lahir pada tahun 1903 di Asam kumbang, Bayang Pesisir selatan sumatera barat. Semasa hidupnya dikenal sebagai ulama terkemuka dan syaikh al-islam dari minagkabau. Ilyas ya’kub tidak pernah mendapatkan pendidikan formal. Pendidikan yang didapat kebanyakan dari pesantren ataupun belajar dari kyai kyai yang ada di sumatera. Leluhur dari ilyas yajub sendiri merupakan pejuang yang gigih melawan kolonialisme belanda sejak abad ke 16. Bayang pada masa pergerakan nasional merupakan sentra pendidikan islam di sumatera barat.
Ilyas yakub pernah belajar pada Syekh Haji Abdul wahab, salah satu ulama besar sumatera barat yang kelak juga menjadi mertuanya. Ilyas yakub kemudian dikirim ke mekkah untuk menunaikan ibadah haji sekaligus untuk memperdalan ilmu di mekkah. Tahun 1923 ilyas yakub mendapat kesempatan untuk belajar di universitas al azhar di kairo mesir. Di universitas al azhar ilyas yakub menjadi mahasiswa pendengar (thalib mustami’).

Saat di Mesir ini Ilyas Ya’kub aktif dalam berbagai organisasi dan partai politik di antaranya Hizb al-Wathan (partai tanah air) didirikan oleh Mustafa Kamal. Keikutsertaannya dalam partai ini semakin membangkitkan semangat anti penjajah. Ia pernah pula menjabat sebagai ketua Perkumpulan Mahasiswa Indonesia dan Malaysia (PMIM) di Mesir. Selain itu Ilyas yakub juga menjabatsebagai fungsionaris wakil ketua organisasi sosial politik Jam’iyat al-Khairiyah dan ketua organisasi politik Difa` al-Wathan (Ketahanan Tanah Air).
Selain gerakan politik yang amat peduli dengan nasib bangsanya terjajah Belanda, Haji Ilyas Ya’kub di Mesir juga aktif menulis artikel dan dipublikasi pada berbagai Surat Kabar Harian di Kairo. Bersama temannya Muchtar Luthfi ia mendirikan dan memimpin Majalah Seruan Al-Azhar dan majalah Pilihan Timur. Majalah Seruan Al-Azhar adalah majalah bulanan mahasiswa sedangkan majalah Pilihan Timur adalah majalah politik. Kedua produk jusnalistik ini banyak dibaca mahasiswa Indonesia – Malaysia di Mesir ketika itu.
Gerakan Haji Ilyas Ya’kub dalam jurnalistik dan politik anti penjajah di Mesir, tercium oleh pemerintah kolonial Belanda. Melalui perwakilannya di Mesir, Belanda mencoba melunakkan sikap radikal Ilyas Ya’kub, tetapi gagal. Sejak itu Belanda semakin mencap Ilyas Ya’kub sebagai radikalis bahkan dicap sebagai ekstrimis.
Tahun 1929 Haji Ilyas Ya’kub kembali dari Mesir,  di indonesia ilyas yakub mulai berganung dengan rekan rekannya dalam PNI dan PSI. Dari berkecimpung dalam dua partai sekaligus yakni pni dan pasi, ilyas yakub berpikir bahwa jiwa yang dimiliki kedua partai tersebut, yakni Islam dan kebangsaan adalah penting dikombinasikan, dikonversi dan dikonsolidasikan kemudian diwadahi dengan satu wadah yang representartif.
Perjuangan ilyas yakub untuk islam dan kebangsaan terbagi  dalam dua kegiatan  yang berbeda yakni bidang jurnalistik dan politik. Dalam bidang jurnalistik diwadahi dengan penerbitan madia cetak yakni Tabloid Medan Rakyat. Dalam bidang politik ia bersama temannya Mukhtar Luthfi mendirikan wadah baru bernama PERMI (Persatuan Muslimin Indonesia) dengan asas Islam dan kebangsaan. Tujuannya menegakan Islam dan memperkuat wawasan kebangsaan untuk mewujudkan kemerdekaan Indonesia. Dengan dasar Islam dan kebangsaan ini, PERMI menjalankan sikap politik non kooperasi seperti yang dianut pni.
PERMI pada awal mula bernama PMI (Partai Muslimin Indonesia) didirikan Haji Ilyas Ya’kub tahun 1930. PMI ini berbasis pada lembaga pendidikan Islam Sumatera Thawalib dan Diniyah School. Ide dasarnya, pemberdayaan sekolah agama dengan berbagai inovasi ke arah sistem modern. Kemudian PMI  menambah jumlah sekolah agama dengan mendirikan sekolah baru dengan sistem modern, mulai dari tingkat pendidikan dasar (ibtidaiyah) sampai pendidikan tinggi (Al-Kulliyat).
Di antara pendidikan tinggi yang dibangun PMI berada di Alang Laweh. Didirikan pada tanggal 12 Pebruari 1931. Perguruan tinggi dalam bentuk diploma A dan diploma B, bernama Al-Kulliyat Al-Islamiyah, diselenggarakan oleh tenaga pengajar dari luar diantaranya  intelektual jebolan Timur Tengah, Janan Thaib (sebagai pimpinan), Syamsuddin Rasyid (onder director) dan Ilyas Ya’kub. Mahasiswa awal diterima dari lulusan Sumatra Thawalib, Diniyah School, Tarbiyah Islamiyah, AMS (Algemeene Middelbare School), Schakel School dan lulusan sekolah tingkat menengah lainnya.
Tahun 1932 PMI mengadakan konsolidasi. Partai ini menyadari perjuangan Islam dan Kebangsaan perlu dikokohkan baik internal maupun eksternal. Konsolidasi PMI merupakan bagian kesadaran bagi penguatan lembaga ke-Islaman yang menunjang visi Islam dan kebangsaan Indonesia. Konsolidasi dilakukan dalam bentuk Kongres Besar bertempat di daerah kelahiran Ilyas Ya’kub yakni Koto Marapak (Bayang Pesisir Selatan) dihadiri oleh seluruh pengurus cabang se Sumatera seperti dari Tapanuli Selatan, Bengkulu, Palembang, Lampung dll. Di antara keputusan Kongres Besar, PMI diubah namanya menjadi PERMI yang dicap Belanda sebagai partai Islam radikal revolusioner. Kantornya di gedung perguruan Islamic College, Alang Lawas, Padang.
Dalam aktivitas politik, PERMI menjalin kerjasama dengan partai yang dibentuk Soekarno, Pertindo. Dua partai ini bekerja sama memperkuat jalinan kebangsaan. Dua partai ini bahkan sudah sepaham tentang tujuan akhir perjuangan yakni kemerdekaan. Karena dianggap membahayakan pemerintahan, maka berdasarkan vergarder verbod Belanda mengeluarkan kebijakan exorbita terechten yang menyatakan PERMI terlarang dan diikuti tindakan penangkapan terhadap tokoh-tokohnya. Haji Ilyas Ya’kub bersama dua temannya Mukhtar Luthfi dan Janan Thaib ditangkap dan dipenjarakan.
Setelah 9 bulan di penjara Muaro Padang, ia diasingkan lagi selama 10 tahun (1934-1944) ke Bouven Digul Irian Jaya bersama para pejuang pergerakan kemerdekaan Indonesia lainnya. Selama di Digul Haji Ilyas Ya’kub didampingi isteri Tinur sering sakit-sakitan. Masa awal penjajahan Jepang di Indonesia pun, para tahanan Digul semakin memprihatinkan, mereka dipindahkan lagi ke daerah pedalaman Irian Jaya di Kali Bina Wantaka kemudian diasingkan pula ke Australia . Oktober 1945 pemulangan para tahanan perang dari Australia ke Indonesia dengan kapal Experence Bey Oktober, Haji Ilyas Ya’kub tidak diizinkan turun di pelabuhan Tanjung Periuk, ia kembali ditahan dan diasingkan bersama isteri selama 9 bulan berpindah-pindah di Kupang, Serawak, Brunei Darussalam, kemudian ke Labuhan, Singapura.
Satu tahun Indonesia merdeka (1946) barulah habis masa tahanan  Haji Ilyas Ya’kub, ia kembali bergabung dengan kaum republik sekembali dari Singapura. Ia ikut bergerilya pada agresi militer II (1948) dan ikut membentuk PDRI (Pemerintahan Darurat Republik Indonesia) yang kemudian dipimpin oleh Mr. Safruddin Prawiranegara. Ia mendapat tugas menghimpun kekuatan politik seluruh partai di Sumatera untuk melawan agresor Belanda. Tahun itu ia menjabat ketua DPR Sumatera Tengah kemudian terpilih lagi sebagai anggota DPRD wakil Masyumi dan merangkap sebagai penasehat Gubernur Sumatera Tengah bidang politik dan agama.
Ilyas Ya’kub menghembuskan napas terakhir Sabtu, 2 Agustus 1958 jam 18.00 wib, ia meninggalkan 11 orang anak. Salah satu putranya Anis Sayadi Fauzi menulis riwayat hidup singkat tokoh ini dalam sebuah buku biografi. Untuk menghormati perjuangannya beliau dikukuhkan sebagai pahlawan perintis kemerdekaan RI 

Historiografi Asia Selatan

      Perkembangan histiografi di Asia selatan dapat dibagi dalam dua periode yakni tradisional dan modern. Pada masa historiografi tradisional sumber-sumber kesusasteraan masih sangat kental. Semisal dengan ada banyaknya cerita cerita epik ataupun kitab kitab yang menceritakan kisah raja raja. Sedangkan dalam historiografi modern lebih mengarah ke India hal ini dikarenakan India merupakan yang paling mengesankan dalam kuantitas atau kualitasnya. Serta india berkembang dengan pesat dibandingkan dengan wilayah lain seperti pakistan, sri lanka atau bangladesh 


A. Historiografi Tradisional 
Historiografi Asia Selatan Tradisional dapat dibedakan menjadi dua yakni: 


1. Masa sebelum masuknya agama Islam ke India 


     Kebudayaan pertama di asia selatan adalah kebudayaan mohenjodaro dan harappa. Dari penggalian reruntuhan bekas lokasi kebudayaan ini ditemukan bahwa kebudayaan ini memiliki tingkat kemajuan yang cukup tinggi. Dimana tata kota sudah diatur sedemikian rupa dengan adanya pengaturan kapling rumah, pemandian umum, parit parit dll. Di kebudayaan ini juga tidak ditemukan senjata yang menandakan bahwa kebudayaan ini lebih menitik beatkan kehidupannya pada perdagangan daripada perang.
   Terbukti dari ditemukannya lempengan lempengan tanah liat yang berisi catatan perdagangan. Catatan perdagangan itu mencakup catatan catatan transaksi perdagangan, catatan catatan hutang dan beberapa informasi yang penting dalam perdagangan. Selain itu terdapat pula lempengan yang berisi tentang silsilah atau trah keluarga. Informasi informasi yang ditulis dalam lempengan ini sangat penting untuk dipelajari agar bisa mengetahui bagaimana kehidupan kebudayaan mohenjo darro dan harappa. Besar kemungkinan penulisan sejarah pada masa ini mengunakan media lempengan tanah liat. Kebudayaan ini berakhir setelah diserbu bangsa arya yang kemudian berkembang pesat dengan agama hindunya. 
    
     Agama hindu merupakan agama tertua yang berkitab suci veda/weda, yang diperkenalkan pada komunitas animis yang masih buta huruf di Asia Selatan. Agama ini menghasilkan tarikh-tarikh dalam bentuk Purana. Tradisi Purana ini kemudian diperluas dengan tarikh-tarikh dinasti, namun tetap memiliki ciri-ciri: 

     a. Tidak dikenal umum: hanya dikenal di kalngan istana/ kerajaan atau kaum agamawan/ brahmana, sedang masyarakat umum jarang yang memahami tentang hal ini.
     b. Dibesar-besarkan: Cerita cerita mengenai raja biasanya dibesar nesarkan dari kisah aslinya. Untuk menunjukkan kebesaran raja/ penguasa maka cerita dirancang sehebat mungkin supaya raja / penguasa tersebut dikagumi
     c. Kurang data yang otentik: historiografi pada masa ini memiliki data yang kirang terpercaya. Dimana sumber penulisan tidak terlalu diperhatikan.

  d. Pengabaian topografi dan kronologi: aspek topografi atau tempat kejadian kurang diperhatikan. Dlam cerita mahabarata misalnya, tidak dijelaskan secara jelas dimana letak kerajaan atau letak tempat pertempuran. Penjelasan hanya sekedar nama, tidak disertai penjelasan yang akurat mengenai letak persisnya dari kerajaan yang bersangkutan. 

     Epik Mahabarata dan Ramayana banyak berpengaruh dan banyak dipakai sebagai sumber dalam suatu tradisi historiografi. Kedua epik ini bersama-bersama dengan cerita Pancatrata dan Jataka dari agama Budha menjadi sumber dari cerita-cerita jenaka dan tradisi berkisah untuk penulisan geneologis Budhis dan kronik-kronik di Srilanka. Di Srilanka dalam perkembangannya muncul tradisi wamsa (terutama kronik yang dikenal dengan Dipavamsa, Mahamvasa, dan Culavamsa) menghasilkan beberapa kronik dengan prakarsa istana, timbullah suatu tradisi penulisan sejarah. Karya-karya ini terbentuk tarikh dan kisah jenaka, ditulis dalam bentuk sanjak, serta pemakaiannya terbatas dikalangan istana. 
     Selain kedua epik ini terdapat pula karya karya yang lain. Namun kebanyakan karya karya selanjutnya masih mendapatkan pengaruh dari kedua epik ini. Akan tetapi tidak ada karya se-monumental mahabarata dan ramayana. Mahabarata dan ramyana tetap menjadi epik yang paling dikenal dari masa kerajaan hindu di india. Meskipun setelah era hindu muncul beberapa karya pada masa budha namun tidak sebesar mahabarata dan ramayana. 
     Kerajaan yang bercorak budha di india adalah nalanda. Merupakan pusat persebaran agama budha. Namun pada abad 11 harus menyerah kepada kekuasaan islam yang datang pada tahun 1197 M. Minhaz seorang biksu dari nalanda pada saat penyerbuan menuliskan catatan yang menggambarkan peperangan yang terjadi dengan kaum muslimin yang hendak menduduki nalanda. (Epochs in buddhist history: Keeneth J saunders) 

2. Setelah Masuknya Agama Islam ke India.

     Suatu tradisi penulisan sejarah yang sudah berkembang baik diperkenalkan, dan selama enam abad lebih suatu cabang historiografi Islam menguasai Asia Selatan. Dibawah kekuasaan dinasti moghul india dikuasai imperium islam. 
     Pada masa ini historiografi berkembang dengan mengikuti kebiasaan islam dalam menyampaikan seseuatu. 

Ciri-ciri utama penulisan Islam:
a. Terikat pada kepentingan-kepentingan kekuasaan yang ortodoks.
b. Cenderung mengabdi pada Tuhan dan komunitas Islam.
c. Ditujukan pada pendidikan moral dan agama melalui kisah-kisah nabi-nabi, kalifah-kalifah, sultan-sultan dan orang-orang besar dikalangan agama maupun kalangan pemerintah dari warisan sejarah India, dan dapat dikatakan sebagai bagian integral dari historiografi Asia Selatan.

B. Historiografi Modern 


     Ilmu pengetahuan barat di India mulai berkembang ketika terbentuk Society di Calcutta tahun 1784 yang didirikan oleh William James. Kegiatan lembaga ini mengenai penelitian dunia timur. Lahir pula lembaga-lembaga sejenis di Bombay, Madras, Mysore dan Srilanka, serta pertumbuhan lemabaga-lembaga ilmiahdi Perancis dan Jerman, seta ada kajian-kajiandi Eropa dalam abad ke-19, merupakan landasan bagi perkembangan historiografi modern di asia selatan. 
     Ilmu pengetahuan Barat yang sungguh-sungguh di India dimula dari William James yang membentuk Asiatis Society di Calcutta pada tahun 1784. Kegiatan lembaga ini mengenai penelitian dunia Timur dan lembaga-lembaga sejenisnya di Bombay, Madras, Mysore, dan Sri Lanka, serta pertumbuhan lembaga-lembaga ilmiah di Perancis dan Jerman, dan pengadaan kursi-kursi kemahaguruan di Eropa dalam abad ke-19, merupakan landasan bagi perkembangan historiografi modern di Asia Selatan. 
     Sumbangan-sumbangan yang paling penting dari William James adalah dalam bidang filologi Sankrit dan pengediatn teks-teks dari agama Veda dan agama Budha, tetapi kemudian penelitian tentang filologi sanskrit mengalami kesulitan dalam memahami bahan bahan kuno dai india, kepurbakalaan India adalah yang meletakkan dasar untuk menghadapi bahan-bahan dari India Kuno yang sebelumnya tidak dapat ditelusuri itu. Periode pra-Islam sangat menarik karena bagi sejarawan periode ini serba tidak pasti – tidak ada kronoligi, tidak ada geneologi yang dapat dipercaya, dan tidak ada ketentuan-ketentuan yang dapat menjelaskan manusia dengan tepat. 
     Dalam bidang inilah tercatat penemuan-penemuan yang paling mengesankan. Yang terutama adalah karya James Tod, Annal and Antiquities of Rajasthan (Tarikh-tarikh dan kepurbakalaan Rajastan) yang diterbitkan antara 1829 sampai 1832, dan penelitian-penelitian epigrafi dan numismatik dari James Prinisip yang diterbitkan pada tahun 1858 dengan judul Essays on Indian Antiquities ( Esai-esai mengenai kepurbakalaan India). Keberhasilan ini mengakibatkan dibukanya departemen arkeologi di bawah pimpinan Alexander Cunningham pada tahun 1862; inilah yang pada tahun 1902 menjelma menjadi Indian Archeological Survey (Dinas Kepurbakalaan India) yang tekenal itu yang dipimpin oleh John Marshall (Ancient India, 1953). 
     Bila dibandingkan dengan karya-karya tersebut di atas, sejarawan-sejarawan tradisional Eropa kurang berhasil. Mill, Esphinstone, dan Smith, maupun ahli-ahli sejarah India yang berkebangsaan Perancis dan Jerman, tergesa-gesa menekankan superioritas pemerintahan Barat atau sangat tidak kritis terhadap bahan-bahan Islam dan non-Islam. Pengaruh-pengaruh mereka pada mulanya paling besar di kalangan pembaca Eropa dibandingkan dengan pembaca India. Baru setlah dibukanya universitas-universitas model Inggris di Calcuta, Bombay, Madras (ketiganya tahun 1857), dan di tempat-tempat lain, maka pengajaran secara formal memperkenalkan karya-karya Eropa pada ilmiawan-ilmiawan muda India. Tetapi pada saat itu pula, ketika sarjana ilmu-ilmu sejarah Eropa sedang mengalami langkah-langkah kemajuan, sarjana-sarjana India seperti R.G. Bhandarkar mempelajari teknik-teknik yang berasal dari masa sebelumnya dengan cara yang demikian baiknya sehingga sanggup mengkritik sejarawan-sejarawan Eropa sendiri (Philips, 1961a, Bahsam 1961b). 
     Baru dalam abad ke-20 historiografi Asia Selatan mulai terpengaruh secara langsung dan kuat oleh metodologi Barat. Paling kurang adanya dua caranya. Pertama, suatu penghargaan yang lebih mendalam terhadap metode-metode ilmiah Barat, terutama setelah penelitian arkeologis yang gemilang mengenai Mohenjodaro dan Harappa. Kedua, adalah pendekatan nasionalistis dan anti-imperialistis, yang dalam bentuknya yang paling ekstrem menghasilkan penulisan-penulisan sejarah yang buruk dan revisionistis pada satu pihak, dan pada pihak lain memberi perangsang bagi historiografi Marxis dan lain-lain bentuk histioriografi yang radikal (Majumdar, 1961b) 
     Dapat dikatakan bahwa awal historiografi modern adalah diterbitkannya Cambridge History of India (sejarah India dari Cambrdige) yang enak jilid itu antara tahun 1932. Hal ini membangkikat perhatian yang cukup besar dari pihak orang-orang India, malah juga mereka yang tidak menyenangi dominasi karya orang-orang Barat mengenai India. Diakui bahwa dalam bidang arkeologi dan numismatik, kumpulan karya yang banyak dihasilkan oleh sarjana-sarjana Eropa itu tidak dapat diabaikan. Demikian pula kumpulan dokumen-dokumen dan penafsiran-penafsiran mengenai kegiatan orang-orang Inggris, politik East India Company (perusahaan India Timur), dan perluasan kekuasaan Inggris di India. Tetapi tidak demikian halnya mengenai karya-karya tentang agama dan kebudayaan India, perlawanan India terhadap Inggris (umpamanya pemberontakan 1857 dan pergrakan nasional) dan perubahan-perubahan sosial-ekonomi di India sejak awal abad ke-19. 
     Dalam bidang inilah sejarawan generasi baru mulai menentang hasil-hasil penelitian orang-orang Eropa itu. Yang terpenting dari generasi baru ini adalah R.C Majumdar, H.C Raychaudhuri, K.A.A. Nilakantasastri,dan K.M. Panikar. Kebanyakan adalah tamatan jurusan-jurusan sejarah dari tingkat universitas di Inggris maupun di India, dan banyak di antara mereka adalah dosen-dosen sejarah yang profesional. Mereka melanjutkan tradisi pembentukan lembaga-lembaga ilmiah untuk menerbitkan majalah-majalah ilmiah dan belajar menghargai perpustakaan yang besar serta koleksi-koleksi arsip yang diorganisasi oleh negara dan pemerintah India (Lihat, Nilakantasastri, 1956; Datta, 1957). 
     Setelah kemerdekaan tercapai, penulisan sejarah berkembanga terus. Yang terutama sangat aktif adalah lembaga-lembaga seperti Archeological Survey (Dinas Arkeologi), History Records Commiossion (komiris Arsip Sejarah), dan India History Congress (Kongres Sejarah India). Antara penerbitan-penerbitan majalah dengan standar akademis ada pula yang patut dicatat; India Historical Quarterly (Kwartalan Sejarah India), dan Jurnal of Indian History (Jurnal Sejarah India). Suatu usaha yang penting yaitu seri sebelas jilid mengenai sejarah dan kebudayaan bangsa India yang diterbitkan oleh Bharatiya Vidya Bharam dengan editor umum R.C. Majumdar. Juga penting India History Congress tersebut yang mengadakan komperensi mengenai sejarah Asia pada tahun 1961 dan pertemuan internasional dari International Congress of Orientalists (Kongres Internasional ahli-ahli mengenai dunia timur) yang diadakan di New Delhi pada tahun 1965. 
     Perkembangan-perkembangan ini mencerminkan kesadaran historiografi modern dari orang-orang India yang rupanya juga mencerminkan penerimaan metode-metoe ilmiah yang modern dalam historiografi. Kenyataan yang paling penting di India modern ini adalah bahwa kini cukup banyak tersedia sejarawan yang terlatih untuk mempelajari hampir seluruh periode dan macam persoalan dalam sejarah India. Tambahan lagi, beberapa dari sejarawan baru kini mulai menggunakan ilmu-ilmu sosial dalam penelitian mereka. Dalam hal mempertajam metodologinya banyak yang beralih pada disiplin-disiplin ilmiah yang dikembangkan di Amerika Serikat 

Sumbangan yang paling penting pada awalnya adalah dalam bidang:
a. Filiologi Sanskrit dan pengeditan teks-teks dari agama Veda dan agama Budha.
b. Penelitian tentang kepurbakalaan India, sebagai peletak dasae untuk menghadapi bahan-bahan dari India kuno yang sebelumnya tidak dapat dipelajari.
c. bidang Pra-Islam. Periode ini sangat menarikkarena tidak ada kronologi, tidak ada geneologi yang dapat dipercaya, dan tidak ada ketentuan yang dapat menjelaskan amnusia dengan tepat.

Abad ke-20 historiografi Asia Selatan mulai terpengaruh secara langsung dan kuat oleh metodologi Barat. Ada dua cara:
a. Suatu penghargaan yang lebih mendalam terhadap metode-metode ilmiah barat, terutama setelah penelitian arkheologis yang paling gemilang terhadap Mohenjodaro dan Harrapa.
b. Pendekatan Nasionalitis dan anti Imperialistis, yang dalam bentuknya yang paling ekstrim menghasilkan penulisan-penulisan sejarah yang buruk dan revisionitas pada satu pihak, dan pada pihak lain memberi perangsang bagi historiografi Marxis dan lain-lain dalam bentukhistoriografi yang radikal.

India setelah kemerdekaan, penulisan sejarah berkembang terus terutama melalui lembaga-lembaga seperti:
– Archeological Survey (Dinas Arkheologi)
– History Records Commission (Komisi Arsip Sejarah)
– India History Congress (Konggres Sejarah India)

     Pernah diadakan konferensi tentang Sejarah Asia pada tahun 1961 dan pertemuan Internasional dari International Conggres of Orientallis (Konggres Internasioanl ahli-ahli mengenai dunia Timur) yang diadakan New Delhi tahun 1965. 
     Di Pakistan perkembangan Historiografi sejak tahun 1947 kurang menonjol. Pemisahannya dengan India menyebabkan negara baru ini kekurangan fasilitas penelitian. Para sejarahwan Pakistan mulai menghidupkan kembali tradisi-tradisi historiografi Islam. Karya-karya terpenting dihasilkan oleh A. Yusuf Ali, Shafa”at Ahmad Khan dan I.H. Qureshi, yang sudah terkenal sebelum pemisahan dengan India. 
     Di Sri Lanka perkembangan historiografi agak terlambat. Namun hasilnya dapat disaksikan dalam penerbitan-penerbitan dari Ceylon Branch of the Royal Asiatic Society (Cabang Sri Lanka dari Masyarakat Kerajaan Asia), dan Ceylon Journal of Historical and Social Studies (Jurnal 

Tokoh Tokoh Dalam Hostoriografi Asia Selatan

     Historiografi asia selatan memiliki beberapa tokoh penting yang telah menelurkan berbagai karya. Diantara para tokoh tokoh ini terdapat tokoh yang hidup pada masa kolonial inggris, masa islam di india dan masa yang paling awal yakni masa hindu budha di india.

Catper Arjuna Welirang

     Wilayah Jawa Timur memiliki banyak pegunungan dengan puncak di atas 3000 meter. Mulai dari Pegunungan Semeru Bromo Tengger dengan puncak Mahameru yang tertinggi di jawa, sampai gugusan gunung Argopuro, Raung dan Arjuna Welirang yang masing masing memiliki puncak lebih dari 3000 meter. Kondisi Semeru yang fluktuatif dan sering mengalami peningkatan status membuat gunung ini sering ditutup untuk pendakian. Tak ada rotan akar pun jadi, tak bisa naik ke Semeru Arjuna Welirang pun jadi.
      Rencana mulai disusun untuk pendakian Arjuna Welirang. Pengetahuan yang minim tak jadi soal, dengan hanya modal membaca beberapa catatan perjalanan yang banyak ditulis lewat blog. Dari beberapa catper yang ada, diputuskan untuk mengambil jalur Tretes. Jalur yang tersedia ada tiga, lewat Purwosari, Batu/Selecta atau lewat Tretes. Dengan mengambil pertimbangan ketersediaan jumlah air yang melimpah di Tretes.
     Perjalanan dimulai dari kota Jogjakarta menuju Surabaya. Dari terminal Giwangan Jogja dipilihlah bis ac ekonomi Sumber Kencono. Meskipun terkenal sebagai bis maut, dalam beberapa hal bis ini memang juara. Masalah waktu dan murahnya. Dengan 34 ribu kita sudah bisa duduk santai sampai di terminal Bungurasih Surabaya. Perjalanan memakan waktu sekitar 6 jam.
      Dari Surabaya kemudian lanjut perjalanan ke Pandaan dengan bus omprengan. Bus jurusan Surabaya-Malang berkisar 5ribu-15ribu. Turun di pertigaan Panda’an arah ke Tretes. Dari Pandaan kemudian kita melanjutkan perjalanan menggunakan angkutan yang tersedia di siang hari, Tarif angkot (juli 2011) sekitar 6ribu. Angkot berhenti pas di depan basecamp Arjuna Welirang yang sekaligus sebagai tempat registrasi. 
       Setelah registrasi dan bayar biaya retribusi 5ribu (2011) kita bisa istirahat di tempat yang disediakan atau mau langsung berangkat. Kondisi trek dari bc sampai pos 1 cukup lumayan enak, sudah ada batu-batu yang ditata. kalau ada uang lebih bisa minta antar ojek sampai ke pas 1.