Kereta Lama Sampainya

                Kemari mendekat rencana jangka panjangku. Duduk duduklah di sampingku, ceritakan bagaimana harimu kemarin berlangsung. Kerena tidak setiap hari aku bisa bersamamu. Melihatmu dari bangun tidur sampai lelap tidur berselimut. Ceritakan hanya padaku, sebab jika kamu ceritakan pada orang lain tentu aku cemburu, dan tidak ada cemburu yang lebih buruk dari mencemburui kamu. Kemari mendekat tujuan akhir hidupku. Rebah rebahlah disampingku, nanti kuceritakan bagaimana hariku kemarin berlangsung. Karena  setiap hari aku ingin bisa bersamamu.
                Besok aku pulang ke rumah. Naik kereta malam Kalidersik. Aku sudah terlalu rindu padamu. Ingin bertemu, ingin membicarakan rencana rencana yang kemarin hari kita bicarakan di telepon. Ingin cepat cepat ke rumahmu, bertemu dan meyakinkanmu bahwa tak ada rencana lain selain kamu di hidupku. Tunggu aku pulang, kubawakan manik manik aneka bentuk dari batu. Nanti sama sama kita rajut jadi gelang yang cantik, secantik dirimu. Jadi jangan bersedih lagi, anggap yang mereka katakan padamu tadi hanya bohong
                Aku berangkat sebentar lagi. Masih menunggu kereta Argo lewat di jalur paling luar, keretaku masih terparkir di jalur paling dalam menunggu penuh. Doakan aku dapat kursi untuk duduk di dalam sana. Sebab seharian kuliah ternyata melelahkan.
                Hujan mulai turun disini, masih rintik rintik. Semoga di sana hujan tak turun. Aku baru ingat kalau kamu benci hujan. Bukan benci pada butiran airnya yang jatuh tentu, tapi pada dingin yang datang saat ia reda. Kalaupun di sana hujan, jangan marah marah. Sediakan saja selimut yang lebih tebal dari biasanya. Gosok gosokkan telapak tanganmu lalu minum secangkir coklat panas. Tak perlu takut jadi gendut karena coklat. Langsing ataupun gendut tidak terlalu masalah. Yang penting kamu tak kedinginan.
                Kamu pasti sudah tertidur sekarang, lupa mendoakan temanmu ini agar bisa duduk dalam kereta. Ahh karena tidurmu aku harus berdiri di deret paling belakang. Berhimpitan dengan mbok mbok penjual kopi dan nasi bungkus. Tapi demi kamu, tentu hal ini tak seberapa. Lagipula di belakang aku bisa bebas merokok. Tenang.. asap rokokku tidak mengganggu siapa siapa kali ini. Asap keluar cepat lewat ventilasi belakang gerbong. Maaf aku merokok, tapi di depanmu aku janji tak akan merokok. Tidak enak rasanya merokok kalau didepanku ada wajahmu yang cemberut dan menutup hidung sambil sesekali batuk. Ya anggap saja kita impas. Kau lupa mendoakan aku, aku berdiri di deret belakang, aku merokok. Kalau saja kamu tak tidur dan mendoakan aku tadi, mungkin endingnya tidak seperti ini.
                Udara semakin dingin ternyata. Kareta ini kalau kamu tau, punya pendingin yang super ampuh. Angin yang datang dari samping telak mengenai mukaku. Tak bisa berlindung, lebih baik kedinginan daripada harus berurusan dengan tremos panas mbok penjual kopi. Harusnya kubelikan kamu kopi biar tak tidur. Tentu masih bisa menemaniku lewat telepon. Haha, aku membayangkan kamu tidur. Dari leher sampai kaki pasti tertutup selimut. Sambil meringkuk memeluk guling. Dari sini aku bisa mencium tengkukmu. Wangi seperti gula, manis.
                Perjalanan kereta kali ini membosankan. Tiap stasiun harus berhenti, mempersilakan kereta eksekutif lewat. Inilah resiko kereta 24 ribu. Jauh berbeda kalau aku pulang dengan jakalara. Teman pulang paling menyenangkan. Sekali kali saat pulang ikutlah denganku, dengan jakalara. Kusajikan pengalaman hidup mati yang menegangkan. Tanya saja Ariyan, atau Ariyas. Diantara mereka sudah pernah merasakan jadi bandul nyawaku saat pulang dengan jakalara. Jogjakarta Tegal Sangsara.
                Membosankan? Tentu saja. Aku pun bosan bicara sendiri. Kamu tidur sore, padahal sudah kusiapkan belasan cerita menarik untukmu. Tentang teman kostku yang digerebeg pak RT, tentang aku yang kemarin ditilang. Atau tentang semalam sebelum berangkat ke stasiun aku lihat seseorang yang mirip denganmu. Berjalan bergandeng tangan mesra. Aku tak cemburu. Aku baru cemburu kalau kamu benar benar pergi dengannya. Bergandengan tangan mesra sambil makan es krim. Meski kamu berjalan dengan kekasihmu, aku tetap cemburu. Meski kamu mencintai dia dan kamu mendapat cinta yang besar darinya. Aku tak peduli aku cemburu.
                Bukankah sudah kukatakan sejak awal. Tidak ada cemburu yang lebih buruk selain mencemburui kamu. Kereta yang kunaiki sekarang lama sampainya. Mungkin sengaja mengulur waktuku. Supaya lebih lama lagi aku harus menunggu bertemu kamu.
Advertisements

Published by

lewatjamtidur

A "One Piece" reader for about 10 years, MUFC suporter since child era, Yogyakarta, A Coffee, tea, and cigarette kretek addict.

2 thoughts on “Kereta Lama Sampainya”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s