Peloncat Tebing

          Indahnya rumah kecil simbahku, tidak ada eternit ataupun platfon. Yang memisahkan dengan langit biru hanyalah genteng dan kayu kayu yang lusuh. Seandainya gempa datang lagi sudah pasti mereka akan berlaku seperti daun jati di musim yang semakin panas ini. Yah, mereka akan berguguran menimpaku yang seharian ini terbaring di tikar kamar tengah. Dan jika itu terjadi, mungkin sangat mujur kalau bisa mati saat tidur dirumah sendiri. Tidak sedang terbaring di rumah sakit dengan badan penuh infus. Tidak juga terlentang di aspal dengan kepala dan kaki remuk dilindas truk tronton. Aku tak seharusnya memikirkan mati sekarang. Tidak saat disampingku bus dan truk berjejer saling salip. Lengah sedikit saja, tulangku dan rangka besi motor tua ini akan lumat dilindas roda mereka yang besar besar.
          Satu persatu jarum infus aku lepaskan pelan. Aku benci bau oksigen cair, cairan infus apalagi bau obat sisa. Aku ingin cepat cepat pulang, ingin berbaring seharian di kasurku yang empuk. Tidak seperti tikar di kamar tengah rumah simbahku, keras seakan badan beradu dengan lantai semen kasar. Di kamarku sudah ada eternit, ada lampu yang terpasang menyala di sudut tengah. Dan yang terpenting di kamarku bebas merokok. Tidak seperti kamar anyelir 12 ini. Dari semua rambu rambu lalu lintas aku paling benci rambu dilarang merokok. Yang sayangnya di dalam kamar 3 diantaranya terpasang di pintu dan di masing masing tembok. Rumah sakit sebesar dan semewah ini paranoia terhadap asap rokok. Tolol kala mengetahui aset milyaran rupiah tak bisa menghadapi barang mungil 800 perak.
          Masih lebih baik rumah simbahku. Bebas untuk merokok dan tidur seharian tanpa gangguan. Tidak perlu repot memikirkan mobil plat B yang sewenang wenang mengambil jalurku saat mereka menyalip. Tidak juga harus senewen tiap kali supir angkot banting stir ke kiri. Moncong angkotnya berhenti di depan halte tapi bokongnya melintang di kanan jalan. Bagimu tak masalah pak supir, kau duduk di depan tapi aku duduk paling belakang. Seandainya nasibmu apes dan bus patas menendang bokong angkotmu, logikanya aku yang mati pertama. Meskipun dengan kejadian yang bermacam macam, mati di jalan itu tidak menyenangkan kedua orang tuaku.
          Ahh mimpiku kali ini buruk sekali, mengikuti nasibku hari ini yang juga buruk. Aku mimpi mengerjakan soal matematika di depan kelas. Menarik akar pangkat 4 dari 625. Kalau saja mimpi ini terjadi kemarin malam tentu sambil menutup matapun aku akan menjawab akar pangkat 4 dari 625 itu 5. Tapi mimpi ini terjadi 10 tahun yang lalu. Kelas 3 SD, matematikaku baru sampai akar pangkat dua. Kalau saja waktu itu aku bisa menjawabnya sudah tentu hidupku akan berubah total. Mungkin aku bisa menjelaskan kenapa aku pergi darimu. Setelah aku memahami, berita bahagia yang kamu tulis bukanlah berita bohong. Dan berita kesedihan yang kamu tulis juga bukan berita bohong.
          Dan tidak ada yang lebih membuatku senang daripada kamu bisa membuktikan kalau aku salah. Aku salah kalau beranggapan bahwa citaku padamu tak tertandingi oleh siapapun. Aku yang merasa mencitaimu dengan begitu kerasnya dengan ikrar hendak mengorbankan apapun untukmu. Aku salah ternyata selama ini. Cita dari orang yang membuatmu selalu merindukan dia, yang membuatmu selalu nyaman di sisinya, yang membuatmu selalu ingin bersamanya. Cita dari orang yang menemanimu semalaman saat kamu sakit, orang yang demi dia kamu rela melawan orang tuamu. Cita dari orang yang membuat aku tertawa, betapa naif prasangkaku atas citaku padamu. Terimakasih cita cita, kamu mengingatkan aku kalau aku masih punya cinta. Aku tidak bohong kali ini, bukankah kamu sendiri yang memegang kuncinya. Kunci dari kotak yang ku tutup rapat dan Selamanya tidak akan aku buka lagi. Kita sudah sepaakat bukan?.
          Jadi sekarang kita sama sama mengejar kebahagiaan. Kita berlari pada arah yang sama, meski tersekat sekat perbedaan tapi tujuan kita sama. Meskipun kebahagiaan tidak abadi setidaknya kita akan menahannya selama mungkin dalam pelukan kita. Kamu bahagialah dalam pelukannya, jangan biarkan tangannya mengendur dari lehermu. Dekaplah erat selalu, hingga tidak ada waktu bagi dunia untuk cemburu. Aku disini tersenyum senyum untuk mu, tertawa geli melihatmu memanja. Nanti kunyalakan bulan yang redup untuk kalian berdua. Agar malam yang indah ini tidak berakhir dengan dingin. Akan semakin hangat pasti, sehangat tanah yang kita pijak. Tidak satupun awan akan menutupi malam kalian malam ini. Tidak satu bintangpun harus bersembunyi. Mari bernyanyi, menyiulkan sindiran kepada mereka yang curiga pada kebahagiaanku. Malam ini semua orang bahagia, aku pun begitu. Terima kasih cita citaku.
          Dimanapun aku berbaring aku akan selalu tersenyum. Entah di tikar kasar rumah simbahku, entah di kasur empuk rumah ibuku, entah di kamar higienis rumah sakit pemerintahku, entah di aspal yang bergelombang, entah di tanah rumput tempat kesukaanku, entah dimana saja. Entah dimana saja pikiranku melayang mereka akan kembali pada satu tempat yang pasti, kepala peyangku. Kepala yang tak henti henti tersenyum. Siapa tau dengan tersenyum wajah jeleknya bisa sedikit terlihat ganteng. Aku tau sekarang, senyum itu menghapus dendam, merekatkan kembali hati yang patah. Mungkin suatu saat nanti kalau aku sudah merasakan putus cinta aku pun bisa menyambungnya dengan senyum.

Saatnya tidur..
Advertisements

Published by

lewatjamtidur

A "One Piece" reader for about 10 years, MUFC suporter since child era, Yogyakarta, A Coffee, tea, and cigarette kretek addict.

2 thoughts on “Peloncat Tebing”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s