Raden Ajeng Kartini (2)

          Kartini dibesarkan di lingkungan ningrat. Dia dididik untuk mematuhi adat istiadat dan tradisi yang ada. Sebagai seorang perempuan, perannya hanya dibatasi pada permasalahan rumah tangga. Sedang peran dalam kehidupan bermasyarakat ataupun pendidikan cenderung diabaikan. Sejak kecil Kartini mulai menunjukkan bibit pemberontakan. Sejak usia kecil Kartini mulai menanyakan akan menjadi apa dirinya kelak kepada ayahnya. Sebuah pertanyaan yang cukup miris, mengingat perempuan seperti dia dan adik adiknya nantinya akan diperistri oleh orang yang tidak dikenal. 
          Umur 12 tahun Kartini dipingit oleh keluarganya. Dia sama sekali tidak boleh keluar rumah bergaul dengan rakyat. Mulai saat itu dia akan menunggu sampai datangnya lamaran dari bupati yang akan menjadi suaminya kelak. Kartini menentang keras rencana ini. Baginya ini melanggar kemerdekaanya sebagi seorang perempuan merdeka. Namun dia tidak berani melawan perintah dari ayahnya karena dia begitu mencintai keluarganya. Dalam masa pingitan Kartini mengasah pemikirannya untuk membebaskan kaumnya dari belenggu seperti yang saat ini ia rasakan. Kartini sejak awal masa pingitannya memang sudah rajin membaca berbagai tabungan ilmu menghadapi tantangan perjuangannya didepan. 
          Kartini dibebaskan dari pingitannya pada umur 16 tahun. Setelah bebas ia bahkan diizinkan untuk keluar dari rumah untuk bersosialisasi. Semua ini berkat kebijaksanaan ayahnya yang merasa bahwa tidak seharusnya Kartini dikekang. Kartini kemudian banyak bertemu kawan kawannya dari barat. Mereka adalah teman sekolahnya dulu saat dia masih bersekolah sebelum dipingit. Dari teman temannya ini Kartini mulai mendapat pengaruh tentang beberapa pemikirannya. Tentang perbedaan tradisi Jawa dengan Eropa. Dan masih banyak lagi lainnya yang masih berkecamuk dalam pikirannya. Tentang pendidikan, tentang politik pelaksanaan etis pemerintah kolonial di Indonesia, dan masih banyak lagi. 
          Kartini mulai mencoba menulis di beberapa koran lokal. Tulisannya beragam dari pemikirannya tentang perempuan yang harus merdeka dari tradisi yang mengekang sampai pada ketertarikannya tentang konsep barat dalam memperlakukan perempuan. Makin lama dalam usia yang begitu muda Kartini mulai menemukan kematangan berpikir hingga dia kemudian bertekad untuk meneruskan sekolahnya yang terhenti. Bahkan Kartini bercita cita ingin sekolah di Belanda supaya saat pulang nanti bisa mengamalkan ilmu yang didapatnya di indonesia untuk memperjuangkan masib kaumnya. 
          Pada tahun 1899 saat Kartini berumur 20 tahun datanglah pasangan J.E Abondenan yang merupakan direktur kementrian urusan pendidikan peribadatan dan kerajinan ke Jepara. Selama beberapa hari mereka tinggal di rumah kediaman bupati Jepara. Kedatangan mereka sebagai rangkaian tugas untuk mengunjungi semua wilyah Jawa berkaitan dengan diterapkkannya sistem politik etis. Inilah awal kedekatan Kartini dengan Nyonya Abendenon istri dari Tuan Abondenan yang kerap disapa Rosa oleh Kartini. dari nyonya Abendanon Kartini merasa kagum dimana di Belanda harkat dan martabat perempuan begitu dijunjung tinggi. Lalu timbul keinginan untuk mencari tahu lebih jauh tentang hal tersebut. 
          Selama nyonya Abendanon berada di Jepara ia kerap mengajak Kartini bertukar pikiran mengenai banyak hal. Entah itu hal pribadi ataupun tentang isu-isu yang sedang hangat. Keduanya mulai aktif berkirim surat setelah nyonya Abendanon pulang dari Jepara. Nyonya Abendanon bahkan mengenalkan Kartini pada beberapa temannya diantaranya: 

1.   Cving Nestenenk, seorang janda dan ipar dari asisten residen Jepara 
2. Stella Zeehandelaar, seorang gadis yang menjadi aktivis gerakan sosialis di Belanda, mereka banyak berkomunikasi lewat majalah De Hollandscha Lelie 
3. Ir Van Kol, seorang tokoh sosialis Belanda. Selain nama nama di atas ada beberapa nama lagi yang disebut Kartini dalam surat suratnya.

          Pokok pertama yang disampaikan Kartini melalui surat suratnya adalah penolakannya kepada feodalisme. Pengalamannya di masa kecil mungkin yang mendorongnya mengambil sikap seperti ini. Dia mengkritik sistem feodalisme dimana seorang perempuan jawa begitu terbelenngu oleh tradisi. Sejak kecil tidak bisa bebas kemana mana. Saat beranjak dewasa pun harus dipingit. Dan setelah dewasa harus rela dipersunting orang yang tidak dikenal sebelumnya. Bahkan kerap menjadi madu kesekian dari laki laki tersebut. Kartini membandingkan nasib perempuan jawa dengan nasib perempuan Belanda yang merdeka dalam menentukan kehidupannya. 
          Kartini kemudian menampakan penolakan serius terhadap feodalisme dengan banyak tindakan pemberontakan. Bukan pemberontakan fisik secara senjata tapi lebih kepada pemberontakan sikap. Suatu saat dimana kakak perempuan tertuanya menikah, saat kakaknya bersimpuh dan mencium lutut suaminya untuk sungkem semua perempuan yang ada disitu ikut duduk bersimpuh. Namun Kartini tetap berdiri. Menegaskan sikapnya bahwa dia tak ingin perempuan dianggap selalu di bawah laki laki 
          Selain masalah feodalisme Kartini juga memfokuskan surat suratnya kepada masalah pendidikan. Menurut Kartini perempuan-perempuan Jawa selayaknya mendapat perlakuan sama dengan kaum laki laki yang boleh bersekolah sampai tinggi sekolahnya. Perempuan jawa oleh Kartini disebut hanya boleh bersekolah sekedar untuk bisa membaca dan menulis serta berhitung saja. Padahal ilmu yang terkandung di sekolah begitu banyak dan luas. Kartini ingin agar semua perempuan pribumi bisa mengenyam bangku sekolahan untuk belajar banyak ilmu pengetahuan. Mulai dari ilmu sosial politik sampai ilmu alam. 
          Bersama adik adiknya Kartini mendirikan sekolah di pendopo rumahnya dengan bertujuan untuk mendidik perempuan pribumi. Tidak hanya itu, Kartini juga menanamkan sikap perjuangannya kepada murid muridnya tersebut. Kartini berharap memiliki teman dalam perjuangannya. Kartini juga berharap nasib perempuan bis diperbaiki. Tidak melulu hanya terkungkung di rumah mengurusi rumah tangga saja. Menurut kartini perempuan harus aktif dalam masyarakat. Perempuan harus berperan nyata. Tidak hanya memberikan pengajaran pada perempuan pribumi. 

          Kartini juga membantu mengembangkan kerajinan ukir di Jepara. Selain pendidikan, menurut Kartini faktor ekonomi juga penting untuk dimajukan. Meskipun tidak seprogresif dalam pendidikan, usaha Kartini dalam bidang ekonomi cukup terasa pengaruhnya. Hingga sekarang Jepara dikenal sebagai pusat industri kerajinan ukir. Hasil hasilnya antara lain meubel ataupun perkakas dari kaya yang diukir dengan sangat indahnya. Seperti yang terdapat dalam surat yang ditulis Kartini kepada Nyonya Abendon, “Cita-cita kami hendak memajukannya benar. Kalau hendak memajukan industri itu sampai menjadi dipandang orang, terutama sekali perlulah modal dan pimpinan. Kami bercita-cita hendak mendirikan bengkel tempat bekerja yang besar,” kutipan tersebut menunjukan kesungguhan kartini dalam usaha memajukan masyarakatnya.
Advertisements

Published by

lewatjamtidur

A "One Piece" reader for about 10 years, MUFC suporter since child era, Yogyakarta, A Coffee, tea, and cigarette kretek addict.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s