Georg Wilhelm Friedrich Hegel

Biografi Singkat

            Salah satu tokoh penting dalam historiografi Eropa modern adalah Hegel. Merupakan filsuf yang memberi pengaruh yang cukup kuat kepada generasi-generasi penerusnya. Pemikiran Hegal mendapatkan tempat tersediri bagi para pengikutnya.  Bahkan namanya kerap disejajarkan dengan Imanuel Kant yang dikenal sebagai filsuf handal dari Jerman. Dialektika Hegel membawa pemikiran pemikiran baru yang sebelumnya belum tergali. Yang menarik Hegel bisa menyambungkan antara filsafat dengan sejarah. Hegel mampu menyelaraskan jalan pikiran filsafat dengan jalan pikiran sejarah. Hegel membawa sejarah ke alam realistis dan rasional melalui dialektika.
            Hegel lahir pada 27 Agustus 1770 di Stuttgart Jerman. Lahir dari keluarga kelas menengah yang cukup mapan. Ayahnya adalah seorang pegawai pemerintahan di Stuttgart. Sejak kecil Hegel dibiasakan untuk membaca berbagai macam literatur. Baik literatur literatur politik, sosial hingga filsafat. Sejak kecil pula Hegel tertarik untuk menjadi seorang pendeta. Karena ayah Hegel juga merupakan orang yang menguasai masalah teologi. Inilah yang kemudian mendasari Hegel untuk memasuki bidang teologi. Dari teologi minat Hegel berubah ke filsafat. Selepas dewasa Hegel justru semakin giat mendalami filsafat.
            Masa kecil Hegel dihabiskan di Stuttgart hingga memperoleh gelar sarjana untuk teologi di Universitas Tubingen pada tahun 1791.tahun 1801 Hegel mengajar filsafat di Universitas Jena bersama Friedirch von Schelling salah satu filsuf jerman. Pertemuan dengan Schelling membuat Hegel mulai tertarik kepada filsafat dan mulai menekuninya. Namun hubungan keduanya berakhir ketika Hegel menerbitkan tulisan yang mengkritik Schelling. Tahun 1808 Hegel dipercaya menjadi kepala sekolah dan mengajar filsafat di sebuah sekolah menengah Gymnasium Nuremberg. Dan tahun 1816 Hegel dipercaya menjadi guru besar filsafat di Universitas Hiedelberg. Dua tahun kemudian Hegel dipercaya pula untuk menjadi guru besar di Universitas Berlin.
  
Karya dan Pemikiran Hegel
            Karya pertama Hegel adalah The Life of Jesus dan The Spirit of Chiristiany yang dibuat semasa masih berada di universitas Tubingen. Karya ini masih berisi seputar ajaran teologi kristen. Hegel belum mulai mempelajari filsafat secara mendalam saat masih menjadi mahasiswa di Tubingen. Karya berikutnya adalah pembahasan filsafat The Difference Between Fichte’s and Schelling’s Systems of Philosophy. Merupakan perbandingan dari pemikiran dua filsuf Jerman yang dikagumi oleh Hegel. Sampai pada masa ini Hegel belum menciptakan karya yang monumental yang dikenal oleh masyarakat luas.
            Karya ketiga Hegel adalah sebuah karya yang mengantarkan Hegel menjadi seorang filsuf yang disegani di Jerman, Phenomenology of Spirit (Phänomenologie des Geistes) yang sering diterjemahkan sebagai Phenomenology of Mind pada tahun 1807. Phenomenology Spirit berisi tentang pemikiran Hegel bahwa ruh atau spirit memegang peranan yang paling penting dalam proses berpikir kita. Pemikirannya tentang Roh Mutlak atau absolut dapat dilalui dengan pendekatan filsafat, agama dan seni. Pengkajian tiga hal tersebut kemudian menjadi dasar bahwa filsafat memiliki tingkat pemahaman yang mampu menuju kepemahaman mengenai hakekat Roh Mutlak, dikarenakan sifatnya yang konseptual dan rasional. Karya ini juga yang mengakibatkan hubungan Hegel dengan Schelling renggang. Dalam kata pengantar buku ini Hegel mengkritik metode Schelling.
            Karya selanjutnya dari Hegel adalah serangkaian pembahasan mengenai filsafat, dalam Science of Logic (Wissenschaft der Logik), Encyclopedia of the Philosophical Sciences (Enzyklopaedie der philosophischen Wissenschaften) dan Elements of the Philosophy of Right (Grundlinien der Philosophie des Rechts). Ketga karya ini memang memiliki keterkaitan satu sama lain. Hegel sengaja membuatnya berkelanjutan. Dengan tujuan menjelaskan secara detail apa-apa yang dibahasnya.
            Selain itu, kuliah-kuliah yang diajarkan Hegel di Universitas Berlin juga kemudian dibukukan. Diantara materi yang dibukukan adalah materi kuliah tentang Filsafat Sejarah, diterjemahkan menjadi “Kuliah tentang Filsafat Sejarah Dunia”. Juga materi kuliah tentang Filsafat Agama dan materi kuliah tentang Sejarah Filsafat. Namun materi kuliah yang dibukukan isinya tidak terlalu dalam. Karena hanya merupakan rangkuman dari materi filsafat yang biasa Hegel ajarkan, bukan buku yang berisi pemikiran Hegel secara mendalam.
            Karya dari Hegel yang berkaitan dengan sejarah adalah Filsafat Sejarah. Materi materi yang diajarkan kala Hegel menjadi dosen dibukukan sepeninggal Hegel. Isi dari buku ini sendiri, sebagai contoh kecil terdapat pemikiran Hegel bahwa sejarah harus bersifat real dan rasional. Serta dibahas pula penggunaan dialektika dalam memecahkan masalah dalam sejarah. Dialektika adalah pemikiran Hegel bahwa dalam pemecahan masalah terdapat sebuah tesis, yang kemudian ditentang oleh antitesis. Sedang kombinasi dari kedua hal ini yang kemudian menjadi pemecah masalah adalah sintesis.
Menurut Hegel dialektika merupakan proses restorasi yang perkembangannya berasal dari kesadaran diri yang akhirnya akan mencapai kesatuan dan kebebasan yang berasal dari pengetahuan diri yang sempurna. Dialektika merupakan suatu aktvitas peningkatan kesadaran diri atas pikiran yang menempatkan objek-objek yang nampak independen kearah rasional, yang kemudian diadopsi Marx menjadi bentuk lain yakni ’alienasi’. Dialektika Hegel menjadikan akhir sesuatu menjadi awal kembali, seperti sebuah siklus.  Prinsip utamanya adalah thesis – antithesis – sinthesis. Thesis merupakan perwujudan atas pandangan tertentu. Sedangkan antithesis menempatkan dirinya sebagai opisisi. Serta sinthesis merupakan hasil rekonsiliasi atas pertentangan sebelumnya yang kemudian akan menjadi sebuah thesis baru, dan begitu seterusnya. Sehingga ketiganya merupakan pertentangan yang kelak menjadi kesatuan utuh dalam realitas.
Sebagai sebuah analogi sederhana ada telur sebagai thesis, yang kemudian muncul ayam sebagai sebuah sinthesis, yang antithesisnya bukan telur. Dalam dilektika ini, bukan berarti ayam telah menghancurkan telur. Namun, dalam hal ini sebenarnya telur telah melampaui dirinya sehingga menjadi ayam, dengan melalui sebuah proses. Yang kemudian  akan kembali berubah menjadi telur, dan terus seperti itu. Sehingga dialektika merupakan proses pergerakan yang dinamis menuju perubahan.
Bisa juga dianalogikan dengan bentuk negara. Sebuah negara yang tidak memiliki pemerintahan yang kuat, dengan rakyat berlaku sebebas-bebasnya disebut thesis. Sedangkan sebuah negara diktator dengan rakyat yang tidak memiliki kebebabasan sama sekali adalah sebagai antithesis. Maka sebagai sinthesisnya adalah penggabungan dari thesis dan antithesis, dalam hal ini bentuk negara demokrasi bisa disebut sinthesis dimana negara memiliki pemerintahan yang kuat namun rakyat juga masih memiliki kebebasan.
            Menurut Hegel, dialektika bersifat juga ontologis, bahwa proses gerak pemikiran adalah sama dengan proses gerak kenyataan. Oleh karena itu pengertian-pengertian, kategori-kategori, sebenarnya bukanlah hukum-hukum pemikiran belaka, tetapi kenyataan-kenyataan atau realita. Pengertian-pengertian dan kategori bukan hanya sesuatu yang menyusun pemikiran kita, tetapi semua adalah kerangka dunia yang menggambarkan realitas dunia dalam pikiran atau roh.

Pengaruh Hegel
            Hegel menciptakan generasi tersendiri yang berpikir dengan pemikiran ala Hegel. Dengan metode dialektika. Banyak filsuf Eropa generasi berikutnya yang menjadikan Hegel sebagai kiblat/dasar dalam berpikir. Diantara nya adalah Feuerbach, Karl Marx, Heidegger, Sartre, Kierkegaard dan banyak lagi filsuf dari Eropa lainnya. Sedangkan yang menentangnya juga cukup banyak, salah satunya adalah Nietszche. Ajaran Hegel dikenal dengana Hegelianisme.
Hegel tidak hanya meninggalkan pemikiran dialektika, namun pengikut Hegeliaan-nya pun terpecah menjadi dua kubu sepeninggal beliau. Hegelian Tua yang cenderung konservatif  atas pemikiran Hegel terkait dialektika dan gagasan Hegel terkait agama yang dianggap selaras dengan nilai-nilai kristiani saat itu. Hegelian Tua sempat mempengaruhi kondisi Jerman hingga akhir abad-19, dan Hegelian Muda yang lebih modernis dan liberal atas pemikiran ’sang guru’. Mereka cenderung mengkritisi hukum dialektika Hegel, dan mentransformasikannya dalam bentuk dialektika materialis, serta menolak pikiran sebagai realitas tertinggi. Diantara tokohnya, adalah David Fredrich Strauus, dan Ludwig Feurbach.
            Metode dialektika Hegel juga dipakai secara luas dalam metode-metode berpikir era masa kini. Penggunaan thesis-antithesis-sinthesis dipakai secara luas baik dalam bidang filsafat ataupun dalam berbagai bidang keilmuan yang lainnya. Bisa dikatakan inilah sumbangan Hegel yang paling besar bagi dunia filsafat. Disamping buku-bukunya yang lain tentu. Salah satu pengikut aliran Hegel yang memiliki pengaruh luas adalah Karl Marx. Karl Marx dianggap sebagai bapak marxisme, sebuah paham yang dikenal sebagai cikal bakal paham sosialisme yang dikemudian hari oleh pengikutnya dikembangkan pula menjadi komunisme.

Advertisements

Published by

lewatjamtidur

A "One Piece" reader for about 10 years, MUFC suporter since child era, Yogyakarta, A Coffee, tea, and cigarette kretek addict.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s