Wajah Buku

Wajah manusia seperti sebuah buku yang menarik untuk dibaca. Membaca senyum yang dibuat oleh otot-ototnya, membuat tawa renyah yang dilepaskan atau sekadar suara yang dibisikkannya. Mungkin juga kita bisa membaca kesedihan lewat air mata yang meleleh, atau bola mata yang sayu. Membaca kemarahan lewat gemeretak geraham dan nafas cepat yang hidung denguskan. Atau membaca kebingungan saat mata terlalu banyak mengedip, saat ludah lebih banyak ditelan. Membaca ketegangan saat mata tak berkedip, nafas berat dan mata yang tajam. Tidak peduli seberapa tampan atau cantiknya wajahmu, selalu ada cara untuk membaca wajah. Dan wajah selalu menyimpan misterinya rapat rapat. Seperti wajahmu, yang bersembunyi di balik kerudung merah.

Coba aku baca wajahmu, wajah cantik kepunyaan bidadari yang wangi. Di keningmu aku lihat beberapa berkas sinar. Menandakan kecerdasan yang tentu kau miliki, dan aku tak pernah meragukan itu. Yang pertama sinar putih, menandakan putihnya hatimu, yang tak pernah marah padaku meski aku sering mengganggumu. Dengan rayuan rayuan murahan akan membelikanmu bakso sepulang sekolah. Dengan niatan niatan akan mengantarmu kemana saja. Yang kedua sinar biru, menandakan teduhnya hatimu. Seperti laut yang selalu bisa menyimpan kesedihan dalam dalam. Hatimu seperti samudera yang dalam, butuh keberanian untuk menyelaminya sampai ke dasar. Tidak hanya berenang kecipak kecipuk di permukaan saja.

Sedang di matamu selalu terlihat pelangi kecil. Bukan pelangi seperti yang terlihat sesudah hujan memang, lebih kecil. Seperti pelangi yang terlihat pada butiran embun yang tertimpa matahari pagi. Lembut dan menyejukkan menjadi pelipur lara bagi tubuh kurus ini dari dingin semalam. Tak hanya pelangi saja, semua benda langit aku pikir ada di matamu. Ada matahari senja yang menghangatkan, ada rembulan yang menerangi setiap malam datang. Dan bintang bintang yang berkilauan di matamu yang telak membuat aku bertekuk lutut padamu. Seandainya ada pertanyaan mengenai mata siapa yang paling indah di dunia ini aku akan menjawab, hanya matamu.

Teliangamu meskipun tertutupi kerudung merah tapi aku yakin adalah telinga yang paling cantik. Bukan karena bentuk daunnya tapi karena kamu seorang pendengar yang baik. Sehingga berbicara denganmu adalah salah satu obat pelipur lara. Karena aku tau, kamu selalu mendengarkan sepenuh hati. Tak pernah menampakkan wajah bosan atau meremehkan. Dan kamu mendengarkan semua hal yang baik. Aku masih ingat, kamu memiliki selera musik yang bagus. Dan ditengah kesibukanmu, bahkan masih menyempatkan diri mendengarkan adikmu mengaji. Mendengarkan curahan hati sahabatmu, tentang putus cinta atau tentang patah hati lalu cemburu bahkan pertengkaran.

 Dan yang paling menyenangkan dari membaca wajah adalah membaca senyum. Karena senyum memadukan gerak bibir, pipi, dahi, hidung, dagu, pelipis, mata dan seluruh wajah. Membaca senyum seperti melihat bunga mawar yang merekah. Seperti kembang api yang bertebaran di langit. Seperti supernaova yang memercikan ratusan bintang di langit tingkat sekian. Tidak ada yang lebih indah dari senyum. Karena senyum mampu menyembuhkan semua rasa sakit. Senyum menyembuhkan dendam. Segala macam dendam yang ada di dunia. Bahkan dendam kesumat yang aku punya ternyata sirna seketika begitu teringat manis senyummu.

Baru sebatas itu aku bisa membaca wajah. Dan hanya sebatas wajah yang bisa aku baca. Aku tak bisa membaca rambut hitammu, karena syariat melarangku melihat rambutmu. Aku juga tak bisa mengeja satu persatu lentik jari tanganmu, karena syariat melarangku menyentuh tanganmu. Dan aku tak bisa membaca kaki jenjangmu, punggung putihmu, lengan, dada, paha, perut, pundak dan seluruh bagian tubuhmu. Astaghfirullah hal adziim… pikiran laki laki memang tak bisa jauh jauh dari ini semua. Dari keindahan membaca tubuh perempuan. Yang diciptakan meyerupai bumi yang menghampar. Diciptakanlah semacam Semeru dan bromo bersama puncak mahameru dengan batu merah delima besarnya, danau kelimutu, goa jatijajar diantara  hutan menoreh, tebing tebing curam dan semak belukar halus yang lembut

Tapi tenang, laki laki yang satu ini hanya suka membaca wajahmu bukan yang lain. Wajah buku dengan sampul wajah yang manis dalam bingkai warna merah. Sayang kita sekarang tidak saling kenal, kalau saja masih boleh bicara. Aku hendak mengucapkan satu hal. Semoga panjang umur selalu untukmu.

                                                                                                                                           Jogjakarta 2011, entah ini ditulis untuk siapa, tapi sepertinya ini untuk

Orange

photo: Masimo Barbieri

Advertisements

Published by

lewatjamtidur

A "One Piece" reader for about 10 years, MUFC suporter since child era, Yogyakarta, A Coffee, tea, and cigarette kretek addict.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s