Serta Kaki Gunung

                Jawaban selalu datang setelah tanya, setelah menahan rindu yang dalam dia selalu datang. Seperti datangnya gerimis sore hari kepada terik siang hari. Menjinakkan debu-debu yang berterbangan lembut di sela-sela semilir angin. Menjadikan tanah yang kering menjadi basah dengan aroma hujan, seperti yang terjadi di hutan-hutan jati. Hutan yang selalu kita lalui di sepanjang perjalanan pulang dari kaki gunung. Kita yang bodoh, selalu pulang saat sore menjelang. Padahal kita tau setiap ada pertanyaan akankah hujan sore nanti pasti datang jawaban, akan selalu hujan sore nanti. Karena kita adalah orang-orang yang mencintai hujan di sore hari.
                Kita memandang awan jauh di depan sana selalu gelap. Cemas kalau-kalau kita tak cukup kencang berlari menghindari hujan. Dan kita selalu basah kuyup, menyelamatkan sisa-sisa baju kering untuk baju ganti nanti. Sebenarnya aku yang bodoh atau memang kita semua bodoh. Belum pernah aku pulang melewati belik ataupun bumiayu tanpa kehujanan. Lalu kalian tertawa mencemaskan aku, kalau kalau hujan datang mengikisku habis tak bersisa. Dan di tengah tengah hawa dingin belantara jatinegara kita selalu tertawa. Bolak balik memeriksa apakah jari jariku masih utuh, kepalaku masih berbentuk. Sedangkan aku menggigil kedinginan. Kalian tentu tau, aku tak terbiasa berbalut air seperti itu.
                Kenapa kita tak berangkat saat siang saja, saat terik matahari masih perkasa mengusir awan awan tebal. Lalu tawa kalian semakin keras. Mencemaskan kalau kalau jari jariku mengering dan terlepas satu satu karena tanganku tak bisa merekat saat terik. Kita lebih memilih untuk melanjutkan rapelan tidur kemarin hari. Pengganti malam malam kemarin yang kita habiskan melempar puntung-puntung rokok pada gelas kopi yang telah kosong. Dan kartu terus dibagi empat sama banyak. Salah satu dari kita memegang gitar, sisanya memegang hidung masing masing. Aku yang duduk di pojok Cuma bisa pasrah. Tidak bisa melawan, kurus tak punya harapan. Yang membuat kalian diam cuma kartuku kali ini, tiga kartu king, dan empat kartu 8 sekop.
                Malam hampir habis, sedang rokok kita telah benar-benar habis. Saat itulah kita ingat, uang di dalam dompet ternyata ikut habis. Lalu dengan apa kita membayar rokok. Tidak dengan lagi lagu cinta yang sedang kita nyanyikan tentu. Lagu yang kita nyanyikan hanya untuk orang yang kita cinta, yang saat ini pasti sudah terlelap. Sudah tidurkah burung hantu di pohon jambu? Kenapa tikus asyik berlarian di depan kita. Tikus dan keluarganya. Mugkin malam ini di kaki gunung sedang berputar pesta untuk burung. Menyambut purnama bulan yang ke tiga di tahun ini. Aku teringat bulan lagi. Teringat tempat kita selalu duduk bersama di bawah bulan. Di penghujung april, di penghabisan uang bulanan kita. Setidaknya aku masih bisa makan, tak pernah kelaparan.
                Untuk temanku di kaki gunung sana. Sampaikan salamku padanya, sampaikan betapa aku rindu padanya. Rindu yang mengendap seperti endapan kopi. Rindu yang mengental seperti getah karet. Rindu yang pekat seperti kabut pagi itu. Pagi aku menyaksikan bayangan gunung di arah aku bangun tidur. Sampaikan padanya di ujung pendakian gunung. Sampaikan bela sungkawaku pada sedih yang selalu datang. Semoga ia mendapat tempat paling mulia di puncak gunung. Di bawah langit biru dan di atas lautan awan. Selalu ditemani senang dan bahagia selalu, sepanjang waktu. Setiap waktu.
Advertisements

Published by

lewatjamtidur

A "One Piece" reader for about 10 years, MUFC suporter since child era, Yogyakarta, A Coffee, tea, and cigarette kretek addict.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s