Kata Kunci

         Berjalan di jalan yang selalu kamu lewati. Merasakan dekat di tempatmu tidur malam ini. membayangkan warna baju yang kamu pakai sekarang. Sedang berbaringkah kamu, atau sedang terpejam memaksakan kantuk pada matamu. Disela alunan alunan musik yang melantun lembut ke telingamu. Sedang apa malam ini manisku? Masih nakalkah nyamuk nyamuk di belakang rumahmu. Masih berisikkah jangkrik jangkrik dan anjing yang selalu menggonggong di malam hari? Semoga kamu tak sulit tidur malam ini. Merundung lagi masalah masalah yang ada di kepalamu.
         Apa masalahmu malam kali ini? masihkah seputaran bagaimana kau takut aku menjadi tak berguna. Menjadi takut untuk aku mengucapkan kata kata cinta padamu. Yang kemudan akan menambah daftar panjang masalah yang tidak bisa kamu lari darinya. Dari bimbang yang ada dalam hatimu. Kenapa masih bimbang? Padahal aku pernah katakan ini padamu. Kurang jelaskah aku dulu katakan kepadamu di teras rumahmu. Bahwa kamu memiliki tangan yang utuh untuk memutuskan segala seseuatu. Bahwa kamu tak perlu mendengarkan omongan omongan orang pasar. Tak perlu terima pertimbangan pertimbangan tak bermutu dari orang orangan sawah.
         Cukup dengarkan aku bicara kemarin. Bahwa hidup itu tidak sekedar bagaimana menentukan yang mana keputusan yang paling baik. Memutuskan yang mana yang akan menjadi pilihanmu nanti. Apakah salju yang dingin atau api yang membara. Kamu ingin seperti apa? Ingin damai atau ingin bergelora? Ingin tenang atau ingin selalu bergairah. Ingin membeku atau ingin terbakar? Bukankah mudah semua masalahmu itu? Lalu kenapa kamu masih bimbang? Jangan pernah menjadi orang yang tak tau diri. Tak bisa mengambil pelajaran dari orang yang kamu sia sia kan.
         Meskipun sebenarnya aku yang menyia-nyiakanmu. Meninggalkan kamu dalam kesendirian. Masih peragu ternyata kamu, tak bisa menentukan apa yang terbaik. Sedang yang paling mengerti tentang yang terbaik untukmu adalah hatimu sendiri. Lalu kenapa tak kamu tanya saja hatimu? Kenapa melemparkan pertanyaan pada malam yang kosong. Yang tak pernah punya jawaban untuk kata kata tanyamu. Kenapa melemparkan pertanyaan pada orang orangan sawah? Yang tak tahu menahu tentang apa yang ada dihatimu.
         Mereka teman yang baik memang. Mengusir burung burung pelatuk yang merusak padi. Senantiasa berdiri melindungimu siang malam. Tapi mereka hanya orang orangan sawah. Tak pernah menyirami benih padi yang kini tumbuh subur. Tak pernah menurunkan hujan yang menyuburkan. Mereka sekedar boneka yang tak tahu menahu. Dan aku hanyalah burung burung yang mencoba mencuri bulir bulir padimu. Untuk mengobati rasa lapar yang menyiksa.
         Senyum saja dulu, karena senyum itu mengobati segala hal. Karena saat kamu jatuh kelak, aku tak mau berada disampingmu. Aku tak mau berada didekatmu. Tidak sedikitpun. Untuk waktu yang lama, untuk batas yang mungkin untuk seumur hidup. Selamanya kalau memang perlu waktu selama itu.
         Pada akhirnya malam juga tak punya jawaban. Juga rintik rintik hujan. Tak ada kunci jawaban seperti soal soal kuliah. Jawaban bukan untuk dicari tapi untuk dibuat. Buatlah jawaban mu sendiri. Dan untuk membuatnya kamu hanya perlu ucapkan satu kata kunci. Bismillahirahmannirrohim
Advertisements

Published by

lewatjamtidur

A "One Piece" reader for about 10 years, MUFC suporter since child era, Yogyakarta, A Coffee, tea, and cigarette kretek addict.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s