Teater Realisme

              Teater aliran realisme dapat kami definisikan dengan pemikiran kami sendiri sebagai aliran teater yang dalam lakonnya mengambil tema atau masalah sehari hari yang disajikan dengan alami hampir persis dengan keadaan sebenarnya baik property kostum maupun tata riasnya. Tema yang diambil biasanya tema tema yang dekat dengan kehidupan nyata kita tanpa ada unsur rekayasa atau unsur melebih lebihkan dengan penyampaian yang senyata mungkin. Sedangkan dalam pengertian umum teater realisme banyak yang mengartikansebagai teater yang berusaha menampilkan subjek dalam suatu karya sebagaimana tampil dalam kehidupan sehari hari, tanpa tambahan embel embel atau interpretasi tertentu.
            Aliran realisme menampilkan sisi lain kehidupan yang biasanya jarang diketahui masyarakat umum. Seperti contoh tema gelandangan, anak jalanan pengemis dll yang jarang masyarakat umum tahu keadaan yang sebenarnya tentang mereka. Realisme menyajikan gambaran nyata dari kehidupan seperti di atas menjadi sebuah teater. Teater ini menonjolkan tokoh atau individu. Dalam artian penokohan atau individu menjadi semacam central dari teater ini. Sedangkan mengenai makna yang terkandung mengacu kepada usaha dalam seni peran untuk memperlihatkan kebenaran, bahkan tanpa menyembunyikan hal yang buruk sekalipun.
            Dapat kita ambil contoh teater titik koma yang dimainkan grup teater yang disutradarai Rudi iteng. Lakon titik koma dalam teater tersebut menitikberatkan pada penokohan seorang pelacur beserta kehidupan sehari hari. Dalam lakon tersebut diceritakan kehidupan sehari hari, perasaan hati keluh kesah dan tetek bengeknya dengan penyampaian khas watak seorang pelacur dengan tingkah dan bahasa serta cara bicara yang khas. Kesemuanya disajikan dengan sesuai aslinya tanpa melebih lebihkan dan terpusat pada individu. Makna yang terkandung juga dalam yakni kepedulian terhadap aids. Sedangkan dalam keseluruhan pertunjukan dipaparan semua hal berkenaan dengan tema di atas baik yang baik maupun yang buruk. Tidak ada usaha untuk memberi inerretasi lebih kepada masing masing tokoh.
            Individu tampil sebagai diri mereka sendiri, dengan perasaan, pandangan hidup pikiran dan temperamen mereka yang sesungguhnya. Jika ada peran preman maka watak dan temperamennya benar benar seperti preman yang sering kita lihat di pasar atau terminal. Tidak ada individu yang memerankan watak A namun dalam prakteknya perannya malah berubah watak menjadi watak B. penggambaran watak yang sesuai dengan kenyataan sangat penting di sini. Karena dalam realisme perwatakan harus diusahakan senyata mungkin tanpa ada unsure rekayasa yag terlalu kentara.
            Kita ambil contph lagi karya hendrik ibsen dengan judul “musuh masyarakat” (setelah dialih bahasakan). Bercerita tentang dokter yang memberikan fakta kebenaran tentang keadaan sebuah pemandian umum, namun fakta ini dibantah pleh pemerintah karena takut akan mendapat kerugian dari hal di atas. Di sini tokoh dokter sebagai protagonis memerankan watak yang sesuai dengan watak dokter pada umumnya. Begitu juga peran antagonis pemerintah memainkan peran seperti sewajarnya pemerintah yang kerap rela mengorbankan orang banyak demi keuntungan dan keentingan mereka.
            Dalam realisme tidak ada yang namanya menutup nutupi seseuatu. Seandainya ada lakon yang memerankan peran yang masuk kategori Kontroversial maka hal ini tidak mempengaruhi penyajian karakter lakon tersebut. Seperti telah dipaparkan di atas bahwa realisme berusaha memperlihatkan kebenaran serta tanpa usaha untuk menyembunyikan hal yang buruk atauun dianggap tidak etis serta dianggap tidak sesuai dengan noma.           Realisme justru menciptaan gebrakan yang mungin sangat ontras dengan norma yang berkembang dalam masyaraat.
Sejarah Realisme
            Saat eropa mengalami jaman renaisance saat itu pula semua unsur kesenian berkembang.dari seni lukis, seni pahat maupun seni pertunjukan. Adanya renaisance membawa pengaruh tersendiri bagi masyarakat eropa terutama mengenai kesenian. Perkembangan selanjutnya yang cukup berpengaruh adalah tumbuh dan berkembangnya kaum borjuis yang mulai memainkan peran penting dalam kehidupan masyarakat eropa. Erkembangan yang pesat dalam sistem kemasyarakatan eropa dimana terjadi perubahan kultur yang ditandai dengan merosotnya prestise dari kaum bangsawan, mengakibatkan mulai naiknya kaum borjuis menyaingi bangsawan.
            Kaum borjuis membawa serta selera dan gaya hidup mereka ke dalam berbagai unsur seni. Dalam seni pertunjukan, aroma tema kerajaan yang sebelumnya begitu populer beranjak berganti dengan ertunjukan bertema kehidupan sehari hari yang lebih nyata. Kehidupan yang nyata tersebut sebenarnya merupakan cermin kehidupan kaum borjuis tersebut seperti tema bisnin, kriminal, prostitusi dan banyak lagi contoh lainnya. Hal ini menandai dimulainya seni pertunjukan teater modern.
            Sebab lain munculnya realisme adalah akibat perang yang berkecamuk di eropa khususnya perang dunia I. Para korban pernag saling menghibur diri sejenak melupakan penderitaan dengan memainkan berbagai macam pertunjukan. Pertunjukan yang mereka mainkan umumnya beris tentang kekejaman perang dan penderitaan yang mereka alami
           
Realisme di Indonesia
            Realisme di Indonesia masuk pada sekitar tahun 1900 an pada akhir masa enjajahan belanda. Para pemuda Indonesia yang berkesampatan mengenyam pendidikkan di barat pulang dengan membawa semacam ilmu seni yang mereka peroleh dari duni barat sana. Berawal dari para pemuda cendikiawan ini maka mulai dikenalkanlah seni peran d Indonesia terutama realisme. Sebenarnya di Indonesia khususnya jawa sudah ada bentuk seni peran tradsional kerakyatan macam ketoprak, ludruk maupun lenong.
            Dari berbagai kesenian yang lebih dulu ada dilakukan semacam akulturasi dan asimilasi kebudayaan sehingga seni peran modern di Indonesia tetap memilki cita rasa kedaerahan. Berkembang pula seni peran di kalangan masyarakat tiong hoa yang kebanyakan pertunjukannya menceritakan sri tauladan atas kehidupan nenek moyang mereka, serta kondisi kehidupan mereka di perantauan. Teater dari cina ini mulai menggunakan naskah dalam pertunjukannya. Namun teater dari cina menuai banyak kritik mengenai sikap kebarat baratanya yang absyrd. Sehingga mulailah golongan cendikiawan mengambil alih peranan dalam sejarah teater di Indonesia khususnya realisme.
            Perkembangan selanjutnya adalah pada masa penjajahan jepang dimana jepang membentuk semacam dewan kebudayaan. Dewan kebudayaan in dimanfaatkan oleh golongan cendikiawan untuk dijadikan wadah bagi perkembangan teater modern di Indonesia.
Advertisements

Sun Tzu

           Setiap bangsa di dunia ini membutuhkan pemikir pemikir handal untuk membangun negerinya. Dengan pemikiran pemikiran yang handal maka pembangunan sebuah bangsa bisa berjalan lancar. Pemikiran bisa mencakup banyak hal, baik filsafat, politik, kebudayaan dan tidak lupa militer. Dalam hal di atas china memiliki contoh yang lengkap mengenai pemikir prmikir handal. China memiliki banyak pemikir pemikir besar di setiap zaman. Dari Mao Tse, Konfusius sampai Chun Yan Set. Salah satu yang menonjol terutana di bidang militer adalah Sun Tzu. Dari asal nama Sun Zi yang diperkirakan lahir pada tahun 535 SM.

Sun Tzu adalah penulis Sun Zi Bingfa, yang kemudian oleh orang orang Eropa populer dengan nama Sun Tzu’s Art of War. Buku ini merupakan sebuah buku filsafat militer China kuno yang sangat berpengaruh meskipun sebagian besar isinya tidak berhubungan langsung dengan taktik. Sun Tzu juga dikenal sebagai salah seorang realis paling awal dalam bidang ilmu politik. Sun Tzu bukanlah nama asli, melainkan sebuah sebutan kehormatan seperti halnya Kong Tzu Konfusius atau Lao Tzu Lao Tse.
Satu-satunya sumber mengenai kehidupan Sun Zi yang masih tersisa adalah biografi yang ditulis pada abad ke-2 SM oleh ahli sejarah Sima Qian, yang mendeskripsikannya sebagai jendral yang hidup di negara Wu pada abad ke-6 SM. Namun, biografi ini tidak konsisten dengan sumber-sumber yang lain tentang periode tersebut, dan bentuk dan konteksnya mengindikasikan bahwa biografi ini kemungkinan besar ditulis antara 400 SM dan 320 SM.
Karya Sun Zi sendiri, Sun Zi Bingfa, tampaknya memuat beberapa petunjuk langsung tentang kehidupannya. Contohnya, kereta perang yang dijelaskan Sun Zi digunakan dalam periode yang relatif singkat, yang berakhir pada abad ke-4 SM, yang berarti sebagian buku ini ditulis pada periode tersebut. Beberapa orang ahli menyimpulkan bahwa tulisan Sun Zi sebenarnya digarap oleh beberapa orang filsuf China yang tidak diketahui dan bahwa Sun Zi sebenarnya tidak ada dalam sejarah. Ini dapat dilihat lebih jauh dalam kenyataan bahwa kesejarahan Sun Zi dibahas panjang-lebar dalam kata pengantar untuk terjemahan Giles pada 1910. Giles mengemukakan perasaan ragu dan kebingungan yang melingkupi topik ini.
Pada tahun 1972, satu set teks ditemukan di kuburan dekat Linyi di Shandong. Ini telah membantu mengonfirmasi teks yang telah diketahui sebelumnya, dan juga menambah bab-bab baru dalam buku taktik militer ini. Teks tersebut diperkirakan ditulis antara 134 SM-118 SM , sehingga meruntuhkan teori lama yang menyatakan bahwa sebagian buku ini ditulis lebih belakangan. Sebelumnya dipercaya bahwa buku ini ditulis pada abad  6 SM.
Sun Pin, keturunan Sun Zi, juga menulis teks yang berjudul Art of War, walaupun mungkin judul yang lebih cocok adalah Art of Warfare (Seni Peperangan) karena lebih membahas sisi praktis peperangan . Sedikitnya satu penerjemah menjudulinya The Lost Art of War atau Seni Perang yang Hilang, karena buku ini, dalam waktu yang lama, memang hilang. Buku ini baru mulai ditemukan lagi erabad abad sesudahnya.
            Sun Zi Bingfa, atau dikenal pula sebagai Sun Tzu Art of War, adalah sebuah buku filsafat militer yang diperkirakan ditulis pada abad ke-2 SM oleh Sun Zi. Terdiri dari 13 bab di mana setiap bagian membahas strategi dan berbagai metode perang. Karya ini merupakan karya tulis militer Tiongkok yang paling dihormati dan paling terkenal di luar negeri Tiongkok. Siapa yang menulis buku ini sampai sekarang masih diperdebatkan oleh para pakar sejarah. Beberapa ahli berpendapat bahwa Sun Zi bukanlah nama asli penulis buku ini, melainkan julukan yang diberikan orang kepada penulis tersebut. Sebab, kata “Zi” pada nama Sun Zi sebenarnya digunakan untuk mengacu pada seorang filsuf sehingga Sun Zi diartikan sebagai “filsuf Sun”.
            Buku ini juga menjadi salah satu buku strategi militer tertua di dunia dan banyak memberikan pengaruh dalam perencanaan strategi militer baik Dunia Timur maupun Barat, taktik bisnis, dan banyak lagi. Buku yang ditulis sekitar tahun 400—320 SM ini pertama kali diperkenalkan di Jepang pada tahun 716—735 M. Sementara itu, di Eropa, buku ini diperkenalkan oleh Jean Joseph Marie Amiot, yang menerjemahkannya ke dalam bahasa Perancis. Kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Kapten E. F. Calthrop, seorang kapten berkebangsaan Inggris.
            Kutipan Beberapa ayat dalam buku ini acapkali dikutip dan digunakan sebagai kata mutiara, misalnya beberapa ayat terakhir dari bab 3:
 Jadi di sini dikatakan: Ia yang mengenal pihak lain (musuh) dan mengenal dirinya sendiri, tidak akan dikalahkan dalam seratus pertempuran. Ia yang tidak mengenal pihak lain (musuh) tetapi mengenal dirinya sendiri memiliki suatu peluang yang seimbang untuk menang atau kalah. Ia yang tidak mengenal pihak lain (musuh) dan dirinya sendiri cenderung kalah dalam setiap pertempuran. Yang juga sering disingkat sebagai:
Jika Anda mengenal diri dan musuh Anda, Anda tidak akan kalah dalam seratus pertempuran
Aplikasi militer dari buku perang ini misalnya pada semasa era Sengoku di Jepang, seorang daimyo bernama Takeda Shingen (1521-1573) mampu memenangkan banyak pertempuran tanpa menggunakan senjata api karena ia telah mempelajari Sun Zi Bingfa. Buku ini bahkan memberinya inspirasi untuk aturan pertempuran “Fūrinkazan” yang dibuatnya (Air, Hutan, Api, dan Gunung; berarti: secepat angin, sesunyi hutan, seganas api, dan sekokoh gunung). Semasa Perang Vietnam, beberapa perwira Vietkong memperlajari Sun Zi Bingfa, dan dilaporkan dapat mengulang kembali seluruh kata dalam buku tanpa membacanya.
Strategi Sun Tzu digunakan oleh Genghis Khan di abad ke 13 dalam menaklukkan wilayah kekuasaannya mulai dari Mongol, China, Siberia hingga mendekati Eropa. Napoleon di masa muda membaca dan mempelajari buku itu dari para rahib Jesuit yang menterjemahkannya dari bahasa China di tahun 1782. Cara berpikir dan bertindak Mao Tse Tung juga sangat dipengaruhi strategi Sun Tzu, seperti terlihat dalam buku Merah Mao. Hitler juga mempelajari strategi Sun Tzu, dan menggunakannya saat merebut Polandia dalam operasi ‘Blitzkrieg’ yang berlangsung2 minggu. Di tahun 1991, dalam operasi Desert Storm dan Desert Shield di kawasan Teluk, setiap anggota Marinir Amerika memiliki dan mempelajari buku strategi perang Sun Tzu. Strategi itu terbukti tetap relevan walau telah melewati rentang waktu 25 abad

Kereta Lama Sampainya

                Kemari mendekat rencana jangka panjangku. Duduk duduklah di sampingku, ceritakan bagaimana harimu kemarin berlangsung. Kerena tidak setiap hari aku bisa bersamamu. Melihatmu dari bangun tidur sampai lelap tidur berselimut. Ceritakan hanya padaku, sebab jika kamu ceritakan pada orang lain tentu aku cemburu, dan tidak ada cemburu yang lebih buruk dari mencemburui kamu. Kemari mendekat tujuan akhir hidupku. Rebah rebahlah disampingku, nanti kuceritakan bagaimana hariku kemarin berlangsung. Karena  setiap hari aku ingin bisa bersamamu.
                Besok aku pulang ke rumah. Naik kereta malam Kalidersik. Aku sudah terlalu rindu padamu. Ingin bertemu, ingin membicarakan rencana rencana yang kemarin hari kita bicarakan di telepon. Ingin cepat cepat ke rumahmu, bertemu dan meyakinkanmu bahwa tak ada rencana lain selain kamu di hidupku. Tunggu aku pulang, kubawakan manik manik aneka bentuk dari batu. Nanti sama sama kita rajut jadi gelang yang cantik, secantik dirimu. Jadi jangan bersedih lagi, anggap yang mereka katakan padamu tadi hanya bohong
                Aku berangkat sebentar lagi. Masih menunggu kereta Argo lewat di jalur paling luar, keretaku masih terparkir di jalur paling dalam menunggu penuh. Doakan aku dapat kursi untuk duduk di dalam sana. Sebab seharian kuliah ternyata melelahkan.
                Hujan mulai turun disini, masih rintik rintik. Semoga di sana hujan tak turun. Aku baru ingat kalau kamu benci hujan. Bukan benci pada butiran airnya yang jatuh tentu, tapi pada dingin yang datang saat ia reda. Kalaupun di sana hujan, jangan marah marah. Sediakan saja selimut yang lebih tebal dari biasanya. Gosok gosokkan telapak tanganmu lalu minum secangkir coklat panas. Tak perlu takut jadi gendut karena coklat. Langsing ataupun gendut tidak terlalu masalah. Yang penting kamu tak kedinginan.
                Kamu pasti sudah tertidur sekarang, lupa mendoakan temanmu ini agar bisa duduk dalam kereta. Ahh karena tidurmu aku harus berdiri di deret paling belakang. Berhimpitan dengan mbok mbok penjual kopi dan nasi bungkus. Tapi demi kamu, tentu hal ini tak seberapa. Lagipula di belakang aku bisa bebas merokok. Tenang.. asap rokokku tidak mengganggu siapa siapa kali ini. Asap keluar cepat lewat ventilasi belakang gerbong. Maaf aku merokok, tapi di depanmu aku janji tak akan merokok. Tidak enak rasanya merokok kalau didepanku ada wajahmu yang cemberut dan menutup hidung sambil sesekali batuk. Ya anggap saja kita impas. Kau lupa mendoakan aku, aku berdiri di deret belakang, aku merokok. Kalau saja kamu tak tidur dan mendoakan aku tadi, mungkin endingnya tidak seperti ini.
                Udara semakin dingin ternyata. Kareta ini kalau kamu tau, punya pendingin yang super ampuh. Angin yang datang dari samping telak mengenai mukaku. Tak bisa berlindung, lebih baik kedinginan daripada harus berurusan dengan tremos panas mbok penjual kopi. Harusnya kubelikan kamu kopi biar tak tidur. Tentu masih bisa menemaniku lewat telepon. Haha, aku membayangkan kamu tidur. Dari leher sampai kaki pasti tertutup selimut. Sambil meringkuk memeluk guling. Dari sini aku bisa mencium tengkukmu. Wangi seperti gula, manis.
                Perjalanan kereta kali ini membosankan. Tiap stasiun harus berhenti, mempersilakan kereta eksekutif lewat. Inilah resiko kereta 24 ribu. Jauh berbeda kalau aku pulang dengan jakalara. Teman pulang paling menyenangkan. Sekali kali saat pulang ikutlah denganku, dengan jakalara. Kusajikan pengalaman hidup mati yang menegangkan. Tanya saja Ariyan, atau Ariyas. Diantara mereka sudah pernah merasakan jadi bandul nyawaku saat pulang dengan jakalara. Jogjakarta Tegal Sangsara.
                Membosankan? Tentu saja. Aku pun bosan bicara sendiri. Kamu tidur sore, padahal sudah kusiapkan belasan cerita menarik untukmu. Tentang teman kostku yang digerebeg pak RT, tentang aku yang kemarin ditilang. Atau tentang semalam sebelum berangkat ke stasiun aku lihat seseorang yang mirip denganmu. Berjalan bergandeng tangan mesra. Aku tak cemburu. Aku baru cemburu kalau kamu benar benar pergi dengannya. Bergandengan tangan mesra sambil makan es krim. Meski kamu berjalan dengan kekasihmu, aku tetap cemburu. Meski kamu mencintai dia dan kamu mendapat cinta yang besar darinya. Aku tak peduli aku cemburu.
                Bukankah sudah kukatakan sejak awal. Tidak ada cemburu yang lebih buruk selain mencemburui kamu. Kereta yang kunaiki sekarang lama sampainya. Mungkin sengaja mengulur waktuku. Supaya lebih lama lagi aku harus menunggu bertemu kamu.

Seribu Jati

Pada waktu yang sama aku merasakannya juga. Mendengar lagi suaramu seperti mendengar lagi suara seorang teman lama. Teman dari masa lalu yang kini sudah dipendam di pekuburan panggung. Tiba tiba suasana berubah mencekam, lagu demi lagu kamu nyanyikan menjelang tengah malam. Kadang seperti suara orang menangis, tapi lebih sering seperti suara orang di pasar. Aku tak bisa tidur, suara suara berisik. Ranjangku berdenyit, kayu kayunya yang rapuh sebentar lagi akan patah. Aku semakin merapatkan kepala kepada bantal, meluruskan selimut lalu terpejam dan aku masih mendengar suaramu.
Aku tak bisa tidur malam ini. Sinar bulan yang menyusup dari tirai jendela kamar membuat mataku marah. Lalu aku keluar, menyaksikan bulan yang bersinar terang, putih menjadikan malam yang dingin ini menjadi teduh. Bulan sedang bagus, sayangnya aku tak lagi suka melihat bulan. Sinarnya tambah terang, mengikuti alunan lagu yang semakin keras. Aku protes pada pohon pisang, kenapa harus mereka yang tumbuh dekat rumahku. Kenapa tidak beringin saja yang tumbuh, jadi aku tak perlu marah marah melihat bulan bersinar terang yang mengganggu tidurku. Meskipun aku benci partai beringin, tapi beringin pasti menghalangi sinar bulan masuk ke kamarku. Besok aku mau tanam jati seribu saja. Supaya kamarku tetap gelap tanpa sinarmu.
Sayup masih terdengar suaramu di balik angin sana. Serak, mengikuti demam serta influenza dan bersin bersin yang kadang keluar. Ahh aku bingung, yang dirasakan tidak seperti yang dulu pernah dirasakan. Seandainya dulu mungkin aku tak bisa tidur ber jam jam, terngiang suaramu yang madu dan membuat hati bergelung gelung seperti ekor ulat bulu. Tapi sekarang, mendengar suaramu seperti mendengar suara semprit tukang pakir, atau peluit penjaga perlintasan kereta api. Biasa saja, berarti menandakan aku telah sembuh dari phobia yang itu. Hahasek.. aku turut senang dengan progress ini. semuga tidak hanya sekedar wacana, tapi bisa sampai pada tataran aplikatif dalam kehidupan sehari hari.
Haha, lebih baik membicarakan teman saya yang sedang patah hati saja. Karena patah hati itu asyik untuk dibahas. Dari patah hati bisa diambil berbagai pelajaran. Misalnya pelajaran manajemen emosi dengan tidak lekas marah pada hal hal kecil yang biasanya mudah menyulut emosi. Seandainya ada tukang bakso lewat sambil berteriak teriak, janganlah lekas marah. Jangan pula kamu jadi out of control. Nanti malah memborong semua dagangan bakso yang dijajakan. Ingat lemakmu yang sudah saling menimbun diantara lipatan daging di lengan, paha dan pipimu. Meskipun big is beutiful tapi tetap yang namanya big itu tidak bagus dipandang. Hahaha, menyindir teman kita lagi yang ada di kota spirit of java. Mahadesi..
Haha, teman teman saya memang unbelievable.. banyak yang cantik cantik banyak juga bohay bohay. Haha, kalaupun bohay dikonotasikan dengan cap yang tidak baik, bohaynya teman temanku amatlah tidak bercap jelek. Teruntuk teman saya yang ada di purwokerto sana, dapat salam dari nama disensor. Yang di solo dapat salam dari Triyo Dinda Panuntun. Yang di semarang tidak perlu disalami. Sedang di bandung untuk temanku yang paling cantik daniel cicarely.
Tapi diantara temanku, kamulah yang paling cantik. Yang paling beautiful. Manis tanpa make up. Wangi tanpa parfum. Halus tanpa lulur. Dengan kilauan rambut yang tanpa creambath. Meskipun tanganmu tidak selalu halus karena banyaknya cucian bajumu, tapi tanganmu masih yang paling aduhai. Melenakan setiap makhluk yang pernah menyentuhnya. Membuang jauh jauh keriput nenek nenek yang kamu gandeng dan sebrangkan. Pada intinya, kamu tetap yang paling nomor satu. Diantara perempuan perempuan yang masih perawan di indonesia kamu adalah yang paling cantik.
Teruntuk teman saya, si ratu dangdut. Yang bokongnya sudah terlatih berjoget india. Pinggulnya bisa digoyangkan sesuai irama gendang. Dan satu kata yang paling aku rindukan keluar dari mulutmu, tariiiiiiiiiiiiiik maaang…..

Peloncat Tebing

          Indahnya rumah kecil simbahku, tidak ada eternit ataupun platfon. Yang memisahkan dengan langit biru hanyalah genteng dan kayu kayu yang lusuh. Seandainya gempa datang lagi sudah pasti mereka akan berlaku seperti daun jati di musim yang semakin panas ini. Yah, mereka akan berguguran menimpaku yang seharian ini terbaring di tikar kamar tengah. Dan jika itu terjadi, mungkin sangat mujur kalau bisa mati saat tidur dirumah sendiri. Tidak sedang terbaring di rumah sakit dengan badan penuh infus. Tidak juga terlentang di aspal dengan kepala dan kaki remuk dilindas truk tronton. Aku tak seharusnya memikirkan mati sekarang. Tidak saat disampingku bus dan truk berjejer saling salip. Lengah sedikit saja, tulangku dan rangka besi motor tua ini akan lumat dilindas roda mereka yang besar besar.
          Satu persatu jarum infus aku lepaskan pelan. Aku benci bau oksigen cair, cairan infus apalagi bau obat sisa. Aku ingin cepat cepat pulang, ingin berbaring seharian di kasurku yang empuk. Tidak seperti tikar di kamar tengah rumah simbahku, keras seakan badan beradu dengan lantai semen kasar. Di kamarku sudah ada eternit, ada lampu yang terpasang menyala di sudut tengah. Dan yang terpenting di kamarku bebas merokok. Tidak seperti kamar anyelir 12 ini. Dari semua rambu rambu lalu lintas aku paling benci rambu dilarang merokok. Yang sayangnya di dalam kamar 3 diantaranya terpasang di pintu dan di masing masing tembok. Rumah sakit sebesar dan semewah ini paranoia terhadap asap rokok. Tolol kala mengetahui aset milyaran rupiah tak bisa menghadapi barang mungil 800 perak.
          Masih lebih baik rumah simbahku. Bebas untuk merokok dan tidur seharian tanpa gangguan. Tidak perlu repot memikirkan mobil plat B yang sewenang wenang mengambil jalurku saat mereka menyalip. Tidak juga harus senewen tiap kali supir angkot banting stir ke kiri. Moncong angkotnya berhenti di depan halte tapi bokongnya melintang di kanan jalan. Bagimu tak masalah pak supir, kau duduk di depan tapi aku duduk paling belakang. Seandainya nasibmu apes dan bus patas menendang bokong angkotmu, logikanya aku yang mati pertama. Meskipun dengan kejadian yang bermacam macam, mati di jalan itu tidak menyenangkan kedua orang tuaku.
          Ahh mimpiku kali ini buruk sekali, mengikuti nasibku hari ini yang juga buruk. Aku mimpi mengerjakan soal matematika di depan kelas. Menarik akar pangkat 4 dari 625. Kalau saja mimpi ini terjadi kemarin malam tentu sambil menutup matapun aku akan menjawab akar pangkat 4 dari 625 itu 5. Tapi mimpi ini terjadi 10 tahun yang lalu. Kelas 3 SD, matematikaku baru sampai akar pangkat dua. Kalau saja waktu itu aku bisa menjawabnya sudah tentu hidupku akan berubah total. Mungkin aku bisa menjelaskan kenapa aku pergi darimu. Setelah aku memahami, berita bahagia yang kamu tulis bukanlah berita bohong. Dan berita kesedihan yang kamu tulis juga bukan berita bohong.
          Dan tidak ada yang lebih membuatku senang daripada kamu bisa membuktikan kalau aku salah. Aku salah kalau beranggapan bahwa citaku padamu tak tertandingi oleh siapapun. Aku yang merasa mencitaimu dengan begitu kerasnya dengan ikrar hendak mengorbankan apapun untukmu. Aku salah ternyata selama ini. Cita dari orang yang membuatmu selalu merindukan dia, yang membuatmu selalu nyaman di sisinya, yang membuatmu selalu ingin bersamanya. Cita dari orang yang menemanimu semalaman saat kamu sakit, orang yang demi dia kamu rela melawan orang tuamu. Cita dari orang yang membuat aku tertawa, betapa naif prasangkaku atas citaku padamu. Terimakasih cita cita, kamu mengingatkan aku kalau aku masih punya cinta. Aku tidak bohong kali ini, bukankah kamu sendiri yang memegang kuncinya. Kunci dari kotak yang ku tutup rapat dan Selamanya tidak akan aku buka lagi. Kita sudah sepaakat bukan?.
          Jadi sekarang kita sama sama mengejar kebahagiaan. Kita berlari pada arah yang sama, meski tersekat sekat perbedaan tapi tujuan kita sama. Meskipun kebahagiaan tidak abadi setidaknya kita akan menahannya selama mungkin dalam pelukan kita. Kamu bahagialah dalam pelukannya, jangan biarkan tangannya mengendur dari lehermu. Dekaplah erat selalu, hingga tidak ada waktu bagi dunia untuk cemburu. Aku disini tersenyum senyum untuk mu, tertawa geli melihatmu memanja. Nanti kunyalakan bulan yang redup untuk kalian berdua. Agar malam yang indah ini tidak berakhir dengan dingin. Akan semakin hangat pasti, sehangat tanah yang kita pijak. Tidak satupun awan akan menutupi malam kalian malam ini. Tidak satu bintangpun harus bersembunyi. Mari bernyanyi, menyiulkan sindiran kepada mereka yang curiga pada kebahagiaanku. Malam ini semua orang bahagia, aku pun begitu. Terima kasih cita citaku.
          Dimanapun aku berbaring aku akan selalu tersenyum. Entah di tikar kasar rumah simbahku, entah di kasur empuk rumah ibuku, entah di kamar higienis rumah sakit pemerintahku, entah di aspal yang bergelombang, entah di tanah rumput tempat kesukaanku, entah dimana saja. Entah dimana saja pikiranku melayang mereka akan kembali pada satu tempat yang pasti, kepala peyangku. Kepala yang tak henti henti tersenyum. Siapa tau dengan tersenyum wajah jeleknya bisa sedikit terlihat ganteng. Aku tau sekarang, senyum itu menghapus dendam, merekatkan kembali hati yang patah. Mungkin suatu saat nanti kalau aku sudah merasakan putus cinta aku pun bisa menyambungnya dengan senyum.

Saatnya tidur..

Iblis yang Baik Hati..

          Sendirian itu tidak enak, artinya tidak ada yang bisa diajak ngobrol, smsan atu telpon telponan. Untungnya kita punya teman yang paling setia yakni setan. Lho kok bisa setan bisa dibilang teman yang paling setia. Tentu saja bisa, setan kan satu satunya teman yang tempatnya ada di hati. Kadang pas kita sendirian kan kita sering berbicara dalam hati. Dan setiap pembicaraan kita pasti ada lawan bicaranya, ya itulah setan. Misalnya kita sedang di jalan lalu menjumpai pengemis, biasanya kita bertanya dalam hati, “ini ada duit seribu perak, di depan ada pengemis tua enaknya dikasih nggak yah..?”. kalau ada suara seperti ini: “buat apa kasih ke pengemis! duitmu aja cuma berapa, mending beliin rokok.. toh pengemis itu juga paling sebenarnya lebih kaya dari kamu..” inilah suara setan. Sedangkan malaikat biasanya cuma diam, kan malaikat cuma bisa dzikir ke hadirat Tuhan YME. Jadi buat apa malaikat ikut campur urusan kita dengan setan. 

          Ahh setan anjing, jancuk lah pokoknya, sukanya membisikkan segala seseuatu yang tidak baik. Memang sifat dasarnya demikian, setan selalu membisikkan yang tidak baik. Apa pernah setan membisiki kita untuk pergi ke pengajian? apa pernah juga setan marah marah pas tau kita lagi mabok, nonton bokep atau nggosip. Setan tidak sekalipun marah pada kita, tidak seperti orang tua kita yang sering marah marah. Karena itu bersyukurlah kamu yang orang tuanya sering marah marah, berarti mereka bukan setan. Lagipula yang mereka marahi bukan kita, tapi setan yang jadi teman kita tadi, yang membisiki supaya kita malas, dan banyak lagi to do list-nya setan. Tapi kalaupun orang tuamu tidak marah marah bukan berarti mereka itu setan. kalau kondisinya seperti itu berarti ada dua kemungkinan. Yang pertama mereka memang orang tua yang penyayang yang mengganti marah marah dengan nasihat yang lembut. Dan yang kedua hanya orang tuamu yang tau.
          Sudah cukup prolognya.. mari beranjak ke pokok tujuan dari dibuatnya tulisan ini. Sedang tulisannya berbentuk serupa naskah drama, karena isinya percakapan. Percakapan dengan siapa? Tentu saja dengan teman terbaikku, setan.

Aku     : setan, sibuk tidak kamu? temani aku ngopi dulu sebentar, aku butuh teman bicara..
Setan  : ahh teman, tentu saja aku tak pernah sibuk untukmu.. bahkan semua waktu yang aku punya adalah hanya untukmu. Asu, aku selalu untukmu..
Aku     : oke, sini keluar dulu dari hatiku, duduk dekat disampingku.. kita ngopi ngopi dulu.
Setan  : sebentar, aku menjelma dulu seperti manusia, kamu pasti tak mau melihat wujud asliku.. kamu pengin aku menjelma seperti apa?
Aku     : ehmm apa yah enaknya.. yang pokok wujudmu harus perempuan, berkulit putih hidungnya mancung, rambut sebahu dan kalau bisa ada tai lalatnya.. ahaha
Setan  : bisa diatur.. kamu mau aku berpakaian seperti apa?
Aku     : kalo pakaian ehm bentar aku pikir pikir dulu.. jeans hitam, kaos putih dan jaket abu abu bisa kan? Jangan kenakan pakaian yang ketat, kurang berkenan.
Setan  : bisa diatur, lalu aku ingin kau panggil dengan nama apa? Panggilan setan sepertinya kurang enak didengar..
Aku     : namamu sekarang Ranti, kita dulu teman bermain sewaktu masih kecil. Sekarang kamu tinggal di kota yang namanya Mandalawangi, seperti nama lembah di gunung Pangrango. Sebelumnya kamu bisa kan menyerupai seseorang dalam berbicara, aksen dan suara. Harus serupa sampai mimik wajah, senyum, cara tertawa, kedipan mata dan yang paling penting cara berpikirnya
Setan  : siapa?
Aku     : aku bisikkan dalam hati saja biar cuma kita yang tau..
Setan  : owh.. dia? gampang, aku bahkan bisa meniru setiap lekuk tubuhnya seandainya kamu mau menyaksikannya tanpa busana..
Aku     : tidak usah.. cukup yang aku minta tadi saja.. kalau sudah selesai duduk saja di sampinku di sofa ini
Setan  : aku sudah disampingmu..
Aku     : hahahaha.. kamu cantik sekali.. sayang kamu setan..
Ranti  : trus kita mau ngobrol apa sekarang?
Aku     : haha, sebenarnya aku tidak berencana untuk ngobrol denganmu..
Ranti  : lalu?
Aku     : aku hanya ingin melihat wajah itu dekat dekat, sudah lama aku tak melihatnya sedekat ini
Ranti  : wajah ini? hoho.. kenapa hanya melihat? Kamu bisa membelai bahkan menciumnya sekarang. Jangankan wajah, setiap jengkal tubuh ini pun bisa kau sentuh..
Aku     : hmm.. tidak perlu, melihatnya sedekat ini saja sudah cukup.. oh iya, sebelumnya aku mau bertanya dahulu padamu, katanya kamu itu tempat bersemayamnya di hati kan?
Ranti  : iya, kami bersemayam di hati manusia, selain itu beberapa ada yang bersemayam dalam aliran darah, di otak dan dimana mana.
Aku     : kalau kamu bersemayam dalam hatiku tentunya kamu tau kan seluk beluk isi hatiku?
Ranti  : seluk beluk yang mana?
Aku     : seluk beluk mengenai wajah itu.. aku ingin tau, sebenarnya dalam hatiku itu seperti apa berkenaan dengan wajah itu.. apakah dalam hatiku sama seperti prasangkaku selama ini?
Ranti  : lho memang prasangkamu terhadap wajah ini seperti apa?
Aku     : prasangkaku ya kalau aku mencintai pemilik wajah itu..
Ranti  : cinta? kamu yakin itu semua cinta?
Aku     : yah itu kan cuma prasangkaku.. kamu harusnya tau kan sebenarnya dlam hatiku itu seperti apa? apakah memang benar cinta atau sekedar suka atau bahkan sebenarnya tidak ada perasaan apapun kepada pemilik wajah itu.
Ranti  : haha, kamu itu lucu jar.. repot repot memanggilku keluar hanya untuk menanyakan hal itu.. kebanyakan manusia saat berbicara denganku selalu menanyakan hal hal hal hal yang penting.. tidak seperti kamu yang menanyakan urusan hati.. memangnya seberapa pentingnya hati untukmu?
Aku     : loh bukankah hati itu pusat dari hidup kita, segala apa yang kita lakukan bersumber dari hati..
Ranti  : ahh berhenti sejenak dulu.. mana kopinya? Masih ingat kan kamu tadi ngajak aku untuk apa?.. untuk ngopi.
Aku     : ohh iya aku lupa.. ntar tak buatin kopi dulu.. kopimu capucino kan?
Ranti  : ehh jangan kopi.. buatkan coklat panas saja untuk ku.. bisa kan?
Aku     : anything for you lah frend..

(bersambung setelah coffe break) 


Ranti  : Setelah kuhabiskan coklatku ajaklah aku jalan-jalan jar.. aku bosan di kamarmu terus.
Aku     : lhah, jalan jalan kemana? Aku kan lagi gak punya duit, lupa ya.. di dunia manusia apa apa harus dibeli dengan duit.
Ranti  : hah, itukah yang ada di pikiranmu, kalau mau mengajak seorang jalan-jalan harus berduit banyak, harus nraktir makan, harus beli ini itu, harus serba romantis
Aku     : ya kesepakatannya kan seperti itu..
Ranti  : berapa kali kau pernah mengajak seseorang jalan-jalan?
Aku     : seingatku belum sekalipun.. hhahaha
Ranti  : semiskin itu kah kamu sampai tak pernah punya duit untuk mengajak seseorang jalan jalan..
Aku     : bukan karena duit, karena memang tidak ada satupun yang mau diajak jalan-jalan
Ranti  : menyedihkan, diantara banyak laki laki di dunia ini kamu adalah yang paling menyedihkan..
Aku     : menyedihkan atau menyenangkan hidup seseorang itu kan relatif
Ranti  : udah lah, gak usah berargumen, lekas habiskan kopi dan matikan rokokmu.. kita jalan
Aku     : ya terserahlah, tapi kita mau pergi ke mana?
Ranti  : ke sarkem.
Aku     : hah, sarkem?
Ranti  : lha memangnya kemana lagi? Kau mau ajak aku ke masjid agung?
Aku     : haha, iya setan..

          Roda motor mulai berputar, dengan suara kasar gesekan rantai motor dengan gerigi yang sudah aus. Ahh mungkin hanya wanita jelmaan setan saja yang mau dibonceng oleh motor butut ini. motor ini belum sekalipun diduduki parempuan selain ibu dan nenekku. Menyedihkan.. tapi kan menyedihkan atau menyenangkannya hidup seseorang itu romantis eh relatif. 


Aku     : ngapain kita ke sarkem?
Ranti  : emm anggap aja aku berbaik hati sama kamu..
Aku     : berbaik hati gimana caranya?
Ranti  : haha, selama ini kan kamu gak pernah ngrasain sentuhan wanita, nah di sarkem itu kamu bisa merasakan sentuhan lembut wanita, kalau mau tidur sama mereka juga bisa
Aku     : j***uk ahh
Ranti  : haha, aku mau bantu kamu
Aku     : ya kan gak gitu caranya..
Ranti  : lha trus gimana caranya?

Raden Ajeng Kartini (Tamat)

Bagaimana hasil perjuangan Kartini dan apa pengeruhnya bagi generasi sesudahnya?
            Kartini telah memberikaan inspirasi kepada banyak perempuan di dunia. Bahkan Eleanor Rosevelt pun terkesan setelah membaca terjemahan kumpulan surat surat Kartini, letters of a javanese princess. Bagi Eleanor gagasan yang dikemukakannya dalam surat mengguagah hati dan nuraninya. Perjuangan Kartini adalah perjuangan dengan memberikan semangat dan pemikiran bagi bangsa Indonesia terutama kaum perempuan. Kartini berharap perempuan di negerinya bisa maju seperti laki laki dalam segala bidang. Khususnya dalam mengejar pendidikan dan ilmu pengetahuan. Perjuangan Kartini adalah perjuangan batin yang masih terjajah dari kungkungan adat istiadat dan tradisi yang menempatkan perempuan sebagi sosok lemah yang tidak berdaya. Ketika itu hidup perempuan hanyalah sekedar menjalankan kodratnya saja tanpa diberi kesempatan untuk mengmbangkan diri.

Upaya perjuangan Kartini sedikit banyak mempengaruhi kaum perempuan di tanah air.  Tentunya hal ini tak lepas dari semangat Kartini dalam memperjuangkan nasib kaumnya. Agar bisa sejajar dengan kaum pria. Dan menjadi mitra setia dalam perjalanan hidup bagi pria. Kartini semasa hidupnya mampu memberikan arti dan semangat tersendiri dalam perjuangan kaum perempuan untuk meraih emansipasinya. Sayangnya umur Kartini terlalu muda saat dipanggil oleh yang maha kuasa. Kartini meninggal pada usia 25 tahun meninggal setelah melahirkan putera pertamanya. Karini dimakamkan di desa Bulu kecamatan Bulu Rembang. Dimakamkan di pemakaman keluarga suaminya yang merupakan bupati Rembang.
Kini hanya tinggal semangat dan pemilirannya saja yang tertinggal. Namun berkat kegigihan Kartini kemudian didirikan sekolah wanita oleh yayasan Kartini di semarang pada tahun 1912, san selanjutnya di Yogyakarta, Surabaya dan sebagainya. Nama sekolah sekolah tersebut adalah sekolah Kartini. yayasan Kartini sendiri dibentuk oleh van Deventer yang merupakan tokoh politik etis.
Perjuangan Kartini tidak hanya sendirian. Dewi Sartika dari jawa barat adalah termasuk sosok yang berjuang di jalan Kartini. selain nama Dewi Sartika ada pula nama Rohana Kudus dan Rahmah el Yuniasih dari Bukit tinggi dan Padang. Dua nama terkahir bahkan mendirikan beberapa sekolah perempuan yang kemudian menjadi inti dari organisasi Kaum Ibu Sumatera. Sedang di Yogyakarta muncul perkumpulan Aisyah yang merupakan bagian dari Muhammadiyah yang bergerka dalam bidang sosial terutama pergerakannya didominasi oleh kaum perempuan.
Berikut adalah perkumpulan perkumpulan semacam di atas selepas tahun 1920. Diantaranya:
  • ·         Ina Turi dari serikat Ambon
  • ·         Wanudiyo Utomo dari Sarekat Ialam
  • ·         Wanito Utomo
  • ·         Wanito Mulyo

           Puncaknya tejadi pada bulan Desember 1928 seluruh utusan dari perkumpulan perkumpulan semacam yayasan Kartini dikumpulkan menjad satu untuk mencari sebuag konsep kesatuan organisasi seluruh Indonesia. Diantara yang memprakarsai adalah Nyonya Sukanto, Nyonya Suwardi, dan Nyonya suyatin. Hasil nya akan dibentuk sebuah paersatuan perkumpulan perkumpulan  perempuan. Dibentuklah Perwani, persatuan wanita indonesia. Paguyuban ini membawahi bermacam perkumpulan perkumpulan perempuan.
            Pada era pergerakan nasional, gerakan gerakan perempuan ini mulai menampakkan peran yang cukup signifikan. Diantaranya dengan ikut melebur pada organisasi organisasi yang lebih besar. Itulah pengaruh perjuangan Kartini yang terasa bahkan sampai waktu yang cukup lama sesudah Kartini meninggal. Jasa jasanya akan selalu dikenang. Ide dan pemikirannya selalu membangkitkan gairah untuk berjuang. Itulah semangat Kartini yang ditularkan pada generasi sesudahnya. Meskipun ada anggapan bahwa sosok Kartini adalah sosok yang diangkat Belanda sebagai figur. Belanda sengaja mengangkat Kartini yang berpola pikir kebarat baratan menjadi figur panutan bagi banyak rakyat.